Perempuan: Subyek Pemimpin yang Dikekang?

 

Kartun ‘I Got This’ karya Sousa & Machado/cartoonmovement.com.

*)Oleh Toto Priyono. Peminat sosio-humaniora, esais, dan bermukim di Cilacap.

Berbicara masyarakat bukan saja berbicara tatanan; tetapi juga harus berbicara ide-ide dalam bermasyarakat. Memang, menjadi satu manusia ideal harus betumpu pada tujuan “ideal” itu sendiri yang disepakati bersama.

Namun dalam bangunan bermasyarakat, apakah konsep ideal tidak menjadi kabur ketika satu dari banyak masyarakat sendiri mempunyai gagasan bagaimana menjadi ideal itu menurut versinya masing-masing?

Tentu tidak akan menjadi mudah ketika manusia berbicara ide—apalagi saat ia harus berbicara ide—namun ide itu dihadapkan dengan kerumunan yang juga membawa ide-idenya sendiri-sendiri dalam balutan bermasyarakat. Ibaratnya menjadi satu semut dalam satu rumah diisi jutaan semut yang menghuninya; satu manusia tidak dapat mengubah apapun terkecuali: ia memang sudah punya kekuatan dalam mempengaruhi banyak manusia di dalam kehidupan bermasyarakat.

Maka tidak heran, pemimpin-pemimpin diciptakan dalam struktur sosial bermasyarakat; bawasannya titah atau pengaruh mereka dapat mempengaruhi wacana ide berpikir manusia dalam hidup bermasyarakat. Tetapi apa yang tidak dapat disentuh oleh manusia berpengaruh tersebut (pemimpin) adalah ranah tradisi dan anggapan yang berbudaya secara turun-temurun menjadi keyakinan banyak masyarakat.

Secara tidak langsung, keyakinan-keyakinan tersebut menjadi dalil-dalil baru dalam hidup bermasyarakat yang diyakini secara ideologis bawah sadar mereka. Dalil tersebut seperti hukum dan apa bentuk hukum tersebut adalah adanya konsep dari stigma buruk dalam sebuah persepsi; yang menjadi acuan dalam bermasyarakat itu sendiri sebagai “ideal” dari yang dipilih atau disepakati menjadi ideal.

Sebut salah satu yang banyak terhukum masyarakat saat ini adalah stigma menjadi (sebagai) “perempuan”. Mengapa perempuan cenderung rentan terkena dampak buruk dari stigma tersebut di masyarakat?

Perlu diingat, peradaban saat ini bukan saja bentuk dari keterpengaruhan di masa lalu, tetapi pengetahuan yang dibangun cenderung maskulin dan meminggirkan perempuan sebagai bagian dari masyarakat yang setara. Karena di dalam keyakinan masyarakat tradisional, perempuan bukan saja harus patuh, kalem, dan tidak mengikuti gaya hidup yang nakal, tetapi juga dari dalam strata sendiri harus lebih rendah dari laki-laki, padahal semua manusia diciptakan untuk menjadi sama; tidak ada perbedaan, baik di dalam masyarakat maupun sebagai pribadi manusia itu sendiri.

Perempuan terlihat lemah karena pandangan sosial yang memposisikan mereka lemah; bukan berarti dipandang “lemah” tidak bisa menjadi kuat. Perempuan merupakan makhluk yang paling kuat meskipun ia direndahkan secara pandangan sosial—tetapi kekuatan itu terletak pada sikap mau mengalah terhadap peradaban yang sebenarnya menindas mereka.

Pada dasarnya, perempuan adalah makhluk paling berani menata dirinya. Mereka adalah pemimpin sekaligus mampu “mengalah” untuk menjadi perempuan itu sendiri; yang bila mereka menggugat: dunia memang milik mereka (women the real leader of the world).

Mungkin inilah jawaban dari kebudayaan Jawa, misalnya; meskipun sosok pemimpin perempuan sendiri banyak di belahan dunia lain, tetapi kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang terdekat dan nyata dapat kita lihat. Mengapa tempat bersemayamnya raja-raja Jawa dinamakan keraton? Bukankah keraton sendiri berasal dari kata “keratuan” (ratu: perempuan); yang dimana pemimpin sebenarnya harus berjiwa feminis?

Sosok atau figur jiwa perempuan menjadi ibu bagi kehidupan seperti harus dilibatkan dalam struktur tertinggi politik masyarakat Jawa. Ini menunujukkan bahwa peradaban memang harus feminim supaya jiwa merawat kehidupan seperti ibu yang merawat dengan baik anak-anak mereka; sebagai bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri.

Namun kembali tentang sesuatu yang telah membudaya dari generasi ke generasi, bahwa dibutuhkan kesadaran secara total dalam bermasyarakat untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi peran maskulinitas peradaban dunia. Yang justru terjadi, faktor kejayaan, ekspansi, dan kehendak kuasa menjadi cermin peradaban masyarakat dunia saat ini; bukan merawat dunia seperti peran ibu (feminin).

Memang bukan hanya berbicara keadilan gender, tetapi juga mana peran yang baik untuk sama-sama merawat dunia dan masyarakatnya. Masih banyaknya perang di dunia, ketimpangan sosial, dan eksploitasi pada alam yang berlebihan mungkin harus berkaca pada apa sebenarnya yang salah dari peradaban dunia itu sendiri saat ini? Maskulinitas yang terkadang jumawa; mengidealkan kuasa dalam permainannya, apakah ini  biang dari semakin terdegradasinya kehidupan dunia dimana alam dan masyarakat semakin mempunyai kualitas hidup yang rendah?

Bukan saja menjadi catatan, dalam menjadi manusia, memang faktor feminin dan maskulin dapat termanifestasi di tubuh yang sama. Tetapi berbicara adikodrati sebagai manusia, mereka akan optimal ketika mereka menyadari tubuhnya masing-masing dan tidak mungkin manusia akan optimal tanpa ia bersatu dengan tubuhnya sendiri; dalam arti, permpuan tetap menjadi feminin dan laki-laki akan tetap menjadi maskulin.

 

Stigma Moral Terhadap Perempuan   

Menjadi manusia memang tidak berbeda. Setiap manusia berhak berpikir; berhak menentukan hidup sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Begitu pula menjadi perempuan, mereka bebas menjadi apapun yang mereka mau. Kita, antara perempuan dan laki-laki, terperangkap di tubuh yang sama; yakni manusia.

Tetapi, ide tentang moralitas seperti sebuah sandungan dalam menjadi manusia. Semua serba atasnama keyakinan yang dipercayainya masing-masing dalam memandang hidup. Norma-norma yang masyarakat pandang seperti sebuah dalil sosial padahal sosial terbentuk dari pribadi-pribadi antara laki-laki dan perempuan; dimana wacana menghakimi sebagai masyarakat haruslah bagaimana menjadi manusia secara pribadi terlebih dahulu.

Hidup di dalam keyakinan pada tradisi seperti gampang yang susah. Di samping gampang telah memiliki pakem yang ada, susah ketika pakem tersebut tidak sesuai dengan apa yang manusia kehendaki di dalam menjadi masyarakat itu sendiri sebagai pribadi. Menjadi masyarakat ibarat manusia menjadi dua kaki; satu kaki harus taat pada norma masyarakat, satu kaki lagi harus dapat menjadi bebas sebagai pribadi manusia.

Maka moralitas dan strata sosial dalam masyarakat seperti hanya akan berbuah paradoks. Namun yang tetap menang di sini yakni laki-laki yang dipandang lebih superior dibandingkan perempuan. Dalam hal moralitas juga sama; laki-laki seperti biasa dipandang dalam hal-hal merokok, mabuk, dan bekerja kasar, misalnya. Berbicara hal yang sama menjadi manusia, perempuan seharusnya dipandang sama jika mereka harus merokok, mabuk, atau kerja kasar untuk mengisi harinya sebagai manusia.

Saya tidak sepakat bahwa rokok dan apapun itu terlarang bagi perempuan secara wacana ide moralitas kepatutan menjadi masyarakat. Mau mabuk atau apapun, itu adalah kebebasan sebagai manusia, termasuk perempuan itu sendiri.

Mabuk, rokok, dan segala macamnya, termasuk mencari nafkah keluarga, bukankah sudah menjadi produk kebudayaan dari dulu yang dilabeli untuk laki-laki? Pola pikir masyarakat sudah terbentuk begitu berpakem: wanita itu harus kalem, penurut, dan tidak mengikuti gaya hidup yang nakal. Jelas, pandangan masyarakat menstigma bahwa “kalau dia perempuan tidak benar karena di luar dari pakem itu” yang menjadi perspektif ideal bagi masyarakat.

Namun lambat laun, ini hanya budaya, bisa berubah tergantung pola pikir lagi di masyarakat. Setelah masyarakat dewasa memandang kehidupan, membuat berpakem-pakem itu akan hilang dengan sendirinya, karena keadaan gaya hidup populer dan segala macamnya termasuk dalam semesta wacana pemenuhan kebutuhan keluarga akan terus mengikuti kebutuhan zaman.

Bukankah kini karena kebutuhan hidup, perempuan mencari nafkah sudah menjadi biasa untuk sama-sama memenuhi kebutuhan keluarga? Sepertinya benar perspektif yang diyakini masyarakat dalam wacana ide masyarakat sendiri, yang belum dewasa memandang sesuatu di luar pakem menurut pandangan mereka.

Dalam bergaya hidup sebagai modern sendiri, kini memang sudah tidak akan zaman lagi “ini bagian laki-laki, ini bagian perempuan”. Semua aspek kehidupan masyarakat cenderung akan menunjukkan kesetaraan di masa depan termasuk dalam ruang mencari nafkah, gaya hidup, bahkan kebutuhan hidup untuk “nakal” itu sendiri; yang kini dijadikan sebagai pelarian kebosanan pada hidup yang “mengapa harus begini-begini saja hidup sebagai manusia itu?”.

Ketika hidup manusia sudah setara dalam pandangan masyarakat sendiri, kini perempuan yang dikerdilkan peranannya dan moralitasnya untuk bagaimana menjadi perempuan, akan mendapat hak yang sama di masa mendatang. Perempuan yang sebenarnya kuat dan punya insting dalam merawat kehidupan sendiri dengan potensi yang tersembunyi dari mereka, nantinya ketika tidak ada lagi wacana ide masyarakat dalam kesetaraan lebih merendahkan perempuan, bukan tidak mungkin perempuan mengambil alih peradaban untuk memimpin dunia dengan sikap dan kekuatannya sebagai perempuan: sang pemberi dan melahirkan hidup.

 

‘Singapore of Java’: Menjadi Kota PLTU?

 

*)Penulis: Toto Priyono. Bermukim di Cilacap sambil meminati kajian sosio-humaniora dan beresai.

Bagi kaum awam seperti mereka dan saya, menjadi “Singapura-nya Indonesia” berarti akan terciptanya gedung-gedung tinggi, rapi, indah, dan maju. Banyaknya pekerjaan yang tersedia nanti di kota metropolitan mirip Singapore ini dengan julukan “The Singapore of Java” sangat membantu kami warga sebagai warga Cilacap karena kami tidak perlu susah-susah merantau ke kota lain untuk mencari sesuap nasi, bahkan sampai ke luar negeri (ke Singapura-nya betulan).

Memang pada tahun 2014 lalu, politikus yang menjabat Presiden untuk kedua kali, Bapak Republik Indonesia tercinta, Joko Widodo, sempat mencanangkan bahwa Cilacap akan menjadi Singapura-nya Indonesia lewat industri yang akan dibangun di Cilacap, yakni PLTU (pembangkit listrik tenaga uap). Tentu kabar baik ini diterima dengan senang oleh semua pihak lapisan masyarakat. Harapan mereka mungkin akan menjadi kebenaran karena yang bilang sendiri adalah Jokowi, calon presiden Indonesia waktu 2014 itu dan juga belum lama tahun 2019 ini.

Namanya juga orang desa, melihat Singapura itu hanya di gambar saja. Kotanya begitu maju, sampai-sampai dengan Photoshop (aplikasi edit foto), mereka gambarkan Kota Cilacap yang maju. Dari perbatasan Kota Cilacap, terlihat megah diisi oleh penggambaran dengan bentuk gedung-gedung tinggi yang mewah dan megah. Sayang, dokumentasi itu sudah tidak terlihat di berbagai media sosial tentang Cilacap; jadi gambar tersebut tidak saya bagi di sini, tetapi jika Anda orang Cilacap pasti mengetahui.

Orang berharap boleh saja (menggambarakan kegembiraan?). Apalagi, jelas boleh asal “kalau tidak sesuai harapan jangan kesal”. Tentu harapan kemajuan kota menjadi gambaran warga Cilacap yang girang akan wacana Jokowi yang dulu bahkan hingga kini saat menjabat sebagai Presiden Indonesia.

Tetapi apakah harapan tidak hanya menjadi harapan? Sudahkah Cilacap selangkah memiliki kemiripan dengan panutannya, Singapura? Inilah yang akan dipertanyakan; realitas kini dan progres kemajuan dari Cilacap itu sendiri sebagai “The Singapore of Java”.

 

Cilacap Kini Kota PLTU

Gagasan menjadi Singapura-nya Jawa memang mungkin. Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Cilacap juga memberikan jargon yang sama; bahwa Cilacap dapat menjadi Singapura-nya Jawa. Tentu alasan Pemkab sendiri akan datangnya investasi besar-besaran ke Cilacap menjadi faktor ketertarikannya bertumpu pada PLTU yang akan dibangun di Cilacap—yang kini sudah terbangun dan sebagian lagi telah berfungsi. Tetapi sejak dalam pembangunannya, dari satu PLTU hingga sekarang, yang telah mencapai empat pembangkit PLTU, geliat investasi di Cilacap cenderung stagnan. Memang sedikit ada kenaikan, tetapi sifatnya hanya akomodasi proyek PLTU saja.

Saya kira pengembangan infrastruktur menjadi biang tersendatnya investasi ke Cilacap. Kota yang buntu membuat enggannya para investor menanamkan modalnya ke Cilacap. Mengapa untuk menarik Investor dibutuhkan infrastrukur? Jelas, untuk menunjang faktor distribusi barang jadi produksi dan barang mentah untuk diproduksi oleh industri.

Jargon Cilacap untuk menjadi Singapura-nya Indonesia di Jawa pada saat itu, menurut saya terkesan hanya manifesto PLTU dengan segenap janjinya “sebagai kepentingan proyek strategis nasional pemerintahan Jokowi” untuk tidak mendapat banyak pertentangan masyarakat. Dengan kurang berkembangnya investasi di Cilacap, jika memang Cilacap akan dijadikan oleh pemerintah pusat menjadi “The Singapore of Java”, tentu pemerintah pusat menggiring investor ke Cilacap dan menyiapkan infrastrukturnya terlebih dahulu sebagai kawasan ramah Investor.

Bukankah kenyataannya itu tidak dilakukan oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Cilacap sendiri yang mendukungnya? Oleh karenanya, janji daerah maju dan investor datang seperti hanya gurauan politikus yang sudah biasa terjadi. Memang, saya di sini tidak tahu bagaimana investasi di Cilacap akan berkembang nantinya.

Tetapi kita boleh sejenak berpikir secara rasional, bagaimana investor akan datang ketika infrastrukturenya belum siap? Adanya PLTU sebagai bahan utama masuknya investor memang hanya ucapan manis kepada masyarakatnya saja, buktinya tetap nihil. Produksi listrik PLTU yang produksi listriknya dapat disalurkan kemanapun asal terdapat penghantarnya, itu yang tidak terbaca oleh masyarakat dan pemerintahan daerahnya, dalam hal ini: Kabupaten Cilacap.

Infrastruktur yang mandeg di Kabupaten Cilacap sendiri membuat investasi di Cilacap masih kalah jumlahnya oleh kabupaten-kabupaten lain di Jawa Tengah, yang lebih siap dalam infrastruktur seperti Solo, Klaten, Salatiga, dan Sukoharjo. Mengapa investor memilih daerah mereka?

Tentu karena faktor Tol Trans Jawa yang mengakomodasi sebagai akses kebutuhan utama industri yang diperlukan. Daerah jalur Tol Trans Jawa sendiri mendapat berkah sebagai wilayah industri baru pindahan industri dari Jabodetabek; yang di sana dinilai tidak banyak menguntungkan karena faktor pengupahan yang sudah tinggi kepada buruh.

Dengan berubahnya iklim wilayah sebagai tujuan investasi industri dan infrastruktur yang cenderung belum menampakkan kemajuan di Kabupaten Cilacap, membuat Cilacap hanya akan dihuni oleh Industri PLTU yang akan terus berekspansi. Kini sudah ada empat PLTU yang sudah terbangun di Kabupaten Cilacap. Mungkin jika ke depan tidak ada penolakan berarti dari masyarakat Kabupaten Cilacap, selama konsumsi listrik di Jawa dan Bali masih kurang, terus menambah PLTU di Kabupaten Cilacap adalah jelas menjadi kenyataan itu.

Rayuan investasi dari adanya PLTU sendiri sudah tidak akan bisa diharapkan lagi bagi masyarakat Kabupaten Cilacap. Yang ada, Cilacap kini menjadi Kota PLTU dengan berbagai dampak sosial atau dampak lain seperti kesehatan masyarakat yang ditimbulkan dari aktivitas produksi industri PLTU itu sendiri. Sekali lagi, wacana keuntungan investasi dari industri PLTU sampai jargon “The Singapore of Java” adalah kebohongan belaka.

Tidak lebih, hanya upaya strategi dari Pemerintah Pusat dan Daerah yang setuju pembangunan PLTU sebagai proyek strategis nasional yang tidak menguntungkan masyarakat Kabupaten Cilacap tetapi justru merugikan masyarakat di sekitarnya. Bukankah kasus rencana pemindahan siswa SDN 03 Slarang pada Kamis (4/4/2019) karena terdampak proyek pembangunan PLTU Karangkandri di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, sudah menjadi bukti yang merugikan masyarakat itu?

Terkadang, harapan, wacana, dan kenyataan tidak semua berbanding lurus; begitu pun dengan investasi kemudian julukan “The Singapore of java”. Semua hanyalah bentuk rayuan indah untuk menggiring opini supaya industri—dalam hal ini PLTU—tidak mendapat penolakan berarti dari masyarakat Kabupaten Cilacap itu sendiri.

Bagaimanapun, semua industri ada nilai kurang dan lebihnya; tinggal masyarakat lihat, jika dampak lingkungan tidak diperhatikan oleh manajemen PLTU, maka menentang adalah sesuatu yang perlu. Perkara nanti di masa depan ketika banyak PLTU itu tidak terpakai lagi dan hanya akan menjadi barang bekas yang rusak, mungkin julukan Cilacap sebagai Kota PLTU berganti menjadi Kota Penampung Rongsok PLTU.

 

Filosofi Bucin sebagai Tren Zaman

Lukisan “The Good Samaritan” karya Hannah Varghese, tahun 2007.

 

*)Ditulis oleh Toto Priyono. Esais, penekun sosio-humaniora, dan bermukim di Cilacap.

 

Permainan kosakata seperti telah menjadi hal yang lumrah dalam memandang pergaulan masa kini. Setiap zaman pasti akan menciptakan suatu narasi yang;  kita, “manusia”, seperti dituntut untuk menelanjangi diri; dimana apa yang dibutuhkan dalam menjalani hidup seyogianya hanyalah untuk sebuah candaan, tentu agar keinginan kita menjadi kabur dan tidak memperkeruh perkara-perkara apa yang harus dibutuhkan dalam menjadi manusia termasuk memandang cinta itu sendiri.

Mungkin akan menjadi aneh ketika manusia tidak menyadari sebuah kata “tren” di abad 21 ini. Memang tidak semua manusia dapat diseragamkan; bahwa mereka—manusia abad ke-21—harus hidup mengikuti tren. Namun di sini yang harus disadari: tidak semua orang hidup bersama dengan “tren”. Seperti yang banyak terlihat sekarang, tren sendiri bukan berarti hanya isu yang diperbicangkan orang secara berlebihan.

Barang dan bahasa juga termasuk dalam “tren” yang di dalamnya hangat juga untuk diperbincangkan; yang terkadang tidak disadari tetapi hal tersebut merupakan identitas budaya baru yang menjadi pijakan manusia untuk menanggapi suatu feonomena diri bersama dengan zamannya. Namun tentang budaya yang terbangun itu, sebenarnya sudah lama ada, hanya saja tidak disadari dan belum sempat ternamai sebagai simbol itu sendiri.

Perkara menjadi anak muda dan berbudaya, bukan saja ia harus mengubah segala sesuatunya sebagai identitas dari zamannya, tetapi juga sebagai titik pijak; dimana akan ada sesuatu yang mengingatkan dari hidup manusia ketika kita membangun budaya “tren” dalam menjalani hidup ini. Yang mungikin kini menjadi ingatan kolektif para generasi milenial di sana, tren akan grup band dan karya-karyanya di tahun 2010-an ke belakang yang mereka banyak menyinggung kata cinta di dalamnya. Waktu itu, generasi mereka—“milenial”—berada di dalam gelora anak muda yang mencirikan sebagai “pemain cinta”. Dan, hiburan dari apa yang disebut patah hati, bahagia atas nama cinta, dan kenangan-kenangan pengalaman dari menjalani cinta itu seperti termanifestasikan dari karya-karya berupa lagu dari grup band pada masanya.

Saya kira, milenial yang patah hati mengenal baik lagu Vagetoz atau dengan mereka yang menginginkan indah dan bahagianya “cinta” akan terus-menerus mendengarakan lagu dari grup band Naff. Kemudian dengan mereka yang menatap impian, mencoba mengais-ngais karya dari J-Rocks dengan musik yang menghentak untuk meraih mimpi.

Tidak disadari juga sebagai budaya masa itu oleh milenial; bahwa mereka mengikatkan diri pada wadah “fans” dimana grup band yang menjadi representasi perasaannya; itulah yang menjadi identitas dalam pergaulannya. Pada masa itu, semua bertanya; grup band apa yang menjadi karya-karya favoritnya? Tentu grup band tersebut yang membawa diri dan perasaan mereka sebagai yang; entah itu sedang patah hati, bahagia, bahkan yang sedang mengejar mimpinya. Dan saya membayangkan, mungkin yang menjadi kenangan akan karya-karya lagu dari musik sendiri saat ini—mencerminkan sebuah tren pada zamannya, akan menjadi sebuah ingatan masa lalu oleh Generasi Z di masa depan. Dan karya dari lagu tersebut adalah lagu-lagu yang menjadi tren masa kini: 2019.

Nantinya, Generasi Z ketika mendengar lagu Mundur Alon-alon atau Kartonyono Medot Janji, ia teringat masa lalunya. Praktis jika ingatan mereka atau karya dari lagu-lagu saat ini mencirikan narasi patah hati, tentu mereka—Generasi Z—merupakan generasi yang mengingat patah hati.

 

Bucin: Berakar dari Ingatan “Romansa” Masa Lalu Milenial

Berangkat dari ingatan, mungkin apa yang terjadi sebagai sebuah wacana ingatan saat ini bagi milenial adalah perkara romansa cinta yang terbangun di masa lalu yang saat ini sulit untuk diwujudkan sebagai tujuan dari merawat ingatan itu sendiri. Dimana ia sudah bukan lagi pemain cinta yang percaya diri; karena bagi milenial kini, bermain cinta tanpa kerelaan waktu, biaya, dan fasilitas-fasilitas yang mengakomodasinya akan menjadi cinta yang hambar; mungkin salah satu contoh dari cinta kaum milenial kini adalah menjadi pernikahan itu sendiri.

Dan tentang yang banyak manusia sana anggap sebagai “bucin” merupakan produk masa lalu yang harus tetap ada di saat masa lalu sebagai ukuran yang dibutuhkan oleh generasi milenial saat ini. Jelas, untuk tetap merasakan romansa bahagia, patah hati, dan mimpi-mimpi akan keabadian diri dalam memandang cintanya karena masih riskan dengan pernikahan.

Bucin atau budak cinta sepertinya memang bukan stigma yang buruk. Pada dasarnya, semua orang berpotensi menjadi budak di kala manusia itu butuh sesuatu. Kebutuhan adalah perbudakan dan itu mengapa kaum budak diadakan di dalam sistem masyarakat dunia untuk menjawab apa-apa yang menjadi kebutuhan masyarakat itu sendiri. Dalam arti; majikan butuh pembantu, pembantu juga sebaliknya butuh majikan, karena tentu untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing.

Maka tidak heran, kebutuhan akan cinta sendiri pun tetap akan mengundang sistem-sistem baru dalam saling membutuhkan antar relasi manusia. Tetapi nahasnya hidup manusia memang menderita karena manusia ingin bahagia. Yang perlu menjadi garis bawah itu sendiri, bahkan pertanyaan yang belum ada habisnya dari awal lahirnya manusia adalah jawaban dari manusia yang ingin bahagia menempuh jalan cinta.

Secara harafiah, mungkin kata “cinta” jika dijabarkan merupakan sesuatu yang universal. Bukankah universalitas dari cinta itu sendiri tergantung dari manusia itu sendiri dalam menafsirkannya?

Inilah yang tidak dapat disamakan atau disama-samakan. Penafisran akan sesuatu bergantung pada kesadaran manusia itu sendiri, dimana cara berpikir menentukan cara manusia untuk sadar. Dan kini, penafsiran akan cinta sendiri begitu disempitkan; hanya sebatas antara pria dan wanita yang diharapkan akan saling butuh untuk saling membahagiakan satu dengan lainnya. Padahal filsuf “cinta” Cina, Jenderal Tiang Feng atau Cu Pat Kay pernah berkata, “Cinta, penderitaannya tiada akhir.”

Namun bucin yang sudah menjadi fenomena zaman berakar dari masa lalu manusia yang mengikuti tren pada masa dimana mereka merindukan sesuatu. Jelas, di sini, bucin merupakan produk zaman yang menjadi budaya dalam percintaan itu sendiri yang bertransformasi tetapi tidak disimbolkan melainkan hanya sebagai sebuah wacana

Dan saat ini oleh milenial, bucin adalah simbol baru para pemain cinta yang merindukan saat-saat mereka bahagia menjadi cinta itu sendiri. Namun yang tidak disadari; di dalam kebahagiaan selalu terselip kesengsaraan. Bermain cinta ibarat bermain di dua kaki yang sama, yakni antara kebahagiaan dan kesengsaraan itu sebagai bentuk dari mewujudkan cinta.

Menjadi manusia apapun namanya; baik label, stigma, atau juga khas dari candaan yang mereka bawa, sepertinya yang dicari dalam menjadi manusia adalah pembeda dan menjadi bucin mungkin merupakan bagian dari pembeda hidup manusia tersebut. Seperti ungakapan Zarathustra, bahwasannya jiwa manusia dimetaforakan menjadi tiga bentuk: yaitu jiwa Onta, Singa, dan Bayi. Mungkin kejiwaan dari kebijaksanaan seorang bucin ada pada jiwa Onta; dimana Onta makhluk penurut dan jika dibebani semakin berat, ia semakin bahagia dengan bebannya tersebut dalam menjalaninya.

Tetapi perlu dicatat; bahwa semua manusia berpotensi menjadi bucin tergantung dari bagaimana manusia itu sendiri memandang bahagia. Jika bahagia dari cinta menjadi “bucin” merupakan realitas yang harus dijalankan itu, tidak dipungkiri manusia akan menjadi bucin pada waktunya.

Oleh karenannya, pengejaran-pengejaran akan bentuk cinta itu sendiri memang sah-sah saja sebagai manusia yang ingin dibahagiakan cinta. Derita dan bahagia yang dibawa dari konsep cinta seperti telah melampaui saat kita harus menjadi budak cinta atau membutuhkan cinta itu sendiri sebagai sebuah pembeda dari hidup manusia.

Bersama dengan kebahagiaan; memang rasa bahagia tidak dapat diukur oleh logikanya sendiri. Setiap dari satu manusia dengan manusia lain mempunyai caranya untuk menjadi manusia yang berbahagia. Mungkin dengan “mem-Bucin” itu sendiri adalah titik tertinggi bahagia mereka, yang akan menjadi bahagia dengan laku membudakkan diri pada cinta.

Ingatan memang hanya menjadi ingatan. Saya kira bucin sebagai tren zaman sendiri tetap akan dijadikan sebuah kenangan pada masanya juga oleh milenial. Seperti karya dari lagu-lagu masa lalu, yang dalam kenangannya, manusia mengingat saat-saat itu di masa depan. Romansa kisah dari generasi milenial yang mungkin dalam dekade ke depan sudah tidak dapat lagi menjadi muda diganti dengan muda-mudanya generasi Z. Dan bucin akan tetap menjadi produk bahasa kebudayaan zaman yang akan terkenang nanti oleh generasi milenial ketika mereka sudah mempunyai anak; yang mana “bucin” itu hanya untuk bagaimana anak dapat tumbuh dan berkembang secara layak.

Yang perlu tetap harus diikuti adalah bagaimana nanti generasi Z membanaun budaya cintanya sendiri; apakah mereka akan seperti milenial yang membangun romansa cintanya dengan dan sebagai “bucin” karena pada saat itu menjadi pemain cinta yang menghamba pada karya-karya dari lagu cinta sangat begitu komplit seperti di sebelum tahun 2010-an?

Bukankah karya lagu-lagu saat ini yang banyak berisi patah hati dikombinasikan dengan dangdut koplo untuk bergoyang seperti Kartonyono Medot Janji atau entah apa yang merasukimu versi gagak menjadi pertanyaan sendiri yang sangat ambigu sekaligus bermakna dua? Jadi sekiranya fenomena apa nanti di masa depan yang akan di buat oleh generasi Z dalam memandang budaya baru akan cinta mereka?  Mungkin jika saya mau berhipotesa membaca zaman; “bucin” tidak mungkin akan menjadi warisan yang abadi untuk setiap zaman.

Nantinya, generasi berikutnya—yakni generasi Z yang patah hati sekaligus berjoget dangdut koplo—akan membuat sebuah wacana; bahwa mereka bukan budak cinta yang terlahir dari romansa, tetapi menjadi budak bahagia yang tidak peduli cinta; yang penting joget saja saat bahagia maupun menderita karena cinta.

 

Mengapa Harus Menjalani Asmara Digital?

Ilustrasi dari deccanchronicle.com.

 

*)Ditulis oleh Toto Priyono. Esais, penekun sosio-humaniora, dan bermukim di Cilacap.

Pada dasarnya, asmara merupakan suatu hal yang tertunggu oleh manusia. Bayangan bahagia dengan ber-asmara sendiri menjadi dasar bahwa; mereka (manusia) harus ber-asmara—apapun keadaannya—termasuk dengan cara menjalin asmara secara digital di era teknologi maju ini.

Asmara sendiri yakni suatu jalinan. Mungkin dapat dikatakan sebagai tali kasih antara pria dan wanita yang sama-sama berharap saling membahagiakan antarsatu dengan lainnya.

Tentang berbagai cara itu—antara manusia dan peradaban, bukan saja manusia dihadapkan pada realita yang harus mencari jalan bagimana ber-asmara secara efektif di era masyarakat teknologi maju ini, tetapi juga membuat alternatif secara pribadi sebagai solusi bersama yang sama-sama menang untuk dijalani.

Kehidupan manusia abad 21 yang kompleks bukan hanya menjadi catatan penting, dan ketika orang mencatat di sana, manusia harus memikirkan sebuah solusi, dan dengan cara apakah hidup di era teknologi ini? Kiat-kiat seperti apakah agar semua menjadi seimbang; termasuk dalam menjalin asmara itu sendiri antara menjadi pria dan wanita?

Memang harus dikatakan berkali-kali bahwa ketika manusia tidak memanfaatkan teknologi betul di abad 21, ia bukan hanya akan terasing, tetapi terpenjara oleh sistem hidup yang jika disadari mengekang manusia tanpa ampun. Industrialisasi, modal, kerja, dan konsumsi merupakan entitas yang tidak dapat lepas dari kehidupan manusia abad 21.

Manusia butuh kerja untuk mendapat uang, tentu uang itu sebagai bahan atau alat bertahan hidup. Namun harapan akan uang dari kerjanya, apakah secara mudah dapat menjawab segala kebutuhan selain kebutuhan pokok; yakni dalam hal mengakomodasi kebutuhan ber-asmara tersebut yang jalinannya juga butuh modal di dalamnya?

Banyaknya industri yang sama atau ekonomi yang bebas dalam menjalankannya, bukankah itu menjadi problematika baru dalam setiap pendapatan—dalam hal ini, bagi “buruh” industri?

Di mana persaingan dalam bisnis yang tidak sehat akan mempengaruhi harga produksi sendiri, yang berimbas pada upah buruh abad 21 yang cenderung murah? Belum lagi dengan regulasi pengupahan minimum dari pemerintah yang sangat minim jumlahnya; yakni hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari di wilayah tertentu saja.

Keterikatan bukan hanya dengan uang, tetapi juga waktu dan jarak yang manusia abad 21 harus tempuh sebagai mengisi hidup itu sendiri. Contohnya, sebuah gambaran di kota kecil seperti Cilacap yang ruang industrinya begitu sempit dan jumlanya dapat terhitung jari. Belum lagi  dengan ukuran nilai UMK (upah minimum kabupaten) yang relatif kecil sendiri membuat anak muda harus menjadi pekerja urban agar hajat hidup mereka melalui apa yang dibutuhkan sebagai akomodasi hidup sendiri dapat terpenuhi dari upah kerja mereka.

Saya kira menjadi kaum urban pun secara tidak langsung adalah solusi terbaik untuk meniti jalan yang lebih baik daripada harus di tempat yang kurang mendukung dalam hidup. Mungkin ini dapat dikatakan sebagai hijrah untuk menjadi manusia lebih baik itu. Dan bagaimana manusia abad ke-21 ini mengukur kadar baik untuk dirinya sendiri?

 

Hidup secara baik abad ke-21 adalah mereka yang secara ekonomi lebih sebagai nilai agar akomodasi hidup mereka seperti menikmati fasilitas hidup seperti rumah, kendaraan, dan menikmati tempat makan mewah dapat terpenuhi, tentu tidak ketinggalan di sini adalah kebutuhan bahagia atas asmara itu sendiri. Namun menjadi problematika baru menjadi ber-asmara abad 21. Tidak mudahnya mencari akomodasi dalam memenuhi kebutuhan adalah biang dari masalah ini. Manusia tidak bebas dengan pemilihan-pemilihan dimana ia harus bekerja, ia harus melanjutkan kuliah, dan ia harus melanjutkan hidupnya sendiri.

Saat bekerja harus terpusat di kota industri, kuliah di pusat-pusat kota pelajar, dan melanjutkan hidup sebagaimana lingkungan itu mendukung untuk hidup manusia yang membutuhkan uang di dalamnya sebagai alat dari hidup.

Harus diakui bahwa abad 21 merupakan peradaban yang kompleks, harapan manusia tidak dapat menjadi sederhana. Hidup dengan cara sederhana berasa menjadi manusia yang kuno. Apakah di abad 21 ini untuk bahagia dengan ber-asmara sendiri menjadi sulit dan sesuatu yang sangat membutuhkan perjuangan termasuk ber-asmara secara digital itu sendiri di abad ke-21 ini?

Inilah yang bukan hanya akan menjadi fenomena baru di abad-abad berikutnya paska abad ke-21. Tetapi menjadi tantangan manusia dalam menanggapi industri dan teknologi. Ruang dan waktu manusia hidup tidak segampang keputusan yang ia harus jalani tanpa memandang dampak yang harus mereka terima. Hidup jauh dengan keluarga dan orang-orang terkasih dalam balutan asmara seperti telah menjadi resiko yang harus manusia terima di dalamnya.

Tentu peradaban abad ke-21 merupakan peradaban dengan keterpilihan tinggi. Manusia bukan hanya harus menjadi manusia, tetapi menjadi nilai di balik kelebihan apa yang tidak dimiliki oleh manusia lain. Terus bertambahnya penduduk bumi dan tenaga manusia yang harus terkurangi karena teknologi sendiri menjadikan semua serba diteknologikan; termasuk dalam ber-asmara itu sendiri karena tuntutan ruang dan waktu dalam menjalani kehidupan.

Sebagai contoh kasus misalnya; mungkin ini adalah realita yang terjadi di abad 21 dalam manusia memandang asmara: “jarak yang terpisah jauh dan hidup bersama menjadi tidak mungkin karena pendapatan sebatas upah minimum yang hanya dapat memenuhi kebutuhan untuk dirinya sendiri”. Ketika akan sama-sama bekerja di daerah yang sama “bisa”, mencari pekerjaan di abad 21 ini bukan perkara yang mudah.

Pekerjaan memang banyak tetapi dengan “kerja kasar” dan gaji di bawah upah minimum, apakah manusia yang menganggap dirinya manusia dengan pendidikan tinggi—yang banyak disandang manusia abad 21 ini—mau untuk menjalaninya tanpa adanya sedikit gengsi bahwa: “aku ini seorang sarjana” tidak pantas dibayar murah dan bekerja secara kasar?

Saya kira nasib manusia merupakan nasib dari ketentuan orang lain, semua serba orang lain. Karena tentu orang lain adalah wacana manusia mengukur dirinya sendiri. Dia, “manusia”, dapat nasib seperti ini karena orang lain tidak bisa sama bernasib seperti dia. Bukankah ini juga terjadi pada nasib ekonomi rumah tangga dimana kelas menjadi barometer dalam mengukur kondisi ekonomi saat ini?

Ada kepentingan untuk hidup dan keinginan dari rasa bahagia itu sendiri. Hidup memang perlu materi, tetapi seberapa banyak orang yakin akan kebahagiaan yang mereka dapat hasilkan dari asmara?

 

Tentu banyak dari kita percaya itu, tetapi apakah mungkin dengan berbagai ruang-ruang dan waktu yang terepresi sebagai akomodasi mengejar itu semua, yang mau-tidak mau manusia harus menjalaninya seperti dia harus bekerja jauh dari orang yang terkasih, tentu karena keadaan untuk memperbaiki mutu ekonomi mereka sendiri, bukankah harus ada sesuatu kerelaan yang harus dikorbankan?

Hanya saja tetap menjadi pertanyaan lagi, bagaimana mencari solusi dari ruang dan waktu yang terepresi di abad 21 ini? Asmara dan setiap bentuk transformasinya pada setiap jaman, mungkin juga mengikuti peradaban yang ditawarkan termasuk enggannya manusia untuk menjadi primitif kembali dengan makan -gak makan asal kumpul.

Namun manusia cenderung ingin berubah menjadi lebih dan lebih lagi dari saat ini. Tetapi apapun bentuk dari transformasi, kehendak manusia sepertinya memang menyembah pada perubahan dan seorang yang hidup di dalamnya harus mampu; setidaknya mengikuti arus berbagai perubahan yang dunia ini tawarkan.

Perubahan dalam menjalani hidup ber-asmara sendiri memang bukan sesuatu yang harus ditawar lagi, tetapi dijalankan sebagaimana dapat efisien dan efektif dalam setiap bentuk keluaran kebahagiaan yang dihasilkan. Tidak peduli lagi secara fisik tidak bersentuhan, tetapi secara mental ia dapat disatukan.

Namun jika dihadapkan dengan bagaimana asmara secara digital itu dipikir, bukankah menjadi sesuatu yang ganjil manusia bercinta dengan hand phone-nya sendiri, laptopnya sendiri, bahkan imajinasinya sendiri yang terkadang ia tidak sadar pada setiap saat-saatnya; bahwa ia justru mencintai laptop atau hand phone-nya sendiri?

Kehidupan yang menuntut memang seperti harus dijalani manusia. Tetap kembali lagi pada pemikiran-pemikiran yang semakin kompleks dalam menanggapi sesuatu dasar dari ruwetnya sebagai manusia. Kembali hanya konsekuensi yang berbicara pada akhirnya, seperti yang sebelumnya sudah saya katakan: “manusia dapat melakukan ini karena ia tidak bisa melakukan itu”.

Mungkin menjadi benar; solusi dari keterpisahan jarak karena sama-sama mempunyai tujuan sendiri tetapi menginginkan jalinan asmara, ya, mau-tidak mau teknologi harus dilibatkan. Tentu sebagai jawaban dari status itu sendiri, adanya keterpisahan karena jarak, ruang, dan waktu; bahwasannya orang-orang juga ingin bahagia di balik dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri bagaimanapun caranya.

Seperti berbagai manusia di sana yang berani bekerja jauh sampai keluar negeri, bukankah teknologi sangat membantu mereka dalam mengkomunikasikan; bahwa aku istri, pacar, atau ayah bagi mereka-mereka yang tidak melihatnya secara langsung dan teknologi menciptakan itu melalui layar-layar digital yang dapat manusia nikmati di abad 21 ini?

Itu antara kebahagiaan dan cita-cita menjadi pemilik ekonomi yang lebih baik. Karena saya di sini berpandangan; cita-cita manusia abad 21 ini bukan menjadi suatu profesi. Setiap profesi di abad 21 ini tidak menjamin kekayaan, namun jika ditilik secara mendasar, cita-cita manusia ingin kaya karena tawaran konsep dari bahagia; termasuk tidak terpisahnya dirinya bersama seorang yang terkasihnya karena motif pencarian ekonomi.

Dan jika ekonomi belum menjawab setiap akomodasi hidup itu, mejalani kisah asmara secara digital seperti menjadi solusi bahwa rasa bahagia harus tetap menyala; memenuhi kebutuhan hidup dari pendapatan untuk konsumsi dalam ekonomi baik untuk memenuhi dirinya sendiri atau keluarga seperti sudah harga mati walaupun: harus terpisah jauh antara ruang, jarak, dan waktu.

Gangguan Kecemasan Sosial (Fobia Sosial): Pengantar dan Cara Mengatasinya

 

Ilustrasi dari Metro.co.uk.

*)Diambilalihkan dari PsychologyToday.com.

Gangguan kecemasan sosial (social anxiety disorder)—yang sebelumnya disebut sebagai “fobia sosial”—adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan kecemasan luar biasa dan kesadaran diri yang berlebihan dalam situasi sosial sehari-hari. Orang-orang dengan gangguan kecemasan sosial memiliki ketakutan yang terus-menerus, intens, dan kronis karena merasa diawasi dan dihakimi oleh orang lain dan menjadi malu atau terhina oleh tindakan mereka sendiri.

Ketakutan mereka mungkin sangat parah sehingga mengganggu pekerjaan, sekolah, atau kegiatan lainnya. Sementara banyak orang dengan gangguan kecemasan sosial mengakui bahwa ketakutan mereka berada di dekat orang lain mungkin berlebihan atau tidak masuk akal; mereka pun tidak dapat mengatasinya. Mereka sering khawatir selama berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum situasi yang menakutkan. Selain itu, mereka sering mengalami depresi dan  rendah diri.

Gangguan kecemasan sosial dapat dibatasi hanya pada satu jenis situasi—seperti ketakutan berbicara di depan umum—atau seseorang dapat mengalami gejalanya kapanpun saat mereka berada di sekitar orang lain. Jika tidak diobati, fobia sosial dapat memiliki konsekuensi yang parah. Misalnya, ini dapat mencegah orang pergi bekerja atau sekolah atau mencegah mereka berteman.

Gejala-gejala (simptom) fisik yang sering menyertai tekanan intens dari gangguan kecemasan sosial ialah wajah memerah, berkeringat, gemetar, mual, dan kesulitan berbicara. Gejala-gejala yang terlihat ini meningkatkan rasa takut akan ketidaksetujuan; sehingga mereka sendiri dapat menjadi fokus tambahan dari rasa takut tersebut dan menciptakan lingkaran setan: ketika orang-orang dengan gangguan kecemasan sosial khawatir mengalami gejala-gejala ini, maka semakin besar peluang mereka untuk mengembangkannya.

Gangguan kecemasan sosial sering terjadi dalam keluarga dan dapat disertai dengan depresi atau gangguan kecemasan lainnya; seperti gangguan panik atau gangguan obsesif-kompulsif. Beberapa orang dengan gangguan kecemasan sosial mengobati sendiri dengan alkohol atau obat lainnya yang dapat menyebabkan kecanduan.

Diperkirakan, sekitar 7 persen dari populasi Amerika Serikat memiliki gangguan kecemasan sosial dalam periode 12 bulan tertentu. Gangguan kecemasan sosial terjadi sekitar dua kali lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria—meskipun proporsi pria lebih tinggi mencari bantuan untuk kondisi tersebut. Gangguan ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja awal dan jarang berkembang setelah usia 25 tahun.

 

Gejala-gejalanya

Diagnosis gangguan kecemasan sosial hanya dilakukan jika penghindaran, ketakutan, atau antisipasi kecemasan terhadap situasi sosial atau kinerja ini mengganggu rutinitas sehari-hari, fungsi pekerjaan, dan kehidupan sosial atau jika ada kesusahan yang ditandai sebagai akibat dari kecemasan tersebut. Buku “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder” (DSM) versi ke-5; yang disusun oleh American Psychiatric Association dan diterbitkan pada 18 Mei 2013, memberikan kriteria berikut untuk mendiagnosis gangguan kecemasan sosial:

    • Individu takut satu atau lebih situasi sosial atau kinerja dimana ia terkena kemungkinan pengawasan oleh orang lain. Contohnya, bertemu orang yang tidak dikenal, diamati saat makan atau minum, berpidato, atau melakukan pertunjukan.
    • Individu takut berperilaku dengan cara yang menyebabkan rasa malu atau dievaluasi secara negatif.
    • Paparan situasi sosial hampir selalu menyebabkan kecemasan yang intens.
    • Situasi yang ditakutinya akan dihindari atau ditanggung dengan kecemasan dan kesusahan.
    • Ketakutan atau kecemasan itu tidak sebanding dengan ancaman aktual yang ditimbulkan oleh situasi sosial.
    • Ketakutan atau kecemasan itu menetap dan biasanya berlangsung selama enam bulan atau lebih.
    • Penghindaran, antisipasi kecemasan, atau kesulitan yang mengganggu secara signifikan terhadap fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan seseorang.

Gejala-gejala fisik gangguan kecemasan sosial meliputi:

    • Wajah memerah, berkeringat, gemetar, mengalami detak jantung yang cepat, atau merasakan “pikiran menjadi kosong”.
    • Mual atau sakit perut.
    • Menampilkan postur tubuh yang kaku, kontak mata yang buruk, atau berbicara terlalu pelan.
    • Selain itu, diagnosis dapat menentukan apakah kecemasan atau ketakutan hanya ada ketika orang tersebut berbicara atau tampil di depan umum.

 

 

Penyebabnya

Sementara penelitian untuk lebih memahami penyebab gangguan kecemasan sosial sedang berlangsung, beberapa penyelidikan dilakukan dengan melibatkan struktur kecil di otak yang disebut “amigdala”. Amigdala diyakini sebagai situs sentral di otak yang mengendalikan respons rasa takut.

Gangguan kecemasan sosial bisa diwariskan. Faktanya, kerabat lingkar pertama memiliki kesempatan dua hingga enam kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan sosial. Penelitian yang didukung oleh National Institute of Mental Health (NIMH) juga telah mengidentifikasi situs gen pada tikus yang mempengaruhi rasa takut yang dipelajari. Para ilmuwan sedang mengeksplorasi gagasan bahwa sensitivitas yang meningkat terhadap ketidaksetujuan mungkin berbasis fisiologis atau hormonal. Peneliti lain sedang menyelidiki pengaruh lingkungan pada perkembangan fobia sosial. Penganiayaan anak dan kesulitan adalah faktor risiko untuk gangguan kecemasan sosial.

 

Penanganannya

Sebagian besar gangguan kecemasan dapat diobati dengan sukses oleh para profesional perawatan kesehatan mental yang terlatih. Gangguan kecemasan sosial sering dirawat secara efektif dengan dua bentuk perawatan: psikoterapi dan obat-obatan.

 

1.) Terapi

Cognitive-behavioral therapy (CBT) atau terapi perilaku-kognitif adalah bentuk psikoterapi yang sangat efektif dalam mengobati kecemasan sosial yang parah. Tujuan utama CBT dan terapi perilaku adalah untuk mengurangi kecemasan dengan menghilangkan kepercayaan atau perilaku yang mempertahankan gangguan kecemasan. Misalnya, menghindari obyek atau situasi yang ditakuti bisa mencegah seseorang untuk mengetahui bahwa hal tersebut tidak berbahaya.

Unsur kunci CBT untuk kecemasan adalah paparan; dimana orang menghadapi hal-hal yang mereka takuti. Proses paparan pada umumnya melibatkan tiga tahap. Pertama, seseorang diperkenalkan dengan situasi yang ditakuti. Langkah kedua adalah meningkatkan risiko ketidaksetujuan dalam situasi itu sehingga seseorang dapat membangun kepercayaan bahwa ia dapat menangani penolakan atau kritik. Langkah ketiga dengan mengajarkan teknik seseorang untuk mengatasi ketidaksetujuan. Pada tahap ini, orang diminta untuk membayangkan ketakutan terburuk mereka dan didorong untuk mengembangkan respon konstruktifnya terhadap ketakutan ini dan persepsi ketidaksetujuan yang dirasakannya.

Tahap-tahap ini sering disertai dengan pelatihan manajemen kegelisahan—misalnya, mengajarkan teknik pernapasan dalam untuk mengendalikan kecemasan mereka. Jika ini dilakukan dengan hati-hati dan dukungan dari terapis, ada kemungkinan untuk meredakan kecemasan yang terkait dengan situasi yang ditakuti. Jika Anda menjalani CBT atau terapi perilaku, paparan akan dilakukan hanya ketika Anda siap; yang akan dilakukan secara bertahap dan hanya dengan izin Anda. Anda akan bekerja dengan terapis untuk menentukan berapa banyak yang dapat Anda tangani dan dengan kecepatan seperti apa Anda dapat melanjutkannya.

CBT dan terapi perilaku tidak memiliki efek samping yang merugikan selain ketidaknyamanan sementara dari peningkatan kecemasan. Tetapi, terapis harus terlatih dengan baik dalam teknik perawatan agar dapat bekerja sesuai yang diinginkan. Selama perawatan, terapis kemungkinan akan memberikan pekerjaan rumah—masalah khusus yang perlu ditangani pasien di antara sesi. CBT atau terapi perilaku umumnya berlangsung sekitar 12 minggu. Ini dapat dilakukan dalam suatu kelompok asalkan orang-orang dalam kelompok tersebut memiliki masalah yang cukup serupa. Terapi suportif seperti berkelompok, berpasangan, atau terapi keluarga dapat membantu untuk mendidik orang lain yang terpengaruh dengan gangguan tersebut. Kadang-kadang, orang dengan kecemasan sosial juga mendapat manfaat dari pelatihan keterampilan sosial.

2.) Medikasi/Obat-obatan

Obat yang tepat dan efektif juga dapat berperan dalam pengobatan—bersamaan dengan psikoterapi. Obat-obatan antidepresan seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) dan monoamine oxiidase inhibitors (MAOIs), serta obat-obatan benzodiazepin (zat berefek sedatif/menenangkan) yang berpotensi tinggi. Beberapa orang dengan bentuk kecemasan sosial yang muncul hanya ketika mereka harus tampil di depan orang lain telah dibantu oleh beta-blocker; sejenis obat yang menurunkan denyut jantung dan mengurangi gejala fisik kecemasan.

Penting untuk dipahami bahwa perawatan gangguan kecemasan sosial tidak bekerja secara instan dan tidak ada satu rencana yang bekerja dengan baik untuk semua pasien. Perawatan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Seorang terapis dan pasien harus bekerjasama untuk menentukan rencana perawatan mana yang paling efektif dan menilai apakah rencana perawatan tampaknya sesuai. Penyesuaian pada rencana kadang-kadang diperlukan karena pasien merespon secara berbeda-beda terhadap pengobatan.

 

Referensi Lanjut:

    • Psychologytoday.com
    • American Psychiatric Association (APA) atau psychiatry.org
    • National Institute of Mental Health (NIMH) atau nimh.nih.gov
    • Buku-buku modul DSM dari APA
    • Calmclinic.com

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Mencoba peduli dan sekadar berbagi perihal kesehatan mental bagi kelangsungan berskena.]

 

 


Selamat Hari Sehat Mental Sedunia yang Ke-27 pada 2019!

Hari Kesehatan Mental Sedunia diselenggarakan tiap 10 Oktober. Tak cuma diperingati, solidaritas sehat mental perlu kita upayakan bersama dengan kepekaan nurani dan daya intelektual mumpuni supaya bisa menjalani roda gerak hidup yang lebih baik bagi antarsesama.

Artikel ini dialihbahasakan dari PsychologyToday.com sebagai upaya solidaritas literer bagi para pegiat sehat jiwa dan penyintas gangguan mental. Mari membaca, mari bersaudara!


 

Strategi Kesehatan Mental Paska Kebakaran di Sonoma

Foto karya Michael Macor dari sfgate.com dan telah melalui repro.

*)Ditulis oleh Matt Simon. Jurnalis Wired.com untuk desk sains, biologi, robotik, dan lingkungan.

Sharon Bard tengah berwisata ke Latvia pada Oktober 2017. Jam 4 pagi, ia terbangun oleh nada pemberitahuan yang berdengung dari ponselnya. Email masuk dari seorang teman yang telah memeriksa rumahnya di Santa Rosa, California. Ungkapan dalam email tertulis agak halus—mengingat sedang mengabarkan suatu berita yang mengkhawatirkan: kebakaran terjadi, para pejabat menganjurkan evakuasi, dan rumah ala pedesaan milik Bard di ujung jalan mungkin akan terkena imbasnya.

Kemudian datanglah pertanyaan bertubi-tubi. Sekitar enam atau tujuh email dari orang lain dikirimkan kepadanya disertai pertanyaan yang lebih mendesak seperti “Ya Tuhan, apakah kamu baik-baik saja?”. Sehingga Bard pun memeriksa CNN dan tentu saja: ada berita kebakaran.

Ini tak hanya menjadi berita lokal. Apa yang belum diketahui Bard maupun orang lain pada saat itu adalah hal tersebut akan menjadi kebakaran besar yang paling merusak dalam sejarah California; yang disebut sebagai “Tubbs Fire”. Bencana tersebut sedang dalam perjalanannya untuk menghancurkan lebih dari 5500 bangunan, menewaskan 22 orang, dan menyebabkan kerusakan seharga 1,2 milyar dollar.

Selama tiga hari setelah email pertama mengagetkannya, Bard bertukar pesan dengan teman-temannya dalam keadaan panik. Orang-orang mengecek kabarnya dan ia mengecek kabar orang lain. Lewat pencarian online, ia menemukan tiap sisi gambar propertinya dari foto udara—saat sebelum dan sesudah kebakaran. “Aku sadar itu sudah berlalu dan semuanya hilang,” kata Bard sambil membungkuk di atas teh pada sebuah kafe kelas atas di Healdsburg—yang terletak di sisi utara Santa Rosa. Dia berusia 73 tahun dengan rambut abu-abu yang cocok dengan hoodie abu-abunya yang melingkupi kemeja hawaii berpastel halus. “Saya melihat properti saya. Ada bangunan utama, kolam renang, dan  rumah kolamnya. Itu menjadi abu. Kolam pun menjadi abu,” ujarnya.

Namun Bard tidak menghentikan turnya dan memakai penerbangan pertamanya untuk kembali. Santa Rosa sedang berada dalam karantina dengan kualitas udara yang mengerikan. “Saya pikir, psikis saya terpecah menjadi dua bagian,” katanya. “Sebagian diri saya mencoba untuk tetap tinggal di sana  karena saya sedang berada dalam tur dan sebagian lainnya mengalami semacam kepanikan. Saya harus berurusan dengan hal tersebut tapi saya tak tahu harus berbuat apa. Saya belum mau menghadapinya.”

Perasaan yang dialami Bard biasa terjadi pada orang yang hidupnya mengalami malapetaka—bahkan dari kejauhan. Memang, beberapa hal bisa mengguncang jiwa; layaknya bencana. Akan tetapi, sains baru mulai memahami bagaimana kesehatan mental bisa jadi menderita setelah terjadi badai, kebakaran, atau gempa bumi.

 

Sharon Bard. Foto ini karya Beth Holzer dari Wired.com.

 

Survei menyatakan bahwa; setelah badai Katrina menghantam Pantai Teluk pada tahun 2005, satu dari enam orang yang selamat memenuhi kriteria PTSD (post-traumatic stress disorder); sementara setengahnya terkena anxiety (gangguan kecemasan-red) atau gangguan mood. Kasus bunuh diri dan pemikiran untuk bunuh diri berlipatganda setelah badai. Tetapi, ada kelangkaan penelitian yang kaya data dan berskala besar mengenai cara terbaik untuk merancang kampanye dalam mengobati populasi yang menghadapi bencana.

Hingga akhirnya, terjadilah Tubbs Fire dan kebakaran hebat lainnya pada tahun 2017. Healthcare Foundation Northen Sonoma County—dimana Santa Rosa berada—mempelopori proyek ambisius yang bernama “Wildfire Mental Health Collaborative”. Itu adalah proyek kerjasama antara National Association for Mental Illness, psikolog, peneliti, organisasi masyarakat, dan banyak lagi. Semuanya bekerja bukan hanya untuk memberikan layanan kesehatan mental kepada para penyintas; tetapi untuk mempelajari jenis perawatan apa yang berhasil dan tidak berpengaruh terhadap jenis traumanya.  Idenya adalah mengambil apa yang telah mereka pelajari dan menggunakannya untuk kalangan lain yang hidupnya porak-poranda akibat bencana, kebakaran hutan, atau kemalangan lainnya.

Sudah saatnya untuk tidak menjadi lebih kritis. Perubahan iklim bisa mengintensifkan bencana alam seperti badai; karena badai menyerap air hangat. Apakah Tubbs Fire disebabkan ulah manusia? Peralatan dari utilitas lokal seperti PG&E—perusahaan gas & elektrik di Pasifik—mungkin menjadi penyebabnya. Lantas, perubahan iklim memperburuk kekeringan di California; yang pada gilirannya memperbanyak sumbu untuk kebakaran hutan. Yang berarti, akan lebih banyak kematian, lebih banyak kerusakan properti, dan terjadinya serangan supercharged pada kesehatan mental. Perubahan iklim akan terjadi pada kita semua, namun apa yang dipelajari para penyelidik tersebut setelah Tubbs Fire dapat mengubah cara manusia beradaptasi.

Mungkin, tidak mengherankan jika tak ada yang benar-benar membicarakan dampak kesehatan mental dari perubahan iklim—kita memang mengalami kesulitan berbicara tentang kesehatan mental dalam keadaan apapun. Tetapi implikasi kesehatan mental sangatlah besar dan hal tersebut sudah ada di sini. Di Kanada utara, contohnya, mencairnya es laut akan menyulitkan pemburu Inuit untuk menjelajah. Untuk orang-orang yang mempunyai ikatan kuat dengan tanahnya, hal itu merupakan kesedihan ekologis; suatu kehancuran psikologis yang datangnya bersamaan dengan gangguan dari dunia alami.

Hal tersebut menjadi semacam serangan kronis jangka panjang. Sedangkan, bencana melanda dengan cepat dan seringkali membawa dampak psikologis secara tiba-tiba. Kebakaran hutan terasa sangat dahsyat dengan adanya badai. “Anda tahu badai akan datang. Ada persiapan yang dapat Anda lakukan dan Anda memiliki kesempatan untuk mengungsi,” kata Adrienne Heinz, peneliti psikologi yang bekerja pada Wildfire Mental Health Collaborative. “Kebakaran hutan dapat berubah begitu cepat dengan adanya angin,” ujarnya. Itu tak hanya membuat api liar menjadi sangat berbahaya. Tapi juga, para pengungsi harus meninggalkan harta kesayangannya.

Paska kebakaran, persoalan kesehatan mental tak menjadi prioritas tinggi dalam daftar siapapun. Tujuan langsung yang disasar cenderung berurusan dengan efek fisik—semisal benda terbakar atau perkara menghirup asap—dan mencari perlindungan kepada teman atau keluarga. Dampak psikologis mungkin tidak pernah ditangani. “Ada biaya, geografi, dan prioritas yang bersaing pada saat itu,” kata Heinz. “Ada penjadwalan, ada stigma, beserta sejuta alasan mengapa orang tidak mau melakukannya.”

Juga, saat korban menetap bersama teman atau keluarganya atau dalam pengungsian yang disediakan FEMA (agen penanganan bencana di bawah  Department of Homeland Security, Amerika Serikat-red), tempat yang sempit dapat menyebabkan beban psikologis. “Itulah kualitas utama dari perubahan hidup yang akan berkaitan dengan depresi, kecemasan, lekas marah, serta pola hubungan yang tegang,” ujar Heinz.

Bahkan ketika orang yang selamat memperhatikan masalah kesehatan mental, itu mungkin dilakukan untuk orang yang dicintainya, bukan untuk dirinya sendiri. “Sangat penting bagi Anda untuk menjaga diri sendiri,” kata Debbie Mason, CEO Healthcare Foundation Northern Sonoma County. “Setidaknya seperti metafora: pakailah masker oksigenmu sendiri sebelum kamu merawat orang lain,” lanjutnya.

Penyelidikan dari Mason justru membuat bantuan itu mudah ditemukan. Healthcare Foundation Northern Sonoma County telah meluncurkan MySonomaStrong.com, situs web dwibahasa yang menyediakan sumber daya untuk perawatan diri dan untuk menemukan terapi profesional gratis. Sebuah aplikasi baru bernama Sonoma Rises juga membantu menghubungkan para penyintas dengan layanannya dan memungkinkan mereka melacak kesejahteraan mental mereka.

Kampanye ini tidak hanya mencoba ide-ide acak dengan harapan mereka akan berhasil. “Kami belajar di New Orleans bahwa strategi yang bekerja sangat baik adalah adanya makan malam komunitas, dimana seorang profesional kesehatan mental akan masuk dan memfasilitasi percakapan terapi kelompok,” kata Mason. “Jadi, kami menambahkan itu ke menu kami.” Mereka juga melatih 300 profesional kesehatan mental dalam keterampilan untuk pemulihan psikologis yang mencakup strategi seperti manajemen pemicu.

Seusai serangan 9/11, agen-agen pelayanan mengetahui bahwa sesi drop-in menjadi populer sehingga para penyelenggara di Sonoma County menambahkannya sebagai metode campuran. “Kemudian kami melangkah mundur dan berkata, ‘Baiklah, jika kami memiliki kesempatan untuk melakukan studi kasus tentang tanggapan terbaik, apa yang mungkin kita pikirkan bersama untuk ditanggapi oleh komunitas kita?’. Sehingga kami pun menambahkan yoga,” kata Mason. Para korban selamat berkumpul untuk sesi trauma, informasi gratis, dan fokus pada relaksasi. Mereka “mengundang” bukan “mengarahkan”—yang berarti, para peserta lebih mengendalikan pengalaman mereka dan hampir 60 instruktur yang terlatih secara khusus diberi kompensasi untuk waktu mereka.

Untuk saat ini, Sonoma sedang menyusun strategi yang sukses melalui anekdot untuk mengobati trauma paska bencana. Dan itu menciptakan peluang yang akhirnya mengukur metode apa yang berhasil. “Jika kita ingin membuat perbedaan dan menyebarluaskan apa yang telah kita pelajari dan perangkat yang kita buat sehingga masyarakat tidak harus tergantung untuk menemukan kembali kendalinya,” kata Heinz, “kita perlu meletakkan beberapa ilmu di balik apa yang kita lakukan.”

Persoalan mempelajari dampak kesehatan mental dari bencana adalah bencana bergerak lebih cepat daripada sains. Dalam tradisi riset, Anda harus mendapatkan dana, bertarung antarpeneliti, dan memenangkan persetujuan dari universitas Anda. Hal ini bisa memakan waktu setengah tahun. Tetapi, kasus Sonoma berbeda. Pendanaan telah mengalir dari donor dan para ahli telah menawarkan untuk melatih para terapis.

Namun bukan berarti ini murni kampanye akar rumput—Universitas Stanford pun ikut membantu. “Apa yang kami sadari adalah jenis pekerjaan dan evaluasi yang perlu mereka lakukan. Kami benar-benar membutuhkan beberapa infrastruktur,” kata Shannon Wiltsey Stirman, seorang psikolog dan peneliti di Stanford. Semisalnya, jika para peneliti ini menyimpan informasi kesehatan yang sensitif.

Namun bagaimana Anda dapat menentukan efektivitas terapi paskabencana? Sebagian caranya dengan membuat terapis memecah hal-hal menjadi beberapa komponen. “Jadi misalnya,” kata Stirman, “apakah mereka telah berupaya membantu orang meningkatkan dukungan sosial mereka? Apakah mereka telah membantunya bekerja dengan menggunakan keterampilan tertentu yang terbaca? Sudahkah mereka mengolahnya dengan memproses atau menulis tentang trauma itu?”

Di satu sisi, perawatan mental tidak berbeda dengan perawatan fisik; yang berarti, para peneliti dapat mengambil data keras darinya. Jadi misalnya, pasien mengambil survei untuk melaporkan sendiri bagaimana mereka mengatasi masalahnya. “Itu sama seperti mengambil tekanan darah mereka,” kata Stirman. Dengan cara ini, para peneliti dapat melihat hal-hal seperti gejala depresi dan kualitas tidur dari waktu ke waktu secara sistematis.

Menentukan efektivitas MySonomaStrong.com sedikit lebih mudah karena Anda dapat melacak penggunaan situs. Sama dengan aplikasi, mengukur yoga dapat dilakukan dengan cara yang sama—melacak frekuensi penggunaan. Dengan data, para peneliti dapat membangun gambaran yang lebih baik tentang strategi apa yang berhasil paskabencana.

Tak berarti, setiap komunitas akan menanggapi hal-hal ini dengan cara yang sama. Anda tidak bisa mencari tahu apa yang berhasil di Sonoma untuk kemudian menerapkannya di tempat lain dengan cara menghafalnya—tidak setiap tempat terbuka untuk melakukan yoga seperti California. Anda harus mempertimbangkan kebutuhan dan sikap orang-orang yang terpengaruh. Tetapi penelitian baru ini membantu menentukan apa yang mungkin menjadi taruhan terbaik bagi komunitas.

“Saya melihat saat ini jelas-jelas menakutkan,” kata Heinz. “Tetapi ini juga merupakan jendela peluang untuk meningkatkan apa yang kami lakukan sehingga kami memiliki prosedur operasi standar bilamana ada ungkapan ‘Hai, masyarakat ini telah dilanda kebakaran hebat. Kami tahu dari ilmu pengetahuan bahwa ini, ini, dan ini bisa efektif’.”

Sama seperti setiap komunitas yang berbeda; demikian pula dengan jenis bencananya. Apa yang mungkin dilakukan untuk kesehatan mental setelah kebakaran hutan mungkin tidak begitu efektif setelah badai; dimana orang mungkin dapat kembali ke rumah yang rusak namun dapat diselamatkan.

Bagaimanapun, perhitungan iklim ada di sini dan kemanusiaan adalah jalan; yang jauh di belakang dalam mempertimbangkan implikasi kesehatan mental dari apa yang kita hadapi. “Sejujurnya saya berpikir bahwa NIH (pusat riset medis di bawah Department of Health & Human Services, Amerika Serikat-red) harus memiliki lembaga pemulihan bencana,” kata Heinz. “Ada satu unit untuk alkoholisme, ada satu untuk penyalahgunaan narkoba, ada untuk penuaan, dan jantung dan paru-paru. Kita perlu memiliki mekanisme yang dilembagakan demi mempelajari dan mendukung masyarakat. Dengan peningkatan frekuensi yang diantisipasi dari peristiwa ini, Anda membutuhkan sistem perawatan.”

Sharon Bard menjadi tidak baik dalam beberapa bulan setelah kebakaran. “Aku akan histeris karena sesuatu yang sangat kecil,” kata Bard. “Saya selalu kelebihan beban dan saya tidak bisa memproses informasi baru. Saya lelah, saya merasa rapuh, saya gemetar,” jelasnya.

Bard menjalani terapi dan sekarang setelah dia lebih tenang, kondisinya membaik. Dia baru saja pindah ke hunian sewa baru yang tidak jauh dari tempat saya bertemu dia untuk minum teh. Dia bisa melakukan banyak tugas lagi. Dalam waktu singkat, dia bisa berbelanja, mengumpulkan meja Ikea, dan berkebun. “Itu cukup bagus untuk saya dalam sehari,” katanya.

Tetapi, kebakaran akan selalu ada di sana. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti meja dapur bisa menjadi suatu pengingat (dari tragedi-red)—meja dapur di tempat barunya lebih tinggi daripada di rumahnya yang hilang. “Setiap kali saya mendekatinya, itu bisa menjadi pemicu,” katanya.

Sekarang, Bard harus memutuskan apakah akan membangun kembali; untuk menambah lebih banyak lagi pemicu ingatannya. Membangunnya akan melalui jalan birokrasi yang menyebalkan dengan izin,  asuransi, dan kontraktor. “Semacam itu bisa memicu kepanikan,” katanya, “dan juga, apa yang saya lakukan? Apa yang saya lakukan?”

Bard adalah korban kebakaran paling merusak dalam sejarah California, tetapi juga korban perubahan iklim. Tak lama kemudian, kita semua akan melalui dengan cara kita sendiri; entah itu gelombang panas, kenaikan permukaan laut, es yang mencair, ataupun monster badai. Namun, mungkin apa yang dipelajari Sonoma dari percobaan ini dapat memberikan perangkat kepada otak kita untuk bangkit.

 

Wired.com/8 Oktober 2018

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Selalu sehat layaknya kitten kusam di rimba kota.]

 

 


Selamat Hari Sehat Mental Sedunia yang Ke-27 Tahun 2019!

Berita narasi ini diambil dari Wired.com sebagai upaya solidaritas literer terhadap para pegiat kesehatan jiwa dan penyintas mental illness.

Setiap tanggal 10 Oktober akan selalu diperingati sebagai Hari Sehat Mental Sedunia. Upaya kru redaksi komunitas kami dengan cara menerjemahkan artikel berita narasi tersebut adalah sebentuk solidaritas literer  karena persoalan kesehatan mental benar-benar nyata adanya namun sebagian besar masyarakat kita masih abai bahkan cenderung salah tanggap terhadapnya.

Semua manusia mempunyai persoalan mentalnya masing-masing. Mari membaca, mari bersaudara!


Getaran Hangat Korporasi

*)Ditulis Rynaldi Fajar. Pegiat literasi bersama Komunitas Mengkaji Pustaka dan pelaku garis depan lapak Perpustakaan Jalanan Cilacap. Sedang mencoba menekuni pers mahasiswa di Surakarta.

Tidur lelapku terbangun; terkejut akibat hiruk-pikuk jalan raya depan rumahku yang saban hari selalu demikian. Tak terkecuali kendaraan besar moda angkutan barang para korporasi yang ada di Cilacap; yang melaju kencang manakala jalanan sepi. Mereka melaju kencang dengan rakusnya pada jalan yang dilewati dan menggetarkan tanah akibat ulahnya. Demikianlah kehidupanku yang saban hari risau merasakan hal yang selalu sama.

Tatkala pembangunan pabrik Semen Nusantara pada tahun 1975, terjadi okupasi lahan di depan rumah yang kuhuni hingga sekarang; menjadi jalan penghubung dari pabrik Semen Nusantara menuju Jalan Tentara Pelajar—terbentang panjangnya dari Pertigaan Saliwangi hingga pertigaan menuju kawasan industri tersebut. Hingga sekarang, jalan itu masih dinamai Jalan Nusantara. Historis pembangunannya dikonstruksi oleh PT. Semen Nusantara.

Pada tahun 1977 semenjak selesainya pembangunan pabrik dan mulai proses produksi semen, jalan tersebut hingga sekarang menjadi jalan distribusi. Tak hanya distribusi semen namun juga distribusi barang dari pelabuhan manakala terjadi pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta korporasi lainnya yang membangun pabriknya atau tempat produksinya untuk mendistribusikannya ke lain tempat.

Tak cukup heran bagiku, warga yang mendiami kawasan sekitar perindustrian ini terkadang ada yang naik pitam karena ulah pengendara truk yang mengendarai dengan seenaknya. Tak sedikit orang juga ada yang tertabrak, tewas terlindas, bahkan menabrak truk yang parkir sembarangan. Dengan tingkat pemahaman masyarakat yang masih percaya dengan takhayul, hal ini seringkali dianggap sebagai tumbal atau lain sebagainya.

Perlulah disadari bahwa peran korporasi saja membawa dampak yang lebih buruk bagi ekologis kita sendiri. Semenjak penambahan pembangunan PLTU di Karangkandri menjadi dua bahkan sekarang bertambah lagi dan terintegrasi dengan PLTU yang ada di Bunton, proses produksi listrik dari batubara yang menjadi komoditasnya saja sudah membawa polutan yang lebih buruk bagi masyarakat Cilacap—tak terkecuali sekitaran jalan yang dilewati distribusi batubara. Tak hanya Jalan Nusantara namun jalan-jalan yang terbentang dari pelabuhan Tanjung Intan sampai titik terakhir batubara diproses menjadi uap pembangkit listrik. Sering kita menemui batubara yang terjatuh berserakan di jalanan yang terbentang jalur distribusi batubara. Dari  truk yang mendistribusikan batubara; bahkan membawanya saja terlihat  mengerikan sampai menggunung dan ditutupi dengan terpal.

Dampak dari debu batubara merupakan debu jenis fibrogenic; merupakan debu yang beracun bagi pernafasan kita. Apabila terpapar debu batubara, akan membahayakan paru-paru dan bila terpapar secara berlebih dapat menyebabkan pneumokoniosis. Kita tak bisa pragmatis dengan mengambil keputusan berpindah tempat tinggal yang sudah tak menyehatkan lagi. Kita juga tak ingin menghilangkan mata pencaharian para kelas pekerja yang berkutat pada roda panas korporasi itu. Namun itulah yang diinginkan para kapitalis agar kita terjadi kontradiksi secara horizontal—sementara mereka masih hidup glamor dan filantropis bila berkenan.

Ekologi kita tergerus serta-merta akibat ulah koporasi. Menghirup udara sehat pagi hari sekarang saja hanya utopia. Distribusi sudah semenjak malam menyingsing, proses produksi juga belangsung saban malam hari. Kesehatan paru-paru kita sudah mulai kita pertanyakan: perlukah kita menangani kesehatan paru-paru kita akibat ulah para korporasi yang mendirikan pabriknya di tanah kita tercinta? Memang perlu berbagai mitigasi yang kita lakukan; mana saja yang tepat namun selama mereka masih melakukan hal yang sama, kita tak akan dapat berubah dan akan selalu menerima hal yang sama. Sudah saatnya kita bersuara akan kerusakan ini. Merdekalah kita dalam sanubari. Kita harus adil; adil sejak dalam pikiran.

Smartphone ‘Membungkam’ Pemandangan Kota

 

Grafiti bertajuk “Alienation” karya inSerra.

*)Penulis Kathleen Vandenberg. Dosen senior di Universitas Boston. Pengamat desain urban, retorika visual, periklanan, gaya hidup, serta penulis esai.

Berkelana ke utara menyusuri Broad Walk, tepat memasuki Taman Kensington yang luas nan terawat indah sambil melewati kemegahan istananya di barat London; akan bisa segera sampai di Orangery dengan melalui lengkungan Wiggly Walk yang berbatasan dengan Taman Sunken.

Saat musim panas yang cerah, permukaan batu bata dan kaca paviliun taman ini memancarkan cahaya hangat kepada mereka yang berkumpul di beranda megahnya untuk menyesap teh panas dan menikmati brunch. Diri saya berada di sana pada suatu sore yang cerah baru-baru ini. Saya menduduki kursi besi bersama seorang murid saya. Sambil menikmati luasnya pemandangan taman di selatan, kami menunggu teman sekelasnya tiba.

Cahaya matahari sore itu memancar melalui awan tipis. Lalu-lintas jalanan dikelilingi oleh pagar yang bertebaran; area tersebut terlihat begitu manis dengan aroma rumput dan mawar. Tupai melompat dari jalanan ke jalanan untuk mencari makanan. Sementara taman bermain dan komidi putar di dekatnya menguarkan sayup-sayup suara kegembiraan.

Semua itu memanglah sangat menyenangkan dan mungkin menjadi suatu kesalahan apabila mengeluh karena harus menunggu di tempat seperti itu. Tapi 15 menit telah berlalu, kemudian menjadi 20 hingga  40 menit dan siswa yang ditunggu juga tidak muncul. Satu-satunya bukti keberadaannya adalah tulisan “ping yang tak henti-henti darinya yang dikirimkan ke ponsel teman sekelasnya—yang hanya terasa  menenangkan dan memulihkan keadaan barang sejenak; ternyata hanyalah latar belakang dari sebuah “drama” yang sangat familiar.

Siswa yang “menghilang” itu tampaknya samasekali tidak terbiasa dengan daerah tempat tinggalnya selama enam pekan. Karenanya, ia tidak menyadari bahwa menuju Orangery bisa dilalui dengan berjalan kaki setengah mil yang sangat nyaman, aman, dan indah dari pintu depan kediamannya—ia malah memesan Uber. Apa yang bisa didapati dengan berjalan-jalan di sepanjang Broad Walk yang indah dan semarak adalah sekilas pemandangan kuncup-kuncup bunga Flower Walk yang wangi dan kita bisa melewati angsa-angsa di Round Pound. Hal tersebut malah berubah menjadi perjalanan yang panik, mahal, dan menghabiskan waktu ketika ia sedang berjalan-jalan mengelilingi taman. Ia datang terlambat 45 menit, terasa lelah, dan memohon maaf. Dengan meneguk teh dinginnya, ia masih belum sadar dimana dirinya berada atau bagaimana ia bisa tiba di sana.

Masalahnya, bukanlah seberapa sering ia berkendara dibanding berjalan kaki dalam menempuh jarak pendek. Dari jutaan perjalanan yang dilakukan orang-orang di London setiap hari, hanya seperempatnya yang berjalan kaki. Yang dialaminya menandakan bahwa ia tak cukup sadar dengan kehidupan urbannya; yang seharusnya mengetahui bahwa berjalan kaki adalah rute yang jauh lebih pendek, lebih langsung, dan lebih menyenangkan ke tujuannya.

Ketidakmampuan siswa saya untuk menempatkan dirinya dalam suatu ruang, kegagalannya menavigasi lingkungannya sendiri, dan kepercayaan sepenuhnya pada teknologi adalah perbuatannya untuk ingin berada di tempat yang ia tandai sebagai “kerumunan warga kota abad ke-21”. Navigasi outsource di teleponnya atau satnav dari pengemudi Uber kepadanya adalah fakta kehidupan lain bagi begitu banyak orang yang berlalu-lalang di jalanan kota-kota modern.

Menurut data World Health Organization (WHO), lebih dari 50% populasi dunia sekarang bertempat tinggal di perkotaan. Dengan jumlah tersebut, perkiraan peningkatan jumlah menjadi 60% akan terjadi pada tahun 2030. Dan, sebagian besar pejalan kaki menggunakan smartphone untuk bernavigasi.

Di negara asal saya; Amerika Serikat (AS), sekitar 77% orang memiliki ponsel pintar. Hasil survei Pew Research Center pada 2014 mengungkapkan bahwa sekitar tiga perempat orang dewasa di AS mengatakan bahwa mereka tidak bermasalah terhadap orang yang menggunakan ponselnya saat sedang berjalan kaki di jalanan, berada di angkutan umum, atau mengantri. Studi Pew lainnya pada 2012 menemukan bahwa tiga perempat pemilik ponsel pintar menggunakan ponselnya untuk memperoleh informasi berbasis lokasi; seperti pemetaan dan ulasan obyek wisata terdekat. Dan pada 2016, sebuah laporan dari The Wall Street Journal mencatat bahwa antara tahun 2010 hingga 2014 telah terjadi kenaikan pasien ruang gawat darurat sebanyak 124% akibat perhatiannya terganggu oleh perangkat seluler saat berjalan kaki.

Sebuah video NBC pada tahun 2017 menunjukkan seorang wanita 67 tahun di New Jersey terjungkirbalik jatuh ke ruang bawah tanah terbuka dengan bagian kepalanya yang pertama kali tersungkur. Ruangan itu menganga lebar dengan pintu-pintu berdiri di atas trotoarnya; sehingga memberikan kesan visual yang menakjubkan soal seberapa terganggunya perhatian dari sebagian kita akibat ponsel. Beberapa kota di Jerman dan Cina bahkan merespon hal seperti demikian dengan membangun atau mengadaptasi jalur pejalan kaki dan persimpangan demi mengatasi masalah yang ditimbulkan akibat berjalan kaki sambil berbalas pesan.

Ketidakpedulian kita terhadap lingkungan hidup kita tentu saja tidak universal. Buktinya, masyarakat dengan pola berburu-meramu masih ada di tempat-tempat yang kelangsungan hidupnya bergantung pada kemampuan membaca alam. Tetapi budaya mayoritas telah memandang keberadaan mereka terputus dari lingkungan—yang alami maupun terkonstruk—yang tumbuh selama ribuan tahun. Dalam bukunya; “The Spell of The Sensuous” (1996), filsuf AS; David Abram merujuk alfabet sebagai teknologi paling awal untuk menjauhkan manusia dari lingkungan alam. Dahulu, kaum pemburu-peramu bergantung pada hubungan sensual dengan alam; sangat akrab dengan aroma binatang yang mereka buru, peka terhadap suara predator, dan dapat menavigasi dengan penglihatan. Akhirnya, keberadaan teks memastikan bahwa penglihatan manusia dibelokkan dari representasi dunia nyata.

Sekarang, defleksi semacam ini tercipta melalui layar-layar berwarna yang mengkilap dan bukan oleh piktograf (papan huruf) yang pada awal penemuannya digambar secara kasar dan tidak banyak menimbulkan masalah. Bagi sebagian besar orang—terutama kita yang di perkotaan, sudah sejak lama hubungan kita dengan lingkungan kita tidak dimediasi oleh teknologi dan kita tidak akan merasakan kehilangan koneksi langsung dan sensualitas kepada bumi secara akut.

Lagipula, tidak perlu bagi penghuni kota untuk menghirup aroma predator supaya mengetahui sebidang tanah mana yang layak dipagari sebagai area paling baik untuk menanam sereal. Warga kota juga tidak perlu tahu cara mengidentifikasi kotoran binatang di taman kota. Bahkan tanpa aplikasi cuaca, kita tak ada kebutuhan mendesak dalam memindai langit untuk mandi atau mencatat curah hujan di barometer demi menilai kapan kemungkinan datangnya hujan—apalagi berada dalam ruangan. Menurut kebanyakan orang, perubahan hari tidak berarti jika mereka tidak dapat lagi (atau tidak pernah bisa) menemukan Polaris (rasi bintang Kutub) di langit musim dingin atau saat mereka menghancurkan kacang kastanye dan pecan dengan bagian bawah kaki.

 

***

Masalah sebenarnya adalah apa yang “dilalui” dan “melalui”; yang tidak terlihat atau disalahpahami di lingkungan buatan itu sendiri. Lanskap kota mungkin diabaikan tetapi kota tersebut tidaklah sunyi. Secara desain, ia berbicara. Desain itu bergerak, mendorong, memotivasi, dan meyakinkan. Lengkungan yang mengesankan di atas St. Paul Cathedral akan memojokkan desain Shard—bangunan di dekatnya—yang parah dan minimalis. Layaknya cahaya keemasan dari patung Prince Albert yang bertengger tinggi di atas Taman Kensington; hal itu menarik perhatian kita ke atas dan ketinggian mereka menandakan kekuatan mereka; dengan garis-garis vertikal dan skala yang mendominasinya menggambarkan kita menatap “surga” melalui penyembahan kepada Tuhan, uang, dan monarki. Desain itu menyatakan sejarah Kekaisaran Inggris, dominasi global dan budaya, serta kekuatan finansial.

Kesenjangan sosial-ekonomi tampak besar di lingkungan perkotaan. Kota-kota kita mengomunikasikan batas-batas sosial-ekonomi, ras/etnik, dan gender sejelas pemetaan kemiskinan abad ke-19 karya Charles Booth. Kota-kota kita menyiarkan aturan tentang “siapa yang diundang” dan “siapa yang harus diusir”. Ketika kita “membungkam” (kenampakan/aspirasi) kota demi mengangkat telepon kita; ketika kita mengalihkan pandangan kita dari cerita kota ke peta digital, kita hanya melihat pilihan realitas yang terdistorsi, dibatasi oleh bingkai, dan didekontekstualisasikan; yang memberi kita perasaan palsu bahwa perjalanan kita dibebani oleh kota karena kita memilih memetakannya daripada melewatinya.

Peta dan aplikasinya akan meratakan, menyederhanakan, dan menetralkan ruang yang pada kenyataannya adalah tiga dimensi, kompleks, dan retoris. Sentuhan layar smartphone yang terlihat keren dan lembut tidak memberi kita petunjuk tentang kemungkinan interaksi oleh sentuhan ataupun motivasi arsitektural. Setiap baris yang dipetakan dari titik A ke B tampaknya sama-sama dapat diakses semua orang tanpa memandang usia, kelas, ras, atau jenis kelamin. Masalah dengan pembangunan jalan dan lalu lintas hanyalah satu-satunya kendala yang dicatat oleh peta digital; seolah-olah kota merupakan taman bermain  terbuka bagi semua orang.

Di jalanan, dengan berjalan cepat dan—mungkin yang paling penting—tanpa layar, orang dapat tetap sepenuhnya selaras dengan pesan yang disampaikan oleh lingkungan buatan. Meskipun kita mungkin sudah lama melarikan diri dari akar sejarah berburu-meramu, kita tetap sepenuhnya manusia ketika tidak terikat dengan perangkat elektronik. Indera kita menjadi panduan paling pasti untuk apa yang menarik dan melibatkan diri kita. Seperti yang dijelaskan oleh arsitek Denmark; Jan Gehl,“Kecepatan kita bergerak sangat penting. Berakar dari sejarah biologis, alat sensorik manusia dirancang untuk memahami dan memproses sensor tampilan saat bergerak pada kecepatan sekitar 5 km/jam.”

Perangkat tersebut tersedia untuk memindai cakrawala dan mengambil peranan saat berada di luar ruangan. “Semakin cepat kita pergi, semakin luas pandangan kita” seperti yang dikatakan oleh seorang perencana kota; Nick Jackson dari Toole Design di Boston. Semakin lambat kita pergi, maka semakin banyak kita melihat-lihat; semakin besar kemungkinan kita bereaksi terhadap elemen desain seperti papan tanda yang melarang kita berperilaku, fasad rumit yang mendominasi ruangan pribadi, jalan yang diaspal tanpa jalur sepeda untuk pengendara sepeda, tanaman pot besar yang menghambat kita berkeliaran, atau gerbang hiasan yang menutup akses berjalan—atau dengan kata lain sebagai retorika lanskap perkotaan.

Ruang publik di kota adalah palimpsest (sejenis naskah bertumpuk-red) yang mengalami penghapusan dan revisi terus-menerus. Jejak kekuasaan dan hak istimewa yang turut membentuk setiap lininya terlihat oleh pengamat dan pihak yang terlibat. Sama halnya seperti prestise yang tertulis di ruang publik; hal itu terdapat di distrik-distrik keuangan yang menjulang tinggi, menara-menara gereja, lengan-lengan tentara yang mengangkat perunggu, dan taman-taman yang terpelihara dengan baik di Palace Gardens Terrace di Kensington—demikian pun sebaliknya.

Kaum miskin mempunyai fasilitas dan akses yang jauh lebih sedikit ke perjalanan, restoran, dan perumahan layak. Mereka sangat lebih bergantung pada trotoar yang baik, taman umum yang bersih dan dapat diakses, serta ruang publik berkualitas tinggi untuk berkumpul dan bersosialisasi dibandingkan dengan kalangan kelas menengah dan orang kaya—seperti yang dikemukakan Enrique Peñalosa; Walikota Bogotá dan jawaranya ruang publik.

Tahun 1800-an di London, orang kaya di West End tidak menyadari kerumunan, kemiskinan, dan penyakit di East End. Dengan cara yang sama, pengunjung modern Whitechapel berfokus pada peta digital yang membawa mereka langsung ke Cereal Killer Café yang trendi di Brick Lane dan ke seni jalanan Instagram-able di sekitar Old Spitalfields Market. Mereka dapat dengan mudah mengabaikan perumahan anggota parlemen di dekat Tower Hamlets yang baru-baru ini dijadwalkan untuk dibongkar sebelum mendapatkan tekanan kembali yang berhasil dilakukan oleh para warga.

Banyak kota bekerja keras memanipulasi lingkungan buatannya untuk mencegah kehadiran mereka yang dianggap “tidak diinginkan”; yang sebagian besar—kecuali untuk pemain skateboard—adalah para tunawisma. Oleh karenanya, penambahan “arsitektur defensif” adalah elemen yang dibangun untuk mendorong orang keluar dari ruangan. Mulai dari paku di puncak pagar yang mengantisipasi orang memanjat ke taman umum dan dikunci pada malamnya, hingga sandaran tangan di tengah bangku publik untuk mencegah seseorang tidur siang. Pagar, kusen jendela, dan jalan masuk sering dipenuhi dengan paku logam bundar yang tidak cukup tajam dan kurang berbahaya tapi cukup menonjol untuk mencegah orang duduk atau berbaring. Gang-gang yang terjaga keamanannya, kursi stasiun bus yang miring, dan enklave-enklave yang dilengkapi dengan shower rail guna membasahi yang tidak diinginkan; semuanya adalah instalasi saat ini di kota-kota seperti London; yang lebih dari 700 orang terlihat tidur di jalanan pada malamnya. Modifikasi terhadap lanskap perkotaan semacam itu merupakan praktik retorika yang seringkali tidak diperhatikan—bahkan oleh penduduk kota yang berniat paling baik—dan karenanya tidak tertandingi.

 

***

Sementara kita menatap aplikasi peta atau navigasi outsource ke Uber terdekat demi mempercepat perjalanan di jalanan kota; arsitek, pejabat kota, perencana kota, dan perusahaan desain semakin memperhatikan cara-cara desain perkotaan berbicara kepada para penduduk kota. Pengamat urban AS; William H. Whyte (1917-1999) yang menuliskan teks-teks mendasar seperti “The Social Life of Small Urban Spaces” (1980) dan “City: Rediscovering The Center” (1988), mengatur cara untuk pengumpulan banyak data dan observasi spasial yang sedang dilakukan di kota-kota masa kini. Karyanya yang inovatif tersebut terus memiliki pengaruh besar terhadapnya. Seperti Gehl—seorang arsitek yang disebutkan sebelumnya—dan perencana kota AS; Allan Jacobs, ia mengabdikan diri untuk meningkatkan kualitas pengalaman kita mengenai ruang dan tempat.

Pertanyaan yang dihadapi oleh orang-orang yang berinvestasi dalam kehidupan kota merupakan suatu motivasi. Para investor berpikir bagaimana caranya selain melalui tanda-tanda yang jelas—seperti hukuman dan larangan, mereka bisa mempengaruhi cara kita bergerak melalui ruang publik perkotaan. Lebih khusus lagi, mereka mempelajari bagaimana lingkungan yang dibangun dapat dirancang sehingga orang “terdorong” untuk bertindak dengan cara yang aman, berkelanjutan, dan diinginkan secara sosial. Intervensi skala kecil; seperti kursi yang dapat dipindahkan, fitur air dengan tambahan suara dan visual yang menenangkan, didirikannya pagar dan batas tempat bertengger; semuanya telah ditemukan untuk membuat ruang lebih menarik. Pencahayaan yang baik—terkecuali pada semak-semak yang mungkin menciptakan area tersembunyi untuk aktivitas ilegal—dan jalur sepeda yang aman bagi mereka yang tidak memiliki mobil, semuanya bisa membuat area lebih aman.

Para profesional telah bekerja mengenai bagaimana kota dapat dibuat untuk “berbicara” kepada penduduknya dengan cara-cara yang mengarah pada demokrasi, keselamatan, dan keramah-tamahan. Akan tetapi, psikolog Jerman; Julia Frankenstein memperingatkan bahwa dengan mengandalkan GPS, kita mungkin akan mengurangi peta kognitif kita dan perasaan kita tentang apa yang ada di sekitar rute sempit yang telah ditunjukkan oleh layar kita. Kita mungkin belajar untuk “melucuti” peta lingkungan kita secara mental.

Orang-orang yang menatap peta digital secara rapi bisa menelusuri garis dekontekstualisasi dari persimpangan di luar Stasiun Gloucester Road Tube ke Whole Foods Market di Kensington High Street. Mungkin bahkan tidak melihat pagar dan indahnya gerbang hiasan yang menutupi taman-taman pribadi yang mereka lewati; sehingga sangat kurang menyadari bahwa hal-hal tersebut tidak hanya menarik secara estetika tetapi juga menandai klaim eksklusif orang kaya terhadap beberapa ruang hijau terbaik di pusat Kota London. Orang yang menatap telepon untuk pergi ke toko sandwich Pret terdekat mungkin gagal untuk melihat daya pikat sudut dan celah yang melapisi jalanan di Hampstead Village.

Sejarah juga tertulis di ruang publik. Monumen dan peringatan yang dapat ditemukan di seluruh London—di dalam katedral, di atas bukit, di Royal Parks, di samping trotoar kota, dan jalur hijau yang dominan—menawarkan narasi publik yang membingkai memori historis kolektif; melegitimasi beberapa hal yang hilang sambil mengabaikan yang lainnya dengan latar belakang tokoh-tokoh tertentu dan meminggirkan sosok lain serta mendorong kesombongan dan mengandung duka sekaligus mencegahnya menginfeksi kehidupan sehari-hari.

Patung besar Prince Albert siap menarik perhatian, bahkan kepada para pejalan kaki yang paling lalai di  Taman Kensington. Namun seberapa banyak orang urban yang mengikuti layar ponselnya untuk menuju ke Borough Market melalui London Bridge dengan cukup lambat untuk melihat Cross Bones; kuburan abad pertengahan kecil di Southwark atau melihat cukup dekat untuk membaca ribuan “orang buangan” yang namanya tidak disebutkan dan dimakamkan di sana? Tubuh mereka; yang diabaikan atau dieksploitasi dalam kehidupan dan dibuang dalam kematian, menceritakan kisah tentang kematian bayi, kemiskinan, pelacuran, dan rasa malu—atau kisah-kisah yang tak mungkin mencapai mata para pemirsa layar yang teralihkan perhatiannya.

Contohnya seperti murid saya, kita kehilangan diri kita dalam ketergantungan pada alat digital untuk navigasi. Ketika kita harus melihat aplikasi untuk mengetahui bahwa Sungai Thames berada di selatan kita atau harus diarahkan secara bergantian oleh Siri (semacam aplikasi asistensi via rekaman suara pada gadgetred) dengan menggunakannya dari Royal Albert Hall ke Stasiun Gloucester Road, kita tidak hanya menyangkal kesenangan flaneur (kebiasaan berjalan-jalan tanpa tujuan pasti ala cendekiawan dan seniman Perancis-red) abad ke-19; namun juga berkontribusi terhadap polusi kota dan menimbulkan sedikit risiko kematian oleh GPS. Kita juga menjadi tidak mengetahui cara kota-kota kita dibangun untuk mendorong, mencegah, mengubah rute, membujuk, atau mengusir penduduk tertentu, serta cara-cara kota kita dirancang untuk merayakan kisah-kisah beberapa orang sambil meminggirkan sejarah orang lain. Ketika kita “membungkam” kota untuk menatap ponsel kita, lingkungan perkotaan menjadi tidak terbaca; warganya menjadi tidak menyadari berbagai elemen monumental dan duniawi yang membentuk sikap, tindakan, dan akses terhadap dirinya beserta sesama warga lainnya.

 

3 Oktober 2019

 

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Sejenis kucing kusam di rimba urban.]

Debu

 

“The March of Intellect” karya Robert Seymour; ilustrator grafis Inggris, pada 1828.

 

*)Karya Taufik NurhidayatManusia yang ada-ada saja(k).

Ibarat debu

Nasib kami disapu

dari pinggiran

bangunanmu

 

Bangunan yang tegang

menghadap angan

ketika listrik disajikan

dengan bumbu-bumbu

niat baik kesejahteraan

masyarakat Jawa

 

Ibarat debu

Nasib kami disapu

dari cerita

kejayaanmu

 

Kejayaan yang memaksa

hidungku sesak, paru-paruku rusak,

dan orang-orang kami

tiada melaut

menekuni limbahnya

 

Ibarat debu

Nasib kami bukan catatanmu

Bukan catatan keuntungan

karena kerugian musti disingkirkan

seperti kehendak kami

pada kampung kami

 

Ibarat debu

Orang-orangku

adalah sisa-sisa

di hadapan cerobong asap

Orang-orangku

adalah sisa-sisa

sebab desa tak laku

pada kota

 

Orang-orang kami

adalah sisa-sisa

tanpa pertemuan-pertemuan,

tanpa perjamuan-perjamuan

pada hotel, pada gedung

di mana nota, naskah pembangunan

menjadi absah

 

Menjadi kuasa

atas kehidupan kami,

atas lingkungan kami,

atas limbah-limbah

yang menunda

pencaharian nelayan

 

Kilang-kilang menjulang

terlalu lama

Kilang-kilang bersambar api

itu pertanda

ada upaya;

hidupmu diupayakan!

 

Malam merah pada langit kota

Hari berdebu pada jalanannya

itu pertanda

ada upaya;

hidupmu diupayakan!

 

Kilang-kilang, malam merah,

debu jalanan itu pertanda;

kita musti berupaya!

 

Dan ibaratnya debu

Nasib kami disapu

dari rumah-rumah ibadah

yang menengadah

menadah

suapan angkara

 

Juga ibaratnya debu

Nasib kami dibersihkan

dari naskah-naskah

tapi kami datang lagi

menempeli aksara-aksara

sebelum semua bermuara

menjadi angka

 

Debu adalah

keniscayaan dari upaya

Debu adalah kenyataan

aksara pembangunan

Tapi debu menamparmu,

menakutimu

menuju pekuburanmu

akan nasib baik nan bahagia

Debu menakutimu

akan rakyat yang durhaka

Menakutimu

akan kuasa yang kualat

Debu bisa satu

menggelombang

menyapu menyerbu

pada bangunan-bangunan

yang diam;

di baliknya menyimpan

nota-nota suguhan

angkara

 

Debu menerjang matamu

Mengajar pilu

Mewarna kusam

di suara-suara pemilu

 

Debu menyesaki

tenggorokanmu

Mencampuri suaramu

Mencampuri urusanmu;

hingga bertanya:

apa urusannya PLTU

pada bupatiku?!

 

Debu memaksamu

menatap

truk-truk kemas

yang liar menjalang

menerjang kebingungan

warga kota

pada apa yang diyakininya:

industri atau mati

 

Debu melihatkanmu

Segala urusanmu

disapu dari

deru roda-roda

jika kamu

tak mau lari dengannya

pada sirkuit

arena industri

 

Tapi debu sekali lagi

menamparmu,

menyesakimu,

mencampuri

pada urusanmu

untuk bertanya:

kenapa usai disapu

malah datang lagi?

 

Ya, debu-debu

Mereka bersamamu

Melekat pekat

pada dirimu,

pada pikirmu,

pada urusanmu

dan kita sering

beriring

layaknya debu

 

Kadang satu
Kadang menggelombang

Menyeruak

Menyambar

Berpencar pada

dinding-dinding tanya

Dilanda kebingungan

 

Debu itu gurumu

Teman ajarmu

Bagaimana dilindas

masih beringas

Bagaimana tak disangka

menohok mata

Ya, menohok mata;

tohoklah mata penguasa!

 

Dan akhirnya

memang debu

Nasib kami disapu

Kita disingkirkan

dari picingan kuasa

dan tidak lupa:

kami menohok mata!

 

 

Seberang Nusakambangan, 2 Sapar 1441

Pelamunan yang Aneh

*)Ditulis oleh Mey Hariprasetyo. Skenais lokal Cilacap, desainer grafis, & bekerja sepenuh waktu sebagai warga Donan.

Pada dini hari, 17 Juli 2015, saya melamun sendiri di kamar melalui sebuah lamunan yang aneh; lamunan yang membuat saya begitu bersemangat dan merasa harus mengetik di PC beralaskan ban mobil. Saya melamun menjadi pengajar di kampung saya dan punya siswa-siswi yang saya bimbing.

Kelas yang saya cintakan adalah kelas santai dan penuh mengandung arti; yang membuat siswa-siswi saya menganggap ini sangat penting; karena saya merasa punya kewajiban untuk menjadi bagian dari suatu generasi yang bisa dipercaya menjalankan dunia ini supaya menjadi lebih baik.

Ceritanya, kami berada di lapangan penuh rumput kecil dan pohon besar yang segar untuk mengajar dan belajar oleh siswa-siswi. Kita juga bisa memandang langit luas dan pucuk-pucuk pohon besar. Bangku siswa-siswi berbentuk melingkar agar mudah untuk mengajar . Kelas itu terdiri dari sekitar 30 orang siswa-siswi.

Ceritanya, mereka siswa-siswi baru namun wajah-wajahnya adalah wajah teman-teman bermain saya sendiri. Di dunia nyata, saya hanyalah seorang laki-laki yang belum juga lulus kuliah dan masih meminta uang dari orang tua saya.

 

Sebuah Kelas yang Mengeksplisitkan Wacana Umum

“Selamat siang, teman-teman. Nama saya Dwi Mey Hariprasetyo. Ini adalah kelas yang saya wajibkan untuk siswa-siswi bimbingan saya di luar kurikulum kita. Kelas ini tidak akan menambah nilai di KHS teman-teman namun saya harap bisa menambah nilai dalam hidup kita secara umum.”

“Saya mengumpulkan teman-teman semua di sini bukan untuk menambah beban hidup di luar kelas-kelas wajib yang sudah berat. Kelas ini ditujukan dan dirancang untuk melihat diri dan masyarakat kita dengan lebih kritis.”

“Saya yakin teman-teman semua tahu bahwa kita adalah anak-anak hasil penjajahan. Bahwa kita hidup di era yang serba cepat dalam tuntunan kapitalisme. Akan tetapi, saya yakin tidak banyak yang sadar apa artinya itu.”

Kita adalah anak-anak yang segala persepsi dan perspektifnya ditekan oleh konstruksi umum. Keinginan-keinginan kita disetir oleh wacana-wacana akan kebahagiaan yang distandarkan oleh sistem. Namun kita tidak bisa lepas dari itu semua, bahkan untuk hal-hal terkecil dan remeh dalam sanubari kita.

Kita tetap ingin, misalnya, perempuan yang cantik, putih, dan langsing sebagai pacar kita. Agar bisa memberi kita rasa aman dalam hidup. Rasa aman dalam hidup, ketika muda, mungkin cowok-cowok skater atau anak band keren yang pakai celana denim mahal, flanel kotak-kotak, dan sepatu Vans atau Converse atau Doc Mart. Cowok keren memberi rasa aman sosial bagi para perempuan yang akhirnya merasa diakui bahwa dia cukup cantik untuk cowok-cowok itu. Ketika agak dewasa, cowok-cowok akan memilih gadis-gadis berhijab untuk mendapatkan rasa aman. Karena imaji publik yang tercipta ketika kamu bersanding dengan perempuan yang (tampak) beragama akan lebih baik. Imaji publik dan bagaimana kamu mendapatkan rasa aman ketika dilihat oleh orang lain/masyarakat/keluargamu membuatmu secara tidak sadar merasa harus membuat pencitraan. Pencitraan itu merasuk ke kehidupanmu; mencengkeram sel-sel otak dan tubuhmu, menyetir kehidupan seksmu, tanpa kamu sadari.

“Kuliah ini ditujukan supaya kalian bisa memandang ke sekeliling dengan kacamata yang lebih luas. Melihat dari atas, dari bird sight view, segala kesibukan yang membuat dunia ini terus berputar. Saya tidak berharap kalian bisa mengemas diri dengan keinginan-keinginan membeli sepatu Converse tanggal 17 Agustus atau pergi ke masjid sekadar supaya dikira taat. Atau pula, ke Natasha supaya putih dan tanpa kerut. Juga, mendengarkan lagu-lagu indie terbaru yang begitu entah supaya bisa masuk kelompok sosial tertentu atau berbangga diri kalau sudah punya berbagai kemeja dan tas ransel Lea. Atau bekerja di PT penghancur bumi hanya demi beberapa juta gaji setiap bulannya.”

“Saya hanya ingin teman-teman saya ini sadar bahwa untuk bisa mendapatkan semua benda itu harus ada kelas pekerja, perempuan, dan anak-anak yang membanting tulang di sweat shop; untuk membuat barang-barang yang tidak bisa mereka beli. Harus ada anak-anak lulusan SMK yang bekerja di tempat parkir mal 8 jam sehari untuk mencatat nomor plat motor kalian yang keluar-masuk area basement yang suram.”

Bahwa kita tidak bisa asal ngomong kata “eksotis” karena kata itu sungguh rasis. Kita tidak boleh asal jeplak soal “pengangguran” karena otak bisa jadi sangat depresif bagi pria muda. Bahwa perempuan dan laki-laki punya hak yang sama di kasur sehingga yang “jalang” dan yang “hidung belang” itu sebenarnya tidak perlu tercipta kalau kita menyikapi dan memandang seks dengan bijaksana.

“Saya ingin teman-teman menjadi generasi yang dewasa dan berani; yang tidak perlu melakukan hal-hal rendahan dan menjijikkan untuk melawan sistem. Hanya perlu perspektif yang sedikit digeser dan diperlebar; supaya kalian bisa melihat arti dari barang-barang koleksi yang kalian pilih; pakaian-pakaian yang pagi ini kalian pilih, kegiatan-kegiatan yang kalian pilih, permainan, dan pelajaran yang kalian pilih.”

Bahkan cita-cita yang kalian pilih; bahwa ada tangan-tangan tidak kelihatan yang bekerja melangkahkan kaki kalian dan menggerakkan lengan kalian dan memutar otak kalian tanpa kalian sadari sehingga pilihan-pilihan paling sepele kalian itu sebenarnya tidak kalian pilih sendiri. Bahwa kita masing-masing hanyalah sebuah bidak catur di semesta yang luas ini.

“Untuk memulai kelas ini, tolong ambil kertas dan pulpen, lalu tulislah satu rahasiamu yang paling mendalam dalam satu kalimat saja. Misalnya, ‘Saya sering mencuri’, ‘Saya sangat suka seks’, ‘Saya mencukur bulu pubis saya secara berkala’, ‘Saya tidak punya uang samasekali’, ‘Saya masih perawan’, ‘Saya sangat ingin punya pacar’, ‘Saya berharap saya lahir dari keluarga yang lebih kaya’ atau apapun itu. Tidak perlu buru-buru. Silakan renungkan selama setengah jam, lalu kumpulkan kertas itu dalam lipatan yang kecil. Tidak perlu menulis nama.”

Setiap hari, kita akan membuka satu rahasia dan merefleksikannya pada semua orang. Kita akan melihat mengapa kita turut andil dalam rasa bersalah orang lain. Kita akan menginternalisasikan rasa bersalah itu ke dalam diri kita sendiri. Kita akan mencari tahu mengapa kita, setiap orang di sini, punya bagian sebagai mata-mata publik; ikut bersalah kenapa ada teman yang mencukur bulu kemaluannya atau membenci orang tuanya. Semua demi imaji yang lebih baik di mata publik.

“Oh iya, silakan makan, minum, dan merokok di kelas ini. Ini adalah sebuah meja bundar di suatu sudut kampung di mana kita bisa mempertanyakan segalanya. Semoga di akhir setiap sesi, kita bisa menjadi orang yang lebih baik.”