[Unduh/Draf] RKUHP 2019

 

 

[Unduh Draf RKUHP-Kontroversial 2019]

Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang akan disahkan tahun 2019 ini menuai kontroversi hingga memantik gerakan massa sipil di berbagai kota.

Area sekitar DPR RI dan parlemen-parlemen daerah pun tak lepas dari target berbakuhantam massa demonstran melawan aparat.

Kalangan intelektual dan gerakan politik alternatif menyoroti pasal-pasal kontroversial di dalamnya. Mau tahu apa saja pasal yang tak masuk akal tersebut? Silahkan kaji, link unduh ada di atas!

Asap adalah Pertanda; Kita di Cilacap Harus Menyibaknya

 

Kita yang hidup di Cilacap mungkin cenderung berjibaku dengan asap kendaraan bermotor. Atau mungkin bagi warga kita yang bertempat tinggal sekitar pabrik, kilang, dan manufaktur besar lainnya; seringkali bisa melihat asap keluar dari cerobong. Apapun sumbernya, asap adalah efek dari aktivitas produksi manusia. Asap akan selalu menjadi pertanda bagi kita bahwa ada sesuatu sedang diupayakan. Namun apakah kita tahu “sesuatu yang diupayakan” itu bermanfaat untuk (si)apa? Apakah kita semua bisa merasakan manfaat baik setelah asap mengepul dan menyambar ke udara?

Dalam menghadapi asap kendaraan bermotor sehari-hari, kita cenderung masih bisa mengakalinya. Kita pun cenderung bisa bertahan dengan polusi keseharian di wilayah kita (Cilacap) meskipun kita tak tahu penyakit apa yang akan kita hadapi kemudian. Bahkan, sebagian dari kita masih ada yang meremehkan perkara asap hingga akhirnya tetap abai di kala polusi terjadi. Termasuk di wilayah kita sendiri, acapkali polusi hanya dianggap perkara sampingan. Contohnya, ketika bocoran kilang mencampuri perairan nelayan hingga limbah cerobong pembangkit listrik mencemari udara-air-tanah warga perkampungan. Lalu, apa respon sebagian warga kita terhadapnya? Biasa saja! Ya, masih banyak yang biasa saja gegara menganggap polusi—sebagaimana asap—adalah perkara lumrah dari aktivitas industri berkeuntungan besar yang tidak banyak kita mengerti keuntungannya akan menghidupi siapa.

Oleh karenanya, apa yang terjadi di Cilacap ini adalah kenyataan juga yang dihadapi orang-orang Sumatera dan Kalimantan sana. Asap besar mengepung mereka. Titik api mulai berkobaran. Rimba-rimba baru mulai disasar menjadi arena industri. Kabar yang beredar; di setiap kasus kebakaran hutan-lahan (karhutla) yang terjadi, akan selalu ada lahan baru bagi industri perkebunan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun mengakui hal tersebut. Melalui Doni Monardo; Kepala-nya, BNPB menyatakan 80 % dari lahan yang dibakar akan menjadi kebun industri sawit. Ia juga menemui fakta pembakaran yang rapi dari hutan-hutan pedalaman Riau bahwa lahan yang dibakar sudah dikotak-kotakkan di sekitar lahan sawit sebelumnya sehingga tak sampai membakar lahan sawit yang sudah ada. Dari enam provinsi di Indonesia yang didata BNPB sejak 31 Agustus 2019, tercatat sebanyak 328724 hektare lahan terbakar yang terdiri atas lahan “gambut” dan “mineral”. Sebagai badan resmi terpercaya negara, BNPB pun mengklaim data yang diperolehnya valid.

Sementara, birokrat negara lainnya justru membuat pernyataan menyesatkan. Wiranto; Menkopolhukam kita, justru menghimbau agar korporasi hutan industri menjadi “bapak asuh” bagi para petani/peladang pedalaman Kalimantan. Secara langsung, ia menuduh bahwa masyarakat yang bercocok tanamlah yang membuat kebakaran terjadi sedemikian parahnya. Memang, di pedalaman Kalimantan terdapat lahan-lahan gambut yang tak mudah padam ketika lapisan atasnya dibakar. Para petani/peladang pun biasanya membakarnya untuk memulai musim cocok tanam baru. Namun apa yang dilakukan mereka dengan sistem adat turun-temurun tidaklah gegabah.

Idealisme masyarakat asli Kalimantan adalah sebagaimana hidup bersama kelestarian alam. Mereka bercocok tanam tidak dengan asal mengekspansi lahan hutan yang masih rimba. Dalam bertani/berladang, mereka akan memastikan dulu mana lahan yang tidak terlalu dekat dengan rimba. Pun ketika gambut dibakar, kaum tani/ladang ini akan menungguinya sampai api benar-benar padam. Makanya dengan hal ini dan kesadaran akan potensi rimba, sudah sejak lama masyarakat adat Dayak mengenal sistem “ladang berpindah”; yang dimaksudkan supaya aktivitas pertanian/perladangan bisa seiring dengan upaya restorasi hutan sekitarnya. Bahkan untuk menebang satu batang pohon besar pun, mereka musti menyediakan puluhan atau malah ratusan batang kecil sebagai bibit baru penggantinya. Lantas, argumen Wiranto supaya korporasi (perusahaan besar) menjadi “bapak asuh” bagi petani/peladang lokal ini apakah bukan sebagai ungkapan “menggurui mahaguru”?

Justru, yang kerap terjadi ialah korporasi besar seringkali menandaskan rimba-rimba di sana sebagai wahana ekspansi pembukaan tambang (batu bara) dan juga perkebunan industri (sawit). Tak disangkal lagi, sudah banyak bukti kasus penyingkiran rimba di Sumatera dan Kalimantan demi orientasi ekspor besar-besaran sawit & batu bara. Gajah, orangutan, macan, harimau, dan binatang rimba lainnya yang merangsek ke perkampungan warga menjadi bukti bahwa sumber nutrisi mereka dirampas industri. Tak hanya binatang, manusia pun kerap mendapat represi lahan tatkala berhadap-hadapan dengan industri. Dan kini, asap mungkin akan mengabarkan semuanya dari pedalaman.

Sekali lagi, asap adalah pertanda; pertanda dari apa yang tersembunyi di pedalaman. Asap-asap itu; yang sesekali muncul pada berita media lalu menghilang lagi, telah menyapa kita dengan sesaknya—sesesak nasib petani/peladang yang digusur kebun-kebun industri; setebal kabut kesenjangan manfaat antara petinggi korporasi dan orang-orang biasa seperti kita.

Dari Sumatera dan Kalimantan, kita bisa tahu ada kematian yang tak diperlukan. Binatang-binatang rimba terpotret sudah tewas terpanggang. Elsa Pitaloka; bayi berusia empat bulan musti meregang nyawa akibat radang paru-paru dan radang selaput otak. Ia meninggalkan dunia di Rumah Sakit Islam (RSI) Ar-Rasyid Palembang. Pihak RSI mengungkapkan sebab penyakitnya adalah infeksi saluran pernafasan bawah. Walaupun infeksi yang diderita Elsa bisa terjadi sebelum tragedi karhutla, namun asap karhutla bisa turut memperparahnya. Pula data yang beredar; seperti yang dikutip CNN Indonesia pada 23 September 2019 ini, kementerian kesehatan (Kemenkes) merilis ada 919516 orang terkena ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) yang tersebar di wilayah Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Berikutnya, dengan maraknya berita dan potret digital efek miris karhutla yang bertebaran di media sosial; apakah kita yang di Cilacap tak perlu panik menghadapinya?

Tenang saja, kita sudah bertahun-tahun membiarkan kewarasan kita tegar menghadapi korporasi. Tanyakanlah pada warga di perkampungan yang berdekatan dengan kilang-kilang, pembangkit listrik, dan pabrik industri. Sapalah juga debu-debu jalanan yang dilalui truk-truk besar yang bolak-balik pelabuhan. Apakah kita tidak sesak?

Oh ya, cerobong-cerobong asap dan kilang sudah menjulang sejak lama. Apa yang kita banggakan? Ingatlah selalu bahwa asap adalah “pertanda”; tanda dari pekatnya uang mengalir ke atasan, tebalnya kabut kesenjangan yang sulit ditatap, juga tanda dari adanya rumah-rumah kosong sekitar pembangkit listrik yang ditinggalkan penghuninya akibat polusi, suatu tanda dari warga Winong (Slarang) yang musti mandi dengan membeli air-air galon, tanda protes lama warga kisaran Donan yang perairannya memanas akibat pemasakan kilang, serta tanda dari nelayan kita yang tak mencari penghasilan ketika minyak mentah mencampuri perairan pun ditambah lagi minggatnya ikan-ikan akibat takut pada pendaran cahaya pembangkit listrik yang menjilati perairan. Betul, asap adalah pertanda; kewajiban kita yang waras adalah menyibaknya!

-Klik di sini untuk download versi digitalnya-

 


Pernyataan ini adalah secarik sikap dan sekelumit kajian serta wacana ke depan bagi warga Cilacap; yang kami sebarkan pada agenda #MengusapAsap kala 26 September 2019 di Kota Cilacap.

Semoga bisa menjadi agen kewarasan bersama!


 

Mengapa Kita Mencintai Tirani?

“Tank versus Biker” karya Ganzeer; street artist Mesir.

*)Ditulis oleh David Livingstone Smith. Profesor filsafat Universitas New England dan direktur Human Nature Project. Menerbitkan buku “Less Than Human” pada 2011.

Dari waktu ke waktu, kenapa banyak orang menyambut pemimpin yang tirani dan otoriter?

Beribu-ribu tahun, para filsuf dan teoritikus politik mencoba menjelaskan alasan kita bersedia berpartisipasi dalam penindasan diri kita sendiri dengan menjadi tunduk kepada para pemimpin otoriter. Dan hari ini, kebangkitan rezim otoriter yang tidak menyenangkan di seluruh dunia membuat pertanyaan ini menjadi mendesak seperti saat sebelumnya.

Plato merupakan salah satu pemikir pertama dan paling berpengaruh untuk membicarakan masalah tirani. Dalam karya “Republic”-nya yang ditulis sekitar 380 SM, ia berpendapat bahwa negara-negara demokratis ditakdirkan untuk jatuh ke dalam tirani.

Plato menjadi seorang yang tidak menggemari demokrasi mungkin dikarenakan guru kesayangannya; Socrates, dihukum mati oleh demokrasi Athena. Dia percaya bahwa bentuk pemerintahan demokratis dapat menciptakan masyarakat tak bermoral dan tidak disiplin sehingga mudah menjadi mangsa bagi politisi yang cakap dan terampil dalam memainkan nafsu keinginan mereka.

Dalam naskah “Gorgias” yang ditulis pada sekitar waktu yang sama dengan “Republic”, ia memberitahukan kita bahwa politisi semacam itu memikat massa dengan janji-janji tidak sehat daripada memelihara kebaikan publik. “Kue pastry telah bertopeng sebagai obat dan berpura-pura mengetahui makanan yang terbaik untuk tubuh. Sehingga jika pembuat kue dan dokter harus bersaing di depan anak-anak atau di depan pria yang sama bodohnya dengan anak-anak—untuk menentukan yang mana di antara keduanya; dokter atau pembuat kue, yang memiliki pengetahuan sebagai ahli makanan yang baik dan buruk, maka si dokter akan mati kelaparan,” begitulah yang ditulis Plato.

Ada karya sosiolog Jerman; Max Weber, yang dipertimbangkan pada masa dua setengah milenium atau awal abad ke-20 lalu. Weber; salah seorang pendiri sosiologi, mengembangkan konsep “otoritas kharismatik” atau kualitas tertentu dari kepribadian individu yang kebajikannya tidak seperti manusia biasa dan diperlakukan sebagai orang yang diberkati daya supranatural atau sebagai manusia super; atau setidaknya memiliki kekuatan khusus atau kualitas luar biasa. Para pemimpin kharismatik akan menginspirasi orang untuk mengabdi dan dianggap sebagai figur kenabian oleh pengikutnya.

Pandangan Weber memperdalam catatan samar Plato. Kebangkitan tirani memiliki aura tertentu yang hampir magis. Para pengikutnya percaya bahwa ia dapat melakukan mukjizat dan mengubah hidup mereka. Namun bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang menyebabkan orang-orang rasional menjadi  berserah diri untuk mengadopsi pandangan berbahaya nan tidak realistis seperti itu? Untuk menjelaskannya, kita perlu menggalinya lebih dalam.

 

***

 

Saat Weber sedang mengembangkan “teori kharisma”-nya di Berlin, Sigmund Freud sedang bergulat dengan pemikiran serupa di Wina (Austria). Pemikirannya memuncak dalam buku “Group Psychology and The Analysis of The Ego” (1921). Buku itu berfokus pada dinamika psikologis para pengikut.

Seperti kebanyakan karya Freud, buku tersebut merupakan teks yang rumit. Tetapi, ada dua tema utama yang menonjol dari dalamnya. Pertama, Freud berpendapat tentang mereka yang tertarik pada pemimpin otoriter yang diidealkannya. Pemimpin dipandang sebagai teladan atau manusia heroik untuk mengatasi setiap kesalahan serius. Kedua, ia berpendapat bahwa pengikut mengidentifikasikan dirinya dengan pemimpin dan menggantikannya dengan sesuatu yang disebut “ego ideal” oleh Freud. Ego ideal adalah representasi/cerminan mental dari nilai-nilai panduan seseorang; yang terdiri dari kepercayaan tentang “benar” dan “salah” atau apa yang menjadi “wajib” dan  “tidak boleh”. Hal ini menjadi semacam kompas moral kita yang pada dasarnya sama dengan hati nurani seseorang. Dalam menggantikan cita-cita ego mereka, pemimpin otoriter menjadi suara hati para pengikutnya dan suaranya menjadi suara hati nurani mereka. Sehingga apapun kehendak pemimpinnya, akan menjadi baik dan benar menurut pengertian para pengikutnya.

Tesis Freud sangat sesuai dengan kasus yang terjadi pada era kekuasaan Hitler di Jerman. Sebagai pertimbangannya adalah kasus Alfons Heck. Sebagai seorang anak muda, Heck telah menjadi anggota Hitler Youth. Dalam buku “The Nazi Conscience” (2003), sejarawan Claudia Koonz menuliskan bahwa saat Heck menyaksikan Gestapo mengumpulkan orang-orang Yahudi di desanya untuk dideportasi—termasuk sahabatnya Heinz, ia tidak berkata dalam hati, “Betapa mengerikannya mereka menangkapi orang-orang Yahudi.” Malahan, setelah menyerap pengetahuan tentang “bahaya Yahudi”, Heck berkata, “Celaka sekali, Heinz adalah orang Yahudi.” Sebagai seorang yang dewasa, Heck menyimpulkan, “Saya menyepakati deportasi sebagai keadilan.”

Fakta bahwa komunitas para pengikut memiliki identifikasi yang sama dengan pemimpin otoriter mempunyai konsekuensi penting lainnya. Para pengikut mengidentifikasi satu sama lain sebagai bagian dari “gerakan” dan mereka mengalami diri mereka bergabung menjadi satu kesatuan kolektif. Rasa persatuan yang memabukkan ini dan penyingkiran kepentingan diri pribadi demi tujuan yang lebih besar adalah komponen yang sangat penting bagi sistem otoriter. Hal tersebut ditemukan dalam banyak retorika otoriter—seperti yang dicontohkan oleh Reich Ketiga.

Gagasan bahwa seorang individu hanya penting sebagai kendaraan perlombaan atau “Volk” dan ide tentang tugas seseorang adalah untuk roh transenden yang lebih besar telah mengalahkan kepentingan pribadi—dan itu tersebar luas di Jerman era Hitler. Anak-anak Jerman diperintahkan untuk menjaga “kemurnian” darah mereka—yaitu untuk mencegah percampuran darah antarsukubangsa atau antarras. Mereka diberitahu bahwa darah mereka bukan hanya milik mereka melainkan milik ras Jerman—sejak masa lalu, sekarang, hingga masa depan—dan dengan itu, mereka akan memiliki kehidupan yang kekal.

Berpartisipasi dalam sistem otoriter jelas mempunyai suasana religius yang berlebihan. Sebab ini melibatkan penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi dan melepaskan batas-batas ego individu—demi suatu kemurnian; yang membangkitkan misi kehidupan kekal, kelahiran kembali, dan penyelamatan. Sifat semi-religius dari kebangkitan Hitler telah dijelaskan dalam “The Dark Charisma of Adolf Hitler” (2012) oleh sejarawan Laurence Rees:

 

Gerombolan orang Jerman melakukan perjalanan—hampir seperti peziarah—untuk memberi penghormatan kepada Hitler di rumahnya di Berchtesgaden, ribuan petisi pribadi dikirim ke Hitler di Kekanseliran Reich, ikonografi pseudo-religius dari demonstrasi di Nuremberg, & fakta bahwa anak-anak Jerman diajari bahwa Hitler “dikirim oleh Tuhan”, “iman”,  dan “cahaya” mereka; semua ini adalah fakta yang berbicara bahwa Hitler dipandang bukan sebagai seorang politisi normal dan lebih sebagai seorang nabi yang disentuh oleh yang ilahi.

 

Mengingat hal tersebut, akan menjadi bermanfaat dengan beralih ke monograf  karya Freud; “The Future of An Illusion” (1927). Meskipun sebagian besar isinya peduli terhadapa psikologi agama, namun menjadi suatu kesalahan apabila mengabaikan konteks dan konten politiknya. Tidak ada orang Yahudi di area “Wina Merah” yang tidak bisa perihatin dengan munculnya politik anti-Semitisme pada tahun 1927 (sebagai tahun pertama dari demonstrasi Nuremberg di era Hitler). Freud mengatakan kepada pewawancaranya pada kurang dari setahun sebelumnya—yakni pada 1926:

 

Bahasaku Jerman. Budaya yang kuperoleh adalah Jerman. Secara intelektual, aku menganggap diriku orang Jerman sampai aku melihat tumbuhnya prasangka anti-Semit di Jerman dan Austria-Jerman. Sejak saat itu, aku lebih suka menyebut diriku seorang Yahudi.

 

Satu ilusi yang ia sebut dalam teks bukunya adalah pandangan bahwa “ras Jerman adalah satu-satunya ras yang mampu beradab”.

Pada saat itu, wilayah politik Austria terbagi antara kaum Sosialis Kristen sayap kanan yang memiliki laskar Heimwehr sebagai home guard & didanai oleh kaum fasis Italia dan Sosial Demokratik yang lebih condong ke Kiri dengan unit Schutzbund sebagai paramiliternya.

Tensi antara kedua kelompok tersebut meletus pada 15 Juli 1927 ketika kaum Kiri melakukan demonstrasi besar-besaran sebagai upaya permulaan menduduki Universitas Wina—yang hanya berjarak beberapa menit dengan berjalan kaki dari apartemen Freud. Demonstrasi itu berpuncak di depan Palace of Justice dengan berjalan kaki sekitar 20 menit, kemudian kerumunan demonstran menyerbu dan membakar gedungnya. Polisi menembaki para pengunjuk rasa dan  tiga jam kemudian; 89 demonstran  dan lima polisi terbaring mati di trotoar. Hari itu dan dua hari berikutnya dikenal sebagai schreckentage atau hari-hari menakutkan. Bagi kalangan intelektual Wina seperti Freud, ancaman politik otoriter terasa sangat dekat dengan rumah.

 

***

Mengikuti tradisi filsafat Jerman—seperti pemikiran Ludwig Feuerbach dan Karl Marx, Freud berpendapat bahwa kepercayaan religius adalah ilusi namun ia memiliki pandangan yang unik: yang membedakan antara “ilusi” dan “non-ilusi” bukanlah berdasarkan sesuatu itu benar atau salah; tetapi berdasarkan bagaimana hal tersebut terjadi.

Ilusi adalah kepercayaan yang kita adopsi karena kita menginginkan hal itu benar. Keyakinan semacam itu biasanya salah, tetapi kadang-kadang ternyata benar. Misalkan Anda bangun pagi untuk membeli tiket lotre dengan keyakinan yang membara bahwa Anda akan memenangkan lotre. Dan anggaplah, secara kebetulan, Anda benar-benar memenangkan lotre. Meskipun keyakinan Anda yang menganggap Anda akan menang menjadi benar, namun hal itu masih dianggap sebagai ilusi oleh Freudian.

Ilusi yang paling meyakinkan bisa memenuhi syarat sebagai delusi. Delusi adalah ilusi yang salah dan sangat resisten terhadap revisi rasional karena didorong oleh kekuatan hasrat yang sangat besar. Keyakinan religius adalah contoh utama delusi ala Freud. “Itu adalah pemenuhan keinginan umat manusia yang tertua, terkuat, dan paling mendesak. Rahasia kekuatan mereka terletak pada kekuatan hasrat ini,” ujar Freud.

Hasrat yang menopang kepercayaan religius memiliki hubungan dengan pelepasan ketidakberdayaan manusia. Kita rentan terhadap kekuatan alam; seperti penyakit, bencana alam, dan akhirnya kematian, juga terhadap tindakan manusia lain yang dapat membahayakan kita, membunuh kita, atau memperlakukan kita dengan tidak adil. Dalam mengenali ketidakberdayaan kita, Freud berpikir bahwa kita dilemparkan kembali pada prototipe kekanak-kanakan; tentang ingatan akan ketidakberdayaan yang kita alami sebagai bayi; ketergantungan kita yang sepenuhnya dan mengerikan kepada orang dewasa yang merawat kita (atau gagal merawat kita). Ia menyatakan bahwa orang-orang yang religius menghadapi perasaan tidak berdaya mereka dengan berpegang teguh pada ilusi tentang dewa pelindung yang kuat yang akan memberikan mereka kehidupan setelah kematian.

Ada hubungan jelas antara dorongan religius dan kekuatan psikologis yang berperan di ranah politik berdasarkan analisis Freud. Politik, secara eksplisit, merupakan respon terhadap kerentanan manusia. Harapan dan ketakutan kita yang paling dalam bisa menembus arena politik dan ini membuat kita menjadi rentan terhadap ilusi politik; yang sering melekat dengan kegigihan yang begitu kuat dan begitu keras kepala terhadap argumen masuk akal sehingga cocok dengan karakter delusi menurut Freud. Dari perspektif ini, sistem politik otoriter menggemakan agama monoteistik. Seperti Tuhan sendiri; pemimpin otoriter adalah sebagai yang mahatahu, mahakuasa, dan mahabaik. Kata-katanya mendefinisikan cakrawala realitas. Dia harus dipuji dan ditenangkan tetapi tidak pernah ditantang. Musuh-musuhnya bisa diartikan sebagai sekutu kekuatan jahat.

Jika agama-agama hanyalah tentang fantasi pengabul harapan, semuanya akan terasa manis dan ringan. Tapi nyatanya tidak demikian. Janji manis atas surga hanyalah bermakna jika dihadapkan dengan ancaman neraka dan keselamatan membutuhkan sesuatu yang harus diselamatkan—bahkan dengan ganjaran kesederhanaan, penderitaan, dan—dalam kasus para martir agama—penyiksaan, dan kematian. Hal yang sama juga berlaku untuk wacana politik otoriter. Dengan ini, artinya tidak semua “kue” (demokrasi) itu beracun.

 

***

 

Saya beralih ke karya psikoanalis lain yang kurang terkenal demi menganalisis sisi gelap pola pikir otoriter. Ada pula gagasan dari Roger Money-Kyrle yang berasal dari keluarga aristokrat Inggris. Dia mendaftar ke Royal Flying Corps pada usia 18 tahun demi berperang dalam Perang Dunia Pertama. Ia pun ditembak jatuh di atas Prancis utara pada tahun 1917—yang mengakhiri karier militernya. Setelah perang, ia mendaftar di Universitas Cambridge untuk belajar fisika dan matematika namun ia segera beralih ke filsafat. Seperti sejumlah pemikir Cambridge pada saat itu, Money-Kyrle menjadi tertarik pada psikoanalisis dan melakukan perjalanan ke Wina pada tahun 1922 untuk menyelesaikan PhD-nya bersama filsuf Moritz Schlick (pemimpin Lingkaran Wina) dan menjalani analisis bersama Freud. Setelah kembali ke Inggris pada tahun 1926, ia memperoleh gelar PhD yang keduanya untuk bidang antropologi dan akhirnya berpraktik menjadi seorang psikoanalis.

Tahun 1932, Money-Kyrle mengunjungi Berlin atas undangan temannya; diplomat Arthur Yencken (yang kemudian tewas akibat bom waktu yang dipasang Nazi di pesawatnya). Yencken membawanya ke rapat umum Partai Nazi; tempat Joseph Goebbels dan Hitler berbicara. Money-Kyrle terpesona sekaligus terganggu dengan apa yang dilihat dan didengarnya, serta mencoba memahami apa yang terjadi dengan cara meneliti pidato dan dinamika kerumunan melalui sudut pandang psikoanalitik. Hasil pengamatannya ini berupa artikel “The Psychology of Propaganda” (1941).

Saat ia mengunjungi Jerman, Money-Kyrle dipengaruhi sangat kuat oleh intelektual psikoanalis Inggris kelahiran Hungaria; Melanie Klein. Klein berpendapat bahwa semua manusia dihantui oleh ketakutan yang mendalam dan mengerikan—yang disebutnya “kecemasan psikotik”. Dia berpikir bahwa kecemasan ini dan tanggapan kita terhadapnya bisa mendorong manusia untuk berperilaku—secara baik maupun buruk. Dalam skema Kleinian, ada dua bentuk utama kecemasan psikotik. Kecemasan paranoid merupakan kecemasan karena dianiaya oleh teror kejahatan dan kekuatan abadi. Sementara kecemasan depresif, adalah perasaan seseorang yang bersalah karena telah menghancurkan nilai-nilai dan sesuatu dicintai manusia. Klein juga menggambarkan apa yang disebutnya sebagai “pertahanan manik”; yang merupakan penolakan ketidakberdayaan dan ketergantungan pada orang lain berdasarkan delusi kekuasaan, keagungan, dan kemandirian yang diekspresikan melalui sikap kemenangan, kontrol, dan penghinaan.

Money-Kyrle menggunakan kerangka kerja Klein untuk memahami kekuatan retorika Nazi. Dia menyimpulkan bahwa Hitler dan Goebbels menginduksi sesuatu seperti psikosis massa di antara audiens mereka dan membentuknya untuk tujuan politik. Dia pun menulis:

 

Dia mengatakan bahwa mereka tidak terlalu mengesankan. Tapi kerumunan itu tak bisa dilupakan. Orang-orang tampaknya kehilangan individualitas mereka secara bertahap dan menyatu menjadi monster yang tidak terlalu cerdas tetapi sangat kuat yang berada di bawah kendali penuh oleh sosok di mimbar yang membangkitkan atau mengubah gairah mereka menjadi beberapa organ raksasa dengan mudahnya.

 

Mengamati aksi Hitler dan Goebbels, mengantarkan Money-Kyrle pada gagasan bahwa: agar propaganda politik berhasil, para propagandis harus memperoleh perasaan tidak berdaya di antara para pendengarnya (sebagai “racun”) dan kemudian menawarkan mereka solusi ajaib (sebagai “kue”). Pertama, mereka membuat pemirsanya tertekan; untuk membuat mereka merasa telah kehilangan atau menghancurkan sesuatu yang sangat baik dan berharga. Sehingga mereka pun berlutut dan menjadi bahan olok-olokan. Mereka juga merasa telah mengkhianati nasib besar rakyat Jerman. Seperti halnya yang digambarkan oleh Money-Kyrle, “Selama 10 menit, kami mendengar tentang penderitaan Jerman sejak perang. Monster itu sepertinya menikmati pesta mengasihani diri sendiri.”

Langkah kedua adalah dengan mengidentifikasi beberapa minoritas atau kelompok orang luar sebagai pelaku penderitaan seseorang. Mereka dianggap sebagai “kekuatan jahat” yang menganiaya kita dari luar atau menghabisi kita dari dalam. Money-Kyrle menulis hal demikian:

 

Kemudian selama 10 menit berikutnya, muncullah kemarahan paling hebat terhadap orang-orang Yahudi dan Sosial-Demokrat sebagai penyebab satu-satunya penderitaan mereka. Mengasihani diri sendiri memberikan tempat pada kebencian; dan monster itu tampaknya akan menjadi pembunuh.

 

Langkah ketiga adalah dengan menawarkan penyembuhan manik atas teror ketidakberdayaan:

 

Belas kasihan terhadap diri sendiri dan kebencian saja tak cukup. Mengusir rasa takut juga diperlukan. Karenanya, pembicara beralih dari penghinaan ke pujian diri. Dari permulaan yang kecil, Partai telah menjadi tak terkalahkan. Setiap pendengar merasakan bagian dari kemahakuasaannya dalam dirinya & dipindahkan ke psikosis baru. Melankolia yang diinduksi masuk ke paranoia dan paranoia menjadi megalomania.

 

Puncak terkahirnya ialah fase manik dari performa Hitler yang merupakan daya tarik bagi persatuan; yang menurut Money-Kyrle sangat penting bagi keberhasilan propaganda otoriter. Karena jika ia tidak memiliki tawaran menggelegar apapun, ia hampir tak bisa ditetapkan sebagai dewa. Menggaungkan kekuatan semacam ini, maka nada-nada positif disuarakan; Hitler pun menjanjikan surga di muka Bumi. Surga ini, bagaimanapun, hanya untuk orang Jerman sejati dan Nazi sejati. Semua orang di luar itu tetaplah dianggap penjahat dan karenanya menjadi obyek kebencian.

Meskipun terinspirasi dari pengamatannya terhadap retorika Nazi, Money-Kyrle tidak memaksudkan bahwa analisisnya hanya berlaku untuk kasus Nazi. Pada tahun 2016 menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat, jurnalis Gwynn Guilford menghadiri beberapa demonstrasi Donald Trump dan dia menggunakan catatan pengamatannya untuk menguji tesis Money-Kyrle. Dia melaporkan dalam sebuah artikel menarik yang diterbitkan di majalah online Quartz, “Saya telah menghabiskan banyak rim untuk hasil pengamatan yang saya tulis ketika saya meneliti unjuk rasa Trump. Hampir setiap paragraf sesuai dengan urutan metode Money-Kyrle.”

Apakah diagnosa psikoanalitik terhadap daya tarik para pemimpin seperti itu bisa benar? Untuk itu, diperlukan beberapa analisis psikologis yang bersumber dari hasrat para pemimpin otoriter. Dengan memahami daya tarik ilusi otoriter, kita dapat terbantu untuk melawannya. Pula dengan demikian, kita sekali lagi  bisa terhindar dari pembawaan menuju ke jurang (penderitaan) yang dalam.

 

12 Februari 2018

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Terlalu malas untuk berlaku tirani.]

[Wawancara/Punk Scene] ‘Penentang Gravitasi’ di Awal Kelahiran Punk

*)Diwawancarai oleh Amy Haben. Pegiat skena dan kontributor Pleasekillme.com.

Citra punk rock generasi pertama yang dimengerti otak remaja saya telah saya temukan pada perpustakaan umum setempat. Dalam sebuah buku, saya menemukan foto yang diambil oleh Bob Gruen saat Sex Pistols sedang memainkan kekonyolan. Di buku foto lainnya, saya menemukan seorang perempuan yang tampak memalukan dengan rambut pirang sarang lebahnya  yang eksotis dan ber-make up bulu mata lebar.

Perempuan itu bahkan bukanlah anggota band. Namun dia terlihat lebih keren dari semua musisi. Dia berlalu dengan nama tunggal “Jordan” dan dialah karya seni yang berjalan. Keberaniannya telah memupuk sekalangan individu yang berkesenian untuk berpakaian secara out of the box—sekalipun tidak diterima oleh khalayak.

Sebelum kemunculan Madonna dan Lady Gaga, Jordan sudahlah ada. Mantan penari balet yang terlahir dengan nama Pamela Rooke ini mengambil referensi berpakaian dari kecintaan masa kecilnya; yang sering memakai sepatu balet dan tutus. Seorang badass kelahiran Sussex ini pernah berjalan menyusuri jalanan dengan mengenakan rok plastik tembus pandang tanpa celana dalam. Itulah semacam raungan hening yang mengagetkan para penduduk asli yang sedang kecanduan memakai polyester dan menohok kejijikan kaum konservatif.

Jordan adalah sesosok menakutkan yang duduk di belakang pajangan Toko Sex milik Malcolm McLaren dan Vivienne Westwood di King’s Road, London. Dia tak akan pernah menanyakan kebutuhan para pelanggan dan itu menjadi semacam ujian keberanian bagi para klien yang datang untuk meminta pelayanannya. Sebagian besar pengunjung hanya berani meletakkan barang pilihannya secara diam-diam saat bertransaksi.

Sex Pistols adalah band terkenal yang dimanajeri Malcolm McLaren dan dibentuk di Toko Sex. Sebelumnya, toko itu bernama Let It Rock dan dijual kepada para penggemar new wave era 1950-an yang disebut Teddyboys. Dua tahun kemudian, Vivienne—seorang perancang busana—memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Too Fast To Live, Too Young To Die yang diperuntukkan bagi para rocker dengan berisikan banyak pakaian kulit dan rantai. Beberapa tahun setelah itu, namanya berubah lagi menjadi Sex yang saat ini bernama World’s End.

Di depan Sex, tertera bantal huruf “S-E-X” berwarna pink yang terlihat layaknya patung karya Claes Oldenburg. Pakaian karet dan kulit adalah  barang dominan. Selain disambangi rocker dan punk, ada juga pecandu skena yang cukup normal di siang hari. Bahkan seorang penyiar berita terkemuka di televisi akan mengedipkan matanya kepada Jordan sebagai kode rahasia untuk menunjukkan bahwa dia mengenakan celana dalam karet di balik jasnya. Toko subversif ini menarik banyak pencuri muda seperti musisi Johnny Thunders; yang ketahuan mencuri dan dikenai cacian oleh seorang pekerja pria. Bianca Jagger; istri Mick Jagger-vokalis Rolling Stones, pun pernah digiring keluar dari toko. Dan, tiada seorang diva pun yang aman!

Jordan seorang ikon feminis. Dia sering menampakkan payudaranya dengan cara apapun yang tidak bermaksud  untuk menarik rangsangan seksual melainkan sebagai pernyataannya melawan sensor. Dia berkali-kali kesulitan berkencan karena para laki-laki berpikiran lurus tampaknya terhalangi oleh kecerdasan dan humornya. Perempuan yang tangguh semacam dia memang sangat bisa mengintimidasi.

Dia selalu merasa paling nyaman berada di bar kaum gay dan bahkan pernah memenangkan drag contest saat dia membuat pakaian yang terdiri dari lobster plastik, rumput laut, kerang, kail, dan jaring. Malam itu, ia menjuluki dirinya “The Dyke From The Deep” sebagai karakter campy seorang perempuan biseksual.

Orang-orang yang berdatangan ke Sex pun tak hanya untuk membeli hasil karya Vivienne. Mereka datang untuk mengintip bagaimana keseluruhan diri Jordan sebagai suatu keunikan yang agung. Lemmy; pelopor Motorhead, pernah memperingatkannya untuk menjauhi narkoba; yang menurutnya terasa begitu ironis. Penyanyi yang bernyanyi dengan kecepatan membingungkan dan berbahan bakar alkohol tersebut berusaha menyelamatkan teman mudanya dari cengkeraman heroin. Orang bijak yang keras kepala itu mungkin telah meramalkannya;  karena akhirnya Jordan berperang melawan obat-obatan jahat itu.

Jordan mengelola latihan grup Adam & The Ants dan bahkan beberapa kali ia bernyanyi bersama mereka. Sebagai orang yang selalu menarik perhatian, ia menarik perhatian sutradara Derek Jarman yang memerankannya sebagai Amyl Nitrate dalam film “Jubilee” tahun 1978. Film ini mengisahkan Ratu Elizabeth Pertama terlempar ke masa depan dan menyaksikan sebuah kota dalam pembusukan yang dijejali para nihilis tanpa tujuan. The Slits dan juga Siouxsie & The Banshees tampil dalam film yang tata musiknya digarap oleh Brian Eno ini. Sekarang, film ini malah dianggap sebagai film kultus.

Jordan menulis memoar barunya yang berjudul “Defying Gravity” yang debutnya dirilis di  Amerika Serikat tahun 2019 ini. Memoar ini dipenuhi kutipan dari Vivienne Westwood, Paul Cook, Derek Jarman, Michael Collins, Sylvain Sylvain, dan banyak lagi. Buku ini mengisahkan semua ledakan konsumsi fashion dan kontrakultur di London era 1970-an. Bacaan ini dirasa wajib bagi penggemar punk dan musti menjadi bacaan wajib juga bagi para pelajar yang menekuni sejarah rock n’ roll dan mode. Saya mengobrol dengannya sebentar di sebuah bangku di London. Bacalah percakapan kami berikut ini.

 

***

 

“Saya mempunyai anting-anting yang saya buat dari bulu dan mutiara ini setelah kucing saya menangkap seekor burung jalak di kebun. Saya pergi menemui David Bowie dan saya sampai di depan panggung tempatnya menyanyikan “Ziggy Stardust”. Dia membungkuk dan bertanya apakah dirinya bisa mendapatkan anting-anting saya ini. Lalu saya pun berlalu—sambil menggelengkan kepala,” ujar Jordan sebelum kami berbincang.

 

Hahaha… Anda menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyerah.

Bertahun-tahun kemudian, tentu saja, saya bertemu David berkali-kali. Tetapi saya tidak pernah mengaku kepadanya bahwa saya adalah perempuan yang anting-antingnya diminta olehnya.

 

Kamu adalah orang paling keren. Kebanyakan orang akan merobek kemeja dari punggungnya untuk diberikan kepada David. Kalau boleh tahu, di mana awalnya Anda memilih pakaian? Apakah Anda membuatnya atau menemukannya di toko barang bekas?

 

Kedua-duanya. Saya juga pergi ke toko barang bekas. Di Brighton, ada banyak hal yang sangat bagus pada saat itu yang tidak sebanyak sekarang. Saya dulu seorang pengusung DIY (do it yourself) yang mengacaukan apa yang ada di Brighton. Saya akan menjahit simpul-simpul kecil pada rok tahun 1950-an ini dan saya sering memakai pakaian balet.

 

Apakah orang tuamu marah pada awalnya?

Ya. Saya biasa berjalan menyusuri jalan setapak di rumah saya sama persis seperti saat saya berjalan menuju Sex di King’s Road. Saya tidak menganggap diri saya berani. Ketika Anda merasa nyaman dan aman dalam melakukan perbuatan Anda, Anda akan merasa diberdayakan—bukan keberanian.

 

Saya mengerti maksudmu. Dulu, saya pernah mengenakan kostum polkadot Minnie Mouse dengan jala ikan. Sebagai remaja, saya tidak merasa malu karena saya tahu siapa diri saya.

Persis seperti itulah saya.

 

Berapa usiamu saat mulai bekerja di tokonya Vivienne?

Baru saja 19 tahun. Dan saya mendapat nilai A untuk pelajaran bahasa Inggris dan hukum di sekolah. Suatu penilaian tertinggi yang bisa kita dapatkan.

 

Apakah kamu seorang bocah supel ataukah pemalu?

Aku antisosial. Saya selalu mengira bahwa orang-orang yang terlibat dengan saya mungkin akan mendapat masalah apabila menjadi teman saya. Saya selalu mendapat masalah karena penampilan saya. Saya selalu diusir dari ruangan padahal saya menjadi pejabat kesiswaan di sekolah.

 

Kamu berakal tapi mereka selalu ingin menyingkirkanmu bagaimanapun caranya.

Saya sengaja menjabat kepengurusan siswa karena itu memberi saya posisi berkuasa kepada para siswa. Saya bisa membantu mereka tanpa menjadi jahat seperti para guru.

 

Saya melakukan hal yang sama dengan menjadi staf fotografer buku tahunan. Saya jengah kepada sedikit teman punk saya yang tidak diakui. Kemudian saya memutuskan menjadi orang yang berkuasa. Pada akhir tahun itu, potongan rambut mohawk jadi berlimpah di halaman buku tahunan. Para orang tua mungkin merasa ngeri.

Anda membangkang dengan cara masuk ke dalamnya. Hebatnya, para guru tidak cukup pintar untuk memahami hal itu. Saya dikeluarkan dari sekolah karena penampilan saya. Kemudian para guru datang ke rumah saya karena mereka menginginkan saya kembali tapi mereka meminta saya berubah. Orang tua saya tentu saja berada di pihak mereka. Tapi saya tidak akan berubah.

 

Apakah ada seragam di sekolah Anda?

Ada keseragaman. Anda tidak bisa memakai sepatu tertentu. Saya punya sepatu hitam bagus berhak tinggi dengan tali. Kemudian, teman saya mengatakan bahwa dia akan melihat saya berjalan ke pertemuan dengan sepatu itu dan dia akan berpikir, “Oh tidak, dia akan mendapat masalah lagi.”

 

Karena Anda sangat berbeda sejak usia muda, apakah ada tempat bergaul dengan orang-orang sejenis Anda?

Semasa awal remaja, saya nongkrong di semua klub laki-laki & gay di Brighton. Mereka menyukai penampilan saya. Itu membuat Anda lebih toleran terhadap semua orang ketika Anda diterima.

Ada kerangka berpikir yang baik untuk menunjukkan keberadaan saat Anda sepenuhnya diterima. Kami biasa berdansa semalaman. Itu sangat menakjubkan. Anda menyebut diri Anda biseksual, begitu juga saya. Ini sangat membebaskan ketika Anda bisa memiliki persahabatan yang hebat dengan pria gay. Miles terasa memiliki musik yang lebih baik dibandingkan dengan bar-bar normal lainnya.

 

Apakah pernah ada yang merasa perihatin dengan “Sex” sebagai nama toko kalian?

Sex menempati gedung yang sama dengan Toko World’s End kepunyaan Vivienne saat ini. Kami tidak pernah terganggu oleh siapapun tentang nama itu karena terletak di bagian kota yang lebih pinggiran. Pernahkah kamu ke sana? Jika tidak, saya akan membawamu dan memperkenalkan Anda kepada semua orang.

 

Oh ya, aku pernah ke World’s End sekali. Ada seorang pekerja perempuan yang sangat lucu dan unik.

Dia adalah Lisa. Seorang yang sangat cantik dengan banyak tato.

Ada salah satu foto saya yang paling terkenal sangat lucu. Foto itu diambil oleh fotografer terkenal; Sheila Rock. Saya sedang berada di luar Toko Sex dan seorang pebisnis dalam foto tersebut berjalan sambil menatap saya seperti berkata, “Apa-apaan ini?”

 

Hahaha… Saya menyukai foto itu

Itulah momen yang benar-benar baik sepanjang waktu.

 

Apakah Anda menjadi seorang glam sebelum kancah punk membahana?

Saya sudah melakukannya. Tapi sebelum itu, sudah ada Iggy dan The Velvet Underground. Band-band semacam ini didirikan kembali oleh David Bowie karena dia menggemarinya. Itu menjadi semacam penghargaan yang luar biasa.

 

Adakah hal lucu yang dikatakan Iggy atau Bowie kepadamu?

Lucunya, saya belum pernah bertemu Iggy. Sungguh mengecewakan. Dia bermain setahun lalu di Hyde Park. Saya bertemu dengan manajer turnya di pesta kebun pribadi dan dia berkata, “Kenapa kamu tidak kembali ke panggung? Iggy akan senang melihatmu!”

 

Saat selanjutnya, Anda pasti akan kembali.

Oh ya. Itulah kesepakatannya. Bowie adalah pria yang sangat pintar. Saya ingat pernah berfoto bersamanya di Cannes dan Live Aid.

 

Saya pernah melihat foto Anda bernyanyi.

Saya bernyanyi di panggung dengan Adam Ant. Saya punya satu lagu. Lagu itu merupakan hal yang sangat kuat untuk dinyanyikan di atas panggung dan kemudian membuang mikrofon, lalu pergi.

 

Saya mengenal Chris Constantinou dari Adam & The Ants.

Oh, dia orang yang menyenangkan. Saya pikir Adam masih berteman dengannya.

 

Chris berkata tentang bagaimana dia mendapatkan banyak groupies dan The Ants lebih ber-make up dibanding gadis-gadis yang mereka kumpulkan.

Haha!

 

Apakah Anda yang banyak mengatur gaya mereka saat itu?

Hanya beberapa. Boy George—sebelum dia terkenal—adalah penggemar toko kami. Orang-orang dapat datang dengan banyak uang tetapi mereka tidak harus terlihat bagus dengan pakaian itu. Saya akan berkata kepada mereka, “Kamu pikir kamu akan terlihat seperti apa?”

 

Hahaha…

Saya akan mengatakan, “Bagaimana kamu akan memakai benda itu?” dan “Bagaimana kamu mengadaptasinya?”

Kemudian beberapa bocah itu akan bepergian jauh tanpa uang dan saya akan memberi mereka t-shirt gratis. Bocah-bocah seperti mereka akan terlihat lebih baik mengenakan baju itu dibanding kebanyakan pelanggan toko. Saya tidak akan pernah berhenti mengurusnya dan  selalu berkata, “Ada yang bisa saya bantu?” Orang-orang pun akan datang dan melihatnya.

 

Saya pastikan kamu sering diminta menjadi model oleh banyak fotografer.

Ya, itulah yang terjadi. Apakah Anda ingat foto pantat Chrissie Hynde, Vivienne Westwood, dan saya? Kami mempunyai  tulisan “S-E-X” yang tertulis di pantat kami. Tentu saja, pantatku adalah yang paling besar dari mereka semua! Hahaha…

 

Oh ya, saya menyukai foto itu.

Chrissie masih menjadi teman baik saya. Dia sangat menekuni ekologi sekarang dan peduli terhadap planet ini.

 

Saya sangat terinspirasi olehnya. Ia seorang perempuan muda yang datang langsung ke Inggris dan memulai band-nya saat itu. Sungguh menakjubkan.

Dia sosok pemberani. Dia tidak pernah  menjawab “tidak”.

 

Apakah kamu juga berteman dengan Poly Styrene?

Saya sangat berteman baik dengannya!

 

Saya baru saja mewawancarai anak perempuannya.

Kami mempunyai penerbit yang sama. Sayang sekali Anda tidak akan berada di sini. Kami sedang membaca bersama di British Library.

 

Siapa yang menjadi kawan paling akrabmu di skena?

Saya kira Adam. Dia benar-benar manis. Kami teman yang sangat baik. Saya memanajerinya dan dia mengirim surat cinta. Saya tidak memiliki perasaan ketika orang-orang menyukai saya. Jadi butuh dua tahun baginya untuk merayu saya. Adam menyukai banyak wanita, jadi saya tidak pernah benar-benar menjadi pacarnya. Kami lebih sebagai friends with benefits. Lalu saya menikah dengan seorang pemain bass.

Saat usia 18 tahun, apakah Anda merasakan hal seperti itu sebagai cinta pandangan pertama dan sebuah hubungan yang ajaib?

Ya, seperti itu.

 

Pleasekillme.com/5 September 2019

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Skenais arus bawah.]

 


Wawancara ini disadapalihkan dari Pleasekillme.com demi kepentingan pergulatan skena dan pencerahan wawasan di sekitar para pembaca.


 

Bisakah Konsumsi Kita Mewujudkan Masyarakat Adil-Makmur?

*)Ditulis oleh Florian Schui. Sejarawan di Royal Holloway, Universitas London. Telah menulis buku Austerity: The Great Failure pada 2014.

Orang-orang Barat terus-menerus mengkhawatirkan konsumsi yang berlebihan dan hidup yang terlalu baik. Ini bukanlah masalah baru. Paling tidak, selama 2000 tahun terakhir, kita khawatir karena harus membayar biaya-biaya kemakmuran. Yang mungkin lebih mengejutkan ialah kita akan terus-menerus merasa khawatir.

Selama ribuan tahun pertama keberadaan manusia, peningkatan konsumsi berjalan sangat lambat. Namun selama 200 tahun terakhir ini, industrialisasi menyebabkan peningkatan kemakmuran masyarakat Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Secara super, peningkatan kemakmuran terjadi terakhir kali pada era 1950-an dan 1960-an. Akan tetapi, kita masih belum memperoleh timbal-baliknya. Sebaliknya, kebanyakan orang Barat merasa bahwa hasil utama peningkatan kemakmuran tersebut adalah hidup yang terasa lebih langgeng dan lebih nyaman.

Ada pernyataan bahwa masalah sosial-ekonomi yang paling mendesak di zaman kita ialah sangat tidak meratanya distribusi manfaat kemakmuran yang menumbuhkan ketidaksetaraan. Ketimpangan terasa paling kuat dalam hal konsumsi. Menariknya, hal ini bukan disebabkan oleh konsumsi berlebihan pada kalangan atas, melainkan karena meningkatnya kekurangan di kalangan bawah.

Jika kita ingin memperbaiki ketidakseimbangan ini melalui redistribusi, kita perlu menyadari bahwa hal ini akan meningkatkan substansi konsumsi keseluruhan yang selanjutnya tak bisa dihindari. Peningkatan substansi ini mungkin bukan hal buruk sebab para pembuat kebijakan selalu berusaha memahami tradisi panjang mengkritik konsumsi yang hampir setua peradaban Barat.

Kritik konsumsi tertua dan paling berpengaruh mungkin muncul dalam tradisi Yahudi-Kristen. Penghancuran wilayah Sodom dan Gomora dipahami secara umum sebagai hukuman ilahi atas kebejatan seksual. Namun seperti yang ditunjukkan oleh Stephen Long—teolog Amerika—melalui “Christian Ethics” (2010); dosa-dosa yang dilakukan di kedua kota itu “lebih berkaitan dengan ekonomi daripada homoseksualitas”. Karena terobsesi kemewahan, orang-orang Gomora menjadi gagal menunjukkan keramahan dan kasih tanpa pamrih yang dikehendaki Tuhan kepada mereka.

Hubungan antara dosa dan keserakahan materi dimunculkan kembali dalam pembahasan Perjanjian Baru. Dengan menggunakan perumpamaan yang aneh, Yesus memperingatkan bahwa orang kaya akan menghadapi kesulitan dalam perjalanannya menuju ke Firdaus yang sama halnya seperti unta yang mencoba melewati lubang jarum. Dia menyarankan caranya mencapai surga adalah dengan mengurangi konsumsi secara radikal; yakni dengan memberikan semua harta benda.

Versi duniawi dari argumen semacam di atas—yang tidak bergantung pada kepercayaan kepada Tuhan atau kehidupan setelah kematian—diusulkan oleh Jean-Jacques Rousseau pada abad ke-18. Rousseau menyuarakan keprihatinannya terhadap latar belakang revolusi konsumen yang terjadi pada masanya. Dalam karyanya “Discourse on the Moral Effects of the Arts and Sciences” (1750); ia menyesalkan kepemilikan dan penampilan yang menjadi motif utama tindakan manusia dalam tatanan komersial; sementara sentimen dan keyakinan sejati telah menjadi motif kedua. Sebaliknya, yang menjadi perhitungan adalah perbuatan yang membantu seseorang naik ke tonggak kekayaan dan prestise secara licin. Maka, hasilnya adalah korupsi moral; sehingga pria dan wanita hidup dengan cara-cara yang palsu demi orang lain dan melalui orang lain.

David Hume dan para pemaklum masyarakat komersial abad ke-18 lainnya juga mengakui bahwa ketertarikan terhadap konsumsi menghentikan banyak ekspresi perasaan dan dorongan hati manusia yang tulus. Tetapi mereka juga menyarankan bahwa hal ini tidak perlu menjadi perusak. Sistem baru ini membantu menyalurkan perilaku manusia yang sesuai dengan cara-cara berdampingan yang damai. Pria dan wanita yang terbentuk dalam semangat masyarakat komersial mungkin mendambakan kepemilikan yang bergemerlapan dari orang lain. Akan tetapi, daripada mengikuti dorongan sejati mereka dan memperolehnya secara paksa; mereka akan melakukann kerja keras demi membeli obyek-obyek hasrat ini sendiri atau mencari orang kaya untuk bersenang-senang dalam gemerlapan konsumsinya. Dalam masyarakat komersial, sentimen yang sejati sering diabaikan. Tapi ada juga  orang yang lebih sedikit menahan nafsu seperti era sebelumnya yang lebih sejati.

Secara teori, hal tersebut merupakan kebangkitan kembali yang kuat. Namun argumen tersebut didasarkan pada pandangan negatif yang berlebihan mengenai apa yang disebut sebagai “zaman kegelapan” sebelum munculnya perdagangan yang mencerahkan. Dan efek pemberadaban perdagangan segera diliputi keraguan lagi oleh penyebaran kolonialisme, perbudakan, dan pemusnahan massal kaum pekerja—ketika Eropa menyebarkan tentakelnya ke seluruh dunia. Karenanya, pemikiran Rousseau tidak dapat disepelekan secara mudah.

Saat industrialisasi berkembang, muncullah untaian kritik baru terhadap konsumsi. Pada 1798, dengan menggunakan matematika dasar; Thomas Malthus berpendapat bahwa konsumsi tanpa batas akan menghukum umat manusia untuk hidup dalam kesengsaraan. Jika populasi menyebabkan konsumsi tumbuh secara eksponensial, sementara sumber daya—yang terpenting seperti lahan subur—jumlahnya terbatas, maka akan tercapainya titik kehancuran sistem yang tak terhindarkan. Menurut Malthus, kelaparan akan mengurangi jumlah populasi secara berkala, namun nafsu seksual yang tak terpuaskan dari kelas bawah (yang diartikan sebagai massa) tidak akan pernah bisa naik ke atas tingkat taraf hidup yang paling menyedihkan.

Kalkulasinya Malthus tampak tak terbantahkan namun ramalannya tak menjadi kenyataan. Kemiskinan masih menjadi masalah di Barat tapi hampir tiada yang hidup dalam kesengsaraan yang diprediksinya dan oleh karenanya kita bisa berterimakasih atas kemajuan teknologi. Teknologi memungkinkan manusia menyerah pada dorongan seksualnya tanpa menghasilkan anak (semacam konsumsi tanpa konsekuensi). Kemajuan ilmu pengetahuan juga mengisyaratkan bahwa sumber daya yang ada dapat digunakan lebih efisien dan sumber daya baru bisa disadap. Hasil pertanian telah tumbuh secara dramatis sejak zamannya Malthus hidup dan kita hari ini menggunakan sumber energi dan persediaan lain yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang sezamannya. Prediksi spesifiknya Malthus ternyata salah tetapi logikanya yang mendasari skenario malapetaka semacam itu terus menghantui imajinasi orang-orang Barat.

 

***

Sebagai akibat Perang Dunia Kedua, revolusi konsumsi kedua membawa kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya pada orang-orang Barat. Televisi, lemari es, mobil, dan perjalanan udara menjadi barang konsumsi umum yang pada gilirannya menyebabkan reaksi kritis baru pada akhir 1960-an.

Club of Rome; sebuah think tank global yang baru dibuat pada 1972, mengerjakan sebuah laporan yang diterbitkan dengan judul “The Limits to Growth” yang melahirkan kebangkitan pengaruh ide-ide Malthus. Para penulisnya berpendapat bahwa pertumbuhan populasi dan perluasan konsumsi yang salinng berkaitan akan menyebabkan menipisnya sumber daya, polusi yang berlebihan, dan—pada akhirnya—kehancuran lingkungan. Laporan tersebut membentuk kesadaran publik dan memberikan kontribusi berpengaruh terhadap kebangkitan gerakan Politik Hijau pada masa ini.

Tahun 2012, Jørgen Randers; futurolog Norwegia yang ikut menulis dalam “The Limits to Growth”, menyajikan serangkaian prediksi suram untuk 2052. Argumen dasarnya tetap tak berubah; bahwa populasi dan konsumsi semakin tumbuh, peningkatan konsumsi energi dan emisi menyebabkan perubahan iklim; yang menuntut biaya ekonomi yang besar, dan menyebabkan kerusakan lingkungan; yang pada akhirnya menjadikan kehidupan di bumi menjadi tak berkelanjutan.

Kritik sosial-psikologis Rousseau mengenai konsumsi kembali terlihat pada era 1970-an. Melalui karya seminalinya “To Have or To Be?” (1976), Erich Fromm; psikoanalis Jerman, menawarkan sebuah pilihan nyata kepada para pembacanya; antara kehidupan yang terpenuhi dengan memperoleh kepuasan dari hidup itu sendiri atau eksistensi palsu yang berputar di sekitar kepemilikan materi. Prinsip yang pertama adalah tentang berkolaborasi dan hidup berdampingan yang saling bersahabat antarsesama pria dan wanita. Lalu prinsip berikutnya adalah suatu kompetisi agresif yang berputar pada sekitaran cara menipu konsumen, menghancurkan pesaing, dan mengeksploitasi para pekerja. Meskipun perolehan materi seolah-olah terpenuhi, keinginan material kita yang tak dibatasi membuat kita fokus pada kepemilikan selamanya yang justru menahan pemenuhan itu sendiri.

Pemikiran yang lebih kekinian dari tradisi kritik konsumsi ini adalah kritik politik konsumsi yang ditawarkan oleh filsuf Slovenia; Slavoj Žižek dan kritikus lainnya. Žižek berfokus pada upaya konsumen untuk berbuat baik dengan membeli yang “benar”. Khususnya, ia mengkritik konsumsi makanan organik dan produk-produk yang diperdagangkan secara wajar—yang diharapkan membawa manfaat bagi konsumen, produsen, dan masyarakat pada umumnya. Ia berargumen jika semua orang membuat keputusan yang tepat di supermarket, dunia yang lebih baik dapat diciptakan. Namun kenyataannya, pilihan konsumen selalu terbatas dan juga dikondisikan oleh struktur politik-ekonomi yang hanya bisa diubah melalui aksi politik kolektif. Bagi Žižek, kepercayaan akan kedaulatan konsumen adalah naif dan akhirnya menjadi faktor perusak karena mengalihkan kita dari aktivisme politik yang nyata. Atau dengan menggunakan pernyataan Fromm: keasyikan dengan apa yang dimiliki akan membuat kita tidak menghadapi pertanyaan tentang siapa yang kita kehendaki sebagai individu dan sebagai masyarakat.

Meskipun secara intelektual menarik, sebagian besar dari berbagai kritik ini telah ditenggelamkan oleh keberhasilan ekonomi kapitalisme industri. Seperti yang pertama kali dikatakan filsuf Belanda; Bernard Mandeville dalam “The Fable of the Bees: Or, Private Vices, Public Benefits” (1714), konsumsi memang mungkin tak bermoral tapi juga merupakan bahan bakar yang mendorong perdagangan dan membawa kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Voltaire dan tokoh-tokoh penting Zaman Pencerahan lainnya segera mempertahankan argumen ini. Sehingga sejak saat itu, argumen yang berusaha menyeimbangkan antara manfaat publik atas konsumsi dan keserakahan pribadi ini bisa membuat peredaran uang bisa dinikmati. Berlawanan dengan latar belakang krisis ekonomi saat ini, argumen semacam itu berpengaruh sangat kuat pada zamannya. Apabila rute menuju pemulihan dan kesetaraan yang lebih besar membutuhkan lebih banyak konsumsi, tentunya akan banyak komentator yang cenderung mengabaikan keterlibatan moral dan lingkungan. Selain itu, ada indikasi kuat bahwa peningkatan konsumsi mungkin menjadi jalan keluar dari krisis ekonomi saat ini.

 

***

 

Semakin jelas bahwa permintaan konsumen yang lemah memainkan peran dalam menyebabkan krisis keuangan baru-baru ini dan sekarang memperpanjang kemacetan ekonomi. Segera setelah krisis pada 2008, ada beberapa upaya untuk mencegah krisis kembali dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah. Bank dan lembaga keuangan lainnya diselamatkan dan paket stimulus dirancang untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi. Namun ketika jumlah hutang meningkat dan pertumbuhan anjlok, maka kebijakan ekonomi berubah. Ekonom terkemuka seperti Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff—keduanya profesor di Harvard—menyarankan bahwa pertumbuhan akan dihasilkan dari pembatasan hutang. Pada saat yang sama, aliran lama Hayekian (pelopor neoliberalisme)—yang memangkas peran negara—akan membebaskan kekuatan ekonomi sektor swasta dan membuat kemunculannya kembali menguat. Dalam pidatonya pada 2013, Perdana Menteri Inggris; David Cameron, menghimbau agar melakukan “more with less” (lebih banyak mengurangi). Pernyataannya ini pun menjadi pepatah penghematan para politisi dan anggaran pemerintahan menjadi  berkurang. Pantangan kolektif juga diberlakukan pada seluruh masyarakat dengan harapan bahwa ini akan menyelesaikan krisis keuangan dan ekonomi negara-negara Barat.

Enam tahun setelah krisis, kebijakan tersebut terus berlanjut namun gagal memberikan hasil positif. Di sebagian besar negara Barat, tingkat hutang belum menurun secara signifikan dan pertumbuhan masih lemah. Akibatnya, alasan ekonomi di balik politik abstinensi (penghematan) semakin dipertanyakan. Titik baliknya ditandai oleh pidato Larry Summers; ekonom Amerika Serikat, di Forum Ekonomi-International Monetary Fund 2013. Seorang profesor ekonomi Harvard sekaligus mantan Menteri Keuangan era Bill Clinton dan penasihat ekonomi Presiden Barack Obama ini mengatakan bahwa ekonomi Barat mungkin telah memasuki periode “stagnansi sekuler” dalam sambutannya.

Pengistilahan “stagnansi sekuler” memang signifikan. Istilah yang diciptakan Alvin Hansen; ekonom Amerika Serikat, pada 1930-an ini digunakan untuk menjelaskan penyebab Depresi Hebat (Great Malaise). Mengikuti gagasan John Maynard Keynes; pelopor gagasan walfare state, Hansen melihat kurangnya konsumsi sebagai penyebab utama krisis. Dia berpendapat bahwa krisis jenis ini merupakan efek dari berlebihnya penghematan tabungan dibanding berinvestasi. Sebagai persoalan akuntansi nasional, ketidakseimbangan seperti ini membikin depresi ekonomi karena tabungan musti sama besarnya dengan investasi. Jika investasi terlalu sedikit sebagai jalan keluarnya semua tabungan, maka dengan mengurangi tabungan akan mengembalikan keseimbangan; sebab selain dengan kontrak ekonomi, mengatasi jatuhnya pendapatan negara adalah dengan mengakali tabungan. Sekali lagi, meskipun antara tabungan dan investasi sekarang sudah selaras, kesempatan lapangan kerja dan operasi ekonomi pada tataran output masih lebih rendah. Jika permintaan konsumsi tidak meningkat, ekonomi bisa menjadi merana dengan tingkat pertumbuhan dan kesempatan kerja yang rendah dalam jangka waktu lama.

Seperti yang disarankan Summers, periode stagnansi ekonomi berkepanjangan yang kita alami saat ini mungkin juga disebabkan oleh lemahnya permintaan konsumen. Konsumen saat ini merasakan ketidakamanan ekonomi dan menahan pengeluarannya atau mereka sedang mencoba melunasi hutangnya—jika memang berhutang.

Ada juga tren jangka panjang yang menurunkan permintaan konsumen. Seperti halnya, meningkatnya ketimpangan pendapatan yang mustinya menjadi hal paling penting untuk disoroti. Orang dengan pendapatan tinggi cenderung menabung lebih banyak daripada orang berpenghasilan rendah. Jika mereka menabung terus secara lebih pesat, permintaan konsumen akan menurun. Sampai batas tertentu, hal ini akan berlawanan dengan intuisi sebab kita cenderung menganggap orang kaya sebagai pembelanja besar. Mereka sering berbelanja namun juga menabung dengan jumlah yang jauh lebih besar dari bagiian pendapatannya. Kasus ini diamati dengan baik oleh Centre for Economics and Business Research, London, yang penelitiannya mengenai pola tabungan dan konsumsi di Inggris baru-baru ini menunjukkan bahwa 20% penerima penghasilan teratas mampu menghemat hampir 20000 poundsterling selama 12 bulan terakhir. Pada periode yang sama, 40% penerima penghasilan lebih rendah menghabiskan lebih banyak  pendapatannya.

Tren penting berjangka panjang lainnya yang turut menekan konsumsi ialah melambatnya pertumbuhan populasi di banyak negara Barat—yang berarti semakin sedikitnya konsumen yang membutuhkan mobil, rumah, energi, dan makanan.

 

***

Jika kesulitan kita saat ini memanglah krisis akibat kurangnya konsumsi, maka peningkatan konsumsi harus menjadi perhatian utama kebijakan ekonomi. Kredit murah sering berfungsi sebagai sarana untuk memenuhi tujuan ini. Namun saat ini, bahkan dengan tingkat suku bunga yang rendah secara historis, konsumen swasta benar-benar berhati-hati mengambil kredit setelah hutang yang tak terkendali menjadi biang keladi kebangkrutan pada akhir-akhir ini.

Tentu saja, pemerintah dapat ikut serta dalam program-program belanja publik secara kredit. Akan tetapi, hal ini hanya bisa menjadi solusi jangka pendek. Cara lebih baik untuk meningkatkan konsumsi dalam jangka panjang-berkelanjutan adalah dengan redistribusi. Jika orang-orang berpenghasilan rendah (dengan simpanan rendah) secara bersamaan menaikkan tingkat konsumsinya lebih cepat daripada mereka yang berpenghasilan tinggi, ini akan sangat memperkuat daya konsumsi. Nyatanya, permasalahan ketidaksetaraan sosial dan  stagnansi sekuler ekonomi mempunyai solusi yang sama.

Pastinya, semua solusi seperti di atas tidak membantu kita mengatasi masalah moral dan lingkungan yang menjadi konsentrasi kritik terhadap konsumsi. Persoalan demikian memberikan dilema klasik untuk kita: apakah kita akan meningkatkan konsumsi sambil menerima penurunan moral dan kerusakan lingkungan sebagai imbalan atas kemakmuran dan kesetaraan? Atau kita musti menerima kemunduran ekonomi demi menyelamatkan jiwa kita dan planet ini?

Pilihan dramatis seperti itu membuat kita berimajinasi. Tapi dalam praktiknya, pilihan-pilihan yang ada mungkin tidak terlalu ekstrem. Pengamatan akut Rousseau dan Fromm tentang prospek keberadaan manusia dalam kapitalisme hanyalah kritik terhadap konsumsi jika kita membuat kesalahan dengan menyamakan konsumsi sebagai belanja. Pada zaman Rousseau, ini adalah persamaan yang adil karena sebagian besar konsumsi melibatkan individu yang memperoleh obyek atau layanan material. Tetapi jika kita melihat periode yang lebih baru, sebagian besar dari apa yang kita konsumsi tidak diperoleh secara individual. Pendidikan, perawatan kesehatan, dan keamanan merupakan bagian yang sangat besar dari apa yang dikonsumsi orang Barat saat ini dan kita melakukannya secara kolektif melalui pemerintah atau organisasi lainnya.

Perubahan persoalan pola konsumsi ini dikarenakan efek yang merusak dari kehidupan kompetitif yang berpusat pada kepemilikan materi yang tidak berkaitan dengan bentuk konsumsi kolektif. Setahun berpendidikan di sekolah negeri, seorang murid memperoleh smartphone baru keduanya sebagai bentuk konsumsi dengan harga yang jauh lebih murah daripada smartphone pertamanya. Namun saat melihat bagaimana cara seorang temannya bersekolah, malah tidak mungkin membuatnya iri. Sementara saat seorang temannya di Facebook membual tentang ponsel baru, mungkin bisa memicunya melakukan perlombaan konsumsi sehingga membuatnya memiliki ponsel yang lebih baik tetapi jiwanya menjadi lebih miskin.

Secara historis, bentuk konsumsi kolektif juga memainkan peran penting dalam membuat masyarakat menjadi lebih egaliter. Sebagian besar redistribusi yang mengatasi tingkat ketimpangan era Victoria membentuk perluasan layanan publik yang digunakan secara tidak proporsional oleh orang miskin dan didanai secara tidak proporsional oleh orang kaya. Di masa lalu, pertumbuhan sektor publik menjadi cara untuk meningkatkan kesejahteraan massa tanpa merusak jiwa mereka. Sekali lagi, ini adalah soal waktu untuk memperluas layanan publik serupa; paling tidak, untuk mengurus pelayanan kesehatan dan pendidikan sebagai bidang-bidang utama yang paling menunjukkan meningkatnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Kritikan kaum Politik Hijau terhadap konsumsi pun perlu dibongkar dengan cara yang sama. Dampak lingkungan dari barang dan jasa yang kita konsumsi sangat bervariasi. Emisi gas rumah kaca dan polutan lain yang terkait dengan perjalanan dari A ke B akan sangat berbeda sesuai dengan sarana transportasi yang digunakan. Hal yang sama berlaku untuk mandi air panas, bir dingin, dan sebagian besar bentuk konsumsi lainnya. Untuk perubahan iklim, masalah yang paling penting adalah efisiensi penggunaan energi dan sumber energi yang digunakan. Kedua efisiensi tersebut pun akan terus berkelanjutan dan ditingkatkan dengan cara memajukan teknologi.

Meski demikian, para doomsayers (pengabar kehancuran) tak akan bisa tenang. Mereka berpendapat bahwa menggunakan teknologi ramah lingkungan yang tersedia dan mengembangkan yang baru akan menciptakan biaya yang mungkin tak mau ditanggung oleh para individu. Jørgen Randers memperingatkan dalam ramalan suramnya tentang kehancuran tahun 2052. Bahkan menurutnya, jika kita mengatasi masalah ini secara kolektif, biayanya akan terlalu tinggi. Dalam pandangannya, tidak ada harapan keselamatan ekologis tanpa perubahan radikal dalam gaya hidup kita.

Namun langkah-langkah substansial masih dapat diambil dengan biaya sangat rendah. Regulasi baru tentang peraturan pembangkit listrik di Amerika Serikat yang diusulkan belakangan ini akan mengarah pada perubahan besar menuju energi yang lebih hijau dengan perkiraan biaya sekitar 50 milyar dolar setiap tahunnya; dari sekarang hingga tahun 2030. Hal ini terdengar begitu mahal tapi nyatanya proyek ini hanya menggunakan 0,2% dari total produk domestik bruto Amerika Serikat sehingga tidak akan membutuhkan perubahan radikal dari warga negara yang gaya hidupnya biasa-biasa saja. Seperti yang dikatakan Bjørn Lomborg dalam bukunya yang sangat berpengaruh; “The Skeptical Environmentalist” (2001); manusia telah berhasil memecahkan masalah lingkungan di masa lalu dan jika kemauan politik ada di sana, hal ini juga akan mungkin terjadi di masa depan.

Tidak ada kontradiksi yang melekat antara pola konsumsi yang lebih setara, lebih hijau, dan lebih manusiawi. Pertanyaan sebenarnya adalah: bagaimana memastikan bahwa sumber daya yang ada cukup untuk dicurahkan demi membawa perubahan yang diperlukan?

Seperti yang ditunjukkan oleh Žižek dengan benar, ini adalah tantangan yang tak dapat diwujudkan oleh konsumen yang tercerahkan melainkan hanya oleh warga yang peduli. Pemerintah sendiri memiliki kekuatan untuk mengimplementasikan perubahan yang diperlukan demi membuat konsumsi kita lebih ramah lingkungan. Pula, hanyalah bentuk konsumsi kolektif yang dipimpin pemerintah yang dapat menyelesaikan masalah ketidaksetaraan secara progresif. Pertanyaan tentang apakah pengalaman konsumsi kita akan mewujudkan kesejahteraan atau menghancurkan kita di masa depan, nyatanya akan diputuskan lewat kotak suara dan bukan pada mesin kasir.

 

21 Juli 2014

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Jarang konsumtif karena nggak bakat berpansos.]

Sekarang, Berhentilah Memuji Orang-orang Ternama

*)Ditulis oleh David V. Johnson. Deputi editor jurnal Stanford Social Innovation Review. Senior editor untuk Al Jazeera-AS, juga menulis opini untuk The New York Times & USA Today. Esais dan pengamat sosial yang tinggal di Berkeley, California.

Katedral Notre-Dame di Paris hampir sepenuhnya terbakar pada bulan April 2019 ini. Setelah kejadian itu, François-Henri Pinault—jutawan dan pemilik barang-barang mewah di Perancis—dielu-elukan karena menyumbangkan 100 juta euro untuk merekonstruksi apa yang disebutnya sebagai “permata warisan kami”.  Ia juga menghimpun sumbangan yang membludak dari para dermawan dan perusahaan lainnya.

Meskipun angka sumbangannya mengagumkan secara abstrak, apa yang diberikan Pinault hanya mencerminkan 0,3 persen dari kekayaan keluarganya. Jika kekayaan bersih Pinault sebanding dengan rata-rata rumah tangga Perancis dan menyumbangkan 0,3 persen dari kekayaannya, maka sumbangannya hanya berkisar 840 euro. Angka sekian bukanlah jumlah yang tidak berpengaruh bagi rata-rata orang Perancis. Tapi, siapalah yang menolak memberikan jumlah sebanyak itu jika bisa mendatangkan pujian dan kemasyhuran dengan cara berdonasi ala Pinault?

Kita hidup di zaman yang melebih-lebihkan pujian kepada orang kaya dan berkuasa. Kalangan kelas atas bermandikan lautan penghormatan, penghargaan, dan selebritas. Kita melihatnya pada majalah-majalah mengkilap dan menyaksikannya pada festival-festival kreatif—tempatnya para milyarder dijilat dan bersenda gurau. Kita memuji para filantropis karena sumbangan mereka; bahkan jika amalnya tidak akan bermanfaat banyak bagi masyarakat atau bahkan jika perilakunya begitu tercela untuk memperoleh kekayaan. Kita memuji mereka karena berkecimpung dalam politik atau mengupayakan reformasi pendidikan sebelum kita melihat hasilnya—dan bahkan jika kita mempunyai alasan untuk meragukan kebaikan yang akan mereka lakukan.

Kritik atas pujian kita yang berlebihan terhadap orang kaya dan berkuasa tentunya akan menimbulkan pertanyaan tentang meritokrasi (cara saling menghargai berdasarkan prestasi). Sejauh apakah kita hidup dalam meritokrasi? Apakah itu hal yang baik atau buruk?

Meritokrasi adalah sebentuk sistem sosial yang didirikan atas dasar pujian dan kesalahan. Orang-orang menandai siapa yang pantas mendapatkan kekuasaan dan status dengan memuji mereka karena karakternya, bakatnya, produktivitasnya, dan tindakannya. Meritokrasi juga menandai siapa yang pantas diturunkan derajat status dan kekuasaannya berdasarkan kejahatannya, ketidakmampuannya, dan kegagalannya. Selama penilaian atas pujian dan kesalahan orang bisa akurat, orang-orang akan mempromosikan mereka yang dianggap lebih baik dan menurunkan mereka yang dianggap lebih buruk dalam hierarki kekuasaan dan status. Orang yang dianggap lebih baik akan melakukan hal-hal yang lebih baik dengan kekuatan dan status superiornya. Ketika sistem ini bekerja, kita akan memiliki aristokrasi; yang menurut filsuf Aristoteles sebagai konsep pengaturan sistem oleh orang-orang yang (dianggap) terbaik.

Sistem ini tidak berlaku dan tak akan bisa bekerja dengan ketentuannya sendiri. Penilaian atas pujian dan kesalahan cenderung mencerminkan hierarki kekuasaan dan status yang sudah ada sehingga semakin memperkuat status dan kekuasaan tersebut. Ini dikarenakan pujian dan penyalahan akan banyak membuat “orang yang dinilai” menjadi sebagaimana “penilaian terhadap orang tersebut”.

Jika setiap orang ingin maju dalam meritokrasi, penilaian terhadap pujian dan kesalahan akan dipengaruhi oleh apa saja yang membantu orang tersebut  untuk menjadi maju—yaitu dengan menumbuhkan pujian kepada orang yang kuat dan dihormati, serta menghukum mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan status. Hal ini jelas sama benarnya dengan meritokrasi yang ditolak secara terbuka oleh sebagian besar orang; seperti supremasi kulit putih dan patriarki—atau hierarki yang ditegaskan berdasarkan garis ras dan gender. Tanpa penilaian moral yang mendasar pada landasan pun, sistem-sistem semacam ini tetap ada karena orang-orang yang hidup di dalam meritokrasi diberi imbalan keuntungan untuk menganggap penilaian semacam itu adalah sah.

Secara umum, meristokrasi meyakinkan mereka yang berada dalam sistemnya untuk menggaungkan penilaian moralnya sebagai tujuan dan pembenaran. Padahal mereka sebenaranya tidak dibentuk oleh kriteria obyektif melainkan oleh kualifikasi kekuasaan. Pujian dan penyalahan adalah pembutaan ideologis yang menjunjung tinggi legitimasi hierarki meritokrasi. Jika kita melihat lebih kritis pada diri kita sendiri dan penilaian moral kita, kita akan dapat dengan lebih baik menghilangkan tirai pembatas itu.

 

***

 

Asap puja-puji yang menembus hingga ke tingkat teratas masyarakat merupakan efek buruk dari imbalan yang menguntungkan. Sebagai individu, kita cenderung memuji orang lain dan mengadili pemujian karena kita ingin memenangkan niat baik orang lain dan menerima pembenaran dari niat baiknya. Terlebih lagi, kita akan mempunyai imbalan lebih besar bila memuji orang-orang kaya dan berkuasa; karena dengan memenangkan niat baiknya, kita akan dijamin oleh dukungan premium mereka; berupa kekayaan dan kekuasaan. Hingga pada gilirannya, kita akan menjadi lebih siap untuk mendapatkan pujian dari orang lain.

Semakin elitnya seseorang, maka semakin besar kemungkinannya untuk berselancar di atas pujian dari banyak orang kecil yang memohon bantuannya. Hingga sejauh zaman kita ini, ketimpangan yang masif menciptakan orang-orang yang semakin kaya dan semakin berkuasa. Maka pada tingkat setimpang ini, gelombang pujian yang berlebihan akan membengkak.

Kecenderungan pemujian semacam ini bisa menghasilkan umpan balik negatif: pujian terhadap orang kaya dan berkuasa akan menegaskan bahwa mereka adalah orang baik yang pantas mendapatkan kekayaannya; yang pada gilirannya dapat menambah kekayaan dan pengaruh mereka; dengan demikian bisa menarik lebih banyak pujian. Dan bahkan, sebenarnya kita bisa mengantisipasi efek ini.

Efek pujian berlebihan terhadap perilaku juga patut diperhatikan. Memuji orang, bahkan mereka yang pantas dipuji, sebenarnya dapat memiliki efek negatif pada perilaku mereka. Ada banyak studi psikologi yang menunjukkan bahwa orang rentan terhadap kompensasi moral. Artinya, ketika orang merasa dirinya telah terlibat dalam perilaku yang baik, ia juga merasa hal tersebut memberinya izin untuk bertindak buruk di masa depan. Kebalikan dari hal ini pun berlaku: ketika orang merasa dirinya telah terlibat dalam perilaku buruk, ia juga merasa dirinya harus menebusnya dengan bertindak lebih baik di masa depan. Jika kevalidan dari penelitian-penelitian ini bertahan lama, tampaknya riset ini membalikkan konsekuensi sosial dari pujian dan penyalahan. Memuji orang secara berlebihan dapat membuat mereka bertindak buruk, sementara menyalahkan orang dapat membuat orang tersebut diperhatikan dan memperkuat dirinya untuk berperilaku baik. Dan jika efek semacam ini hanya lebih cenderung mempengaruhi orang kaya dan berkuasa—karena mereka mampu berbuat lebih banyak berkat sumber daya & pengaruhnya, efek ini justru memperbesar bahaya dari perilaku buruk mereka.

Meritokrasi mencoba menetapkan kriteria obyektif demi membenarkan hierarki sosial. Hari ini, untuk menjadi seorang elit musti sering berkaitan dengan kepemilikan riwayat yang tepat; semisal memiliki sertifikat dari Oxbridge atau Ivy League, bertugas di perusahaan konsultan atau bank investasi terbaik, berjasa dalam politik atau pemerintahan, menulis buku, atau memberikan pembicaraan tentang karya Anda kepada pihak TED (semacam organisasi media yang mendukung kebebasan ide-ide).

Hal-hal penyokong riwayat seperti di atas menghendaki pembangunan bakat, penilaian, dan karakter yang dicari oleh orang-orang. Orang-orang yang memperoleh riwayat hidup seperti itu akan menerima rasa hormat dan penghargaan—meskipun prestasinya hanyalah konsekuensi yang dapat diprediksi karena dilahirkan dalam keluarga yang tepat, mengenal orang yang tepat, dan berkelakuan sesuai kehendak umum. Meritokrasi pun memberi umpan untuk berambisi dalam perolehan riwayat ini; terutama dalam penentuan kelayakan (kredensial) untuk memperoleh kekuatan dan status yang lebih hebat. Dengan fakta ini, semestinya tak ada alasan bagi masyarakat untuk menerima kredensial semacam itu sebagai dasar pujian yang obyektif.

Jika kita ingin menumbuhkan masyarakat yang benar-benar demokratis atau sebuah masyarakat yang  memperlakukan satu sama lainnya dengan setara, kita harus mengendalikan pujian-pujian yang berlebihan dan imbalan-imbalan yang berdampak buruk yang turut mendorong pujian itu. Kita musti mengarah pada hal-hal yang melawannya secara ekstrem; dengan cara menahan pujian-pujian dan menjadi lebih berhati-hati terhadap orang kaya dan berkuasa supaya bisa mewujudkan keseimbangan. Louis Brandeis; seorang hakim legendaris yang menyaksikan “zaman keemasan” kita sebelumnya, mungkin pernah mengatakan, “Kita mungkin memiliki demokrasi atau kita mungkin memuji beberapa orang tetapi kita tidak bisa memiliki keduanya.”

23 Agustus 2019

 

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Nggak suka dipuji dan risih dengan panjat sosial.]

Sebab Anak-anak Bertanya ‘Mengapa’ dan Bagaimana Membuat Penjelasan yang Bagus

*)Penulis Matteo Colombo. Asisten profesor pada Pusat Studi Logika, Etika, dan Filsafat Ilmu Pengetahuan di Departemen Filsafat, Universitas Tilburg, Belanda.

Saat umurku sekitar empat tahun, aku mempertanyakan suatu pertanyaan “mengapa” yang pertama kalinya kepada ibuku, “Ibu, mengapa Pippo hidup di dalam air?”

Ibu menjelaskan bahwa Pippo—ikan mas kami—adalah ikan dan ikan hidup di dalam air. Jawaban ini membuatku tidak puas hingga aku pun terus bertanya, “Mengapa ikan hidup di dalam air? Tidak bisakah kita juga hidup di dalam air?” Ibu menjawab bahwa ikan bernapas dengan mengambil oksigen dari air di sekitarnya dan manusia tidaklah bisa bernafas dalam air. Kemudian, aku bertanya tentang hal yang tampaknya tidak berkaitan, “Es terbuat dari apa?”.  “Es terbuat dari air, Matteo,” jawab ibuku. Dua hari kemudian, Pippo ditemukan dalam freezer kami.

Seperti kebanyakan bocah empat tahun, aku sering dikejutkan oleh hal-hal yang terjadi di sekitarku. Ketika aku mulai fasih berbicara, aku segera bertanya mengapa beberapa hal bisa terjadi. Kelakuanku ini sering mengganggu orang-orang dewasa. Ketika mereka bersedia menjawab pertanyaanku, penjelasan mereka membantuku memahami apa yang akan terjadi bahwa beberapa hal begitu berbeda. Terkadang, kesimpulanku begitu buruk—contohnya Pippo yang malang harus menanggung akibatnya. Namun begitu, kesalahan dan penjelasan bisa memandu penemuanku mengenai dunia. Artinya, aku mempraktikkan ilmu pengetahuan sebelum aku bersekolah dan aku pun menikmatinya.

Lantas seperti apakah “penjelasan yang bagus”? Bagaimanakah kita bisa menemukannya?

 

***

 

Secara tradisional, para filsuf ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan berkonsentrasi pada norma-norma yang mengatur praktik penjelasan para ilmuwan, lalu mengevaluasi norma-norma tersebut berdasarkan intuisi mereka pada sejumlah kasus yang melibatkan penjelasan yang terduga.

Dimulai dengan karya Carl Gustav Hempel—ahli filsafat keilmuan Jerman—pada 1960-an, para filsuf ilmu pengetahuan telah mengartikulasikan tiga model utama penjelasan. Menurut hukum Hempel, penjelasan adalah argumen yang menunjukkan bahwa apa yang sedang dijelaskan secara logis mengikuti beberapa hukum umum. Dengan model hukum yang berlaku, jika seseorang bertanya, “Mengapa tiang bendera tertentu menghasilkan bayangan yang panjangnya 10 meter?” Jawaban yang bagus harus menyebutkan hukum optik, ketinggian tiang bendera, dan sudut matahari di langit. Penjelasan semacam ini dianggap bagus karena menunjukkan “keadaan tertentu” dan “hukum dari pertanyaannya” untuk menjelaskan kejadian dari  fenomena yang terduga.

Pendekatan lainnya adalah dengan model “unifikasi” yang mengatakan bahwa penjelasan yang bagus memberikan laporan terpadu yang dapat diterapkan secara komprehensif untuk bermacam fenomena. Teori gravitasi Newton dan teori evolusi Darwin adalah penjelasan yang menawan karena mereka menikmati kekuatan kesatuan yang menakjuban. Teori-teori tersebut terus-menerus menggunakan beberapa prinsip dasar yang dapat menjelaskan banyak fenomena. Dengan demikian, teori-teori kesatuan bisa meminimalisir hal yang dikatakan oleh ahli biologi Thomas Huxley bahwa “yang fundamental tidak dapat dipahami” pada tahun 1896.

Model sebab-akibat yang mekanis mungkin menjadi model yang paling populer di kalangan filsuf. Model ini menyatakan bahwa penjelasan yang bagus mengungkapkan unsur-unsur yang terorganisir dan perbuatan yang membuat sesuatu terjadi. Karenanya, jika seseorang bertanya, “Mengapa jendela itu pecah?”,  maka jawaban yang bagus menyatakan, “Karena seseorang melemparkan batu ke arahnya.” Atau jika seseorang bertanya, “Bagaimana darah mencapai seluruh bagian tubuh?”, maka jawaban yang bagus semestinya mencakup informasi tentang jantung, pembuluh darah, sistem peredaran darah, dan fungsi-fungsinya.

Model-model seperti di atas menangkap banyak bentuk penjelasan yang bagus. Namun para filsuf tidak boleh berasumsi bahwa hanya ada satu model penjelasan yang benar. Keputusan jawaban harus dibuat berdasarkan model mana yang memberi kita penjelasan sebenar-benarnya. Sebab, banyak yang berasumsi bahwa “satu ukuran” model penjelas tunggal bisa cocok untuk segala bidang penyelidikan. Asumsi seperti ini menjelaskan bahwa para filsuf sering mengabaikan psikologi tentang penalaran penjelasan.

Memberi jawaban bagus untuk pertanyaan “mengapa” bukanlah sekadar abstraksi filosofis. Sebuah penjelasan harus memiliki fungsi kognitif tentang dunia nyata. Dengan begini, tentunya akan memajukan pembelajaran dan penemuan. Teori penjelasan yang bagus sangat penting sebagai kelancaran navigasi lingkungan. Dalam artian, penjelasan adalah tentang apa yang dikenal sebagai pola tutur; yang merupakan ucapan untuk melayani fungsi tertentu dalam komunikasi. Mengevaluasi orang yang berhasil melakukan aksi bertutur seperti ini harus mempertimbangkan psikologi tentang penalaran penjelasan dan sensitivitas konteksnya yang tidak kentara. Pekerjaan luar biasa dalam psikologi penjelasan menunjukkan bahwa hukum-hukum, kesatuan, dan mekanisme sebab-akibat memiliki tempat dalam psikologi manusia guna melacak konsep-konsep yang berbeda yang dipicu berdasarkan para pemirsanya, minat, latar belakang keyakinan, dan lingkungan sosial seseorang.

 

***

Hasil psikologi juga mengungkapkan kesamaan yang mencolok antara penalaran penjelasan anak-anak dan para ilmuwan. Anak-anak dan ilmuwan memandang dunia dengan berusaha menemukan pola, mencari pengingkaran yang mengejutkan terhadap pola-pola itu, dan berusaha memahaminya berdasarkan penjelasan dan pertimbangan yang memungkinkan. Praktik penjelasan anak-anak menawarkan wawasan unik mengenai sifat penjelasan yang bagus.

Model-model penjelasan harus diukur melalui data aktual tentang praktik penjelasan berdasarkan psikologi—juga ilmu sejarah dan sosiologi. Kesimpulan ini juga berlaku untuk topik-topik tradisional lainnya yang dipelajari oleh para filsuf ilmu pengetahuan; seperti tentang konfirmasi, perubahan teori, dan penemuan ilmiah; yang mana terlalu sering menjadi teori filosofis secara abstrak dan mengaburkan pondasi kognitif ilmu pengetahuan.

Pokok-pokok studi penjelasan yang empiris akan dengan jelas memberi tahu kita mengenai sesuatu yang penting tentang bagaimana orang menjelaskan, apa yang mereka anggap berharga dalam penjelasan, dan bagaimana praktik penjelasan berubah sepanjang hidup seseorang. Jika setiap anak adalah ilmuwan alami, maka para filsuf sains sebaiknya memperhatikan psikologi penjelasan, pertanyaan “mengapa” anak-anak secara khusus, dan penalaran penjelasan. Mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih bernuansa mengenai apa yang membuat penjelasan menjadi bagus.

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Anak kecil yang jarang bertanya.]

 


Artikel ini didapat dari Aeon.co. Kru kami menerjemahkannya demi pengayaan wawasan pembaca secara gratis. Kabarkan!


 

 

[Cerpen/Mark Twain] Republik Gondour yang Aneh

*)Karya Mark Twain. Tokoh sastra realis Amerika Serikat.

Setelah sedikit belajar berbahasa, saya menjadi sangat tertarik pada urusan rakyat dan sistem pemerintahan.

Saya mendapati sebuah negara yang awalnya mencoba mengadakan pemungutan suara secara jujur dan sederhana. Tapi, pemungutan suara pun disingkirkan karena hasilnya tidak memuaskan. Sepertinya mereka telah menyerahkan semua kekuasaan ke tangan orang-orang jahil, gemar tak membayar pajak, dan menjadi suatu keharusan bahwa jabatan pihak-pihak berwajib dipenuhi oleh orang-orang semacam itu.

Solusi pun dicari. Orang-orang percaya bahwa mereka telah menemukan solusinya; yaitu bukan dengan cara meniadakan pemungutan suara; melainkan memperluas cakupannya. Itu adalah ide yang aneh sekaligus cerdik.

Anda harus mengerti bahwa konstitusi memberi setiap orang pilihan. Oleh karenanya, pemungutan suara merupakan hak pribadi  dan tidak bisa ditiadakan. Tapi konstitusi tidak menyatakan bahwa orang-orang tertentu tidak mungkin diberi dua atau sepuluh suara!

Maka, pasal-pasal amandemen bisa dimasukkan secara diam-diam; seperti mengesahkan pasal tentang perluasan hak pilih dalam kasus-kasus tertentu yang akan ditentukan undang-undang. Menawarkan “pembatasan” hak pilih mungkin akan membuat masalah instan. Justru, tawaran untuk “memperluas” jangakauannya memiliki aspek yang menyenangkan.

Tentu saja, suratkabar mulai terasa mencurigakan; dan kemudian, berdatanganlah mereka! Entah bagaimana, untuk pertama kalinya dalam sejarah republik; properti, figur, dan intelektualitas mampu sekaligus mengayunkan pengaruh politik. Uang, kebajikan, dan kecerdasan bisa sekaligus bersatu demi mengambil kepentingan vital dalam persoalan politik; kekuatan ini pun sekaligus  mengawali pra-seleksi dengan kekuatan yang kuat; sekaligus juga, orang-orang terbaik negara ini diajukan sebagai kandidat parlemen yang urusannya harus memperluas hak pilih. Dengan setengah bimbang, pers segera bergabung dengan gerakan kekuatan baru ini dan meninggalkan separuh sisa idealismenya untuk mencerca “penghancuran kebebasan” sebagai aspirasi masyarakat lapisan bawah; sebagai penguasaan komunitas sampai sekarang.

Kemenangan pun lengkap. Hukum baru dibingkai dan disahkan. Di bawahnya, setiap warga negara yang miskin atau bodoh hanya memiliki satu hak suara saat pemilihan umum berlaku. Akan tetapi, jika seseorang memiliki pendidikan sekolah umum yang baik dan tak punya uang, ia akan memiliki dua hak suara. Sementara jika ia berpendidikan sekolah menengah, maka akan memperoleh  empat suara. Jika ia memiliki properti seharga tiga ribu saco, ia bisa menggunakan satu suara lagi dan untuk setiap lima puluh ribu saco yang ditambahkan seseorang sebagai hartanya, ia berhak lagi untuk memilih.

Pendidikan universitas akan memberikan hak sembilan suara kepada seseorang meskipun ia tidak memiliki properti. Oleh karenanya, pendidikan menjadi lebih lazim dan gampang diperoleh dibandingkan kekayaan; sehingga orang-orang berpendidikan menjadi pengawas yang sehat bagi orang-orang kaya karena dapat mengunggulinya. Pendidikan biasanya berlaku berdasarkan kejujuran, pandangan yang luas, dan kemanusiaan. Maka, pemilih terpelajar—yang memiliki keseimbangan kekuatan—menjadi pelindung yang efisien dan berwaspada bagi masyarakat kelas bawah yang besar.

 

Dan sekarang, suatu hal aneh berkembang dengan sendirinya; yakni semacam persaingan yang bertujuan  pada kekuatan suara!

Jika sebelumnya, seseorang dihormati hanya berdasarkan jumlah uang yang dimilikinya. Sekarang, kemuliannya diukur dengan jumlah suara yang ia miliki. Seseorang dengan hanya satu suara jelas-jelas menghormati tetangganya yang memiliki tiga suara. Dan jika ia seorang luar biasa, ia akan sama energiknya untuk bertekad mendapatkan tiga suara bagi dirinya sendiri. Semangat persaingan ini menyerbu segala strata.

Suara berdasarkan modal kekayaan umumnya disebut “suara fana” karena bisa saja hilang. Sementara suara yang diperoleh berdasarkan tingkat pendidikan disebut “suara abadi” karena secara umum karakternya tahan lama dan secara alami lebih dihargai daripada pilihan lainnya. Saya mengatakan “secara umum” karena pilihan jenis ini tidak sepenuhnya abadi apabila ketidakwarasan menyingkirkannya.

Di bawah sistem ini, perjudian dan spekulasi hampir berhenti di republik. Seorang terhormat yang memiliki kekuatan suara besar tidak beresiko kehilangan suara pada kesempatan yang penuh keraguan.

Rencana perluasan pemungutan suara menghasilkan kebiasaan dan tata krama yang sangat menarik diamati. Suatu hari saat berjalan-jalan di jalanan bersama seorang teman, ia membungkuk kepada sembarang orang yang berlalu-lalang dan kemudian mengatakan bahwa orang yang ia temui hanya memiliki satu suara dan mungkin tidak akan pernah mendapatkan yang lain. Ia lebih menghormati kenalan berikutnya yang ditemuinya dan mengatakan bahwa ia memberi penghormatan ini karena empat suara yang dimiliki orang itu.

Saya mencoba untuk mengira-ngira betapa pentingnya orang-orang yang ia temui setelahnya berdasarkan sifat penghormatan teman saya. Tetapi perkiraan saya hanya tepat sebagian karena penghormatan yang agak lebih besar diberikan kepada yang “abadi” daripada yang “fana”. Teman saya menjelaskan bahwa tiada hukum yang mengatur hal ini kecuali hal yang paling kuat dari segala hukum; yakni kebiasaan.

Kebiasaan telah menciptakan berbagai penghormatan ini hingga pada waktunya akan menjadi terasa mudah dan alami. Pada momen ini, teman saya membawa dirinya dalam penghormatan yang sangat dalam dan kemudian ia berkata, “Sekarang, ada seseorang yang memulai kehidupannya sebagai pekerja pembuat sepatu dan tanpa pendidikan akan mengarahkan 22 suara fana dan 2 suara abadi. Dia berharap agar lulus ujian SMA tahun ini dan suara abadinya naik beberapa lebih tinggi. Dialah warga negara yang sangat berharga.”

Dengan segera, teman saya bertemu seorang tokoh terhormat yang membuatnya membungkuk dengan cara paling rumit  hingga melepas topinya. Saya melepas topi juga berkat rasa kagum yang misterius. Saya rasa saya mulai terinfeksi hal ini.

“Bangsawan macam apa dia?,” tanya saya.

“Dialah ahli astronomi kita yang paling terkemuka. Dia tidak punya uang tapi dia seorang terpelajar yang disegani. Bobot politiknya adalah sembilan suara abadi! Dia akan mengarahkan 150 suara jika sistem kita sempurna,” jelas teman saya.

Bertanyalah saya kemudian, “Adakah penghormatan tinggi terhadap uang yang membuatmu melepaskan topi?”

“Tidak. Sembilan suara abadi adalah satu-satunya kekuatan yang kita temukan untuk itu dalam kehidupan sipil. Para pejabat yang sangat hebat menerima tanda penghormatan itu. Tentu saja,” jawabnya.

Adalah terbiasa mendengar orang-orang terkagum membicarakan beberapa orang lain yang memulai kehidupannya dari strata lebih rendah hingga saatnya memperoleh kekuatan hak pilih yang besar. Hal itu juga lumrah saat mendengar para pemuda merencanakan masa depan untuk memiliki begitu banyak hak suara bagi diri mereka sendiri. Saya mendengar kaum mama yang cerdik berbicara tentang para pemuda tertentu sebagai “incaran” bagus karena mereka memiliki sejumlah hak suara begini-begitu. Sepengetahuan saya, ada lebih dari satu kasus tentang seorang ahli waris perempuan yang menikah dengan seorang pemuda yang hanya memiliki satu hak suara. Pendapat yang ada menyatakan bahwa si pemuda dikaruniai bagian-bagian warisan bernilai tinggi sehingga pada saatnya nanti, ia akan memperoleh hak suara yang sangat baik dan dalam jangka panjang mungkin akan mengungguli derajat istrinya jika ia beruntung.

Ujian kompetitif adalah peraturan untuk menilai segala jabatan. Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan ujian yang diajukan kepada para kandidat begitu ngawur, rumit, dan seringkali membutuhkan semacam pengetahuan yang tidak diperlukan untuk dinas yang mereka cari.

“Bisakah orang bodoh atau orang bebal menjawabnya?,” tanya orang yang sedang berbicara dengan saya .

“Tentu saja tak bisa.”

“Baiklah, tapi kamu tak akan menemukan orang bodoh dan bebal di antara pejabat kita.”

Saya merasa agak tersudut tapi beralih mengatakan, “Tapi pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan lebih banyak jawaban dibandingkan yang diperlukan.”

“Tak masalah. Jika kandidat dapat menjawabnya, itu bukti yang lumayan adil bahwa mereka dapat menjawab hampir semua pertanyaan lain yang akan Anda ajukan kepada mereka.”

Ada beberapa hal di Gondour yang tak bisa ditutup-tutupi. Salah satunya, kebodohan dan ketidakbecusan tak ada tempatnya di pemerintahan. Otak dan properti dipakai untuk mengelola negara. Seorang kandidat pejabat harus memiliki kemampuan, pendidikan, dan karakter mulia; atau jika tidak, ia tak memiliki peluang untuk dipilih. Jika kuli bangunan memiliki potensi ini, ia bisa menjadi orang sukses. Tapi faktanya, para kuli bangunan tidak berkesempatan memilikinya seperti waktu sebelumnya.

Sekarang, menjadi kehormatan besar apabila berada di parlemen atau bekerja di kantor. Di bawah sistem yang lama, kebanggan seperti ini hanya akan menimbulkan kecurigaan pada seseorang; yang menjadikannya sebagai bahan lelucon dan olok-olokan pada suratkabar.

Hari ini, pejabat tak perlu lagi mencuri. Gaji mereka sangat besar dibandingkan upah pas-pasan yang dibayarkan saat parlemen diciptakan oleh para kuli bangunan—yang memandang gaji resmi dari sudut pandangnya sendiri hingga memaksa pandangan itu untuk dihormati oleh para pelayan mereka yang patuh. Keadilan telah dikelola dengan bijak dan ketat. Bagi seorang hakim, setelah sekali mencapai posisinya melalui jalur promosi yang ditentukan, posisinya akan menjadi permanen selama ia beperilaku baik. Ia tidak dipaksa untuk memodifikasi penilaiannya menurut pengaruh yang mungkin mereka punya terhadap emosi partai politik yang berkuasa.

Keutamaan negara ini adalah diperintah oleh suatu kementerian yang diresmikan berdasarkan administrasi yang menciptakannya. Ini dialami oleh para kepala departemen besar. Pejabat kecil naik ke beberapa posisi mereka melalui promosi yang diupayakan secara baik; bukan berdasarkan upaya dari kedai arak, keluarga miskin, atau teman-temannya anggota parlemen. Perilaku yang baik menjadi ukuran masa jabatan mereka.

Kepala pemerintahan Grand Caliph dipilih untuk masa jabatan selama dua puluh tahun. Saya mempertanyakan kebijaksanaan ini. Saya mendapat jawaban bahwa ia tidak dapat berbuat zalim karena kementerian dan parlemen mengatur negeri itu dan ia bisa dikenakan hukuman jika melakukan pelanggaran. Jabatan besar seperti ini telah dua kali diisi oleh perempuan yang cakap. Para perempuan memang sangat cocok untuk jabatan itu seperti beberapa ratu bersejarah yang menguasai kerajaan. Sementara di bawah banyak administrasi, perempuan menjadi anggota kabinet.

Saya mengetahui bahwa kuasa mengampuni bisa diajukan di pengadilan pengampunan yang terdiri dari beberapa hakim besar. Di bawah rezim lama, kekuatan penting ini diberikan kepada seorang pejabat tunggal dan ia selalu waswas apabila dikirim ke penjara umum saat waktu pemilihan berikutnya.

Saya menyelidiki sekolah umum. Jumlahnya ada banyak dan ada juga perguruan tinggi gratis. Dan saya bertanya tentang pendidikan wajib. Pertanyaan ini diterima dengan senyuman dan komentar:

“Ketika seorang anak lelaki mampu menjadikan dirinya kuat dan dihormati berdasarkan jumlah pendidikan yang diperolehnya, bukankah kamu mengira bahwa orangtuanya  akan menerapkan paksaan itu sendiri? Kita tidak memerlukan undang-undang untuk memenuhi sekolah gratis dan perguruan tinggi gratis.”

Ada kebanggaan penuh kasih dari negara tentang cara berbicara orang seperti ini yang membuat saya terganggu. Saya sudah lama tidak berbicara dengan gaya seperti itu. Suara-suara warga negara Gondour memekakkan telinga saya selamanya.  Sehingga, saya senang meninggalkan negara itu dan kembali ke tanah kelahiran saya yang tersayang—tempatnya orang-orang tidak pernah mendengar “musik” semacam itu.

[Diterjemahkan oleh Taufik Nurhidayat. Bukan sastrawan dan berlaku menjengkelkan.]

 

Kebodohan Pecandu Buku

Lukisan tentang pecandu buku karya Alireza Darvish—pelukis asal Iran yang bermukim di Jerman—untuk pembukaan pameran Ars Libri di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat pada 7 Oktober-29 November 2011.

*)Ditulis oleh Frank Furedi.  Sosiolog yang dulunya menjadi profesor sosiologi pada University of Kent di Kota Canterbury, Inggris. Dia menerbitkan banyak buku; yang terakhir ialah How Fear Works (2018).

Sabtu, 1 November 2014. Saya sedang mencari buku di Barnes & Noble, Fifth Avenue, Kota New York. Seketika, perhatian saya tertuju pada koleksi volume yang dibuat dengan indah. Saya melihat lebih dekat dan menyadari bahwa buku-buku ini adalah bagian dari kategori Leatherbound Classic. Seorang asisten toko memberi tahu saya bahwa sampel bagus semacam itu akan turut memperindah koleksi buku saya. Sejak pemberitahuan ini, saya diingatkan berkali-kali bahwa buku sangat penting sebagai simbol penyempurnaan budaya. Meskipun kita musti hidup di era digital, pemaknaan simbolis dari buku terus-menerus menikmati penilaian budaya. Itulah sebabnya, ketika saya melakukan wawancara televisi di rumah atau di kantor universitas saya, saya seringkali diminta untuk berdiri di depan rak buku saya dan berpura-pura membaca salah satu teks.

Sejak penemuan sistem aksara paku di Mesopotamia sekitar 3500 SM dan hieroglif di Mesir sekitar 3150 SM, pembaca teks yang serius telah menikmati aklamasi budaya. Papan tanah liat dengan tanda-tanda tertulis dianggap sebagai artefak yang berharga dan terkadang sakral. Kemampuan untuk menguraikan dan menafsirkan simbol dan tanda dipandang sebagai pencapaian yang luar biasa. Hieroglif Mesir dianggap memiliki kekuatan magis dan—hingga hari ini—banyak pembaca menganggap buku sebagai media untuk mendapatkan pengalaman spiritual. Semenjak teks memiliki begitu banyak makna simbolis, maka apa yang orang baca dan bagaimana mereka membaca—secara luas—dianggap sebagai fitur penting dari identitasnya. Membaca selalu menjadi penanda karakter. Itulah sebabnya, orang sepanjang sejarah telah menginvestasikan sumber daya budaya dan emosional yang cukup besar demi menumbuhkan identitas sebagai pecinta buku.

Di Mesopotamia kuno; dimana hanya ada sekelompok kecil juru tulis yang bisa menafsirkan papan-papan aksara paku, prestise yang luar biasa diperoleh para penafsir tanda ini. Pada titik inilah, kita mempunyai satu petunjuk paling awal tentang kekuatan simbolis dan hak istimewa yang dinikmati oleh pembaca. Sebagai pembaca yang pecemburu, para ahli baca-tulis yang ambisius melindungi otoritas budaya mereka dengan membatasi akses ke pengetahuan magisnya.

Pada abad ke-7 SM, ketika penulisan Kitab Ulangan Perjanjian Lama disokong Raja Yosia di Yerusalem, pancang tinggi dipasang untuk pemujaan buku itu. Yosia menggunakan gulungan yang ditulis oleh para deteronomisnya untuk memperkuat perjanjian antara orang-orang Yahudi dan Tuhannya—dan, hal ini menginspirasi tindakan strategi politik untuk mengabsahkan warisannya atas klaim tanah itu.

Era Kekaisaran Romawi—yang dimulai pada abad ke-2 SM, buku-buku seperti diturunkan dari surga ke bumi; yang mana buku-buku tersebut berfungsi sebagai barang mewah untuk membuat pemilik kaya mereka memperoleh gengsi kebudayaan. Seneca, filsuf Romawi yang hidup pada abad pertama Masehi, menyatakan sarkasme pada pemujaan tampilan teks yang dimegah-megahkan. Ia mengeluhkan bahwa banyak orang tanpa pendidikan sekolah tidak menggunakan buku-buku sebagai alat belajar melainkan sebagai dekorasi ruang makan. Kepada kolektor gulungan yang flamboyan, ia menuliskan, “Anda dapat melihat karya lengkap orator dan sejarawan di rak hingga langit-langit karena perpustakaan telah menjadi seperti kamar mandi; menjadi ornamen penting dari rumah kaya.”

Permusuhan Seneca terhadap kolektor buku yang sok pamer mungkin dipengaruhi oleh kerisihannya terhadap mania membaca yang tampaknya menimpa publik di awal periode Kekaisaran Romawi. Periode ini menampakkan munculnya pengkajian bacaan (resitasi) di muka umum. Pembacaan di muka umum ini melibatkan sastra dari para penulis dan penyair yang dianggap layak sebagai peluang promosi diri oleh banyak warga kaya. Seneca memandang pertunjukan-pertunjukan kesombongan sastra yang vulgar ini secara jijik—dan dia pun tak sendirian.

Pembacaan yang dilakukan orang-orang penting nan sia-sia di Roma dan wilayah Kekaisaran lainnya menjadi target humor sarkastik. Banyak penulis-satiris Romawi terkemuka; seperti Horace (65-8 SM), Petronius (27-66 M), hingga Persius (34-62 M) dan Juvenal (55/60-127 M), mengarahkan humor cerdas mereka kepada  kemewahan resitasi.

Menurut satiris Romawi; Martial, toilet umum pun tidak membatasi para pembaca di muka publik yang begitu mengganggu. Lewat suatu epigram sarkastiknya, ia menulis:

 

Anda membaca untuk saya ketika saya berdiri,

Anda membaca untuk saya ketika saya duduk,

Anda membaca untuk saya ketika saya berlari,

Anda membaca untuk saya ketika saya beromong kosong.

 

Saya lari ke kamar mandi;

Anda menghujami telingaku.

Saya menuju kolam renang,

Anda tidak akan membiarkan saya berenang.

Saya bergegas untuk makan malam,

Anda menghentikan saya di perjalanan.

Saat saya makan,

kata-kata Anda membuat saya muntah.

 

Para satiris yang mengolok-olok resitasi memahami bahwa reputasi dari bacaan yang disempurnakan adalah mewakili sumber modal budaya yang penting. Kecerdasan tajam yang mereka arahkan pada target mereka dapat dilihat sebagai bentuk kebijakan sastra. Ejekan yang dilakukan Petronius kepada Eumolpus sebagai “penggila puisi yang membosankan” di Satyrica juga dapat dibaca sebagai contoh pembijakan selera. Bukan karena apa-apa, Petronius pun dianggap oleh orang-orang sezamannya sebagai wasit elegantiarum atau seorang hakim keanggunan pada Istana Romawi di bawah Kaisar Nero.

 

***

 

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-5, orang-orang Eropa yang memiliki kekayaan materi—tapi tidak memiliki keanggunan dan kemutakhiran dari kemuliaan superioritas sosial mereka—menciptakan perpustakaan pribadi untuk mendapat perbaikan reputasi. Memang, bagi banyak orang, kepemilikan perpustakaan yang lengkap merupakan tujuan tersendiri. Hampir 1000 tahun kemudian, dengan munculnya Renaisans dan kebangkitan kancah perniagaan; kepemilikan buku menjadi meluas dan lebih banyak orang lagi yang melakukakn kebiasaan membaca sehingga perbedaan budaya yang dianugerahkan berdasarkan kebiasaan membaca menjadi pudar. Geoffrey Chaucer, dalam puisinya “The Legend of Good Women” yang ditulis tahun 1380-an, mencontohkan tren ini dengan menyatakan bahwa dirinya memegang buku-buku “dengan kondisi  terhormat”.

Pada abad ke-14 dan 15, para pembaca yang mewah dan sombong muncul dengan kekuatan penuh. Esai  bertajuk “Philobiblon” yang ditulis Richard de Bury pada tahun 1345 tetapi diterbitkan tahun 1473, dikatakan sebagai “risalah berbahasa Inggris paling awal tentang kelezatan literatur”. Tetapi, “Philobiblon” mengatakan sedikit tentang pengalaman aktual De Bury dalam membaca. Dia adalah seorang fetisis buku klasik yang minat sebenarnya adalah mengumpulkan buku daripada belajar.

William de Chambre; penulis biografi De Bury, menyatakan bahwa buku mengelilingi Bury di semua tempat tinggalnya. Ia menulis bahwa “begitu banyak buku terbentang di kamar tidurnya sehingga hampir tidak mungkin untuk berdiri atau bergerak tanpa menginjaknya.” De Bury tentunya telah mengantisipasi jika keserakahan hasratnya untuk mengumpulkan buku dapat menjadi sasaran kritik dan sarkasme. Makanya, ia secara eksplisit membela diri dari tuduhan berlebihan melalui prolog  “Philobiblon” yang menyatakan bahwa “cinta ekstatif”-nya terhadap buku membuatnya bisa meninggalkan “semua pikiran tentang hal-hal duniawi lainnya”. Dia menulis “Philobiblon” supaya generasi berikutnya memahami maksudnya dan “untuk selamanya menghentikan gosip yang menyimpang”. Dia berharap kisah tentang hasratnya itu akan “membersihkan cinta yang kita miliki untuk buku-buku dari tuduhan yang berlebihan”.

 

***

 

Seniman potret tergoda oleh spiritualitas buku dan properti intelektual dan terus merangkulnya sebagai alat artistik yang penting.

 

Sebastian Brant; teolog humanis Jerman, samasekali tidak bisa menerima pernyataan di atas. Dalam satirnya; “Ship of Fools” (1494), ia menggambarkan 112 jenis orang bodoh. Dan, orang pertama yang naik kapal adalah “pecandu buku yang bodoh” yang mengumpulkan buku-buku dan membacanya untuk memperoleh pengaruh. Brant mengatakannya:

 

Pada kapal ini, sayalah yang nomor satu.

Demi alasan khusus untuk dilakukan;

sayalah yang pertama di sini yang Anda lihat

 

Karena saya suka perpustakaan saya

dari buku-buku yang tak kunjung habis saya punya;

tetapi sedikit yang bisa saya pahami.

Saya menghargai buku-buku dari berbagai zaman

dan menjaga  halamannya dari ngengat.

 

Di mana seni dan sains diakui?

Saya katakan: di rumah saya yang paling bahagia.

Saya tidak pernah menjadi lebih puas

dibandingkan saat buku-buku saya berada di sisi saya.

 

 

Karya satir Brant menjadi buku terlaris dan dengan cepat diterjemahkan dari bahasa Jerman menjadi bahasa Latin, Perancis, dan Inggris. Tetapi sebaliknya, para pecinta buku yang bodoh tetap tak bisa dihalangi. Pada abad ke-16, idealisasi sekuler “cinta membaca” telah benar-benar terjadi. Membaca dianggap sebagai media penemuan diri dan mendapatkan wawasan spiritual tentang jalan duniawi.

Simbolisasi membaca mungkin lebih masif dari tindakan membaca itu sendiri. Orang-orang berusaha menangkap pengabdian mereka terhadap buku melalui potret terlukis yang menggambarkan mereka sangat asyik membaca teks. Dalam kancah seni Renaissance, lukisan orang-orang yang membaca dan potret individu yang merangkul buku tersebar begitu luas. Manuskrip-manuskrip era ini “bukan hanya dibanjiri dengan gambar buku tetapi juga dengan orang-orang yang membaca buku-buku itu”—seperti yang ditulis Laura Amtower dalam “Engaging Words: The Culture of Reading di In The Middle Ages” (2000).

Selama berabad-abad berikutnya, seniman potret yang tergoda oleh sifat spiritual dan intelektual buku  terus menganut hal demikian sebagai penyangga artistik yang penting. Penyair humanis Dante selalu dilukiskan sedang membaca. Sebuah lukisan karya Agnolo Bronzino—seniman abad ke-16—yang berjudul “Allegorical Portrait of Dante” menggambarkan si penyair memegang sebuah edisi “Paradiso” yang sangat besar. Lukisan itu menggambarkan tentang buku seperti halnya tentang Dante. Menyaksikan performa membaca Dante adalah mengingatkan pemirsanya tentang status orang ini sebagai orang yang berprestasi secara budaya dan maju secara spiritual.

 

 ***

 

Kaum intelektual berusaha keras memperkuat status superiornya melalui ekspansi membaca pada abad ke-18 di kalangan masyarakat; dengan cara menekankan perbedaan antara dirinya dan orang yang kurang membaca. Sekarang ini, kritikus sastra telah menggantikan satiris Romawi. Mereka memuji pembaca berprestasi sebagai “orang-orang literer” sementara lawan-lawan moralnya  dikarakterisasi sebagai “tidak melek aksara”.

“Membaca bukanlah suatu kebajikan. Tetapi membaca dengan baik adalah seni. Dan, seorang pembaca terlahir melalui perolehan seninya,” begitulah yang ditulis oleh novelis Edith Wharton yang  ditegaskan dalam esai “The Vice of Reading” (1903). Wharton menulis bahwa, “pembaca mekanis tidak mempunyai ‘bakat bawaan’ , ‘bakat membaca’, dan tidak akan pernah bisa memperoleh seni.

Membaca telah diangkat menjadi sebentuk seni pada abad ke-20 melalui cara “menggambar garis di atas pasir”/memberi batasan  oleh para intelektual. Di satu sisi, ada yang disebut “pembaca pura-pura” dan ada yang dianggap “elit” di sisi lain. Bahkan novelis Virginia Woolf pun turut menimpalinya. Dalam esainya “The Common Reader” (1925), ia menggambarkan bahwa rata-rata pembaca adalah seorang yang “kurang berpendidikan” daripada seorang kritikus. Seorang individu yang “secara alami tidak berbakat” akan begitu murah hati sebagai mitra berbakat. Menurut Woolf, pembaca biasa cenderung terburu-buru, tidak akurat, dangkal, dan tentu saja kekurangannya terlalu jelas untuk dikritik. Perspektif ini begitu stagnan karena terus mengklasifikasikan dan menilai para pembaca hingga hari ini. Melalui “The Pleasures of Reading” (2011), kritikus sastra Alan Jacobs berani membedakan antara “pembaca yang dibanggakan” dan “orang-orang rendahan yang membaca”.

Faktanya, tindakan tersebut menjadi sangat bergengsi. Sehingga, seorang anak yang membaca akan menandakan kompetensi orang tuanya—atau setidaknya menjadi superioritas moral dan budaya paling baik. Orang tua yang membaca untuk anaknya di ruang publik; sebenarnya sedang membuat deklarasi kepada dunia bahwa kegiatan bernilai tinggi yang kini dilakukan para ibu dan ayah adalah mencurahkan banyak waktu dan sumber daya untuk mendorong anak-anaknya bisa merengkuh buku secara fisik. Tak jarang, seorang balita pun terlihat duduk sambil memegang dan melihat buku kecil pada kursi anak-anak dalam mobil.

 

***

 

Secara kontras, seorang wanita abad ke-18 yang membaca buku dan seorang remaja yang menatap smartphone-nya adalah penggambarkan berbagai cara kita membangun identitas melalui membaca.

 

Sesegera mungkin, balita abad ke-21 ini akan meninggalkan kenampakannya membaca buku secara gamblang di muka umum dan mengadopsi kebiasaan memeriksa smartphone mereka secara teratur. Jika Seneca atau Martial ada sekitar hari ini, mungkin mereka akan menulis epigram sarkastik tentang “pameran membaca pesan teks dan tampilan teks di hadapan Anda”. Pembacaan digital selayaknya membaca gulungan kuno adalah pernyataan penting tentang siapa kita. Seperti para pembaca karya Martial di hadapan publik Roma; para pembaca yang keranjingan pesan teks dan media sosial lainnya ada di mana-mana. Meskipun dalam kedua kasus ini, para pembaca tanpa lelah membangun citra dirinya, namun identitas yang mereka bangun sangatlah berbeda. Orang-orang muda yang duduk di bar sambil memeriksa pesan pada ponselnya sedang tidak menyatakan status kesastraan mereka yang beradab. Mereka menandakan bahwa dirinya sedang berkoneksi dan—yang paling penting—menunjukkan bahwa mereka selalu ada perhatian.

Dengan kebangkitan teknologi digital, kinerja membaca menjadi berubah. Kontras antara seorang wanita yang asyik membaca buku dalam potret abad ke-18 dan seorang remaja yang secara sadar menatap smartphone-nya menggambarkan berbagai cara individu membangun identitas mereka melalui membaca. Saat ini, konsumen teks digital yang canggih bersaing dengan pembaca buku fisik dalam memperoleh pengakuan kultural. Akan tetapi, kinerja membaca mana yang paling dihargai?

Bagi mereka yang berhasrat mengumumkan kecerdasannya kepada dunia, pilihannya sudah jelas: teks digital tak berfungsi sebagai penanda perbedaan budaya. Mungkin itulah sebabnya, meskipun penggunaan tablet meluas, penjualan buku kertas meningkat baru-baru ini. Tidak seperti buku, tablet tidak menawarkan media untuk menunjukkan selera dan seni. Itulah sebabnya, dekorator interior menggunakan rak-rak buku untuk menciptakan kesan elegan dan beradab di dalam ruangan.

Secara aktif, bisnis mempromosikan penampilan mutakhir dengan cara menawarkan perpustakaan buatan yang sudah jadi kepada konsumen yang tertarik untuk mendapatkan tampilan sesuai selera. Suatu perusahaan online; Books By The Foot, menawarkan untuk membuat perpustakaan yang cocok dengan kepribadian dan ruang konsumen. Perusahaan ini menjanjikan untuk menyediakan buku-buku berdasarkan warna, penjilidan, subyek, ukuran, tinggi, dan lainnya; demi membuat koleksi yang terlihat megah. Bisnis online yang menjual perpustakaan khusus menunjukkan bahwa rak buku melambangkan kebudayaan yang tinggi—sekalipun di era digital.

Nyatanya, kebodohan para pecandu buku masih ada bersama kita. Tapi untungnya, masih banyak pembaca yang tidak hanya tertarik pada penampilan. Mereka masih meleburkan dirinya ke dalam teks dan benar-benar jatuh cinta dengan cerita-cerita yang mereka baca. Terlepas dari mediumnya, yang penting adalah aspirasi yang sangat manusiawi untuk mengambil bagian dalam perjalanan ini. Ini bukan soal performa dan kenampakan yang benar-benar penting. Melainkan tentang pengalaman perjalanan menuju hal yang tidak diketahui.

 

20 Oktober 2016

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Penghindar ulung dari pergaulan poseur literatur.]

 


Esai ini diambil dari Aen.co dengan judul Bookish Fools


 

Kenapa Keimutan Menguasai Dunia Kita?

*)Ditulis oleh Simon May. Profesor tamu bidang filsafat pada King’s College, London. Ia menulis buku A New Understanding of An Ancient Emotion dan The Power of Cute pada 2019 ini. Karya-karyanya telah diterjemahkan dalam banyak bahasa.

Dalam keadaan tak pasti dan sulit seperti sekarang ini; dengan begitu banyak ketidakadilan, kebencian, dan intoleransi mengancam dunia, bukankah kita memiliki hal-hal yang lebih serius untuk diperhatikan daripada petualangan sesosok kucing perempuan macam Hello Kitty? Sementara Pokémon; waralaba video game yang kembali memanas pada tahun 2019 dengan rilis utamanya film “Detective Pikachu” untuk kawasan Amerika Serikat dan Inggris, trailer YouTube-nya mencatat lebih dari 65 juta hit dan makin terus bertambah. Lalu, mengapa penggunaan emoji (emoticon) begitu menjamur? Kenapa pula logo-logo imut yang menghiasi produk tak terhitung jumlahnya; mulai dari komputer dan telepon, hingga senjata dan makanan, bahkan dari mainan dan kalender anak-anak hingga kondom dan lensa kontak?

Paling jelasnya, kegemaran akan semua hal yang imut dimotivasi oleh keinginan untuk melarikan diri ke “taman keluguan” dari dunia yang begitu mengancam. Dalam pelarian itu, kualitas kekanak-kanakkan membangkitkan perasaan protektif yang nikmat, memberikan kepuasan, dan sebagai pelipur lara. Isyarat keimutan terdiri atas perilaku yang tampak tidak berdaya, tidak berbahaya, menawan, dan pasrah. Secara  anatomi fisik, hal tersebut digambarkan seperti kepala berukuran besar, dahi menonjol, mata seperti piring, dagu yang mundur, dan gaya berjalan yang kikuk.

Barangkali, seperti yang disarankan Konrad Lorenz—cendekiawan Austria yang mengamati perilaku hewan—pada tahun 1943, respon kita terhadap isyarat-isyarat tersebut berkembang untuk memotivasi kita dalam memberikan perawatan dan pendidikan yang melimpah kepada keturunan kita sesuai kebutuhan mereka untuk memperoleh kesejahteraan. Menurut Lorenz, saat kita menemukan isyarat visual tersebut secara berlebihan dan dikaitkan dengan unsur-unsur pada hewan, kita dapat membangkitkan pengasuhan yang sama-sama intens atau bahkan mungkin lebih intens. Sama halnya, ketika kita menemukannya pada burung dan anak anjing, dan bahkan dalam model tiruan seperti boneka dan teddy bears.

Psikolog sosial di Universitas Virginia; Gary Sherman dan Jonathan Haidt, bertindak lebih jauh dengan menganggap respon atas keimutan sebagai “emosi moral” yang luar biasa; sebagai pelepas langsung sosialitas manusia yang merangsang kita untuk memperluas lingkar perhatian altruistik kita ke ruang sosial yang lebih luas.

Tetapi, jika keimutan hanyalah tentang pesona, hal yang tidak bersalah, dan sesuatu yang tidak mengancam, juga, apabila ketertarikan kita terhadapnya hanyalah dimotivasi oleh naluri pelindung atau eksplorasi kekanak-kanakkan dan sebagai pengalih perhatian yang menenteramkan dari kecemasan dunia saat ini; hal itu tentunya tidak akan ada di mana-mana.

Kualitas-kualitas seperti itu hanya berbicara tentang apa yang kita katakan “manis” dari keseluruhan spektrum keimutan. Ketika kita bergerak menuju titik penghabisan yang aneh, hal-hal yang dirasa manis terdistorsi menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih tak menentu, dan lebih terluka—sesuatu yang seperti serial “Balloon Dog” karya Jeff Koons (1994-2000). Karya itu tampak kuat (terbuat dari stainless steel) dan tidak berdaya (hampa; tidak berwajah, tanpa mulut atau mata); yang diwujudkan dalam raksasa yang tampak rentan, akrab namun juga asing, secara meyakinkan tampak tidak berdosa sekaligus tidak aman, cacat, dan penuh arti. Kedua hal berlawanan tersebut menyamankan kita dalam dunia ketidakpastian yang mengerikan dan memberikan aspirasi ke dunia yang sama—tetapi yang terpenting, melalui catatan yang lebih riang.

Subversi yang samar-samar melanggar batas semacam ini—yang menunjukkan antara yang rapuh dan tangguh, yang meyakinkan dan yang meresahkan, yang tidak bersalah dan yang berpengetahuan—akan menjadi pusat perhatian yang luar biasa ketika disajikan menjadi idiom yang menyindir dan keimutan yang ngawur.

 

***

Imut adalah ekspresi menggoda dari ketidakjelasan, ketidakpastian, ketidakteraturan dan perubahan yang terus-menerus atau menjadi semacam pendeteksi segala jantungkeberadaan pada era kita; mengetahui antara yang hidup dan tidak hidup. Melalui contoh gaya dan obyek yang terus berubah, keimutan tidak ada artinya jika tidak bersifat sementara dan tidak memiliki klaim apapun demi signifikansi yang bertahan lama. Selebihnya, keimutan mengeksploitasi cara ketidakpastian yang ketika ditekan ke luar titik tertentu akan menjadi ancaman. Kenyataannya, keimutan mampu memperdaya kita justru karena hal itu dilakukan secara sepele, menawan, dan tanpa gangguan.

Keimutan mengungkapkan intuisi bahwa kehidupan tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak ada keberadaan/eksistensi yang stabil—seperti yang diutarakan oleh filsuf Martin Heidegger; bahwa satu-satunya landasan kehidupan terletak pada penerimaan ketidakbatasannya. Dan itu sering terjadi pada suatu hal; seperti “kecerdasan dan kelebihan” diekspresikan dengan cara  “melemahkan yang serius” atau tentang kegagalan dalam keseriusan—seperti yang diungkapkan oleh kritikus budaya Susan Sontag dalam kaitannya dengan  istilah “camp”.

Ketidakpastian (sebagaimana kita dapat menyebutnya) yang meresapi keimutan ini adalah pengikisan batas antara apa yang dulu dipandang sebagai bidang terputus atau sesuatu yang berbeda; seperti batas antara masa kanak-kanak dan dewasa. Erosi tersebut juga tercermin pada gender yang kabur dari banyak obyek keimutan seperti Balloon Dog atau jenis-jenis Pokémon. Hal ini juga tercermin lagi dalam perpaduan antara bentuk manusia dan bukan manusia yang sering terjadi; contohnya seperti sosok gadis kucing Hello Kitty. Dan, sosok imutnya mereka seringkali tidak dapat untuk mendefinisikan usia. Karena meskipun obyek-obyek imut mungkin tampak seperti anak kecil, namun bisa sangat sulit untuk mengatakan apakah mereka berusia muda atau tua—sama halnya seperti sosok alien dalam serial “E.T.”. Atau kadang-kadang, malah tampak seperti dalam dua hal sekaligus (muda & tua)—seperti saat manusia menggambarkan sosok alien dalam serial tersebut.

Dengan cara seperti itu, keimutan disesuaikan dengan era yang tidak lagi terikat pada dikotomi keramat seperti “maskulin dan feminin”, “seksual dan nonseksual”, “dewasa dan anak-anak”, “yang ada dan yang menjadi”, “sementara dan abadi”, “tubuh dan jiwa”, “absolut dan kontingen”, dan bahkan “baik dan buruk” . Inilah dikotomi-dikotomi yang saat dulu  bisa turut menyusun hal ideal tetapi sekarang dianggap lebih cair atau menjadi keropos.

Terlebih lagi, rasa imut merupakan kepekaan yang tidak sesuai dengan kultus modern tentang ketulusan dan keaslian; yang berasal dari abad ke-18 dan mengasumsikan bahwa masing-masing dari kita memiliki “batin” yang otentik; atau setidaknya, seperangkat keyakinan, perasaan, dorongan, dan selera yang secara unik mengidentifikasi bahwa kita dapat dengan jelas memahami dan mengetahui sesuatu untuk diungkapkan secara jujur. Keimutan tidak bisa untuk menunjukkan kondisi batin. Paling tidak, dalam bentuk-bentuknya yang lebih aneh, keimutan menjauh sepenuhnya dari keyakinan kita yang sudah ada—yang dapat kita ketahui dan kendalikan ketika kita bersikap tulus dan otentik.

Meskipun ketertarikan pada obyek-obyek imut seperti Hello Kitty yang tanpa mulut dan tanpa jari dapat mengekspresikan hasrat akan kekuasaan, keimutan juga dapat memarodikan dan menumbangkan kekuatan dengan cara memainkan perasaan pemirsanya tentang kekuatannya sendiri; dengan cara ini, obyek imut membuat  kita melukisnya menjadi pose dominan, menabur ketidakpastian mengenai siapa yang benar-benar bertanggungjawab, membuat kita sadar bahwa penyerahan diri si imut itu sebenarnya adalah cara untuk menjebak kita, lalu menuntut perawatan atau perlindungan dari kita.

Dengan  alasan seperti ini, keimutan adalah salah satu cara—yang mungkin sangat sepele & sangat tentatif —untuk mengeksplorasi apakah dan bagaimana paradigma kekuasaan dapat keluar. Memang, ini mungkin menjelaskan mengapa keimutan telah menyerbu budaya populer di bagian-bagian dunia— terutama Amerika Serikat, Eropa dan seluruh Jepang—yang sejak Perang Dunia Kedua telah mundur perlahan-lahan untuk mengurangi peran kekuasaan dalam menentukan struktur hubungan manusia dan yang paling kentara ialah dalam hubungan internasional.

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Nggak sok unyu tapi bisa unyu.]

 

 


Artikel ini merupakan bagian dari buku The Power of Cute karya Simon May yang diterbitkan tahun 2019 ini dan dimuat pada Aeon.co. Buku tersebut diterbitkan oleh Princenton University Press.