Strategi Kesehatan Mental Paska Kebakaran di Sonoma

Foto karya Michael Macor dari sfgate.com dan telah melalui repro.

*)Ditulis oleh Matt Simon. Jurnalis Wired.com untuk desk sains, biologi, robotik, dan lingkungan.

Sharon Bard tengah berwisata ke Latvia pada Oktober 2017. Jam 4 pagi, ia terbangun oleh nada pemberitahuan yang berdengung dari ponselnya. Email masuk dari seorang teman yang telah memeriksa rumahnya di Santa Rosa, California. Ungkapan dalam email tertulis agak halus—mengingat sedang mengabarkan suatu berita yang mengkhawatirkan: kebakaran terjadi, para pejabat menganjurkan evakuasi, dan rumah ala pedesaan milik Bard di ujung jalan mungkin akan terkena imbasnya.

Kemudian datanglah pertanyaan bertubi-tubi. Sekitar enam atau tujuh email dari orang lain dikirimkan kepadanya disertai pertanyaan yang lebih mendesak seperti “Ya Tuhan, apakah kamu baik-baik saja?”. Sehingga Bard pun memeriksa CNN dan tentu saja: ada berita kebakaran.

Ini tak hanya menjadi berita lokal. Apa yang belum diketahui Bard maupun orang lain pada saat itu adalah hal tersebut akan menjadi kebakaran besar yang paling merusak dalam sejarah California; yang disebut sebagai “Tubbs Fire”. Bencana tersebut sedang dalam perjalanannya untuk menghancurkan lebih dari 5500 bangunan, menewaskan 22 orang, dan menyebabkan kerusakan seharga 1,2 milyar dollar.

Selama tiga hari setelah email pertama mengagetkannya, Bard bertukar pesan dengan teman-temannya dalam keadaan panik. Orang-orang mengecek kabarnya dan ia mengecek kabar orang lain. Lewat pencarian online, ia menemukan tiap sisi gambar propertinya dari foto udara—saat sebelum dan sesudah kebakaran. “Aku sadar itu sudah berlalu dan semuanya hilang,” kata Bard sambil membungkuk di atas teh pada sebuah kafe kelas atas di Healdsburg—yang terletak di sisi utara Santa Rosa. Dia berusia 73 tahun dengan rambut abu-abu yang cocok dengan hoodie abu-abunya yang melingkupi kemeja hawaii berpastel halus. “Saya melihat properti saya. Ada bangunan utama, kolam renang, dan  rumah kolamnya. Itu menjadi abu. Kolam pun menjadi abu,” ujarnya.

Namun Bard tidak menghentikan turnya dan memakai penerbangan pertamanya untuk kembali. Santa Rosa sedang berada dalam karantina dengan kualitas udara yang mengerikan. “Saya pikir, psikis saya terpecah menjadi dua bagian,” katanya. “Sebagian diri saya mencoba untuk tetap tinggal di sana  karena saya sedang berada dalam tur dan sebagian lainnya mengalami semacam kepanikan. Saya harus berurusan dengan hal tersebut tapi saya tak tahu harus berbuat apa. Saya belum mau menghadapinya.”

Perasaan yang dialami Bard biasa terjadi pada orang yang hidupnya mengalami malapetaka—bahkan dari kejauhan. Memang, beberapa hal bisa mengguncang jiwa; layaknya bencana. Akan tetapi, sains baru mulai memahami bagaimana kesehatan mental bisa jadi menderita setelah terjadi badai, kebakaran, atau gempa bumi.

 

Sharon Bard. Foto ini karya Beth Holzer dari Wired.com.

 

Survei menyatakan bahwa; setelah badai Katrina menghantam Pantai Teluk pada tahun 2005, satu dari enam orang yang selamat memenuhi kriteria PTSD (post-traumatic stress disorder); sementara setengahnya terkena anxiety (gangguan kecemasan-red) atau gangguan mood. Kasus bunuh diri dan pemikiran untuk bunuh diri berlipatganda setelah badai. Tetapi, ada kelangkaan penelitian yang kaya data dan berskala besar mengenai cara terbaik untuk merancang kampanye dalam mengobati populasi yang menghadapi bencana.

Hingga akhirnya, terjadilah Tubbs Fire dan kebakaran hebat lainnya pada tahun 2017. Healthcare Foundation Northen Sonoma County—dimana Santa Rosa berada—mempelopori proyek ambisius yang bernama “Wildfire Mental Health Collaborative”. Itu adalah proyek kerjasama antara National Association for Mental Illness, psikolog, peneliti, organisasi masyarakat, dan banyak lagi. Semuanya bekerja bukan hanya untuk memberikan layanan kesehatan mental kepada para penyintas; tetapi untuk mempelajari jenis perawatan apa yang berhasil dan tidak berpengaruh terhadap jenis traumanya.  Idenya adalah mengambil apa yang telah mereka pelajari dan menggunakannya untuk kalangan lain yang hidupnya porak-poranda akibat bencana, kebakaran hutan, atau kemalangan lainnya.

Sudah saatnya untuk tidak menjadi lebih kritis. Perubahan iklim bisa mengintensifkan bencana alam seperti badai; karena badai menyerap air hangat. Apakah Tubbs Fire disebabkan ulah manusia? Peralatan dari utilitas lokal seperti PG&E—perusahaan gas & elektrik di Pasifik—mungkin menjadi penyebabnya. Lantas, perubahan iklim memperburuk kekeringan di California; yang pada gilirannya memperbanyak sumbu untuk kebakaran hutan. Yang berarti, akan lebih banyak kematian, lebih banyak kerusakan properti, dan terjadinya serangan supercharged pada kesehatan mental. Perubahan iklim akan terjadi pada kita semua, namun apa yang dipelajari para penyelidik tersebut setelah Tubbs Fire dapat mengubah cara manusia beradaptasi.

Mungkin, tidak mengherankan jika tak ada yang benar-benar membicarakan dampak kesehatan mental dari perubahan iklim—kita memang mengalami kesulitan berbicara tentang kesehatan mental dalam keadaan apapun. Tetapi implikasi kesehatan mental sangatlah besar dan hal tersebut sudah ada di sini. Di Kanada utara, contohnya, mencairnya es laut akan menyulitkan pemburu Inuit untuk menjelajah. Untuk orang-orang yang mempunyai ikatan kuat dengan tanahnya, hal itu merupakan kesedihan ekologis; suatu kehancuran psikologis yang datangnya bersamaan dengan gangguan dari dunia alami.

Hal tersebut menjadi semacam serangan kronis jangka panjang. Sedangkan, bencana melanda dengan cepat dan seringkali membawa dampak psikologis secara tiba-tiba. Kebakaran hutan terasa sangat dahsyat dengan adanya badai. “Anda tahu badai akan datang. Ada persiapan yang dapat Anda lakukan dan Anda memiliki kesempatan untuk mengungsi,” kata Adrienne Heinz, peneliti psikologi yang bekerja pada Wildfire Mental Health Collaborative. “Kebakaran hutan dapat berubah begitu cepat dengan adanya angin,” ujarnya. Itu tak hanya membuat api liar menjadi sangat berbahaya. Tapi juga, para pengungsi harus meninggalkan harta kesayangannya.

Paska kebakaran, persoalan kesehatan mental tak menjadi prioritas tinggi dalam daftar siapapun. Tujuan langsung yang disasar cenderung berurusan dengan efek fisik—semisal benda terbakar atau perkara menghirup asap—dan mencari perlindungan kepada teman atau keluarga. Dampak psikologis mungkin tidak pernah ditangani. “Ada biaya, geografi, dan prioritas yang bersaing pada saat itu,” kata Heinz. “Ada penjadwalan, ada stigma, beserta sejuta alasan mengapa orang tidak mau melakukannya.”

Juga, saat korban menetap bersama teman atau keluarganya atau dalam pengungsian yang disediakan FEMA (agen penanganan bencana di bawah  Department of Homeland Security, Amerika Serikat-red), tempat yang sempit dapat menyebabkan beban psikologis. “Itulah kualitas utama dari perubahan hidup yang akan berkaitan dengan depresi, kecemasan, lekas marah, serta pola hubungan yang tegang,” ujar Heinz.

Bahkan ketika orang yang selamat memperhatikan masalah kesehatan mental, itu mungkin dilakukan untuk orang yang dicintainya, bukan untuk dirinya sendiri. “Sangat penting bagi Anda untuk menjaga diri sendiri,” kata Debbie Mason, CEO Healthcare Foundation Northern Sonoma County. “Setidaknya seperti metafora: pakailah masker oksigenmu sendiri sebelum kamu merawat orang lain,” lanjutnya.

Penyelidikan dari Mason justru membuat bantuan itu mudah ditemukan. Healthcare Foundation Northern Sonoma County telah meluncurkan MySonomaStrong.com, situs web dwibahasa yang menyediakan sumber daya untuk perawatan diri dan untuk menemukan terapi profesional gratis. Sebuah aplikasi baru bernama Sonoma Rises juga membantu menghubungkan para penyintas dengan layanannya dan memungkinkan mereka melacak kesejahteraan mental mereka.

Kampanye ini tidak hanya mencoba ide-ide acak dengan harapan mereka akan berhasil. “Kami belajar di New Orleans bahwa strategi yang bekerja sangat baik adalah adanya makan malam komunitas, dimana seorang profesional kesehatan mental akan masuk dan memfasilitasi percakapan terapi kelompok,” kata Mason. “Jadi, kami menambahkan itu ke menu kami.” Mereka juga melatih 300 profesional kesehatan mental dalam keterampilan untuk pemulihan psikologis yang mencakup strategi seperti manajemen pemicu.

Seusai serangan 9/11, agen-agen pelayanan mengetahui bahwa sesi drop-in menjadi populer sehingga para penyelenggara di Sonoma County menambahkannya sebagai metode campuran. “Kemudian kami melangkah mundur dan berkata, ‘Baiklah, jika kami memiliki kesempatan untuk melakukan studi kasus tentang tanggapan terbaik, apa yang mungkin kita pikirkan bersama untuk ditanggapi oleh komunitas kita?’. Sehingga kami pun menambahkan yoga,” kata Mason. Para korban selamat berkumpul untuk sesi trauma, informasi gratis, dan fokus pada relaksasi. Mereka “mengundang” bukan “mengarahkan”—yang berarti, para peserta lebih mengendalikan pengalaman mereka dan hampir 60 instruktur yang terlatih secara khusus diberi kompensasi untuk waktu mereka.

Untuk saat ini, Sonoma sedang menyusun strategi yang sukses melalui anekdot untuk mengobati trauma paska bencana. Dan itu menciptakan peluang yang akhirnya mengukur metode apa yang berhasil. “Jika kita ingin membuat perbedaan dan menyebarluaskan apa yang telah kita pelajari dan perangkat yang kita buat sehingga masyarakat tidak harus tergantung untuk menemukan kembali kendalinya,” kata Heinz, “kita perlu meletakkan beberapa ilmu di balik apa yang kita lakukan.”

Persoalan mempelajari dampak kesehatan mental dari bencana adalah bencana bergerak lebih cepat daripada sains. Dalam tradisi riset, Anda harus mendapatkan dana, bertarung antarpeneliti, dan memenangkan persetujuan dari universitas Anda. Hal ini bisa memakan waktu setengah tahun. Tetapi, kasus Sonoma berbeda. Pendanaan telah mengalir dari donor dan para ahli telah menawarkan untuk melatih para terapis.

Namun bukan berarti ini murni kampanye akar rumput—Universitas Stanford pun ikut membantu. “Apa yang kami sadari adalah jenis pekerjaan dan evaluasi yang perlu mereka lakukan. Kami benar-benar membutuhkan beberapa infrastruktur,” kata Shannon Wiltsey Stirman, seorang psikolog dan peneliti di Stanford. Semisalnya, jika para peneliti ini menyimpan informasi kesehatan yang sensitif.

Namun bagaimana Anda dapat menentukan efektivitas terapi paskabencana? Sebagian caranya dengan membuat terapis memecah hal-hal menjadi beberapa komponen. “Jadi misalnya,” kata Stirman, “apakah mereka telah berupaya membantu orang meningkatkan dukungan sosial mereka? Apakah mereka telah membantunya bekerja dengan menggunakan keterampilan tertentu yang terbaca? Sudahkah mereka mengolahnya dengan memproses atau menulis tentang trauma itu?”

Di satu sisi, perawatan mental tidak berbeda dengan perawatan fisik; yang berarti, para peneliti dapat mengambil data keras darinya. Jadi misalnya, pasien mengambil survei untuk melaporkan sendiri bagaimana mereka mengatasi masalahnya. “Itu sama seperti mengambil tekanan darah mereka,” kata Stirman. Dengan cara ini, para peneliti dapat melihat hal-hal seperti gejala depresi dan kualitas tidur dari waktu ke waktu secara sistematis.

Menentukan efektivitas MySonomaStrong.com sedikit lebih mudah karena Anda dapat melacak penggunaan situs. Sama dengan aplikasi, mengukur yoga dapat dilakukan dengan cara yang sama—melacak frekuensi penggunaan. Dengan data, para peneliti dapat membangun gambaran yang lebih baik tentang strategi apa yang berhasil paskabencana.

Tak berarti, setiap komunitas akan menanggapi hal-hal ini dengan cara yang sama. Anda tidak bisa mencari tahu apa yang berhasil di Sonoma untuk kemudian menerapkannya di tempat lain dengan cara menghafalnya—tidak setiap tempat terbuka untuk melakukan yoga seperti California. Anda harus mempertimbangkan kebutuhan dan sikap orang-orang yang terpengaruh. Tetapi penelitian baru ini membantu menentukan apa yang mungkin menjadi taruhan terbaik bagi komunitas.

“Saya melihat saat ini jelas-jelas menakutkan,” kata Heinz. “Tetapi ini juga merupakan jendela peluang untuk meningkatkan apa yang kami lakukan sehingga kami memiliki prosedur operasi standar bilamana ada ungkapan ‘Hai, masyarakat ini telah dilanda kebakaran hebat. Kami tahu dari ilmu pengetahuan bahwa ini, ini, dan ini bisa efektif’.”

Sama seperti setiap komunitas yang berbeda; demikian pula dengan jenis bencananya. Apa yang mungkin dilakukan untuk kesehatan mental setelah kebakaran hutan mungkin tidak begitu efektif setelah badai; dimana orang mungkin dapat kembali ke rumah yang rusak namun dapat diselamatkan.

Bagaimanapun, perhitungan iklim ada di sini dan kemanusiaan adalah jalan; yang jauh di belakang dalam mempertimbangkan implikasi kesehatan mental dari apa yang kita hadapi. “Sejujurnya saya berpikir bahwa NIH (pusat riset medis di bawah Department of Health & Human Services, Amerika Serikat-red) harus memiliki lembaga pemulihan bencana,” kata Heinz. “Ada satu unit untuk alkoholisme, ada satu untuk penyalahgunaan narkoba, ada untuk penuaan, dan jantung dan paru-paru. Kita perlu memiliki mekanisme yang dilembagakan demi mempelajari dan mendukung masyarakat. Dengan peningkatan frekuensi yang diantisipasi dari peristiwa ini, Anda membutuhkan sistem perawatan.”

Sharon Bard menjadi tidak baik dalam beberapa bulan setelah kebakaran. “Aku akan histeris karena sesuatu yang sangat kecil,” kata Bard. “Saya selalu kelebihan beban dan saya tidak bisa memproses informasi baru. Saya lelah, saya merasa rapuh, saya gemetar,” jelasnya.

Bard menjalani terapi dan sekarang setelah dia lebih tenang, kondisinya membaik. Dia baru saja pindah ke hunian sewa baru yang tidak jauh dari tempat saya bertemu dia untuk minum teh. Dia bisa melakukan banyak tugas lagi. Dalam waktu singkat, dia bisa berbelanja, mengumpulkan meja Ikea, dan berkebun. “Itu cukup bagus untuk saya dalam sehari,” katanya.

Tetapi, kebakaran akan selalu ada di sana. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti meja dapur bisa menjadi suatu pengingat (dari tragedi-red)—meja dapur di tempat barunya lebih tinggi daripada di rumahnya yang hilang. “Setiap kali saya mendekatinya, itu bisa menjadi pemicu,” katanya.

Sekarang, Bard harus memutuskan apakah akan membangun kembali; untuk menambah lebih banyak lagi pemicu ingatannya. Membangunnya akan melalui jalan birokrasi yang menyebalkan dengan izin,  asuransi, dan kontraktor. “Semacam itu bisa memicu kepanikan,” katanya, “dan juga, apa yang saya lakukan? Apa yang saya lakukan?”

Bard adalah korban kebakaran paling merusak dalam sejarah California, tetapi juga korban perubahan iklim. Tak lama kemudian, kita semua akan melalui dengan cara kita sendiri; entah itu gelombang panas, kenaikan permukaan laut, es yang mencair, ataupun monster badai. Namun, mungkin apa yang dipelajari Sonoma dari percobaan ini dapat memberikan perangkat kepada otak kita untuk bangkit.

 

Wired.com/8 Oktober 2018

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Selalu sehat layaknya kitten kusam di rimba kota.]

 

 


Selamat Hari Sehat Mental Sedunia yang Ke-27 Tahun 2019!

Berita narasi ini diambil dari Wired.com sebagai upaya solidaritas literer terhadap para pegiat kesehatan jiwa dan penyintas mental illness.

Setiap tanggal 10 Oktober akan selalu diperingati sebagai Hari Sehat Mental Sedunia. Upaya kru redaksi komunitas kami dengan cara menerjemahkan artikel berita narasi tersebut adalah sebentuk solidaritas literer  karena persoalan kesehatan mental benar-benar nyata adanya namun sebagian besar masyarakat kita masih abai bahkan cenderung salah tanggap terhadapnya.

Semua manusia mempunyai persoalan mentalnya masing-masing. Mari membaca, mari bersaudara!


[Unduh/Draf] RKUHP 2019

 

 

[Unduh Draf RKUHP-Kontroversial 2019]

Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang akan disahkan tahun 2019 ini menuai kontroversi hingga memantik gerakan massa sipil di berbagai kota.

Area sekitar DPR RI dan parlemen-parlemen daerah pun tak lepas dari target berbakuhantam massa demonstran melawan aparat.

Kalangan intelektual dan gerakan politik alternatif menyoroti pasal-pasal kontroversial di dalamnya. Mau tahu apa saja pasal yang tak masuk akal tersebut? Silahkan kaji, link unduh ada di atas!

Asap adalah Pertanda; Kita di Cilacap Harus Menyibaknya

 

Kita yang hidup di Cilacap mungkin cenderung berjibaku dengan asap kendaraan bermotor. Atau mungkin bagi warga kita yang bertempat tinggal sekitar pabrik, kilang, dan manufaktur besar lainnya; seringkali bisa melihat asap keluar dari cerobong. Apapun sumbernya, asap adalah efek dari aktivitas produksi manusia. Asap akan selalu menjadi pertanda bagi kita bahwa ada sesuatu sedang diupayakan. Namun apakah kita tahu “sesuatu yang diupayakan” itu bermanfaat untuk (si)apa? Apakah kita semua bisa merasakan manfaat baik setelah asap mengepul dan menyambar ke udara?

Dalam menghadapi asap kendaraan bermotor sehari-hari, kita cenderung masih bisa mengakalinya. Kita pun cenderung bisa bertahan dengan polusi keseharian di wilayah kita (Cilacap) meskipun kita tak tahu penyakit apa yang akan kita hadapi kemudian. Bahkan, sebagian dari kita masih ada yang meremehkan perkara asap hingga akhirnya tetap abai di kala polusi terjadi. Termasuk di wilayah kita sendiri, acapkali polusi hanya dianggap perkara sampingan. Contohnya, ketika bocoran kilang mencampuri perairan nelayan hingga limbah cerobong pembangkit listrik mencemari udara-air-tanah warga perkampungan. Lalu, apa respon sebagian warga kita terhadapnya? Biasa saja! Ya, masih banyak yang biasa saja gegara menganggap polusi—sebagaimana asap—adalah perkara lumrah dari aktivitas industri berkeuntungan besar yang tidak banyak kita mengerti keuntungannya akan menghidupi siapa.

Oleh karenanya, apa yang terjadi di Cilacap ini adalah kenyataan juga yang dihadapi orang-orang Sumatera dan Kalimantan sana. Asap besar mengepung mereka. Titik api mulai berkobaran. Rimba-rimba baru mulai disasar menjadi arena industri. Kabar yang beredar; di setiap kasus kebakaran hutan-lahan (karhutla) yang terjadi, akan selalu ada lahan baru bagi industri perkebunan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun mengakui hal tersebut. Melalui Doni Monardo; Kepala-nya, BNPB menyatakan 80 % dari lahan yang dibakar akan menjadi kebun industri sawit. Ia juga menemui fakta pembakaran yang rapi dari hutan-hutan pedalaman Riau bahwa lahan yang dibakar sudah dikotak-kotakkan di sekitar lahan sawit sebelumnya sehingga tak sampai membakar lahan sawit yang sudah ada. Dari enam provinsi di Indonesia yang didata BNPB sejak 31 Agustus 2019, tercatat sebanyak 328724 hektare lahan terbakar yang terdiri atas lahan “gambut” dan “mineral”. Sebagai badan resmi terpercaya negara, BNPB pun mengklaim data yang diperolehnya valid.

Sementara, birokrat negara lainnya justru membuat pernyataan menyesatkan. Wiranto; Menkopolhukam kita, justru menghimbau agar korporasi hutan industri menjadi “bapak asuh” bagi para petani/peladang pedalaman Kalimantan. Secara langsung, ia menuduh bahwa masyarakat yang bercocok tanamlah yang membuat kebakaran terjadi sedemikian parahnya. Memang, di pedalaman Kalimantan terdapat lahan-lahan gambut yang tak mudah padam ketika lapisan atasnya dibakar. Para petani/peladang pun biasanya membakarnya untuk memulai musim cocok tanam baru. Namun apa yang dilakukan mereka dengan sistem adat turun-temurun tidaklah gegabah.

Idealisme masyarakat asli Kalimantan adalah sebagaimana hidup bersama kelestarian alam. Mereka bercocok tanam tidak dengan asal mengekspansi lahan hutan yang masih rimba. Dalam bertani/berladang, mereka akan memastikan dulu mana lahan yang tidak terlalu dekat dengan rimba. Pun ketika gambut dibakar, kaum tani/ladang ini akan menungguinya sampai api benar-benar padam. Makanya dengan hal ini dan kesadaran akan potensi rimba, sudah sejak lama masyarakat adat Dayak mengenal sistem “ladang berpindah”; yang dimaksudkan supaya aktivitas pertanian/perladangan bisa seiring dengan upaya restorasi hutan sekitarnya. Bahkan untuk menebang satu batang pohon besar pun, mereka musti menyediakan puluhan atau malah ratusan batang kecil sebagai bibit baru penggantinya. Lantas, argumen Wiranto supaya korporasi (perusahaan besar) menjadi “bapak asuh” bagi petani/peladang lokal ini apakah bukan sebagai ungkapan “menggurui mahaguru”?

Justru, yang kerap terjadi ialah korporasi besar seringkali menandaskan rimba-rimba di sana sebagai wahana ekspansi pembukaan tambang (batu bara) dan juga perkebunan industri (sawit). Tak disangkal lagi, sudah banyak bukti kasus penyingkiran rimba di Sumatera dan Kalimantan demi orientasi ekspor besar-besaran sawit & batu bara. Gajah, orangutan, macan, harimau, dan binatang rimba lainnya yang merangsek ke perkampungan warga menjadi bukti bahwa sumber nutrisi mereka dirampas industri. Tak hanya binatang, manusia pun kerap mendapat represi lahan tatkala berhadap-hadapan dengan industri. Dan kini, asap mungkin akan mengabarkan semuanya dari pedalaman.

Sekali lagi, asap adalah pertanda; pertanda dari apa yang tersembunyi di pedalaman. Asap-asap itu; yang sesekali muncul pada berita media lalu menghilang lagi, telah menyapa kita dengan sesaknya—sesesak nasib petani/peladang yang digusur kebun-kebun industri; setebal kabut kesenjangan manfaat antara petinggi korporasi dan orang-orang biasa seperti kita.

Dari Sumatera dan Kalimantan, kita bisa tahu ada kematian yang tak diperlukan. Binatang-binatang rimba terpotret sudah tewas terpanggang. Elsa Pitaloka; bayi berusia empat bulan musti meregang nyawa akibat radang paru-paru dan radang selaput otak. Ia meninggalkan dunia di Rumah Sakit Islam (RSI) Ar-Rasyid Palembang. Pihak RSI mengungkapkan sebab penyakitnya adalah infeksi saluran pernafasan bawah. Walaupun infeksi yang diderita Elsa bisa terjadi sebelum tragedi karhutla, namun asap karhutla bisa turut memperparahnya. Pula data yang beredar; seperti yang dikutip CNN Indonesia pada 23 September 2019 ini, kementerian kesehatan (Kemenkes) merilis ada 919516 orang terkena ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) yang tersebar di wilayah Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Berikutnya, dengan maraknya berita dan potret digital efek miris karhutla yang bertebaran di media sosial; apakah kita yang di Cilacap tak perlu panik menghadapinya?

Tenang saja, kita sudah bertahun-tahun membiarkan kewarasan kita tegar menghadapi korporasi. Tanyakanlah pada warga di perkampungan yang berdekatan dengan kilang-kilang, pembangkit listrik, dan pabrik industri. Sapalah juga debu-debu jalanan yang dilalui truk-truk besar yang bolak-balik pelabuhan. Apakah kita tidak sesak?

Oh ya, cerobong-cerobong asap dan kilang sudah menjulang sejak lama. Apa yang kita banggakan? Ingatlah selalu bahwa asap adalah “pertanda”; tanda dari pekatnya uang mengalir ke atasan, tebalnya kabut kesenjangan yang sulit ditatap, juga tanda dari adanya rumah-rumah kosong sekitar pembangkit listrik yang ditinggalkan penghuninya akibat polusi, suatu tanda dari warga Winong (Slarang) yang musti mandi dengan membeli air-air galon, tanda protes lama warga kisaran Donan yang perairannya memanas akibat pemasakan kilang, serta tanda dari nelayan kita yang tak mencari penghasilan ketika minyak mentah mencampuri perairan pun ditambah lagi minggatnya ikan-ikan akibat takut pada pendaran cahaya pembangkit listrik yang menjilati perairan. Betul, asap adalah pertanda; kewajiban kita yang waras adalah menyibaknya!

-Klik di sini untuk download versi digitalnya-

 


Pernyataan ini adalah secarik sikap dan sekelumit kajian serta wacana ke depan bagi warga Cilacap; yang kami sebarkan pada agenda #MengusapAsap kala 26 September 2019 di Kota Cilacap.

Semoga bisa menjadi agen kewarasan bersama!


 

[Wawancara/Punk Scene] ‘Penentang Gravitasi’ di Awal Kelahiran Punk

*)Diwawancarai oleh Amy Haben. Pegiat skena dan kontributor Pleasekillme.com.

Citra punk rock generasi pertama yang dimengerti otak remaja saya telah saya temukan pada perpustakaan umum setempat. Dalam sebuah buku, saya menemukan foto yang diambil oleh Bob Gruen saat Sex Pistols sedang memainkan kekonyolan. Di buku foto lainnya, saya menemukan seorang perempuan yang tampak memalukan dengan rambut pirang sarang lebahnya  yang eksotis dan ber-make up bulu mata lebar.

Perempuan itu bahkan bukanlah anggota band. Namun dia terlihat lebih keren dari semua musisi. Dia berlalu dengan nama tunggal “Jordan” dan dialah karya seni yang berjalan. Keberaniannya telah memupuk sekalangan individu yang berkesenian untuk berpakaian secara out of the box—sekalipun tidak diterima oleh khalayak.

Sebelum kemunculan Madonna dan Lady Gaga, Jordan sudahlah ada. Mantan penari balet yang terlahir dengan nama Pamela Rooke ini mengambil referensi berpakaian dari kecintaan masa kecilnya; yang sering memakai sepatu balet dan tutus. Seorang badass kelahiran Sussex ini pernah berjalan menyusuri jalanan dengan mengenakan rok plastik tembus pandang tanpa celana dalam. Itulah semacam raungan hening yang mengagetkan para penduduk asli yang sedang kecanduan memakai polyester dan menohok kejijikan kaum konservatif.

Jordan adalah sesosok menakutkan yang duduk di belakang pajangan Toko Sex milik Malcolm McLaren dan Vivienne Westwood di King’s Road, London. Dia tak akan pernah menanyakan kebutuhan para pelanggan dan itu menjadi semacam ujian keberanian bagi para klien yang datang untuk meminta pelayanannya. Sebagian besar pengunjung hanya berani meletakkan barang pilihannya secara diam-diam saat bertransaksi.

Sex Pistols adalah band terkenal yang dimanajeri Malcolm McLaren dan dibentuk di Toko Sex. Sebelumnya, toko itu bernama Let It Rock dan dijual kepada para penggemar new wave era 1950-an yang disebut Teddyboys. Dua tahun kemudian, Vivienne—seorang perancang busana—memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Too Fast To Live, Too Young To Die yang diperuntukkan bagi para rocker dengan berisikan banyak pakaian kulit dan rantai. Beberapa tahun setelah itu, namanya berubah lagi menjadi Sex yang saat ini bernama World’s End.

Di depan Sex, tertera bantal huruf “S-E-X” berwarna pink yang terlihat layaknya patung karya Claes Oldenburg. Pakaian karet dan kulit adalah  barang dominan. Selain disambangi rocker dan punk, ada juga pecandu skena yang cukup normal di siang hari. Bahkan seorang penyiar berita terkemuka di televisi akan mengedipkan matanya kepada Jordan sebagai kode rahasia untuk menunjukkan bahwa dia mengenakan celana dalam karet di balik jasnya. Toko subversif ini menarik banyak pencuri muda seperti musisi Johnny Thunders; yang ketahuan mencuri dan dikenai cacian oleh seorang pekerja pria. Bianca Jagger; istri Mick Jagger-vokalis Rolling Stones, pun pernah digiring keluar dari toko. Dan, tiada seorang diva pun yang aman!

Jordan seorang ikon feminis. Dia sering menampakkan payudaranya dengan cara apapun yang tidak bermaksud  untuk menarik rangsangan seksual melainkan sebagai pernyataannya melawan sensor. Dia berkali-kali kesulitan berkencan karena para laki-laki berpikiran lurus tampaknya terhalangi oleh kecerdasan dan humornya. Perempuan yang tangguh semacam dia memang sangat bisa mengintimidasi.

Dia selalu merasa paling nyaman berada di bar kaum gay dan bahkan pernah memenangkan drag contest saat dia membuat pakaian yang terdiri dari lobster plastik, rumput laut, kerang, kail, dan jaring. Malam itu, ia menjuluki dirinya “The Dyke From The Deep” sebagai karakter campy seorang perempuan biseksual.

Orang-orang yang berdatangan ke Sex pun tak hanya untuk membeli hasil karya Vivienne. Mereka datang untuk mengintip bagaimana keseluruhan diri Jordan sebagai suatu keunikan yang agung. Lemmy; pelopor Motorhead, pernah memperingatkannya untuk menjauhi narkoba; yang menurutnya terasa begitu ironis. Penyanyi yang bernyanyi dengan kecepatan membingungkan dan berbahan bakar alkohol tersebut berusaha menyelamatkan teman mudanya dari cengkeraman heroin. Orang bijak yang keras kepala itu mungkin telah meramalkannya;  karena akhirnya Jordan berperang melawan obat-obatan jahat itu.

Jordan mengelola latihan grup Adam & The Ants dan bahkan beberapa kali ia bernyanyi bersama mereka. Sebagai orang yang selalu menarik perhatian, ia menarik perhatian sutradara Derek Jarman yang memerankannya sebagai Amyl Nitrate dalam film “Jubilee” tahun 1978. Film ini mengisahkan Ratu Elizabeth Pertama terlempar ke masa depan dan menyaksikan sebuah kota dalam pembusukan yang dijejali para nihilis tanpa tujuan. The Slits dan juga Siouxsie & The Banshees tampil dalam film yang tata musiknya digarap oleh Brian Eno ini. Sekarang, film ini malah dianggap sebagai film kultus.

Jordan menulis memoar barunya yang berjudul “Defying Gravity” yang debutnya dirilis di  Amerika Serikat tahun 2019 ini. Memoar ini dipenuhi kutipan dari Vivienne Westwood, Paul Cook, Derek Jarman, Michael Collins, Sylvain Sylvain, dan banyak lagi. Buku ini mengisahkan semua ledakan konsumsi fashion dan kontrakultur di London era 1970-an. Bacaan ini dirasa wajib bagi penggemar punk dan musti menjadi bacaan wajib juga bagi para pelajar yang menekuni sejarah rock n’ roll dan mode. Saya mengobrol dengannya sebentar di sebuah bangku di London. Bacalah percakapan kami berikut ini.

 

***

 

“Saya mempunyai anting-anting yang saya buat dari bulu dan mutiara ini setelah kucing saya menangkap seekor burung jalak di kebun. Saya pergi menemui David Bowie dan saya sampai di depan panggung tempatnya menyanyikan “Ziggy Stardust”. Dia membungkuk dan bertanya apakah dirinya bisa mendapatkan anting-anting saya ini. Lalu saya pun berlalu—sambil menggelengkan kepala,” ujar Jordan sebelum kami berbincang.

 

Hahaha… Anda menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyerah.

Bertahun-tahun kemudian, tentu saja, saya bertemu David berkali-kali. Tetapi saya tidak pernah mengaku kepadanya bahwa saya adalah perempuan yang anting-antingnya diminta olehnya.

 

Kamu adalah orang paling keren. Kebanyakan orang akan merobek kemeja dari punggungnya untuk diberikan kepada David. Kalau boleh tahu, di mana awalnya Anda memilih pakaian? Apakah Anda membuatnya atau menemukannya di toko barang bekas?

 

Kedua-duanya. Saya juga pergi ke toko barang bekas. Di Brighton, ada banyak hal yang sangat bagus pada saat itu yang tidak sebanyak sekarang. Saya dulu seorang pengusung DIY (do it yourself) yang mengacaukan apa yang ada di Brighton. Saya akan menjahit simpul-simpul kecil pada rok tahun 1950-an ini dan saya sering memakai pakaian balet.

 

Apakah orang tuamu marah pada awalnya?

Ya. Saya biasa berjalan menyusuri jalan setapak di rumah saya sama persis seperti saat saya berjalan menuju Sex di King’s Road. Saya tidak menganggap diri saya berani. Ketika Anda merasa nyaman dan aman dalam melakukan perbuatan Anda, Anda akan merasa diberdayakan—bukan keberanian.

 

Saya mengerti maksudmu. Dulu, saya pernah mengenakan kostum polkadot Minnie Mouse dengan jala ikan. Sebagai remaja, saya tidak merasa malu karena saya tahu siapa diri saya.

Persis seperti itulah saya.

 

Berapa usiamu saat mulai bekerja di tokonya Vivienne?

Baru saja 19 tahun. Dan saya mendapat nilai A untuk pelajaran bahasa Inggris dan hukum di sekolah. Suatu penilaian tertinggi yang bisa kita dapatkan.

 

Apakah kamu seorang bocah supel ataukah pemalu?

Aku antisosial. Saya selalu mengira bahwa orang-orang yang terlibat dengan saya mungkin akan mendapat masalah apabila menjadi teman saya. Saya selalu mendapat masalah karena penampilan saya. Saya selalu diusir dari ruangan padahal saya menjadi pejabat kesiswaan di sekolah.

 

Kamu berakal tapi mereka selalu ingin menyingkirkanmu bagaimanapun caranya.

Saya sengaja menjabat kepengurusan siswa karena itu memberi saya posisi berkuasa kepada para siswa. Saya bisa membantu mereka tanpa menjadi jahat seperti para guru.

 

Saya melakukan hal yang sama dengan menjadi staf fotografer buku tahunan. Saya jengah kepada sedikit teman punk saya yang tidak diakui. Kemudian saya memutuskan menjadi orang yang berkuasa. Pada akhir tahun itu, potongan rambut mohawk jadi berlimpah di halaman buku tahunan. Para orang tua mungkin merasa ngeri.

Anda membangkang dengan cara masuk ke dalamnya. Hebatnya, para guru tidak cukup pintar untuk memahami hal itu. Saya dikeluarkan dari sekolah karena penampilan saya. Kemudian para guru datang ke rumah saya karena mereka menginginkan saya kembali tapi mereka meminta saya berubah. Orang tua saya tentu saja berada di pihak mereka. Tapi saya tidak akan berubah.

 

Apakah ada seragam di sekolah Anda?

Ada keseragaman. Anda tidak bisa memakai sepatu tertentu. Saya punya sepatu hitam bagus berhak tinggi dengan tali. Kemudian, teman saya mengatakan bahwa dia akan melihat saya berjalan ke pertemuan dengan sepatu itu dan dia akan berpikir, “Oh tidak, dia akan mendapat masalah lagi.”

 

Karena Anda sangat berbeda sejak usia muda, apakah ada tempat bergaul dengan orang-orang sejenis Anda?

Semasa awal remaja, saya nongkrong di semua klub laki-laki & gay di Brighton. Mereka menyukai penampilan saya. Itu membuat Anda lebih toleran terhadap semua orang ketika Anda diterima.

Ada kerangka berpikir yang baik untuk menunjukkan keberadaan saat Anda sepenuhnya diterima. Kami biasa berdansa semalaman. Itu sangat menakjubkan. Anda menyebut diri Anda biseksual, begitu juga saya. Ini sangat membebaskan ketika Anda bisa memiliki persahabatan yang hebat dengan pria gay. Miles terasa memiliki musik yang lebih baik dibandingkan dengan bar-bar normal lainnya.

 

Apakah pernah ada yang merasa perihatin dengan “Sex” sebagai nama toko kalian?

Sex menempati gedung yang sama dengan Toko World’s End kepunyaan Vivienne saat ini. Kami tidak pernah terganggu oleh siapapun tentang nama itu karena terletak di bagian kota yang lebih pinggiran. Pernahkah kamu ke sana? Jika tidak, saya akan membawamu dan memperkenalkan Anda kepada semua orang.

 

Oh ya, aku pernah ke World’s End sekali. Ada seorang pekerja perempuan yang sangat lucu dan unik.

Dia adalah Lisa. Seorang yang sangat cantik dengan banyak tato.

Ada salah satu foto saya yang paling terkenal sangat lucu. Foto itu diambil oleh fotografer terkenal; Sheila Rock. Saya sedang berada di luar Toko Sex dan seorang pebisnis dalam foto tersebut berjalan sambil menatap saya seperti berkata, “Apa-apaan ini?”

 

Hahaha… Saya menyukai foto itu

Itulah momen yang benar-benar baik sepanjang waktu.

 

Apakah Anda menjadi seorang glam sebelum kancah punk membahana?

Saya sudah melakukannya. Tapi sebelum itu, sudah ada Iggy dan The Velvet Underground. Band-band semacam ini didirikan kembali oleh David Bowie karena dia menggemarinya. Itu menjadi semacam penghargaan yang luar biasa.

 

Adakah hal lucu yang dikatakan Iggy atau Bowie kepadamu?

Lucunya, saya belum pernah bertemu Iggy. Sungguh mengecewakan. Dia bermain setahun lalu di Hyde Park. Saya bertemu dengan manajer turnya di pesta kebun pribadi dan dia berkata, “Kenapa kamu tidak kembali ke panggung? Iggy akan senang melihatmu!”

 

Saat selanjutnya, Anda pasti akan kembali.

Oh ya. Itulah kesepakatannya. Bowie adalah pria yang sangat pintar. Saya ingat pernah berfoto bersamanya di Cannes dan Live Aid.

 

Saya pernah melihat foto Anda bernyanyi.

Saya bernyanyi di panggung dengan Adam Ant. Saya punya satu lagu. Lagu itu merupakan hal yang sangat kuat untuk dinyanyikan di atas panggung dan kemudian membuang mikrofon, lalu pergi.

 

Saya mengenal Chris Constantinou dari Adam & The Ants.

Oh, dia orang yang menyenangkan. Saya pikir Adam masih berteman dengannya.

 

Chris berkata tentang bagaimana dia mendapatkan banyak groupies dan The Ants lebih ber-make up dibanding gadis-gadis yang mereka kumpulkan.

Haha!

 

Apakah Anda yang banyak mengatur gaya mereka saat itu?

Hanya beberapa. Boy George—sebelum dia terkenal—adalah penggemar toko kami. Orang-orang dapat datang dengan banyak uang tetapi mereka tidak harus terlihat bagus dengan pakaian itu. Saya akan berkata kepada mereka, “Kamu pikir kamu akan terlihat seperti apa?”

 

Hahaha…

Saya akan mengatakan, “Bagaimana kamu akan memakai benda itu?” dan “Bagaimana kamu mengadaptasinya?”

Kemudian beberapa bocah itu akan bepergian jauh tanpa uang dan saya akan memberi mereka t-shirt gratis. Bocah-bocah seperti mereka akan terlihat lebih baik mengenakan baju itu dibanding kebanyakan pelanggan toko. Saya tidak akan pernah berhenti mengurusnya dan  selalu berkata, “Ada yang bisa saya bantu?” Orang-orang pun akan datang dan melihatnya.

 

Saya pastikan kamu sering diminta menjadi model oleh banyak fotografer.

Ya, itulah yang terjadi. Apakah Anda ingat foto pantat Chrissie Hynde, Vivienne Westwood, dan saya? Kami mempunyai  tulisan “S-E-X” yang tertulis di pantat kami. Tentu saja, pantatku adalah yang paling besar dari mereka semua! Hahaha…

 

Oh ya, saya menyukai foto itu.

Chrissie masih menjadi teman baik saya. Dia sangat menekuni ekologi sekarang dan peduli terhadap planet ini.

 

Saya sangat terinspirasi olehnya. Ia seorang perempuan muda yang datang langsung ke Inggris dan memulai band-nya saat itu. Sungguh menakjubkan.

Dia sosok pemberani. Dia tidak pernah  menjawab “tidak”.

 

Apakah kamu juga berteman dengan Poly Styrene?

Saya sangat berteman baik dengannya!

 

Saya baru saja mewawancarai anak perempuannya.

Kami mempunyai penerbit yang sama. Sayang sekali Anda tidak akan berada di sini. Kami sedang membaca bersama di British Library.

 

Siapa yang menjadi kawan paling akrabmu di skena?

Saya kira Adam. Dia benar-benar manis. Kami teman yang sangat baik. Saya memanajerinya dan dia mengirim surat cinta. Saya tidak memiliki perasaan ketika orang-orang menyukai saya. Jadi butuh dua tahun baginya untuk merayu saya. Adam menyukai banyak wanita, jadi saya tidak pernah benar-benar menjadi pacarnya. Kami lebih sebagai friends with benefits. Lalu saya menikah dengan seorang pemain bass.

Saat usia 18 tahun, apakah Anda merasakan hal seperti itu sebagai cinta pandangan pertama dan sebuah hubungan yang ajaib?

Ya, seperti itu.

 

Pleasekillme.com/5 September 2019

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Skenais arus bawah.]

 


Wawancara ini disadapalihkan dari Pleasekillme.com demi kepentingan pergulatan skena dan pencerahan wawasan di sekitar para pembaca.


 

[Zine] NOISE #1 ‘Dari Manusia Jalanan ke Perpustakaan Jalanan’

———-x———x———-x———-

Dari Manusia Jalanan ke Perpustakaan Jalanan adalah benar-benar karya dengan citarasa khas jalanan. Secarik zine ini dibikin langsung oleh Aming a.k.a Wildcat selaku pelaku yang turun jalan langsung demi pendirian Perpustakaan Jalanan Cilacap (Komunitas Mengkaji Pustaka).

Titik tolak berangkatnya ialah, ia yang ngepunk nan street artist ini bersama seorang kawannya merasa khawatir akan nasib anak bangsa yang asal-asalan konsumsi info dari gadget. Diawali dengan kesadaran konyol nan apa adanya, mereka pun membangun komunitas literasi sebagai jalan tes nalar kewarasan, serta berusaha menyapa mereka; para pekerja jalanan di ruang publik.

Bisa dibilang, konten tertulis di zine ini begitu ‘jalanan’ & tentunya karya historikal ini bisa dikata sebagai karya ‘sejarah jalanan’ bila memang ada akademisi/sejarawan/budayawan yang benar-benar cerdas memandang jalanan sebagai titik pelontar sub-budaya/kontrakultur.

[AMBIL DARI SINI SEPENUH HATI!]

UNDUH: Zine FNB Cilacap

 

Kru Food Not Bombs (FNB) Cilacap membagikan lembaran zine sebagai kabar baik kepada masyarakat Kota Cilacap maupun daerah lainnya tentang nalar konsumsi pangan kita hari ini.

Sudah pasti, lembaran ini tak sempurna sebab dibikin dalam sekian menit saja memakai metode mencoretkan langsung isi dalam otak yang teramat dialektis bin dinamis.

Harapan kami, ini menjadi kabar baik bagi para pembaca yang baik pula dalam naungan rimba raya persembunyian kabar-kabar baik.

Isi lembaran ini sangat boleh saja dipakai-guna dan dimodifikasi demi kepentingan gerakan literasi, FNB, atau sejenisnya.

Salam kunyah!

[KLIK SINI DONK!]