Bisakah Konsumsi Kita Mewujudkan Masyarakat Adil-Makmur?

*)Ditulis oleh Florian Schui. Sejarawan di Royal Holloway, Universitas London. Telah menulis buku Austerity: The Great Failure pada 2014.

Orang-orang Barat terus-menerus mengkhawatirkan konsumsi yang berlebihan dan hidup yang terlalu baik. Ini bukanlah masalah baru. Paling tidak, selama 2000 tahun terakhir, kita khawatir karena harus membayar biaya-biaya kemakmuran. Yang mungkin lebih mengejutkan ialah kita akan terus-menerus merasa khawatir.

Selama ribuan tahun pertama keberadaan manusia, peningkatan konsumsi berjalan sangat lambat. Namun selama 200 tahun terakhir ini, industrialisasi menyebabkan peningkatan kemakmuran masyarakat Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Secara super, peningkatan kemakmuran terjadi terakhir kali pada era 1950-an dan 1960-an. Akan tetapi, kita masih belum memperoleh timbal-baliknya. Sebaliknya, kebanyakan orang Barat merasa bahwa hasil utama peningkatan kemakmuran tersebut adalah hidup yang terasa lebih langgeng dan lebih nyaman.

Ada pernyataan bahwa masalah sosial-ekonomi yang paling mendesak di zaman kita ialah sangat tidak meratanya distribusi manfaat kemakmuran yang menumbuhkan ketidaksetaraan. Ketimpangan terasa paling kuat dalam hal konsumsi. Menariknya, hal ini bukan disebabkan oleh konsumsi berlebihan pada kalangan atas, melainkan karena meningkatnya kekurangan di kalangan bawah.

Jika kita ingin memperbaiki ketidakseimbangan ini melalui redistribusi, kita perlu menyadari bahwa hal ini akan meningkatkan substansi konsumsi keseluruhan yang selanjutnya tak bisa dihindari. Peningkatan substansi ini mungkin bukan hal buruk sebab para pembuat kebijakan selalu berusaha memahami tradisi panjang mengkritik konsumsi yang hampir setua peradaban Barat.

Kritik konsumsi tertua dan paling berpengaruh mungkin muncul dalam tradisi Yahudi-Kristen. Penghancuran wilayah Sodom dan Gomora dipahami secara umum sebagai hukuman ilahi atas kebejatan seksual. Namun seperti yang ditunjukkan oleh Stephen Long—teolog Amerika—melalui “Christian Ethics” (2010); dosa-dosa yang dilakukan di kedua kota itu “lebih berkaitan dengan ekonomi daripada homoseksualitas”. Karena terobsesi kemewahan, orang-orang Gomora menjadi gagal menunjukkan keramahan dan kasih tanpa pamrih yang dikehendaki Tuhan kepada mereka.

Hubungan antara dosa dan keserakahan materi dimunculkan kembali dalam pembahasan Perjanjian Baru. Dengan menggunakan perumpamaan yang aneh, Yesus memperingatkan bahwa orang kaya akan menghadapi kesulitan dalam perjalanannya menuju ke Firdaus yang sama halnya seperti unta yang mencoba melewati lubang jarum. Dia menyarankan caranya mencapai surga adalah dengan mengurangi konsumsi secara radikal; yakni dengan memberikan semua harta benda.

Versi duniawi dari argumen semacam di atas—yang tidak bergantung pada kepercayaan kepada Tuhan atau kehidupan setelah kematian—diusulkan oleh Jean-Jacques Rousseau pada abad ke-18. Rousseau menyuarakan keprihatinannya terhadap latar belakang revolusi konsumen yang terjadi pada masanya. Dalam karyanya “Discourse on the Moral Effects of the Arts and Sciences” (1750); ia menyesalkan kepemilikan dan penampilan yang menjadi motif utama tindakan manusia dalam tatanan komersial; sementara sentimen dan keyakinan sejati telah menjadi motif kedua. Sebaliknya, yang menjadi perhitungan adalah perbuatan yang membantu seseorang naik ke tonggak kekayaan dan prestise secara licin. Maka, hasilnya adalah korupsi moral; sehingga pria dan wanita hidup dengan cara-cara yang palsu demi orang lain dan melalui orang lain.

David Hume dan para pemaklum masyarakat komersial abad ke-18 lainnya juga mengakui bahwa ketertarikan terhadap konsumsi menghentikan banyak ekspresi perasaan dan dorongan hati manusia yang tulus. Tetapi mereka juga menyarankan bahwa hal ini tidak perlu menjadi perusak. Sistem baru ini membantu menyalurkan perilaku manusia yang sesuai dengan cara-cara berdampingan yang damai. Pria dan wanita yang terbentuk dalam semangat masyarakat komersial mungkin mendambakan kepemilikan yang bergemerlapan dari orang lain. Akan tetapi, daripada mengikuti dorongan sejati mereka dan memperolehnya secara paksa; mereka akan melakukann kerja keras demi membeli obyek-obyek hasrat ini sendiri atau mencari orang kaya untuk bersenang-senang dalam gemerlapan konsumsinya. Dalam masyarakat komersial, sentimen yang sejati sering diabaikan. Tapi ada juga  orang yang lebih sedikit menahan nafsu seperti era sebelumnya yang lebih sejati.

Secara teori, hal tersebut merupakan kebangkitan kembali yang kuat. Namun argumen tersebut didasarkan pada pandangan negatif yang berlebihan mengenai apa yang disebut sebagai “zaman kegelapan” sebelum munculnya perdagangan yang mencerahkan. Dan efek pemberadaban perdagangan segera diliputi keraguan lagi oleh penyebaran kolonialisme, perbudakan, dan pemusnahan massal kaum pekerja—ketika Eropa menyebarkan tentakelnya ke seluruh dunia. Karenanya, pemikiran Rousseau tidak dapat disepelekan secara mudah.

Saat industrialisasi berkembang, muncullah untaian kritik baru terhadap konsumsi. Pada 1798, dengan menggunakan matematika dasar; Thomas Malthus berpendapat bahwa konsumsi tanpa batas akan menghukum umat manusia untuk hidup dalam kesengsaraan. Jika populasi menyebabkan konsumsi tumbuh secara eksponensial, sementara sumber daya—yang terpenting seperti lahan subur—jumlahnya terbatas, maka akan tercapainya titik kehancuran sistem yang tak terhindarkan. Menurut Malthus, kelaparan akan mengurangi jumlah populasi secara berkala, namun nafsu seksual yang tak terpuaskan dari kelas bawah (yang diartikan sebagai massa) tidak akan pernah bisa naik ke atas tingkat taraf hidup yang paling menyedihkan.

Kalkulasinya Malthus tampak tak terbantahkan namun ramalannya tak menjadi kenyataan. Kemiskinan masih menjadi masalah di Barat tapi hampir tiada yang hidup dalam kesengsaraan yang diprediksinya dan oleh karenanya kita bisa berterimakasih atas kemajuan teknologi. Teknologi memungkinkan manusia menyerah pada dorongan seksualnya tanpa menghasilkan anak (semacam konsumsi tanpa konsekuensi). Kemajuan ilmu pengetahuan juga mengisyaratkan bahwa sumber daya yang ada dapat digunakan lebih efisien dan sumber daya baru bisa disadap. Hasil pertanian telah tumbuh secara dramatis sejak zamannya Malthus hidup dan kita hari ini menggunakan sumber energi dan persediaan lain yang tidak dapat dipahami oleh orang-orang sezamannya. Prediksi spesifiknya Malthus ternyata salah tetapi logikanya yang mendasari skenario malapetaka semacam itu terus menghantui imajinasi orang-orang Barat.

 

***

Sebagai akibat Perang Dunia Kedua, revolusi konsumsi kedua membawa kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya pada orang-orang Barat. Televisi, lemari es, mobil, dan perjalanan udara menjadi barang konsumsi umum yang pada gilirannya menyebabkan reaksi kritis baru pada akhir 1960-an.

Club of Rome; sebuah think tank global yang baru dibuat pada 1972, mengerjakan sebuah laporan yang diterbitkan dengan judul “The Limits to Growth” yang melahirkan kebangkitan pengaruh ide-ide Malthus. Para penulisnya berpendapat bahwa pertumbuhan populasi dan perluasan konsumsi yang salinng berkaitan akan menyebabkan menipisnya sumber daya, polusi yang berlebihan, dan—pada akhirnya—kehancuran lingkungan. Laporan tersebut membentuk kesadaran publik dan memberikan kontribusi berpengaruh terhadap kebangkitan gerakan Politik Hijau pada masa ini.

Tahun 2012, Jørgen Randers; futurolog Norwegia yang ikut menulis dalam “The Limits to Growth”, menyajikan serangkaian prediksi suram untuk 2052. Argumen dasarnya tetap tak berubah; bahwa populasi dan konsumsi semakin tumbuh, peningkatan konsumsi energi dan emisi menyebabkan perubahan iklim; yang menuntut biaya ekonomi yang besar, dan menyebabkan kerusakan lingkungan; yang pada akhirnya menjadikan kehidupan di bumi menjadi tak berkelanjutan.

Kritik sosial-psikologis Rousseau mengenai konsumsi kembali terlihat pada era 1970-an. Melalui karya seminalinya “To Have or To Be?” (1976), Erich Fromm; psikoanalis Jerman, menawarkan sebuah pilihan nyata kepada para pembacanya; antara kehidupan yang terpenuhi dengan memperoleh kepuasan dari hidup itu sendiri atau eksistensi palsu yang berputar di sekitar kepemilikan materi. Prinsip yang pertama adalah tentang berkolaborasi dan hidup berdampingan yang saling bersahabat antarsesama pria dan wanita. Lalu prinsip berikutnya adalah suatu kompetisi agresif yang berputar pada sekitaran cara menipu konsumen, menghancurkan pesaing, dan mengeksploitasi para pekerja. Meskipun perolehan materi seolah-olah terpenuhi, keinginan material kita yang tak dibatasi membuat kita fokus pada kepemilikan selamanya yang justru menahan pemenuhan itu sendiri.

Pemikiran yang lebih kekinian dari tradisi kritik konsumsi ini adalah kritik politik konsumsi yang ditawarkan oleh filsuf Slovenia; Slavoj Žižek dan kritikus lainnya. Žižek berfokus pada upaya konsumen untuk berbuat baik dengan membeli yang “benar”. Khususnya, ia mengkritik konsumsi makanan organik dan produk-produk yang diperdagangkan secara wajar—yang diharapkan membawa manfaat bagi konsumen, produsen, dan masyarakat pada umumnya. Ia berargumen jika semua orang membuat keputusan yang tepat di supermarket, dunia yang lebih baik dapat diciptakan. Namun kenyataannya, pilihan konsumen selalu terbatas dan juga dikondisikan oleh struktur politik-ekonomi yang hanya bisa diubah melalui aksi politik kolektif. Bagi Žižek, kepercayaan akan kedaulatan konsumen adalah naif dan akhirnya menjadi faktor perusak karena mengalihkan kita dari aktivisme politik yang nyata. Atau dengan menggunakan pernyataan Fromm: keasyikan dengan apa yang dimiliki akan membuat kita tidak menghadapi pertanyaan tentang siapa yang kita kehendaki sebagai individu dan sebagai masyarakat.

Meskipun secara intelektual menarik, sebagian besar dari berbagai kritik ini telah ditenggelamkan oleh keberhasilan ekonomi kapitalisme industri. Seperti yang pertama kali dikatakan filsuf Belanda; Bernard Mandeville dalam “The Fable of the Bees: Or, Private Vices, Public Benefits” (1714), konsumsi memang mungkin tak bermoral tapi juga merupakan bahan bakar yang mendorong perdagangan dan membawa kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Voltaire dan tokoh-tokoh penting Zaman Pencerahan lainnya segera mempertahankan argumen ini. Sehingga sejak saat itu, argumen yang berusaha menyeimbangkan antara manfaat publik atas konsumsi dan keserakahan pribadi ini bisa membuat peredaran uang bisa dinikmati. Berlawanan dengan latar belakang krisis ekonomi saat ini, argumen semacam itu berpengaruh sangat kuat pada zamannya. Apabila rute menuju pemulihan dan kesetaraan yang lebih besar membutuhkan lebih banyak konsumsi, tentunya akan banyak komentator yang cenderung mengabaikan keterlibatan moral dan lingkungan. Selain itu, ada indikasi kuat bahwa peningkatan konsumsi mungkin menjadi jalan keluar dari krisis ekonomi saat ini.

 

***

 

Semakin jelas bahwa permintaan konsumen yang lemah memainkan peran dalam menyebabkan krisis keuangan baru-baru ini dan sekarang memperpanjang kemacetan ekonomi. Segera setelah krisis pada 2008, ada beberapa upaya untuk mencegah krisis kembali dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah. Bank dan lembaga keuangan lainnya diselamatkan dan paket stimulus dirancang untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi. Namun ketika jumlah hutang meningkat dan pertumbuhan anjlok, maka kebijakan ekonomi berubah. Ekonom terkemuka seperti Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff—keduanya profesor di Harvard—menyarankan bahwa pertumbuhan akan dihasilkan dari pembatasan hutang. Pada saat yang sama, aliran lama Hayekian (pelopor neoliberalisme)—yang memangkas peran negara—akan membebaskan kekuatan ekonomi sektor swasta dan membuat kemunculannya kembali menguat. Dalam pidatonya pada 2013, Perdana Menteri Inggris; David Cameron, menghimbau agar melakukan “more with less” (lebih banyak mengurangi). Pernyataannya ini pun menjadi pepatah penghematan para politisi dan anggaran pemerintahan menjadi  berkurang. Pantangan kolektif juga diberlakukan pada seluruh masyarakat dengan harapan bahwa ini akan menyelesaikan krisis keuangan dan ekonomi negara-negara Barat.

Enam tahun setelah krisis, kebijakan tersebut terus berlanjut namun gagal memberikan hasil positif. Di sebagian besar negara Barat, tingkat hutang belum menurun secara signifikan dan pertumbuhan masih lemah. Akibatnya, alasan ekonomi di balik politik abstinensi (penghematan) semakin dipertanyakan. Titik baliknya ditandai oleh pidato Larry Summers; ekonom Amerika Serikat, di Forum Ekonomi-International Monetary Fund 2013. Seorang profesor ekonomi Harvard sekaligus mantan Menteri Keuangan era Bill Clinton dan penasihat ekonomi Presiden Barack Obama ini mengatakan bahwa ekonomi Barat mungkin telah memasuki periode “stagnansi sekuler” dalam sambutannya.

Pengistilahan “stagnansi sekuler” memang signifikan. Istilah yang diciptakan Alvin Hansen; ekonom Amerika Serikat, pada 1930-an ini digunakan untuk menjelaskan penyebab Depresi Hebat (Great Malaise). Mengikuti gagasan John Maynard Keynes; pelopor gagasan walfare state, Hansen melihat kurangnya konsumsi sebagai penyebab utama krisis. Dia berpendapat bahwa krisis jenis ini merupakan efek dari berlebihnya penghematan tabungan dibanding berinvestasi. Sebagai persoalan akuntansi nasional, ketidakseimbangan seperti ini membikin depresi ekonomi karena tabungan musti sama besarnya dengan investasi. Jika investasi terlalu sedikit sebagai jalan keluarnya semua tabungan, maka dengan mengurangi tabungan akan mengembalikan keseimbangan; sebab selain dengan kontrak ekonomi, mengatasi jatuhnya pendapatan negara adalah dengan mengakali tabungan. Sekali lagi, meskipun antara tabungan dan investasi sekarang sudah selaras, kesempatan lapangan kerja dan operasi ekonomi pada tataran output masih lebih rendah. Jika permintaan konsumsi tidak meningkat, ekonomi bisa menjadi merana dengan tingkat pertumbuhan dan kesempatan kerja yang rendah dalam jangka waktu lama.

Seperti yang disarankan Summers, periode stagnansi ekonomi berkepanjangan yang kita alami saat ini mungkin juga disebabkan oleh lemahnya permintaan konsumen. Konsumen saat ini merasakan ketidakamanan ekonomi dan menahan pengeluarannya atau mereka sedang mencoba melunasi hutangnya—jika memang berhutang.

Ada juga tren jangka panjang yang menurunkan permintaan konsumen. Seperti halnya, meningkatnya ketimpangan pendapatan yang mustinya menjadi hal paling penting untuk disoroti. Orang dengan pendapatan tinggi cenderung menabung lebih banyak daripada orang berpenghasilan rendah. Jika mereka menabung terus secara lebih pesat, permintaan konsumen akan menurun. Sampai batas tertentu, hal ini akan berlawanan dengan intuisi sebab kita cenderung menganggap orang kaya sebagai pembelanja besar. Mereka sering berbelanja namun juga menabung dengan jumlah yang jauh lebih besar dari bagiian pendapatannya. Kasus ini diamati dengan baik oleh Centre for Economics and Business Research, London, yang penelitiannya mengenai pola tabungan dan konsumsi di Inggris baru-baru ini menunjukkan bahwa 20% penerima penghasilan teratas mampu menghemat hampir 20000 poundsterling selama 12 bulan terakhir. Pada periode yang sama, 40% penerima penghasilan lebih rendah menghabiskan lebih banyak  pendapatannya.

Tren penting berjangka panjang lainnya yang turut menekan konsumsi ialah melambatnya pertumbuhan populasi di banyak negara Barat—yang berarti semakin sedikitnya konsumen yang membutuhkan mobil, rumah, energi, dan makanan.

 

***

Jika kesulitan kita saat ini memanglah krisis akibat kurangnya konsumsi, maka peningkatan konsumsi harus menjadi perhatian utama kebijakan ekonomi. Kredit murah sering berfungsi sebagai sarana untuk memenuhi tujuan ini. Namun saat ini, bahkan dengan tingkat suku bunga yang rendah secara historis, konsumen swasta benar-benar berhati-hati mengambil kredit setelah hutang yang tak terkendali menjadi biang keladi kebangkrutan pada akhir-akhir ini.

Tentu saja, pemerintah dapat ikut serta dalam program-program belanja publik secara kredit. Akan tetapi, hal ini hanya bisa menjadi solusi jangka pendek. Cara lebih baik untuk meningkatkan konsumsi dalam jangka panjang-berkelanjutan adalah dengan redistribusi. Jika orang-orang berpenghasilan rendah (dengan simpanan rendah) secara bersamaan menaikkan tingkat konsumsinya lebih cepat daripada mereka yang berpenghasilan tinggi, ini akan sangat memperkuat daya konsumsi. Nyatanya, permasalahan ketidaksetaraan sosial dan  stagnansi sekuler ekonomi mempunyai solusi yang sama.

Pastinya, semua solusi seperti di atas tidak membantu kita mengatasi masalah moral dan lingkungan yang menjadi konsentrasi kritik terhadap konsumsi. Persoalan demikian memberikan dilema klasik untuk kita: apakah kita akan meningkatkan konsumsi sambil menerima penurunan moral dan kerusakan lingkungan sebagai imbalan atas kemakmuran dan kesetaraan? Atau kita musti menerima kemunduran ekonomi demi menyelamatkan jiwa kita dan planet ini?

Pilihan dramatis seperti itu membuat kita berimajinasi. Tapi dalam praktiknya, pilihan-pilihan yang ada mungkin tidak terlalu ekstrem. Pengamatan akut Rousseau dan Fromm tentang prospek keberadaan manusia dalam kapitalisme hanyalah kritik terhadap konsumsi jika kita membuat kesalahan dengan menyamakan konsumsi sebagai belanja. Pada zaman Rousseau, ini adalah persamaan yang adil karena sebagian besar konsumsi melibatkan individu yang memperoleh obyek atau layanan material. Tetapi jika kita melihat periode yang lebih baru, sebagian besar dari apa yang kita konsumsi tidak diperoleh secara individual. Pendidikan, perawatan kesehatan, dan keamanan merupakan bagian yang sangat besar dari apa yang dikonsumsi orang Barat saat ini dan kita melakukannya secara kolektif melalui pemerintah atau organisasi lainnya.

Perubahan persoalan pola konsumsi ini dikarenakan efek yang merusak dari kehidupan kompetitif yang berpusat pada kepemilikan materi yang tidak berkaitan dengan bentuk konsumsi kolektif. Setahun berpendidikan di sekolah negeri, seorang murid memperoleh smartphone baru keduanya sebagai bentuk konsumsi dengan harga yang jauh lebih murah daripada smartphone pertamanya. Namun saat melihat bagaimana cara seorang temannya bersekolah, malah tidak mungkin membuatnya iri. Sementara saat seorang temannya di Facebook membual tentang ponsel baru, mungkin bisa memicunya melakukan perlombaan konsumsi sehingga membuatnya memiliki ponsel yang lebih baik tetapi jiwanya menjadi lebih miskin.

Secara historis, bentuk konsumsi kolektif juga memainkan peran penting dalam membuat masyarakat menjadi lebih egaliter. Sebagian besar redistribusi yang mengatasi tingkat ketimpangan era Victoria membentuk perluasan layanan publik yang digunakan secara tidak proporsional oleh orang miskin dan didanai secara tidak proporsional oleh orang kaya. Di masa lalu, pertumbuhan sektor publik menjadi cara untuk meningkatkan kesejahteraan massa tanpa merusak jiwa mereka. Sekali lagi, ini adalah soal waktu untuk memperluas layanan publik serupa; paling tidak, untuk mengurus pelayanan kesehatan dan pendidikan sebagai bidang-bidang utama yang paling menunjukkan meningkatnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Kritikan kaum Politik Hijau terhadap konsumsi pun perlu dibongkar dengan cara yang sama. Dampak lingkungan dari barang dan jasa yang kita konsumsi sangat bervariasi. Emisi gas rumah kaca dan polutan lain yang terkait dengan perjalanan dari A ke B akan sangat berbeda sesuai dengan sarana transportasi yang digunakan. Hal yang sama berlaku untuk mandi air panas, bir dingin, dan sebagian besar bentuk konsumsi lainnya. Untuk perubahan iklim, masalah yang paling penting adalah efisiensi penggunaan energi dan sumber energi yang digunakan. Kedua efisiensi tersebut pun akan terus berkelanjutan dan ditingkatkan dengan cara memajukan teknologi.

Meski demikian, para doomsayers (pengabar kehancuran) tak akan bisa tenang. Mereka berpendapat bahwa menggunakan teknologi ramah lingkungan yang tersedia dan mengembangkan yang baru akan menciptakan biaya yang mungkin tak mau ditanggung oleh para individu. Jørgen Randers memperingatkan dalam ramalan suramnya tentang kehancuran tahun 2052. Bahkan menurutnya, jika kita mengatasi masalah ini secara kolektif, biayanya akan terlalu tinggi. Dalam pandangannya, tidak ada harapan keselamatan ekologis tanpa perubahan radikal dalam gaya hidup kita.

Namun langkah-langkah substansial masih dapat diambil dengan biaya sangat rendah. Regulasi baru tentang peraturan pembangkit listrik di Amerika Serikat yang diusulkan belakangan ini akan mengarah pada perubahan besar menuju energi yang lebih hijau dengan perkiraan biaya sekitar 50 milyar dolar setiap tahunnya; dari sekarang hingga tahun 2030. Hal ini terdengar begitu mahal tapi nyatanya proyek ini hanya menggunakan 0,2% dari total produk domestik bruto Amerika Serikat sehingga tidak akan membutuhkan perubahan radikal dari warga negara yang gaya hidupnya biasa-biasa saja. Seperti yang dikatakan Bjørn Lomborg dalam bukunya yang sangat berpengaruh; “The Skeptical Environmentalist” (2001); manusia telah berhasil memecahkan masalah lingkungan di masa lalu dan jika kemauan politik ada di sana, hal ini juga akan mungkin terjadi di masa depan.

Tidak ada kontradiksi yang melekat antara pola konsumsi yang lebih setara, lebih hijau, dan lebih manusiawi. Pertanyaan sebenarnya adalah: bagaimana memastikan bahwa sumber daya yang ada cukup untuk dicurahkan demi membawa perubahan yang diperlukan?

Seperti yang ditunjukkan oleh Žižek dengan benar, ini adalah tantangan yang tak dapat diwujudkan oleh konsumen yang tercerahkan melainkan hanya oleh warga yang peduli. Pemerintah sendiri memiliki kekuatan untuk mengimplementasikan perubahan yang diperlukan demi membuat konsumsi kita lebih ramah lingkungan. Pula, hanyalah bentuk konsumsi kolektif yang dipimpin pemerintah yang dapat menyelesaikan masalah ketidaksetaraan secara progresif. Pertanyaan tentang apakah pengalaman konsumsi kita akan mewujudkan kesejahteraan atau menghancurkan kita di masa depan, nyatanya akan diputuskan lewat kotak suara dan bukan pada mesin kasir.

 

21 Juli 2014

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Jarang konsumtif karena nggak bakat berpansos.]

Sekarang, Berhentilah Memuji Orang-orang Ternama

*)Ditulis oleh David V. Johnson. Deputi editor jurnal Stanford Social Innovation Review. Senior editor untuk Al Jazeera-AS, juga menulis opini untuk The New York Times & USA Today. Esais dan pengamat sosial yang tinggal di Berkeley, California.

Katedral Notre-Dame di Paris hampir sepenuhnya terbakar pada bulan April 2019 ini. Setelah kejadian itu, François-Henri Pinault—jutawan dan pemilik barang-barang mewah di Perancis—dielu-elukan karena menyumbangkan 100 juta euro untuk merekonstruksi apa yang disebutnya sebagai “permata warisan kami”.  Ia juga menghimpun sumbangan yang membludak dari para dermawan dan perusahaan lainnya.

Meskipun angka sumbangannya mengagumkan secara abstrak, apa yang diberikan Pinault hanya mencerminkan 0,3 persen dari kekayaan keluarganya. Jika kekayaan bersih Pinault sebanding dengan rata-rata rumah tangga Perancis dan menyumbangkan 0,3 persen dari kekayaannya, maka sumbangannya hanya berkisar 840 euro. Angka sekian bukanlah jumlah yang tidak berpengaruh bagi rata-rata orang Perancis. Tapi, siapalah yang menolak memberikan jumlah sebanyak itu jika bisa mendatangkan pujian dan kemasyhuran dengan cara berdonasi ala Pinault?

Kita hidup di zaman yang melebih-lebihkan pujian kepada orang kaya dan berkuasa. Kalangan kelas atas bermandikan lautan penghormatan, penghargaan, dan selebritas. Kita melihatnya pada majalah-majalah mengkilap dan menyaksikannya pada festival-festival kreatif—tempatnya para milyarder dijilat dan bersenda gurau. Kita memuji para filantropis karena sumbangan mereka; bahkan jika amalnya tidak akan bermanfaat banyak bagi masyarakat atau bahkan jika perilakunya begitu tercela untuk memperoleh kekayaan. Kita memuji mereka karena berkecimpung dalam politik atau mengupayakan reformasi pendidikan sebelum kita melihat hasilnya—dan bahkan jika kita mempunyai alasan untuk meragukan kebaikan yang akan mereka lakukan.

Kritik atas pujian kita yang berlebihan terhadap orang kaya dan berkuasa tentunya akan menimbulkan pertanyaan tentang meritokrasi (cara saling menghargai berdasarkan prestasi). Sejauh apakah kita hidup dalam meritokrasi? Apakah itu hal yang baik atau buruk?

Meritokrasi adalah sebentuk sistem sosial yang didirikan atas dasar pujian dan kesalahan. Orang-orang menandai siapa yang pantas mendapatkan kekuasaan dan status dengan memuji mereka karena karakternya, bakatnya, produktivitasnya, dan tindakannya. Meritokrasi juga menandai siapa yang pantas diturunkan derajat status dan kekuasaannya berdasarkan kejahatannya, ketidakmampuannya, dan kegagalannya. Selama penilaian atas pujian dan kesalahan orang bisa akurat, orang-orang akan mempromosikan mereka yang dianggap lebih baik dan menurunkan mereka yang dianggap lebih buruk dalam hierarki kekuasaan dan status. Orang yang dianggap lebih baik akan melakukan hal-hal yang lebih baik dengan kekuatan dan status superiornya. Ketika sistem ini bekerja, kita akan memiliki aristokrasi; yang menurut filsuf Aristoteles sebagai konsep pengaturan sistem oleh orang-orang yang (dianggap) terbaik.

Sistem ini tidak berlaku dan tak akan bisa bekerja dengan ketentuannya sendiri. Penilaian atas pujian dan kesalahan cenderung mencerminkan hierarki kekuasaan dan status yang sudah ada sehingga semakin memperkuat status dan kekuasaan tersebut. Ini dikarenakan pujian dan penyalahan akan banyak membuat “orang yang dinilai” menjadi sebagaimana “penilaian terhadap orang tersebut”.

Jika setiap orang ingin maju dalam meritokrasi, penilaian terhadap pujian dan kesalahan akan dipengaruhi oleh apa saja yang membantu orang tersebut  untuk menjadi maju—yaitu dengan menumbuhkan pujian kepada orang yang kuat dan dihormati, serta menghukum mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan status. Hal ini jelas sama benarnya dengan meritokrasi yang ditolak secara terbuka oleh sebagian besar orang; seperti supremasi kulit putih dan patriarki—atau hierarki yang ditegaskan berdasarkan garis ras dan gender. Tanpa penilaian moral yang mendasar pada landasan pun, sistem-sistem semacam ini tetap ada karena orang-orang yang hidup di dalam meritokrasi diberi imbalan keuntungan untuk menganggap penilaian semacam itu adalah sah.

Secara umum, meristokrasi meyakinkan mereka yang berada dalam sistemnya untuk menggaungkan penilaian moralnya sebagai tujuan dan pembenaran. Padahal mereka sebenaranya tidak dibentuk oleh kriteria obyektif melainkan oleh kualifikasi kekuasaan. Pujian dan penyalahan adalah pembutaan ideologis yang menjunjung tinggi legitimasi hierarki meritokrasi. Jika kita melihat lebih kritis pada diri kita sendiri dan penilaian moral kita, kita akan dapat dengan lebih baik menghilangkan tirai pembatas itu.

 

***

 

Asap puja-puji yang menembus hingga ke tingkat teratas masyarakat merupakan efek buruk dari imbalan yang menguntungkan. Sebagai individu, kita cenderung memuji orang lain dan mengadili pemujian karena kita ingin memenangkan niat baik orang lain dan menerima pembenaran dari niat baiknya. Terlebih lagi, kita akan mempunyai imbalan lebih besar bila memuji orang-orang kaya dan berkuasa; karena dengan memenangkan niat baiknya, kita akan dijamin oleh dukungan premium mereka; berupa kekayaan dan kekuasaan. Hingga pada gilirannya, kita akan menjadi lebih siap untuk mendapatkan pujian dari orang lain.

Semakin elitnya seseorang, maka semakin besar kemungkinannya untuk berselancar di atas pujian dari banyak orang kecil yang memohon bantuannya. Hingga sejauh zaman kita ini, ketimpangan yang masif menciptakan orang-orang yang semakin kaya dan semakin berkuasa. Maka pada tingkat setimpang ini, gelombang pujian yang berlebihan akan membengkak.

Kecenderungan pemujian semacam ini bisa menghasilkan umpan balik negatif: pujian terhadap orang kaya dan berkuasa akan menegaskan bahwa mereka adalah orang baik yang pantas mendapatkan kekayaannya; yang pada gilirannya dapat menambah kekayaan dan pengaruh mereka; dengan demikian bisa menarik lebih banyak pujian. Dan bahkan, sebenarnya kita bisa mengantisipasi efek ini.

Efek pujian berlebihan terhadap perilaku juga patut diperhatikan. Memuji orang, bahkan mereka yang pantas dipuji, sebenarnya dapat memiliki efek negatif pada perilaku mereka. Ada banyak studi psikologi yang menunjukkan bahwa orang rentan terhadap kompensasi moral. Artinya, ketika orang merasa dirinya telah terlibat dalam perilaku yang baik, ia juga merasa hal tersebut memberinya izin untuk bertindak buruk di masa depan. Kebalikan dari hal ini pun berlaku: ketika orang merasa dirinya telah terlibat dalam perilaku buruk, ia juga merasa dirinya harus menebusnya dengan bertindak lebih baik di masa depan. Jika kevalidan dari penelitian-penelitian ini bertahan lama, tampaknya riset ini membalikkan konsekuensi sosial dari pujian dan penyalahan. Memuji orang secara berlebihan dapat membuat mereka bertindak buruk, sementara menyalahkan orang dapat membuat orang tersebut diperhatikan dan memperkuat dirinya untuk berperilaku baik. Dan jika efek semacam ini hanya lebih cenderung mempengaruhi orang kaya dan berkuasa—karena mereka mampu berbuat lebih banyak berkat sumber daya & pengaruhnya, efek ini justru memperbesar bahaya dari perilaku buruk mereka.

Meritokrasi mencoba menetapkan kriteria obyektif demi membenarkan hierarki sosial. Hari ini, untuk menjadi seorang elit musti sering berkaitan dengan kepemilikan riwayat yang tepat; semisal memiliki sertifikat dari Oxbridge atau Ivy League, bertugas di perusahaan konsultan atau bank investasi terbaik, berjasa dalam politik atau pemerintahan, menulis buku, atau memberikan pembicaraan tentang karya Anda kepada pihak TED (semacam organisasi media yang mendukung kebebasan ide-ide).

Hal-hal penyokong riwayat seperti di atas menghendaki pembangunan bakat, penilaian, dan karakter yang dicari oleh orang-orang. Orang-orang yang memperoleh riwayat hidup seperti itu akan menerima rasa hormat dan penghargaan—meskipun prestasinya hanyalah konsekuensi yang dapat diprediksi karena dilahirkan dalam keluarga yang tepat, mengenal orang yang tepat, dan berkelakuan sesuai kehendak umum. Meritokrasi pun memberi umpan untuk berambisi dalam perolehan riwayat ini; terutama dalam penentuan kelayakan (kredensial) untuk memperoleh kekuatan dan status yang lebih hebat. Dengan fakta ini, semestinya tak ada alasan bagi masyarakat untuk menerima kredensial semacam itu sebagai dasar pujian yang obyektif.

Jika kita ingin menumbuhkan masyarakat yang benar-benar demokratis atau sebuah masyarakat yang  memperlakukan satu sama lainnya dengan setara, kita harus mengendalikan pujian-pujian yang berlebihan dan imbalan-imbalan yang berdampak buruk yang turut mendorong pujian itu. Kita musti mengarah pada hal-hal yang melawannya secara ekstrem; dengan cara menahan pujian-pujian dan menjadi lebih berhati-hati terhadap orang kaya dan berkuasa supaya bisa mewujudkan keseimbangan. Louis Brandeis; seorang hakim legendaris yang menyaksikan “zaman keemasan” kita sebelumnya, mungkin pernah mengatakan, “Kita mungkin memiliki demokrasi atau kita mungkin memuji beberapa orang tetapi kita tidak bisa memiliki keduanya.”

23 Agustus 2019

 

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Nggak suka dipuji dan risih dengan panjat sosial.]

Sebab Anak-anak Bertanya ‘Mengapa’ dan Bagaimana Membuat Penjelasan yang Bagus

*)Penulis Matteo Colombo. Asisten profesor pada Pusat Studi Logika, Etika, dan Filsafat Ilmu Pengetahuan di Departemen Filsafat, Universitas Tilburg, Belanda.

Saat umurku sekitar empat tahun, aku mempertanyakan suatu pertanyaan “mengapa” yang pertama kalinya kepada ibuku, “Ibu, mengapa Pippo hidup di dalam air?”

Ibu menjelaskan bahwa Pippo—ikan mas kami—adalah ikan dan ikan hidup di dalam air. Jawaban ini membuatku tidak puas hingga aku pun terus bertanya, “Mengapa ikan hidup di dalam air? Tidak bisakah kita juga hidup di dalam air?” Ibu menjawab bahwa ikan bernapas dengan mengambil oksigen dari air di sekitarnya dan manusia tidaklah bisa bernafas dalam air. Kemudian, aku bertanya tentang hal yang tampaknya tidak berkaitan, “Es terbuat dari apa?”.  “Es terbuat dari air, Matteo,” jawab ibuku. Dua hari kemudian, Pippo ditemukan dalam freezer kami.

Seperti kebanyakan bocah empat tahun, aku sering dikejutkan oleh hal-hal yang terjadi di sekitarku. Ketika aku mulai fasih berbicara, aku segera bertanya mengapa beberapa hal bisa terjadi. Kelakuanku ini sering mengganggu orang-orang dewasa. Ketika mereka bersedia menjawab pertanyaanku, penjelasan mereka membantuku memahami apa yang akan terjadi bahwa beberapa hal begitu berbeda. Terkadang, kesimpulanku begitu buruk—contohnya Pippo yang malang harus menanggung akibatnya. Namun begitu, kesalahan dan penjelasan bisa memandu penemuanku mengenai dunia. Artinya, aku mempraktikkan ilmu pengetahuan sebelum aku bersekolah dan aku pun menikmatinya.

Lantas seperti apakah “penjelasan yang bagus”? Bagaimanakah kita bisa menemukannya?

 

***

 

Secara tradisional, para filsuf ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan berkonsentrasi pada norma-norma yang mengatur praktik penjelasan para ilmuwan, lalu mengevaluasi norma-norma tersebut berdasarkan intuisi mereka pada sejumlah kasus yang melibatkan penjelasan yang terduga.

Dimulai dengan karya Carl Gustav Hempel—ahli filsafat keilmuan Jerman—pada 1960-an, para filsuf ilmu pengetahuan telah mengartikulasikan tiga model utama penjelasan. Menurut hukum Hempel, penjelasan adalah argumen yang menunjukkan bahwa apa yang sedang dijelaskan secara logis mengikuti beberapa hukum umum. Dengan model hukum yang berlaku, jika seseorang bertanya, “Mengapa tiang bendera tertentu menghasilkan bayangan yang panjangnya 10 meter?” Jawaban yang bagus harus menyebutkan hukum optik, ketinggian tiang bendera, dan sudut matahari di langit. Penjelasan semacam ini dianggap bagus karena menunjukkan “keadaan tertentu” dan “hukum dari pertanyaannya” untuk menjelaskan kejadian dari  fenomena yang terduga.

Pendekatan lainnya adalah dengan model “unifikasi” yang mengatakan bahwa penjelasan yang bagus memberikan laporan terpadu yang dapat diterapkan secara komprehensif untuk bermacam fenomena. Teori gravitasi Newton dan teori evolusi Darwin adalah penjelasan yang menawan karena mereka menikmati kekuatan kesatuan yang menakjuban. Teori-teori tersebut terus-menerus menggunakan beberapa prinsip dasar yang dapat menjelaskan banyak fenomena. Dengan demikian, teori-teori kesatuan bisa meminimalisir hal yang dikatakan oleh ahli biologi Thomas Huxley bahwa “yang fundamental tidak dapat dipahami” pada tahun 1896.

Model sebab-akibat yang mekanis mungkin menjadi model yang paling populer di kalangan filsuf. Model ini menyatakan bahwa penjelasan yang bagus mengungkapkan unsur-unsur yang terorganisir dan perbuatan yang membuat sesuatu terjadi. Karenanya, jika seseorang bertanya, “Mengapa jendela itu pecah?”,  maka jawaban yang bagus menyatakan, “Karena seseorang melemparkan batu ke arahnya.” Atau jika seseorang bertanya, “Bagaimana darah mencapai seluruh bagian tubuh?”, maka jawaban yang bagus semestinya mencakup informasi tentang jantung, pembuluh darah, sistem peredaran darah, dan fungsi-fungsinya.

Model-model seperti di atas menangkap banyak bentuk penjelasan yang bagus. Namun para filsuf tidak boleh berasumsi bahwa hanya ada satu model penjelasan yang benar. Keputusan jawaban harus dibuat berdasarkan model mana yang memberi kita penjelasan sebenar-benarnya. Sebab, banyak yang berasumsi bahwa “satu ukuran” model penjelas tunggal bisa cocok untuk segala bidang penyelidikan. Asumsi seperti ini menjelaskan bahwa para filsuf sering mengabaikan psikologi tentang penalaran penjelasan.

Memberi jawaban bagus untuk pertanyaan “mengapa” bukanlah sekadar abstraksi filosofis. Sebuah penjelasan harus memiliki fungsi kognitif tentang dunia nyata. Dengan begini, tentunya akan memajukan pembelajaran dan penemuan. Teori penjelasan yang bagus sangat penting sebagai kelancaran navigasi lingkungan. Dalam artian, penjelasan adalah tentang apa yang dikenal sebagai pola tutur; yang merupakan ucapan untuk melayani fungsi tertentu dalam komunikasi. Mengevaluasi orang yang berhasil melakukan aksi bertutur seperti ini harus mempertimbangkan psikologi tentang penalaran penjelasan dan sensitivitas konteksnya yang tidak kentara. Pekerjaan luar biasa dalam psikologi penjelasan menunjukkan bahwa hukum-hukum, kesatuan, dan mekanisme sebab-akibat memiliki tempat dalam psikologi manusia guna melacak konsep-konsep yang berbeda yang dipicu berdasarkan para pemirsanya, minat, latar belakang keyakinan, dan lingkungan sosial seseorang.

 

***

Hasil psikologi juga mengungkapkan kesamaan yang mencolok antara penalaran penjelasan anak-anak dan para ilmuwan. Anak-anak dan ilmuwan memandang dunia dengan berusaha menemukan pola, mencari pengingkaran yang mengejutkan terhadap pola-pola itu, dan berusaha memahaminya berdasarkan penjelasan dan pertimbangan yang memungkinkan. Praktik penjelasan anak-anak menawarkan wawasan unik mengenai sifat penjelasan yang bagus.

Model-model penjelasan harus diukur melalui data aktual tentang praktik penjelasan berdasarkan psikologi—juga ilmu sejarah dan sosiologi. Kesimpulan ini juga berlaku untuk topik-topik tradisional lainnya yang dipelajari oleh para filsuf ilmu pengetahuan; seperti tentang konfirmasi, perubahan teori, dan penemuan ilmiah; yang mana terlalu sering menjadi teori filosofis secara abstrak dan mengaburkan pondasi kognitif ilmu pengetahuan.

Pokok-pokok studi penjelasan yang empiris akan dengan jelas memberi tahu kita mengenai sesuatu yang penting tentang bagaimana orang menjelaskan, apa yang mereka anggap berharga dalam penjelasan, dan bagaimana praktik penjelasan berubah sepanjang hidup seseorang. Jika setiap anak adalah ilmuwan alami, maka para filsuf sains sebaiknya memperhatikan psikologi penjelasan, pertanyaan “mengapa” anak-anak secara khusus, dan penalaran penjelasan. Mereka akan mendapatkan pemahaman yang lebih bernuansa mengenai apa yang membuat penjelasan menjadi bagus.

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Anak kecil yang jarang bertanya.]

 


Artikel ini didapat dari Aeon.co. Kru kami menerjemahkannya demi pengayaan wawasan pembaca secara gratis. Kabarkan!


 

 

Kebodohan Pecandu Buku

Lukisan tentang pecandu buku karya Alireza Darvish—pelukis asal Iran yang bermukim di Jerman—untuk pembukaan pameran Ars Libri di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat pada 7 Oktober-29 November 2011.

*)Ditulis oleh Frank Furedi.  Sosiolog yang dulunya menjadi profesor sosiologi pada University of Kent di Kota Canterbury, Inggris. Dia menerbitkan banyak buku; yang terakhir ialah How Fear Works (2018).

Sabtu, 1 November 2014. Saya sedang mencari buku di Barnes & Noble, Fifth Avenue, Kota New York. Seketika, perhatian saya tertuju pada koleksi volume yang dibuat dengan indah. Saya melihat lebih dekat dan menyadari bahwa buku-buku ini adalah bagian dari kategori Leatherbound Classic. Seorang asisten toko memberi tahu saya bahwa sampel bagus semacam itu akan turut memperindah koleksi buku saya. Sejak pemberitahuan ini, saya diingatkan berkali-kali bahwa buku sangat penting sebagai simbol penyempurnaan budaya. Meskipun kita musti hidup di era digital, pemaknaan simbolis dari buku terus-menerus menikmati penilaian budaya. Itulah sebabnya, ketika saya melakukan wawancara televisi di rumah atau di kantor universitas saya, saya seringkali diminta untuk berdiri di depan rak buku saya dan berpura-pura membaca salah satu teks.

Sejak penemuan sistem aksara paku di Mesopotamia sekitar 3500 SM dan hieroglif di Mesir sekitar 3150 SM, pembaca teks yang serius telah menikmati aklamasi budaya. Papan tanah liat dengan tanda-tanda tertulis dianggap sebagai artefak yang berharga dan terkadang sakral. Kemampuan untuk menguraikan dan menafsirkan simbol dan tanda dipandang sebagai pencapaian yang luar biasa. Hieroglif Mesir dianggap memiliki kekuatan magis dan—hingga hari ini—banyak pembaca menganggap buku sebagai media untuk mendapatkan pengalaman spiritual. Semenjak teks memiliki begitu banyak makna simbolis, maka apa yang orang baca dan bagaimana mereka membaca—secara luas—dianggap sebagai fitur penting dari identitasnya. Membaca selalu menjadi penanda karakter. Itulah sebabnya, orang sepanjang sejarah telah menginvestasikan sumber daya budaya dan emosional yang cukup besar demi menumbuhkan identitas sebagai pecinta buku.

Di Mesopotamia kuno; dimana hanya ada sekelompok kecil juru tulis yang bisa menafsirkan papan-papan aksara paku, prestise yang luar biasa diperoleh para penafsir tanda ini. Pada titik inilah, kita mempunyai satu petunjuk paling awal tentang kekuatan simbolis dan hak istimewa yang dinikmati oleh pembaca. Sebagai pembaca yang pecemburu, para ahli baca-tulis yang ambisius melindungi otoritas budaya mereka dengan membatasi akses ke pengetahuan magisnya.

Pada abad ke-7 SM, ketika penulisan Kitab Ulangan Perjanjian Lama disokong Raja Yosia di Yerusalem, pancang tinggi dipasang untuk pemujaan buku itu. Yosia menggunakan gulungan yang ditulis oleh para deteronomisnya untuk memperkuat perjanjian antara orang-orang Yahudi dan Tuhannya—dan, hal ini menginspirasi tindakan strategi politik untuk mengabsahkan warisannya atas klaim tanah itu.

Era Kekaisaran Romawi—yang dimulai pada abad ke-2 SM, buku-buku seperti diturunkan dari surga ke bumi; yang mana buku-buku tersebut berfungsi sebagai barang mewah untuk membuat pemilik kaya mereka memperoleh gengsi kebudayaan. Seneca, filsuf Romawi yang hidup pada abad pertama Masehi, menyatakan sarkasme pada pemujaan tampilan teks yang dimegah-megahkan. Ia mengeluhkan bahwa banyak orang tanpa pendidikan sekolah tidak menggunakan buku-buku sebagai alat belajar melainkan sebagai dekorasi ruang makan. Kepada kolektor gulungan yang flamboyan, ia menuliskan, “Anda dapat melihat karya lengkap orator dan sejarawan di rak hingga langit-langit karena perpustakaan telah menjadi seperti kamar mandi; menjadi ornamen penting dari rumah kaya.”

Permusuhan Seneca terhadap kolektor buku yang sok pamer mungkin dipengaruhi oleh kerisihannya terhadap mania membaca yang tampaknya menimpa publik di awal periode Kekaisaran Romawi. Periode ini menampakkan munculnya pengkajian bacaan (resitasi) di muka umum. Pembacaan di muka umum ini melibatkan sastra dari para penulis dan penyair yang dianggap layak sebagai peluang promosi diri oleh banyak warga kaya. Seneca memandang pertunjukan-pertunjukan kesombongan sastra yang vulgar ini secara jijik—dan dia pun tak sendirian.

Pembacaan yang dilakukan orang-orang penting nan sia-sia di Roma dan wilayah Kekaisaran lainnya menjadi target humor sarkastik. Banyak penulis-satiris Romawi terkemuka; seperti Horace (65-8 SM), Petronius (27-66 M), hingga Persius (34-62 M) dan Juvenal (55/60-127 M), mengarahkan humor cerdas mereka kepada  kemewahan resitasi.

Menurut satiris Romawi; Martial, toilet umum pun tidak membatasi para pembaca di muka publik yang begitu mengganggu. Lewat suatu epigram sarkastiknya, ia menulis:

 

Anda membaca untuk saya ketika saya berdiri,

Anda membaca untuk saya ketika saya duduk,

Anda membaca untuk saya ketika saya berlari,

Anda membaca untuk saya ketika saya beromong kosong.

 

Saya lari ke kamar mandi;

Anda menghujami telingaku.

Saya menuju kolam renang,

Anda tidak akan membiarkan saya berenang.

Saya bergegas untuk makan malam,

Anda menghentikan saya di perjalanan.

Saat saya makan,

kata-kata Anda membuat saya muntah.

 

Para satiris yang mengolok-olok resitasi memahami bahwa reputasi dari bacaan yang disempurnakan adalah mewakili sumber modal budaya yang penting. Kecerdasan tajam yang mereka arahkan pada target mereka dapat dilihat sebagai bentuk kebijakan sastra. Ejekan yang dilakukan Petronius kepada Eumolpus sebagai “penggila puisi yang membosankan” di Satyrica juga dapat dibaca sebagai contoh pembijakan selera. Bukan karena apa-apa, Petronius pun dianggap oleh orang-orang sezamannya sebagai wasit elegantiarum atau seorang hakim keanggunan pada Istana Romawi di bawah Kaisar Nero.

 

***

 

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-5, orang-orang Eropa yang memiliki kekayaan materi—tapi tidak memiliki keanggunan dan kemutakhiran dari kemuliaan superioritas sosial mereka—menciptakan perpustakaan pribadi untuk mendapat perbaikan reputasi. Memang, bagi banyak orang, kepemilikan perpustakaan yang lengkap merupakan tujuan tersendiri. Hampir 1000 tahun kemudian, dengan munculnya Renaisans dan kebangkitan kancah perniagaan; kepemilikan buku menjadi meluas dan lebih banyak orang lagi yang melakukakn kebiasaan membaca sehingga perbedaan budaya yang dianugerahkan berdasarkan kebiasaan membaca menjadi pudar. Geoffrey Chaucer, dalam puisinya “The Legend of Good Women” yang ditulis tahun 1380-an, mencontohkan tren ini dengan menyatakan bahwa dirinya memegang buku-buku “dengan kondisi  terhormat”.

Pada abad ke-14 dan 15, para pembaca yang mewah dan sombong muncul dengan kekuatan penuh. Esai  bertajuk “Philobiblon” yang ditulis Richard de Bury pada tahun 1345 tetapi diterbitkan tahun 1473, dikatakan sebagai “risalah berbahasa Inggris paling awal tentang kelezatan literatur”. Tetapi, “Philobiblon” mengatakan sedikit tentang pengalaman aktual De Bury dalam membaca. Dia adalah seorang fetisis buku klasik yang minat sebenarnya adalah mengumpulkan buku daripada belajar.

William de Chambre; penulis biografi De Bury, menyatakan bahwa buku mengelilingi Bury di semua tempat tinggalnya. Ia menulis bahwa “begitu banyak buku terbentang di kamar tidurnya sehingga hampir tidak mungkin untuk berdiri atau bergerak tanpa menginjaknya.” De Bury tentunya telah mengantisipasi jika keserakahan hasratnya untuk mengumpulkan buku dapat menjadi sasaran kritik dan sarkasme. Makanya, ia secara eksplisit membela diri dari tuduhan berlebihan melalui prolog  “Philobiblon” yang menyatakan bahwa “cinta ekstatif”-nya terhadap buku membuatnya bisa meninggalkan “semua pikiran tentang hal-hal duniawi lainnya”. Dia menulis “Philobiblon” supaya generasi berikutnya memahami maksudnya dan “untuk selamanya menghentikan gosip yang menyimpang”. Dia berharap kisah tentang hasratnya itu akan “membersihkan cinta yang kita miliki untuk buku-buku dari tuduhan yang berlebihan”.

 

***

 

Seniman potret tergoda oleh spiritualitas buku dan properti intelektual dan terus merangkulnya sebagai alat artistik yang penting.

 

Sebastian Brant; teolog humanis Jerman, samasekali tidak bisa menerima pernyataan di atas. Dalam satirnya; “Ship of Fools” (1494), ia menggambarkan 112 jenis orang bodoh. Dan, orang pertama yang naik kapal adalah “pecandu buku yang bodoh” yang mengumpulkan buku-buku dan membacanya untuk memperoleh pengaruh. Brant mengatakannya:

 

Pada kapal ini, sayalah yang nomor satu.

Demi alasan khusus untuk dilakukan;

sayalah yang pertama di sini yang Anda lihat

 

Karena saya suka perpustakaan saya

dari buku-buku yang tak kunjung habis saya punya;

tetapi sedikit yang bisa saya pahami.

Saya menghargai buku-buku dari berbagai zaman

dan menjaga  halamannya dari ngengat.

 

Di mana seni dan sains diakui?

Saya katakan: di rumah saya yang paling bahagia.

Saya tidak pernah menjadi lebih puas

dibandingkan saat buku-buku saya berada di sisi saya.

 

 

Karya satir Brant menjadi buku terlaris dan dengan cepat diterjemahkan dari bahasa Jerman menjadi bahasa Latin, Perancis, dan Inggris. Tetapi sebaliknya, para pecinta buku yang bodoh tetap tak bisa dihalangi. Pada abad ke-16, idealisasi sekuler “cinta membaca” telah benar-benar terjadi. Membaca dianggap sebagai media penemuan diri dan mendapatkan wawasan spiritual tentang jalan duniawi.

Simbolisasi membaca mungkin lebih masif dari tindakan membaca itu sendiri. Orang-orang berusaha menangkap pengabdian mereka terhadap buku melalui potret terlukis yang menggambarkan mereka sangat asyik membaca teks. Dalam kancah seni Renaissance, lukisan orang-orang yang membaca dan potret individu yang merangkul buku tersebar begitu luas. Manuskrip-manuskrip era ini “bukan hanya dibanjiri dengan gambar buku tetapi juga dengan orang-orang yang membaca buku-buku itu”—seperti yang ditulis Laura Amtower dalam “Engaging Words: The Culture of Reading di In The Middle Ages” (2000).

Selama berabad-abad berikutnya, seniman potret yang tergoda oleh sifat spiritual dan intelektual buku  terus menganut hal demikian sebagai penyangga artistik yang penting. Penyair humanis Dante selalu dilukiskan sedang membaca. Sebuah lukisan karya Agnolo Bronzino—seniman abad ke-16—yang berjudul “Allegorical Portrait of Dante” menggambarkan si penyair memegang sebuah edisi “Paradiso” yang sangat besar. Lukisan itu menggambarkan tentang buku seperti halnya tentang Dante. Menyaksikan performa membaca Dante adalah mengingatkan pemirsanya tentang status orang ini sebagai orang yang berprestasi secara budaya dan maju secara spiritual.

 

 ***

 

Kaum intelektual berusaha keras memperkuat status superiornya melalui ekspansi membaca pada abad ke-18 di kalangan masyarakat; dengan cara menekankan perbedaan antara dirinya dan orang yang kurang membaca. Sekarang ini, kritikus sastra telah menggantikan satiris Romawi. Mereka memuji pembaca berprestasi sebagai “orang-orang literer” sementara lawan-lawan moralnya  dikarakterisasi sebagai “tidak melek aksara”.

“Membaca bukanlah suatu kebajikan. Tetapi membaca dengan baik adalah seni. Dan, seorang pembaca terlahir melalui perolehan seninya,” begitulah yang ditulis oleh novelis Edith Wharton yang  ditegaskan dalam esai “The Vice of Reading” (1903). Wharton menulis bahwa, “pembaca mekanis tidak mempunyai ‘bakat bawaan’ , ‘bakat membaca’, dan tidak akan pernah bisa memperoleh seni.

Membaca telah diangkat menjadi sebentuk seni pada abad ke-20 melalui cara “menggambar garis di atas pasir”/memberi batasan  oleh para intelektual. Di satu sisi, ada yang disebut “pembaca pura-pura” dan ada yang dianggap “elit” di sisi lain. Bahkan novelis Virginia Woolf pun turut menimpalinya. Dalam esainya “The Common Reader” (1925), ia menggambarkan bahwa rata-rata pembaca adalah seorang yang “kurang berpendidikan” daripada seorang kritikus. Seorang individu yang “secara alami tidak berbakat” akan begitu murah hati sebagai mitra berbakat. Menurut Woolf, pembaca biasa cenderung terburu-buru, tidak akurat, dangkal, dan tentu saja kekurangannya terlalu jelas untuk dikritik. Perspektif ini begitu stagnan karena terus mengklasifikasikan dan menilai para pembaca hingga hari ini. Melalui “The Pleasures of Reading” (2011), kritikus sastra Alan Jacobs berani membedakan antara “pembaca yang dibanggakan” dan “orang-orang rendahan yang membaca”.

Faktanya, tindakan tersebut menjadi sangat bergengsi. Sehingga, seorang anak yang membaca akan menandakan kompetensi orang tuanya—atau setidaknya menjadi superioritas moral dan budaya paling baik. Orang tua yang membaca untuk anaknya di ruang publik; sebenarnya sedang membuat deklarasi kepada dunia bahwa kegiatan bernilai tinggi yang kini dilakukan para ibu dan ayah adalah mencurahkan banyak waktu dan sumber daya untuk mendorong anak-anaknya bisa merengkuh buku secara fisik. Tak jarang, seorang balita pun terlihat duduk sambil memegang dan melihat buku kecil pada kursi anak-anak dalam mobil.

 

***

 

Secara kontras, seorang wanita abad ke-18 yang membaca buku dan seorang remaja yang menatap smartphone-nya adalah penggambarkan berbagai cara kita membangun identitas melalui membaca.

 

Sesegera mungkin, balita abad ke-21 ini akan meninggalkan kenampakannya membaca buku secara gamblang di muka umum dan mengadopsi kebiasaan memeriksa smartphone mereka secara teratur. Jika Seneca atau Martial ada sekitar hari ini, mungkin mereka akan menulis epigram sarkastik tentang “pameran membaca pesan teks dan tampilan teks di hadapan Anda”. Pembacaan digital selayaknya membaca gulungan kuno adalah pernyataan penting tentang siapa kita. Seperti para pembaca karya Martial di hadapan publik Roma; para pembaca yang keranjingan pesan teks dan media sosial lainnya ada di mana-mana. Meskipun dalam kedua kasus ini, para pembaca tanpa lelah membangun citra dirinya, namun identitas yang mereka bangun sangatlah berbeda. Orang-orang muda yang duduk di bar sambil memeriksa pesan pada ponselnya sedang tidak menyatakan status kesastraan mereka yang beradab. Mereka menandakan bahwa dirinya sedang berkoneksi dan—yang paling penting—menunjukkan bahwa mereka selalu ada perhatian.

Dengan kebangkitan teknologi digital, kinerja membaca menjadi berubah. Kontras antara seorang wanita yang asyik membaca buku dalam potret abad ke-18 dan seorang remaja yang secara sadar menatap smartphone-nya menggambarkan berbagai cara individu membangun identitas mereka melalui membaca. Saat ini, konsumen teks digital yang canggih bersaing dengan pembaca buku fisik dalam memperoleh pengakuan kultural. Akan tetapi, kinerja membaca mana yang paling dihargai?

Bagi mereka yang berhasrat mengumumkan kecerdasannya kepada dunia, pilihannya sudah jelas: teks digital tak berfungsi sebagai penanda perbedaan budaya. Mungkin itulah sebabnya, meskipun penggunaan tablet meluas, penjualan buku kertas meningkat baru-baru ini. Tidak seperti buku, tablet tidak menawarkan media untuk menunjukkan selera dan seni. Itulah sebabnya, dekorator interior menggunakan rak-rak buku untuk menciptakan kesan elegan dan beradab di dalam ruangan.

Secara aktif, bisnis mempromosikan penampilan mutakhir dengan cara menawarkan perpustakaan buatan yang sudah jadi kepada konsumen yang tertarik untuk mendapatkan tampilan sesuai selera. Suatu perusahaan online; Books By The Foot, menawarkan untuk membuat perpustakaan yang cocok dengan kepribadian dan ruang konsumen. Perusahaan ini menjanjikan untuk menyediakan buku-buku berdasarkan warna, penjilidan, subyek, ukuran, tinggi, dan lainnya; demi membuat koleksi yang terlihat megah. Bisnis online yang menjual perpustakaan khusus menunjukkan bahwa rak buku melambangkan kebudayaan yang tinggi—sekalipun di era digital.

Nyatanya, kebodohan para pecandu buku masih ada bersama kita. Tapi untungnya, masih banyak pembaca yang tidak hanya tertarik pada penampilan. Mereka masih meleburkan dirinya ke dalam teks dan benar-benar jatuh cinta dengan cerita-cerita yang mereka baca. Terlepas dari mediumnya, yang penting adalah aspirasi yang sangat manusiawi untuk mengambil bagian dalam perjalanan ini. Ini bukan soal performa dan kenampakan yang benar-benar penting. Melainkan tentang pengalaman perjalanan menuju hal yang tidak diketahui.

 

20 Oktober 2016

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Penghindar ulung dari pergaulan poseur literatur.]

 


Esai ini diambil dari Aen.co dengan judul Bookish Fools


 

Kenapa Keimutan Menguasai Dunia Kita?

*)Ditulis oleh Simon May. Profesor tamu bidang filsafat pada King’s College, London. Ia menulis buku A New Understanding of An Ancient Emotion dan The Power of Cute pada 2019 ini. Karya-karyanya telah diterjemahkan dalam banyak bahasa.

Dalam keadaan tak pasti dan sulit seperti sekarang ini; dengan begitu banyak ketidakadilan, kebencian, dan intoleransi mengancam dunia, bukankah kita memiliki hal-hal yang lebih serius untuk diperhatikan daripada petualangan sesosok kucing perempuan macam Hello Kitty? Sementara Pokémon; waralaba video game yang kembali memanas pada tahun 2019 dengan rilis utamanya film “Detective Pikachu” untuk kawasan Amerika Serikat dan Inggris, trailer YouTube-nya mencatat lebih dari 65 juta hit dan makin terus bertambah. Lalu, mengapa penggunaan emoji (emoticon) begitu menjamur? Kenapa pula logo-logo imut yang menghiasi produk tak terhitung jumlahnya; mulai dari komputer dan telepon, hingga senjata dan makanan, bahkan dari mainan dan kalender anak-anak hingga kondom dan lensa kontak?

Paling jelasnya, kegemaran akan semua hal yang imut dimotivasi oleh keinginan untuk melarikan diri ke “taman keluguan” dari dunia yang begitu mengancam. Dalam pelarian itu, kualitas kekanak-kanakkan membangkitkan perasaan protektif yang nikmat, memberikan kepuasan, dan sebagai pelipur lara. Isyarat keimutan terdiri atas perilaku yang tampak tidak berdaya, tidak berbahaya, menawan, dan pasrah. Secara  anatomi fisik, hal tersebut digambarkan seperti kepala berukuran besar, dahi menonjol, mata seperti piring, dagu yang mundur, dan gaya berjalan yang kikuk.

Barangkali, seperti yang disarankan Konrad Lorenz—cendekiawan Austria yang mengamati perilaku hewan—pada tahun 1943, respon kita terhadap isyarat-isyarat tersebut berkembang untuk memotivasi kita dalam memberikan perawatan dan pendidikan yang melimpah kepada keturunan kita sesuai kebutuhan mereka untuk memperoleh kesejahteraan. Menurut Lorenz, saat kita menemukan isyarat visual tersebut secara berlebihan dan dikaitkan dengan unsur-unsur pada hewan, kita dapat membangkitkan pengasuhan yang sama-sama intens atau bahkan mungkin lebih intens. Sama halnya, ketika kita menemukannya pada burung dan anak anjing, dan bahkan dalam model tiruan seperti boneka dan teddy bears.

Psikolog sosial di Universitas Virginia; Gary Sherman dan Jonathan Haidt, bertindak lebih jauh dengan menganggap respon atas keimutan sebagai “emosi moral” yang luar biasa; sebagai pelepas langsung sosialitas manusia yang merangsang kita untuk memperluas lingkar perhatian altruistik kita ke ruang sosial yang lebih luas.

Tetapi, jika keimutan hanyalah tentang pesona, hal yang tidak bersalah, dan sesuatu yang tidak mengancam, juga, apabila ketertarikan kita terhadapnya hanyalah dimotivasi oleh naluri pelindung atau eksplorasi kekanak-kanakkan dan sebagai pengalih perhatian yang menenteramkan dari kecemasan dunia saat ini; hal itu tentunya tidak akan ada di mana-mana.

Kualitas-kualitas seperti itu hanya berbicara tentang apa yang kita katakan “manis” dari keseluruhan spektrum keimutan. Ketika kita bergerak menuju titik penghabisan yang aneh, hal-hal yang dirasa manis terdistorsi menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih tak menentu, dan lebih terluka—sesuatu yang seperti serial “Balloon Dog” karya Jeff Koons (1994-2000). Karya itu tampak kuat (terbuat dari stainless steel) dan tidak berdaya (hampa; tidak berwajah, tanpa mulut atau mata); yang diwujudkan dalam raksasa yang tampak rentan, akrab namun juga asing, secara meyakinkan tampak tidak berdosa sekaligus tidak aman, cacat, dan penuh arti. Kedua hal berlawanan tersebut menyamankan kita dalam dunia ketidakpastian yang mengerikan dan memberikan aspirasi ke dunia yang sama—tetapi yang terpenting, melalui catatan yang lebih riang.

Subversi yang samar-samar melanggar batas semacam ini—yang menunjukkan antara yang rapuh dan tangguh, yang meyakinkan dan yang meresahkan, yang tidak bersalah dan yang berpengetahuan—akan menjadi pusat perhatian yang luar biasa ketika disajikan menjadi idiom yang menyindir dan keimutan yang ngawur.

 

***

Imut adalah ekspresi menggoda dari ketidakjelasan, ketidakpastian, ketidakteraturan dan perubahan yang terus-menerus atau menjadi semacam pendeteksi segala jantungkeberadaan pada era kita; mengetahui antara yang hidup dan tidak hidup. Melalui contoh gaya dan obyek yang terus berubah, keimutan tidak ada artinya jika tidak bersifat sementara dan tidak memiliki klaim apapun demi signifikansi yang bertahan lama. Selebihnya, keimutan mengeksploitasi cara ketidakpastian yang ketika ditekan ke luar titik tertentu akan menjadi ancaman. Kenyataannya, keimutan mampu memperdaya kita justru karena hal itu dilakukan secara sepele, menawan, dan tanpa gangguan.

Keimutan mengungkapkan intuisi bahwa kehidupan tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak ada keberadaan/eksistensi yang stabil—seperti yang diutarakan oleh filsuf Martin Heidegger; bahwa satu-satunya landasan kehidupan terletak pada penerimaan ketidakbatasannya. Dan itu sering terjadi pada suatu hal; seperti “kecerdasan dan kelebihan” diekspresikan dengan cara  “melemahkan yang serius” atau tentang kegagalan dalam keseriusan—seperti yang diungkapkan oleh kritikus budaya Susan Sontag dalam kaitannya dengan  istilah “camp”.

Ketidakpastian (sebagaimana kita dapat menyebutnya) yang meresapi keimutan ini adalah pengikisan batas antara apa yang dulu dipandang sebagai bidang terputus atau sesuatu yang berbeda; seperti batas antara masa kanak-kanak dan dewasa. Erosi tersebut juga tercermin pada gender yang kabur dari banyak obyek keimutan seperti Balloon Dog atau jenis-jenis Pokémon. Hal ini juga tercermin lagi dalam perpaduan antara bentuk manusia dan bukan manusia yang sering terjadi; contohnya seperti sosok gadis kucing Hello Kitty. Dan, sosok imutnya mereka seringkali tidak dapat untuk mendefinisikan usia. Karena meskipun obyek-obyek imut mungkin tampak seperti anak kecil, namun bisa sangat sulit untuk mengatakan apakah mereka berusia muda atau tua—sama halnya seperti sosok alien dalam serial “E.T.”. Atau kadang-kadang, malah tampak seperti dalam dua hal sekaligus (muda & tua)—seperti saat manusia menggambarkan sosok alien dalam serial tersebut.

Dengan cara seperti itu, keimutan disesuaikan dengan era yang tidak lagi terikat pada dikotomi keramat seperti “maskulin dan feminin”, “seksual dan nonseksual”, “dewasa dan anak-anak”, “yang ada dan yang menjadi”, “sementara dan abadi”, “tubuh dan jiwa”, “absolut dan kontingen”, dan bahkan “baik dan buruk” . Inilah dikotomi-dikotomi yang saat dulu  bisa turut menyusun hal ideal tetapi sekarang dianggap lebih cair atau menjadi keropos.

Terlebih lagi, rasa imut merupakan kepekaan yang tidak sesuai dengan kultus modern tentang ketulusan dan keaslian; yang berasal dari abad ke-18 dan mengasumsikan bahwa masing-masing dari kita memiliki “batin” yang otentik; atau setidaknya, seperangkat keyakinan, perasaan, dorongan, dan selera yang secara unik mengidentifikasi bahwa kita dapat dengan jelas memahami dan mengetahui sesuatu untuk diungkapkan secara jujur. Keimutan tidak bisa untuk menunjukkan kondisi batin. Paling tidak, dalam bentuk-bentuknya yang lebih aneh, keimutan menjauh sepenuhnya dari keyakinan kita yang sudah ada—yang dapat kita ketahui dan kendalikan ketika kita bersikap tulus dan otentik.

Meskipun ketertarikan pada obyek-obyek imut seperti Hello Kitty yang tanpa mulut dan tanpa jari dapat mengekspresikan hasrat akan kekuasaan, keimutan juga dapat memarodikan dan menumbangkan kekuatan dengan cara memainkan perasaan pemirsanya tentang kekuatannya sendiri; dengan cara ini, obyek imut membuat  kita melukisnya menjadi pose dominan, menabur ketidakpastian mengenai siapa yang benar-benar bertanggungjawab, membuat kita sadar bahwa penyerahan diri si imut itu sebenarnya adalah cara untuk menjebak kita, lalu menuntut perawatan atau perlindungan dari kita.

Dengan  alasan seperti ini, keimutan adalah salah satu cara—yang mungkin sangat sepele & sangat tentatif —untuk mengeksplorasi apakah dan bagaimana paradigma kekuasaan dapat keluar. Memang, ini mungkin menjelaskan mengapa keimutan telah menyerbu budaya populer di bagian-bagian dunia— terutama Amerika Serikat, Eropa dan seluruh Jepang—yang sejak Perang Dunia Kedua telah mundur perlahan-lahan untuk mengurangi peran kekuasaan dalam menentukan struktur hubungan manusia dan yang paling kentara ialah dalam hubungan internasional.

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Nggak sok unyu tapi bisa unyu.]

 

 


Artikel ini merupakan bagian dari buku The Power of Cute karya Simon May yang diterbitkan tahun 2019 ini dan dimuat pada Aeon.co. Buku tersebut diterbitkan oleh Princenton University Press.


 

Akankah Ekologi Menjadi Ilmu yang Suram?

Poster karya María Castelló Solbes untuk agenda Interactivo’18.

*)Penulis Murray Bookchin. Pelopor ilmu ekologi sosial dan penggagas demokrasi munisipalisme-libertarian. Pendiri Institute for Social Ecology di Vermont, Amerika Serikat pada 1974.

Hampir satu setengah abad lalu, Thomas Carlyle—filsuf Skotlandia era Victoria—menggambarkan ekonomi sebagai “ilmu yang suram”. Pernyataan tersebut menjadi kokoh; terutama saat diterapkan pada ekonomi yang didasarkan pada konflik—yang tak dapat dihindari—antara “kebutuhan yang tak terpuaskan” dan “sumber daya alam yang langka”. Dalam ilmu ekonomi ini, manusia menganggap bahwa “ketersediaan karunia yang terbatas” yang dikelola secara “kikir”  adalah penyebab manusia mengalami kemerosotan ekonomi, kesengsaraan, perselisihan sipil, dan kelaparan.

Sekarang ini, istilah “ilmu yang suram” tepatnya menggambarkan tren tertentu dalam gerakan ekologi. Tren tersebut tampaknya naik seiring adanya gelombang besar kebangkitan religiusitas dan mistisisme. Saya tidak mengaitkan tren suram ini kepada sebagian besar pecinta lingkungan yang bermotivasi tinggi, beritikad baik, dan yang seringkali radikal dengan berusaha sungguh-sungguh mengetahui krisis ekologi. Akan tetapi, tren tersebut lebih cocok dituduhkan kepada kecenderungan eksotis yang mendukung mazhab ekologi dalam, biosentrisme, kesadaran Gaian (aliran pemuja dewi bumi), dan eko-teologi. Apalagi tren tersebut secara serentak mengutip kultus-kultus utama yang merayakan penghormatan semu-religius kepada alam dengan cara sering memfitnah keberadaan manusia beserta sifat-sifatnya.

Para ekolog mistik—seperti banyak dari revivalis religius saat ini—memandang nalar secara curiga dan menekankan pentingnya pendekatan irasional dan intuitif terhadap permasalahan ekologi. Pendeta Thomas Berry; yang dianggap sebagai ahli ekologi terkemuka oleh banyak orang di zaman kita, mengungkapkan, “Proses sangat rasional yang kita junjung tinggi sebagai satu-satunya cara yang benar untuk memahami adalah menggunakan suatu ironi tertentu yang ditemukan melalui pengalaman  mengiimajinasikan mimpi secara mistis. Kesulitan zaman kita ialah ketidakmampuan kita untuk bangkit dari patologi budaya semacam ini.”

Seseorang tidak harus menjadi anggota klerus/golongan rohaniawan untuk mengutarakan gagasan atavistik (menurun dan berulang-ulang) tersebut. Melalui gagasan lebih sekuler, Bill Devall (profesor sosiologi) & George Sessions (profesor filsafat) menulis “Deep Ecology”—yang diterbitkan tahun 1985—sebagai salah satu buku yang paling banyak dibaca oleh penganut ekologi mistik. Buku tersebut menawarkan pesan realisasi diri melalui pencelupan  diri pribadi ke dalam “Diri Kosmik” yang kabur atau sebagaimana mereka katakan sebagai “diri dalam diri” yang mana maksudnya ialah  “Diri” diartikan sebagai “keutuhan organik”.

Bahasa yang terdapat pada buku “Deep Ecology” jelas-jelas merupakan bahasa penyelamatan. Seperti dalam kutipan “Proses membuka diri secara utuh ini juga dapat diringkas dalam frasa ‘Tiada satu pun yang diselamatkan sampai kita semua diselamatkan’ di mana frasa ‘satu’ tidak hanya mencakup diri saya sebagai seorang individu; tetapi semua manusia, paus, beruang grizzly, ekosistem hutan hujan, gunung dan sungai, mikroba terkecil di tanah, dan sebagainya.”

Seruan hortatory (persuasif) ini menimbulkan beberapa masalah yang sangat membingungkan. Ungkapan “dan sebagainya” justru mengabaikan kebutuhan untuk berurusan dengan mikroba patogen, hewan pembawa  penyakit mematikan, gempa bumi, dan topan—sebagai kutipan makhluk dan fenomena yang dianggap kurang memuaskan secara estetika dibandingkan dengan paus, beruang grizzly, serigala, dan gunung. Pandangan selektif tentang ketersediaan biotik dan fisiografi dari “Alam Pertiwi” ini telah menimbulkan beberapa masalah besar bagi pesan ekologi mistik tentang keselamatan universal.

Para ahli ekologi mistik cenderung menurunkan permasalahan sosial dengan menyederhanakan permasalahan manusia (subyek yang umumnya tidak disukai oleh mereka) menjadi persoalan tingkat “spesies”—atau sekadar ke masalah genetika. Pendeta Berry mengatakan bahwa umat manusia harus “diciptakan kembali pada tingkat spesies” melalui “pengkodean budaya ke genetik kita demi memperoleh petunjuk”. Retorika yang menyesuaikan bagian dari “The Dream of The Earth” (buku karangan Thomas Berry yang terbit tahun 1988) ini cenderung mythopoeic (bergenre mitos fiksional); karena menjelaskan “kode genetik kita” mengikat kita dengan “dimensi yang lebih besar dari alam semesta”. Atau maksudnya, alam semesta “membawa misteri mendalam dari keberadaan kita di dalam dirinya sendiri”. Dari nasihat-nasihatnya ini, Berry menikmati popularitas besar pada akhir-akhir ini. Pernyataan-pernyataannya juga telah dikutip melalui beberapa persetujuan. Bahkan pernyataan itu dipakai dalam literatur lingkungan konvensional—yang tidak membicarakan tentang keanekaragaman mistik.

Penginjilan kosmologis seperti itu memakai pernyataan ekologis untuk mencela kemanusiaan. Ketika manusia dijalin ke dalam “jaring kehidupan” sebagai suatu spesies yang tidak lebih dari spesies “Alam Pertiwi” lainnya—yang tak terhitung jumlahnya, maka manusia kehilangan tempat uniknya dalam evolusi alam sebagai makhluk rasional dengan kualitas potensial yang tak tertandingi; seperti dianugerahi dengan sifat sosial yang mendalam, kreativitas, dan kapasitas untuk berfungsi sebagai agen moral.

Konsep “antroposentrisitas” sebagai gagasan semu-teologis yang memandang bahwa dunia ada untuk digunakan manusia, diejek oleh para ahli ekologi mistik yang mendukung konsep yang sama-sama bersifat semu-teologis tentang “biosentrisitas” atau gagasan yang menyatakan bahwa semua bentuk kehidupan secara moral dapat saling dipertukarkan satu sama lainnya melalui “nilai-nilai intrinsik” mereka di dunia. John Seed dan Joanna Macy; dua ahli ekologi mistik, melalui meditasi ala Gaia mereka yang agung, memerintahkan manusia fana untuk memikirkan tentang kematian berikutnya. “Apakah daging dan tulangmu akan kembali ke dalam siklus kehidupan? Pasrahlah. Cintailah cacing montokmu—yang akan menggerogotimu—nanti. Sucikanlah lelah melalui air mancur kehidupan,” ujar mereka. Di wilayah Sunbelt Amerika yang terlalu dipanggang kemistikan, omong-kosong semacam itu sering diturunkan menjadi slogan-slogan stiker pada bumper atau ditunjukkan melalui pelafalan puitis di berbagai asrama di kota-kota besar dan kota-kota kecilnya kaum Anglo-Amerika.

Secara keseluruhan, penyederhanaan krisis ekologi berdasarkan sumber biologis dan psikologis telah sama saja menghasilkan “perbaikan” yang sempit—sama halnya melihat kesuraman ekonomi pada masa lalu sebagai keoptimisan. Bagi banyak—mungkin sebagian besar—ahli ekologi mistik, resep standar untuk “masa depan berkelanjutan” adalah dengan melibatkan gaya hidup berhemat secara kejam. Pada dasarnya, kedisiplinan yang lugu  ditandai oleh kesederhanaan pola makan, kerja keras, penggunaan sumber daya alam hanya untuk bertahan hidup, dan kepercayaan teisme primitif—yang inspirasinya bersumber dari spiritualitas era Pleistosen atau Neolitik dibandingkan menggunakan ilham dari rasionalitas Renaisans (Zaman Pencerahan).

Ekologi mistik menyempitkan pemahaman makna antara “rasionalitas” dan “spiritualitas” secara ekologis dan hal tersebut selalu diadu satu sama lain layaknya malaikat dan setan. Biasanya, para mistikus menganggap teknologi, sains, dan nalar sebagai sumber dasar krisis ekologi dan berpendapat bahwa hal-hal ini harus diatasi atau bahkan diganti dengan kerja keras, ramalan, dan intuisi. Yang lebih meresahkan lagi, yaitu banyak ahli ekologi mistik adalah penganut neo-Malthusian; yang menganut unsur-unsur kekejaman dengan menganggap kelaparan dan penyakit sebagai hal yang perlu dan bahkan diinginkan untuk mengurangi populasi manusia.

Masa depan suram yang ditimbulkan oleh ahli ekologi mistik samasekali bukan karakteristik dari visi yang diproyeksikan oleh gerakan ekologi satu generasi lalu. Sebaliknya, para ahli ekologi radikal tahun 1960-an merayakan prospek kehidupan yang memuaskan, terbebas dari rasa tidak aman material, kerja keras, dan penyangkalan diri terhadap hal yang dihasilkan oleh pasar dan kapitalisme birokratik.

Visi utopis ini—yang paling dimajukan oleh ekologi sosial pada tahun 1964 dan 1965, bukanlah sesuatu yang antiteknologi, antirasional, atau anti-ilmiah. Untuk pertama kalinya dalam gerakan ekologi, hal ini mengungkapkan tentang prospek munculnya tatanan sosial baru, hal-hal teknologis, dan pembebasan spiritual. Ekologi sosial menyatakan bahwa gagasan untuk mendominasi alam berasal dari dominasi manusia oleh manusia—yang tidak hanya dalam bentuk eksploitasi kelas melainkan juga dominasi hierarkis. Pandangan ekologi sosial ini tidak seperti teknologi, alasan, atau sains dari kapitalisme yang menghasilkan ekonomi dengan secara sistematis anti-ekologis. Dipandu oleh pepatah pasar yang kompetitif tentang “tumbuh atau mati”, kapitalisme benar-benar akan melahap biosfer, mengubah hutan menjadi kayu, dan tanah menjadi pasir.

Oleh karena itu, kunci untuk menyelesaikan krisis ekologi bukan hanya perubahan dalam spiritualitas dan bukan melalui kemunduran menjadi religiusitas era pra-sejarah. Akan tetapi, juga melalui perubahan besar dalam masyarakat. Ekologi sosial menawarkan visi masyarakat komunitarian non-hierarkis yang akan didasarkan pada komunitas konfederal melalui cara demokrasi langsung dengan teknologi yang terstruktur di sekitar matahari, angin, dan sumber energi terbarukan; seperti budidaya makanan dengan metode organik & penggunaan gabungan antara kerajinan dan mesin—yang sangat fleksibel, otomatis, dan canggih—untuk mengurangi kerja keras manusia sehingga orang-orang menjadi bebas untuk mengembangkan diri mereka sebagai citizen yang sepenuhnya infomatif dan kreatif.

Hilangnya utopia gerakan tahun 1960-an ke dalam era reaksioner tahun 1970-an membuat kemunduran hebat karena jutaan orang menganut spiritualitas kebatinan yang telah menjadi fenomena laten dalam gerakan budaya tanding dekade sebelumnya. Ketika kemungkinan-kemungkinan untuk perubahan sosial mulai berkurang, orang-orang mencari realitas pengganti untuk menutupi penyakit masyarakat yang ada dan merasa kesulitan untuk menyingkirkannya. Terlepas dari selingan singkat resistensi lingkungan terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, kancah besar gerakan ekologi mulai menarik diri dari kepedulian sosial ke masalah spiritual—yang banyak di antaranya bersifat mistis dan teistik.

Di universitas-universitas, Lynn White Jr. yang mengadvokasi penjelasan religius terhadap krisis ekologi mulai memberikan pandangannnya tentang karakter dunia lain—atau menginisiasi kemunduran atas persoalan ekologi. Pada kisaran masa yang sama, artikel “Tragedy of The Commons” karya Garrett Hardin telah membawa “hantu Malthusian” ke dalam wacana ekologi di akademi dan membelokkan dorongan sosial menjadi lebih jauh dari gerakan ekologi era 1960-an ke dalam permainan angka demografis. Kedua akademisi ini telah mengembangkan pandangan mereka—yang sebagian besar tersebar—di Majalah Science yang hanya memiliki jangkauan publik terbatas sehingga membikin Paul Ehrlich; seorang entomologis/pakar serangga California, mengalihkan perhatian ekologis awal era 1970-an dari ranah sosial menjadi ke masalah tunggal tentang pertumbuhan populasi pada buku “The Population Bomb”—sebuah buku tipis histeris yang tercetak banyak sekali dan mencapai jutaan pembaca.

Dengan gaya menulis seperti seorang perwira Schutzstaffel (organisasi paramiliter Nazi-Jerman) yang melakukan perjalanan di ghetto Warsawa; pada halaman depan risalahnya, Ehrlich tidak melihat apa-apa selain hanya menyatakan, “Orang-orang!… Orang-orang!” Artinya, ia gagal melihat kekejaman masyarakat yang telah merusak kehidupan manusia. Inilah sebuah pertautan singkat yang menyatukan orang-orang kulit putih. Dan lebih tegasnya, Hardin dan Ehrlich memberikan interpretasi non-sosial terhadap masalah ekologi—malah bukan melalui ikhtisar ekologi kebersamaan.

Arne Naess; seorang pendaki gunung & akademisi Norwegia, memberikan tinjauan yang begitu luas pada tahun 1973. Ia menciptakan istilah “ekologi dalam” dan merawatnya sebagai filosofi atau kepekaan ekologis yang mengajukan “pertanyaan mendalam” untuk membedakannya dengan “ekologi dangkal”. Sementara, ekologi mistik siap diluncurkan sebagai “Kebijaksanaan Bumi” yang baru dengan melakukan daur ulang ke dalam bentuk spiritualisme ala California oleh Devall dan Sessions—dengan perpaduan aneh antara agama Budha, Taoisme, kepercayaan penduduk asli Amerika, pemikiran Heidegger, dan filsafat Spinoza dengan yang lainnya.

Kepekaan ekologi yang membingungkan ini mencuat dari kampus menjadi headline pada koran-koran—entah bagaimanapun—disebabkan oleh gerakan penyelamatan hutan belantara dari Earth First!. Gerakan ini mulai mengambil tindakan langsung secara dramatis terhadap penebangan hutan-hutan tua dan ketidaksenonohan serupa yang dilakukan pada kawasan alam liar oleh perusahaan Amerika.

Para pendiri Earth First!; khususnya David Foreman, adalah konservasionis yang jemu dengan taktik lobi tidak efektif dari organisasi konservasi yang berbasis di Washington. Karena terinspirasi oleh Edward Abbey; penulis novel “The Monkey Wrench Gang”—yang sangat populer—yang berpandangan keliru dan selalu mendekati rasisme dengan cara memuja “kebudayaan Eropa Utara” ala Amerika; para pemimpin Earth First! mulai memanfaatkan mazhab ekologi dalam sebagai sebuah filsafat.

Hal tersebut bukan untuk menyatakan bahwa sebagian besar pelaku Earth First! mengetahui apapun tentang “ekologi dalam”—walaupun mereka mengklaimnya sebagai “ekologi dalam”. Tetapi, Devall dan Sessions telah menempatkan Malthus di jajaran para nabi dan menggambarkan “masyarakat industri” (bukan kapitalisme) sebagai perwujudan dari penyakit yang secara umum diolok-olok oleh para ahli ekologi mistik. Memang, buku-buku mereka jelas berorientasi membahas hutan belantara, mengekspresikan “biosentrisme” secara tegas,  dan tampaknya memberi sedikit perhatian atas tempat umat manusia di alam semesta.

Konsistensi tidak pernah menjadi titik kuat dari gerakan antirasional apapun. Sehingga, tidak mengherankan apabila Devall dan Sessions dengan saleh memuja konsep “diri dalam Diri” sebagai bentuk  kepedulian panteisme atau hylezoisme. Foreman tidak ragu untuk menggambarkan manusia sebagai “kanker” pada dunia alami. Secara cukup mengejutkan, Gary Snyder—penyair dari gerakan ekologi dalam—menggambarkan bahwa manusia mirip seperti “belalang”.

Pada nyatanya, ekologi mistik adalah ilmu yang suram yang antimanusia. Pendeta Berry, misalnya;  terlepas dari kesalehannya yang lembut, menjadi sangat ganas dalam memperlakukan manusia. Ia menggambarkan keberadaan manusia sebagai “model keburukan makhluk duniawi”. “Sesungguhnya, kita adalah penghentian, bukan pemenuhan dari proses bumi. Jika ada parlemen makhluk, mungkin keputusan pertamanya adalah untuk memilih umat manusia keluar dari komunitas kehidupan. Kehadirannya terlalu mematikan untuk ditoleransi lebih jauh. Kitalah kesengsaraan dunia; wujud dari kehadiran iblisnya. Kita adalah pelanggaran aspek paling suci di bumi,” ungkap Berry.

Ecclesiastic vitriol—sejenis satir gerejawi—seringkali lebih selektif. Dalam kasus terbaik, satir ini menargetkan sindiran kepada orang kaya, bukan orang miskin; penindas, bukan yang tertindas; dan penguasa, bukan kaum bawahan. Tetapi ekologi mistik lebih cenderung mencakup semuanya. Berry menggeneralisir “kita”—seperti perlakuannya terhadap “manusia”—sebagai spesies daripada sebagai makhluk yang dikategorikan berdasarkan penindasan ras, jenis kelamin, sarana materi kehidupan, budaya, dan sejenisnya—karena ia cenderung meresapi ekologi mistik.

Erik Dammann; seorang penulis Norwegia, dengan bermaksud baik mengatakan “kita semua adalah kapitalis”. Karyanya, “The Future in Our Hands” telah dipuji oleh Arne Naess sebagai manifesto virtual untuk perbaikan sosial. Tiada satu pun dari para tunawisma di kota-kota Amerika, para korban AIDS yang dibiarkan mati di “Needle Park” di Zurich yang terkenal kejam, & orang-orang yang bekerja terlalu keras di tambang dan pabrik-pabrik Dunia Pertama yang dianggap penting dalam pembelaannya Dammann. Ia malah menganjurkan “kita” yang berada di Amerika dan Eropa untuk mengurangi konsumsi barang atasnama orang miskin di Dunia Ketiga.

Tampaknya, dipuji karena tujuan pengurangan konsumsi adalah latihan amal yang tidak efektif karena itu bukanlah mobilisasi sosial; dalam humanitarianisme, itu bukanlah perubahan sosial. Juga, hal ini merupakan latihan analisis sosial yang dangkal; yang secara kotor dimainkan begitu dalam di bawah faktor-faktor sistemik; yang telah menjadikan para elit kekuasaan makan berlebihan dan massa kelas bawah kelaparan di seluruh dunia. Hampir semua yang kita pelajari dari niat baik Dammann adalah bahwa “kita” secara oikumenis (keseluruhan tunggal) harus disalahkan atas penyakit dunia. Kita diibaratkan “konsumen” mistis yang secara rakus meminta barang-barang yang produksinya harus dipaksakan oleh perusahaan “kita” dengan bekerja terlalu keras.

Terlepas dari retorika radikal yang digunakan Devall dan Sessions, resep praktis utama untuk perubahan sosial yang mereka tawarkan kepada “kita” melalui ekologi dalam hanyalah doa naif. “Prinsip pertama kami,” tulis mereka, “adalah untuk mendorong lembaga, pembuat undang-undang, pemilik properti, dan manajer untuk mempertimbangkan proses secara bersama daripada memaksakan proses alami.” Mereka berujar bahwa, “Kita harus bertindak melalui proses politik untuk memberi tahu para manajer dan lembaga pemerintah tentang prinsip-prinsip ekologi dalam untuk mencapai beberapa perubahan signifikan dalam arah kebijakan manajemen jangka panjang yang bijak.”

Liberalisme ala Devall dan Sessions yang cair ini digemakan secara lebih eksplisit dalam buku terbaru Paul dan Anne Ehrlich yang berjudul “Healing The Planet”. Dalam buku ini, para penulis menyatakan kepatuhan mereka pada ekologi dalam sebagai “gerakan semu-religius” (menggunakan kata-kata mereka sendiri) yang mengakui bahwa “filosofi baru yang sukses tidak dapat didasarkan pada omong kosong ilmiah”. Penistaan ​​sains semacam ini hampir tidak layak bagi penulis yang reputasinya didasarkan pada kepercayaan ilmiahnya—dengan atau tanpa penggunaan kata “omong kosong” yang tidak jelas untuk memenuhi syarat pernyataan mereka. Belakangan ini, dengan lebih waspada dibandingkan karya tulisnya yang agak histeris pada sebelumnya; Ehrlich menawarkan sesuatu untuk semua orang melalui sejumlah skenario yang agak membingungkan; yang menunjukkan kepedulian terhadap orang miskin serta orang kaya, Dunia Ketiga dan Pertama, & bahkan mengakui  kaum Marxis serta konservatif. Tetapi, hampir semua bagian penting dalam buku ini mengulangi refrain yang menandai karya-karya mereka sebelumnya; yakni “mengontrol pertumbuhan populasi adalah sangat penting”.

Bagaimanapun, perlakuan Ehrlich terhadap masalah-masalah sosial mendasar mengungkapkan sejauh mana mereka sampai pada kesepakatan dengan status quo. “Ekonomi berbasis pasar kita yang demokratis sampai saat ini adalah sistem politik dan ekonomi paling sukses yang diciptakan oleh manusia,” ujarnya. Inilah hubungan sistemik antara ekonomi “berbasis pasar” dan penjarahan tanpa ampun di planet ini yang hampir tidak tampak pada cakrawala sosialnya Ehrlich.

Solusi yang ditawarkan Naess mungkin kurang tegas dan lebih mengganggu. Ketika ia menimbang filosofi politik alternatif seperti komunisme dan anarkisme; Bapak Ekologi Dalam ini menegaskan melalui buku “Ecology, Community, and Lifestyle”—yang baru-baru ini diterjemahkan; bahwa ekologi dalam memiliki hubungan dengan “anarkisme non-kekerasan kontemporer”. Tetapi, pembaca—yang mungkin terpana oleh komitmen terhadap alternatif libertarian ini—bisa mengetahui dengan cepat bahwa ekologi dalam memiliki alasan sederhana untuk menuju sentralisme negara yang cukup kuat. Naess menuliskannya, “dengan tekanan populasi manusia yang besar dan meningkat secara eksponensial, dan juga kondisi perang seperti di banyak tempat; tampaknya menjadi hal tak terhindarkan untuk mempertahankan beberapa lembaga terpusat yang cukup kuat”. Faktanya, melalui pernyataan ini, neo-Malthusianisme ala Naess dan pandangan pesimisnya tentang kondisi manusia memperkuat keyakinan elitis dalam gerakan ekologi untuk menuju sentralisasi negara dan penggunaan paksaan. Pandangan para ahli ekologi dalam seperti Christopher Manes—yang rekan-rekannya sendiri menganggapnya sebagai ekstremis—nyaris tidak pantas dijadikan diskusi serius. Manes menyambut epidemi AIDS sebagai alat kontrol populasi. Banyak penulis ekologi mistik menggemakan klaimnya bahwa “alam liar dan bukan peradaban adalah dunia yang nyata”.

James Lovelock; arsitek hipotesis Gaia, memiliki suatu kecaman yang sangat menggema terkait manusia sebagai sumber krisis ekologi. Ia mempunyai sebuah gagasan mitos bahwa bumi dipersonifikasikan sebagai Gaia (dewi bumi ala Yunani kuno) yang secara harfiah berarti organisme yang hidup. Dalam teologinya ini, “kita” tidak hanya terkesan sepele dan bisa dihabiskan. Juga, seperti yang dikatakan beberapa penganut Gaia; kita adalah “kutu cerdas” atau parasit di planet ini. Bagi Lovelock, kata “kita” bisa menggantikan semua perbedaan antara elit dan para korbannya menjadi tanggungjawab bersama atas penyakit ekologis masa kini.

Lovelock juga berkata, “Perhatian humanis kita atas orang miskin di pusat-pusat kota atau Dunia Ketiga, dan obsesi kita yang hampir tidak senonoh terhadap kematian, penderitaan, dan rasa sakit ini adalah kejahatan terhadap diri sendiri. Pemikiran seperti ini justru mengalihkan pikiran kita tentang perilaku kasar dan dominasi berlebihan terhadap dunia alami. Kemiskinan dan penderitaan tidaklah dikirim karena hal itu merupakan konsekuensi dari apa yang kita lakukan.”

“Ketika kita mengendarai mobil sambil mendengarkan radio memberitakan tentang hujan asam, kita perlu mengingatkan diri kita bahwa kita secara pribadi adalah pencemar. Oleh karena itu, kita bertanggungjawab secara pribadi atas penghancuran pohon oleh kabut fotokimia dan hujan asam,” ujar Lovelock. Dengan argumen seperti ini, maka konsumen kelas rendah dipandang sebagai sumber nyata dari beban ekologis. Dalam perspektif keilahian Gaia-Lovelock, justru produsen yang memiki perusahaan dan mengatur selera publik melalui media massa bukanlah sebagai perusak.

Gerakan ekologi memang terlalu penting untuk diambilalih oleh para mistikus pengkhayal dan misantropis reaksioner. Gerakan buruh tradisional—yang begitu banyak ditempati kaum radikal demi harapan untuk menciptakan masyarakat baru—telah layu dan gerakan populis era lama yang berstrata agraria dengan pengikut cukup banyak telah mati di Amerika Serikat. Masa depan liberalisme-Rooseveltian sedang bergantung pada keseimbangannya karena program New Deal (kebijakan politik-ekonomi era Roosevelt) diserang oleh Reagan-Bush.  Kebijakan New Deal tersebut mereformasi kooptasi atas hampir semua hal yang berguna; termasuk gagasan lingkungan yang konvensional; yang dilambangkan melalui kemudahan berkorporasi sambil menggembar-gemborkan slogan “Setiap Hari adalah Hari Bumi!”.

Akan tetapi, dunia alami sendiri tidak dapat diadopsi. Kompleksitas proses organik dan iklim masih menentang kontrol ilmiah; seperti halnya dorongan pasar untuk berkembang masih menentang kontrol sosial. Konflik antara dunia alam dan masyarakat saat ini telah meningkat selama dua dekade terakhir. Dislokasi ekologis dengan proporsi besar mungkin mulai menaungi isu-isu yang lebih sensasional—yang menjadi berita utama saat ini.

Benturan yang menentukan menjadi tampak. Di satu sisi, ada sistem ekonomi “tumbuh atau mati” yang lepas kendali. Sementara di sisi lain, kondisi rapuh diperlukan demi pemeliharaan bentuk kehidupan yang maju di planet ini. Nyatanya, benturan ini berhadapan dengan kemanusiaan itu sendiri melalui alternatif yang radikal; yakni terbentuknya masyarakat ekologis yang terstruktur berdasarkan idealisme ekologi sosial; tentang jaringan komunitas yang konfederal, langsung demokratis, dan berorientasi ekologis. Atau malah alernatif lainnya mengenai masyarakat otoriter; yang interaksi antara manusia dan dunia alami akan terstruktur melalui komando ekonomi dan politik. Prospek alternatif yang ketiga; tentu saja, adalah penghancuran umat manusia dalam serangkaian bencana ekologi yang tak dapat diubah.

Gerakan ekologi yang sembrono dan membiarkan dirinya dibimbing oleh berbagai macam mistik tidak akan bisa dimaafkan sebagai sebuah tragedi yang berproporsi sangat besar. Terlepas dari atmosfir distopia yang tampaknya melingkupi banyak gerakan; visi utopis tentang masyarakat yang demokratis, rasional, dan ekologis masih dapat dilakukan saat ini seperti generasi masa lalu.

Ketegangan misantropis yang mengalir melalui gerakan atasnama “biosentrisitas”, antihumanisme, kesadaran Gaian, dan neo-Malthusianisme begitu mengancam ekologi dalam arti luasnya. Hal ini menyebabkan ekologi sebagai kandidat paling potensial yang kita miliki untuk menjadi “ilmu yang suram”. Upaya banyak ahli ekologi mistik yang mengeksploitasi masyarakat saat ini sebagai penyebab krisis, epidemi, kemiskinan, dan kelaparan menjadikan para elit kekuasaan dunia sebagai pertahanan ideologis paling efektif demi memelihara kekayaan ekstrem di satu sisi dan kemiskinan di sisi lain.

Bukan hanya massa besar manusia yang harus membuat pilihan sulit tentang masa depannya dalam periode dislokasi ekologis yang sedang berkembang. Gerakan ekologi sendiri harus membuat pilihan-pilihan sulit tentang kesadaran tujuannya di saat mistifikasi sedang bertumbuh.

 Desember 1991

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Seorang sibuk yang masih sempat melatih kucing memakan buah plum.]

[Wacana Liberasi] Pembebasan Cinta

*)Penulis Carmen Lareva. Pejuang keadilan gender di Amerika Latin abad ke-19.

Kepercayaan yang bodoh nan jahat mengatakan bahwa ide-ide anarkis terlihat kabur di hadapan segala sesuatu yang indah; seperti seni, ilmu pengetahuan, dan terutamanya pada kehidupan rumah tangga. Bahkan dari waktu ke waktu, kita berkesempatan mendengar hal ini dari beberapa bibir perempuan pekerja. Mereka berkata, “Oh, ide yang hebat. Ide-ide anarkis anda ini menginginkan kita semua; para istri, anak perempuan, ibu, dan saudara-saudara perempuan berubah menjadi selir; menjadi mainan kotor untuk gairah manusia yang tak terkendali!” Kepada mereka yang berbicara seperti ini dan berpikir dengan cara inilah, kita menyapa diri kita sendiri. Mari kita lihat!

Dalam bermasyarakat, kita beranggapan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih memalukan daripada perempuan yang malang. Kita jarang sekali menikmati pubertas karena menjadi target pelecehan seksual dan lirikan seksual yang sinis oleh jenis kelamin yang lebih kuat/kaum lelaki. Yang melakukan eksploitasi semacam ini pun berasal dari kelas yang sama dengan kaum yang dieksploitasi. Kemudian dalam mencapai  hal keperempuanan, kita paling sering terperangkap dalam kekekalan dari hal-hal yang tidak murni; atau berpegang teguh pada pandangan rendah dan cemoohan masyarakat yang memandang hancurnya diri kita sebagai sesuatu yang tidak idealis, tidak penuh kasih, dan memandangnya sebagai penyelewengan.

 

***

 

Jika kita mencapai hal seperti pernikahan—yang diyakini oleh beberapa perempuan akan memberinya kebahagiaan, maka kita akan menjadi lebih buruk bahkan seribu kali lebih buruk. Kita akan mendapati keadaan tentang pasangan yang kehilangan pekerjaan, bayarannya yang pas-pasan, sakit-sakitan, dan lain sebagainya.

Bagi suami-suami kita, mengubah hal yang seharusnya menjadi “kata terakhir” dalam kamus kebahagiaan adalah semacam kengerian dan beban berat. Sebagai seorang anak lelaki, memang tidak ada hal yang begitu indah, puitis, lembut, menyenangkan, dan menawan selain “pernikahan” sebagai kata terakhir dalam kebahagiaan.

Akan tetapi, celakalah orang yang miskin. Celakalah rumah tangga dengan endapan kemiskinan sambil menggendong si kecil yang membutuhkan perawatan, belaian, dan perhatian kita. Celakalah rumah tangga yang tak akan bertahan lama; yang sebelumnya ditimpa seribu pertengkaran dan banyak kesengsaraan! Tahukah kamu, kenapa?

Karena bayi yang baru lahir membikin ribuan tuntutan. Tuntutan ini bisa mencegah ibu muda untuk membantu pasangannya menanggung biaya mengurus rumah. Bahkan, bayi itu bisa tumbuh ketika pendapatan mereka sedang menyusut. Saat kehadiran bayi seharusnya menjadi keinginan tersayang dan kebahagiaan terbesar dari rumah tangga, ia justru dianggap sebagai beban, penghalang, dan sumber kesal serta pemiskinan; yang harus dijaga dengan sangat hati-hati melalui metode coitus interruptus (menarik penis keluar vagina saat sedang ejakulasi), penipuan, serta hubungan seksual menyimpang dengan sekuel penuh penyakit yang memuakkan. Oleh karenanya, ribuan demi ribuan praktik memuakkan dan menjijikkan dilakukan saat ranjang perkawinan diubah menjadi setumpuk kata-kata kotor. Karenanya pula, terjadilah degradasi, kebosanan, dan penyakit, serta nada-nada pelanggaran terhadap kehormatan akan banyak diucapkan. Maka terjadilah zina!

Singkirkanlah sebabnya dan lenyapkan akibatnya. Dengan menghapuskan kemiskinan, maka keburukan juga akan hilang. Rumah pun akan menjadi surga yang nikmat dan menyenangkan.

 

***

 

Seringkah kita mendengar rahasia dari teman-teman perempuan kita yang telah menjadi kambing hitam dari tindakan seperti itu?! Lalu?

Saat kita melampiaskan tindakan serupa kepada pria, maka sampaikanlah respon teman-teman kita kepadanya, “Apakah anda tidak tahu betapa mahalnya urusan untuk membesarkan anak, bidan, dokter, tagihan medis, biaya makanan, perawatan, dan kemudian menyusui? Bagaimana aku bisa mengatasinya saat dua dari kita yang bekerja sekarang hampir tidak bisa mengurangi pekerjaaan sehari-hari? Bagaimana aku bisa mengelola sendiri dengan pengeluaran meningkat dan penghasilan menyusut? Lupakanlah soal anak-anak! Iblis bersama mereka!”

Kawan-kawan perempuan terkasih, bagaimanakah kamu bisa menyukai hal itu? Apakah itu cinta, kehidupan rumah tangga, dan kelembutan? Sangat menyakitkan memikirkan bahwa seorang perempuan harus melalui hal semacam ini. Namun melalui ini adalah keharusan!

Sekarang dalam memproklamirkan cinta yang bebas; persatuan bebas dari kedua jenis kelamin adalah keyakinan teguh kita untuk dapat membuang semua pengalaman tidak menyenangkan ini. Bersatulah dengan bebas dan tanpa rasa takut. Rasakanlah sakitnya kita demi memelihara dan menetapkan keadaan ini. Persatuan orang-orang yang membumbung dengan sayap cinta mungkin akan menghasilkan buah-buah cinta, melebur menjadi satu makhluk, dan tentu saja keduanya akan menjadi bahagia secara bebas. Sebagai mitra dalam tindakannya masing-masing, mereka tidak akan memiliki alasan untuk takut satu sama lain. Kita telah diberitahu tentang cinta, tentang persatuan, dan segalanya.

Ketika menjadi bebas seperti yang kita inginkan; pria akan boleh terus-menerus beralih dari satu perempuan ke perempuan berikutnya. Dan, dengan tidak adanya ketakutan terhadap anggapan masyarakat atau hukum; maka tidak akan ada lagi kesetiaan. Sedangkan hari ini, hukum menghukum pezina laki-laki maupun perempuan. Ketakutan terhadap stigma sosial pun akan membikin kegagalan berpasangan hidup dan ketidakpatuhan satu sama lain.

 

***

Kawan-kawan perempuan tercinta, tiada hal apapun yang bisa jauh dari kebenaran. Kurang-lebihnya, apa yang dicari oleh kedua jenis kelamin itu bukanlah kepuasan nafsu jasmaniah. Bukan itu!

Apa yang mereka kejar adalah kegembiraan, kebahagiaan, ketenangan, dan perilaku baik. Dan setiap makhluk semi-terdidik saat ini berusaha untuk menghasilkan dan mencapai mimpi yang dirindukannya; sesuai kondisi masyarakat yang sangat sinis dan mementingkan diri sendiri secara material karena kapital adalah hal yang dibutuhkan untuk membeli atau mendapatkan kesenangan dan kebutuhan seseorang. Maka setiap orang melakukan upaya yang lebih besar atau lebih kecil untuk mendapatkannya.

Selain itu, kita yang sering disebut “ampas” masyarakat justru menghidupi diri seperti yang kita lakukan saat ini sejak usia dini; dengan melakukan pekerjaan seperti yang saat ini kita praktikkan—yang tidak hanya menjadi rendahan dan memalukan, tetapi juga brutal.  Tentu saja, kita tidak memiliki pendidikan yang digunakan borjuis sebagai monopoli. Melalui keinginan mereka untuk memonopoli segala hal; kita menjadi tidak fasih terhadap ribuan kesenangan—seperti terhadap lukisan, musik, puisi, patung, dan lainnya—yang dipersembahkan bagi mereka yang berstatus lebih tinggi. Masalahnya, tidak ada pertanyaan terhadap segala hal; kecuali  terhadap apa yang kita lakukan selama hidup kita yang celaka ini. Jika kita berpendidikan, kita akan jauh lebih materialistis daripada yang seharusnya kita miliki dan bukan hanya lewat cara-cara borjuasi seperti hari ini—tetapi bahkan lebih baik. Seni membangkitkan perasaan seseorang; dan bahkan tanpa sedikit pun adanya ini, kita jelas tidak bisa mencapai kemampuan tinggi seperti itu.

 

***

 

Pendidikan tidaklah gratis dan kita tidak punya cukup waktu untuk mendapatkannya. Lantas, bagaimana kita bisa terdidik?

Adakah yang tidak tahu bahwa masa pengasuhan kita justru ditelan oleh siksaan tempat kerja? Kita tak akan mendapatkan pendidikan di sana. Justru sebaliknya, kita akan menemukan segalanya di sana, kecuali pendidikan! Dan dari waktu ke waktu, para pekerja perempuan yang malang telah menjadi sasaran nafsu borjuis. Kita dengan cepat dikirim dan dilemparkan ke kuburan yang tidak nyaman; tanpa pertahanan, dengan kelaparan yang tinggi, tak bisa puas di balik lapisan rasa hina dan air mata, dan sementara ada yang dengan senang hati menerima penderitaan sebagai pelarian diri dari cemoohan-cemoohan para penyiksanya!

Semua berjalan sangat alami pada masyarakat ini karena masifnya kita berkubang pada ketidaktahuan. Ambillah jiwa yang kelaparan dan berikanlah dia sepotong roti—tidak peduli seberapa kotornya roti itu, dan pada saat yang sama, tawarkanlah kepadanya rebec (sejenis alat musik gesek), lukisan, atau puisi—bahkan jika puisi itu karya abadi Shakespeare atau Lord Byron. Manakah yang akan dia pilih pertama? Tentunya roti daripada buku atau rebec! Sebab roh memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi—sebelum dapat memanifestasikan kehadirannya—dan mendahulukan kebutuhan materi yang lebih mendesak dibandingkan yang spiritual.

Oleh karenanya, takkan ada perselisihan dalam masyarakat yang anggota atau komponennya telah dididik dengan cukup sempurna. Para pasangan dapat bersatu secara bebas tanpa ada perasaan takut kebahagiaannya akan berkurang akibat tiadanya restu pihak ketiga.

Melalui hasrat mereka untuk memerintah segalanya, hukum dan masyarakat memaksa kita untuk melakukan penghormatan buta kepada mereka dalam ritual ini. Kita; para perempuan, tidaklah percaya pada berkah atau ritual yang menurut kita; seperti membawa dua anjing bermain-main di jalanan dan ketika kita bergabung bersama mereka, kita mengatakan padanya, “Saya mengizinkan anda berbahagia.” Dalam kasus seperti ini, mereka akan melanjutkan kelakuannya dan seakan-akan kita telah melakukan yang berlawanan.

 

***

 

Saat waktunya tiba, borjuis yang hampir mati  akan mewariskan hasil rampasan/curian mereka kepada anak-anaknya—yang harus dibagikan ke sana-sini. Sebab jika mereka tidak melakukannya, hukum tidak akan mengakui warisan mereka. Inilah pengaturan bisnis karena bisnis menjadi prioritas di mata mereka.

Akan tetapi, dalam masyarakat yang tidak mengenal “kesepakatan” semacam itu, kebutuhan untuk omong kosong seperti itu tak akan ada. Sebagaimana diktum saat ini, pernikahan atau—lebih tepatnya—upacara pemberkatan hanya melambangkan persetujuan masyarakat terhadap tindakan tersebut. Jadi, jika ada masyarakat lain menganut koalisi bebas antarjenis kelamin, maka koalisi bebas ini akan disetujui dan terbentuk. Akan banyak perempuan dan laki-laki yang puas dengan persatuan/koalisi bebas ini disebabkan rasa ngeri mereka atas cibiran orang lain. Maka inilah cara satu-satunya yang bisa menghentikan cibiran mereka. Dengan begitu, marilah kita izinkan mereka untuk melanjutkan cibirannya dan membiarkan diri kita melakukan apa yang kita inginkan atau melakukan apapun yang kita bisa lakukan tanpa merugikan siapapun.

Ketakutan pada hukuman akan mengawetkan perselingkuhan. Dan hal ini, bukanlah keyakinan kita atau kebijaksanaan yang layak; bahkan diperlukan upaya untuk membantahnya. Siapapun akan mengakui bahwa itu adalah “penyimpangan” yang bila didata; akan terjadi antara sembilan puluh kali kasus dari setiap seratus kali kemungkinan tanpa diketahui pihak berwenang, hukum, dan pihak lainnya.

Kita juga percaya bahwa seseorang yang takut terhadap bermacam hukuman akan tetap setia berkomitmen terhadap apa yang menipu atau membujuknya. Mungkin baiknya juga untuk menjadi tidak setia atau akan lebih baik keluar dari kungkungannya. Jika dia mencintai pria atau perempuan lain, ini jelas karena dia tidak mencintai orang yang mengharuskannya untuk berbagi roti dan atap berdasarkan aturan masyarakat. Pula sementara ini, mungkin prostitusi tidak bisa mendekati dengan sangat dekat kepada hal semacam itu. Karena jika melakukan hal itu, dia diharuskan untuk berpura-pura mencintai seseorang yang dia benci, menipu, dan menjadi seorang munafik—atau singkatnya; memberikan dirinya kepada seorang pria atau perempuan yang dia benci. Dengan kasus semacam ini, wajarlah bahwa rumah tangga tidak  akan lama karena dilanda pertengkaran, gesekan, dan ribuan hal lainnya, atau kejadian-kejadian yang dapat memperparah kehidupan kedua pasangan.

Jika mereka bebas dalam tindakan mereka, hal-hal tersebut tidak akan terjadi dan mereka mungkin menikmati budaya apapun yang ditawarkan masyarakat kita di masa depan.

1896

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Petualang antikekang.]

[Catatan Chomsky] Independensi Jurnalisme

Ilustrasi berasal dari sini: shorturl.at/erCW0

*)Ditulis oleh Noam Chomsky. Pakar komunikasi, linguis, kritikus media, pengamat perpolitikan global, & profesor pada Massachusetts Institute of Technology.

“Adalah demi kebaikan Tuhan bahwa di negara kita, kita mempunyai tiga hal sangat berharga: kebebasan berbicara, kebebasan hati nurani, dan kebijaksanaan untuk tidak pernah mempraktikkan keduanya,” begitulah ujaran terkenal Mark Twain—seorang sastrawan besar Amerika.

Dalam pengantar novel Animal Farm yang tidak dipublikasikanyang ditujukan untuk “sensor sastra” di Inggris yang bebas, George Orwell menambahkan alasan untuk berhati-hati dalam hal ini.  Ia menuliskan adanya perjanjian yang lazim dilakukan secara  diam-diam untuk tidak menyebutkan fakta-fakta khusus.

Perjanjian diam-diam memaksakan sensor terselubung berdasarkan ortodoksi. Hal ini dilakukan oleh sebuah lembaga gagasan yang mengasumsikan bahwa semua orang yang berpikiran benar akan menerima tanpa pertanyaan. Dan siapapun yang menantang ortodoksinya, akan menemukan dirinya dibungkam dengan efektivitas mengejutkan, bahkan tanpa larangan resmi apapun.

Kami menyaksikan kehati-hatian semacam ini terus-menerus terjadi dalam masyarakat yang bebas. Contohnya, invasi AS-Inggris ke Irak adalah catatan kasus agresi tanpa alasan yang dapat dipercaya—yang merupakan “kejahatan internasional tertinggi” dalam definisi putusan Nuremberg. Legitimasi yang ada mengatakan bahwa kasus ini adalah “perang bodoh” dan “kesalahan strategis”. Bahkan Presiden Obama menyatakan hal ini sebagai kesalahan strategis terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika baru-baru ini. Pendapat tersebut pun sangat dipuji oleh para liberal yang tidak akan mengatakan itu sebagai kejahatan abad ini. Meskipun mereka tak akan ragu menyatakan “kejahatan” apabila beberapa musuh resmi telah melakukan kejahatan yang ternyata jauh lebih kecil.

Ortodoksi yang berlaku pun tidak mudah mengakomodasi sosok seperti Presiden-Jenderal Ulysses S. Grant (Presiden AS tahun 1869-1877) yang berpikir bahwa “tidak pernah ada perang yang lebih jahat daripada yang dilakukan Amerika Serikat di Meksiko” dengan mengambilalih apa yang sekarang menjadi bagian barat daya AS dan California. Dia pun menyatakan rasa malunya karena tidak memiliki keberanian moral untuk mengundurkan diri daripada ikut serta dalam kejahatan tersebut.

Menyingkirkan ortodoksi yang ada akan memiliki konsekuensi. Pesan yang tidak terlalu diam-diam seharusnya menyatakan kita hanya memerangi perang cerdas yang bukan kesalahan; perang yang berhasil dalam tujuannya  dengan definisi yang adil dan benar menurut ortodoksi yang berlaku, bahkan kalaupun pada kenyataannya adalah “perang jahat” (kejahatan besar). Tentunya berbagai ilustrasi kasus terlalu banyak untuk disebutkan. Dalam beberapa kasus, seperti kejahatan abad ini, praktik ini berlaku hampir tanpa kecuali di kalangan yang terhormat.

Aspek lain yang akrab dari penyingkiran ortodoksi yang berlaku adalah penyesuaian sederhana dari menjelek-jelekkan musuh-musuh resmi ortodoksi. Dengan mengambil contoh hampir acak, dari masalah New York Times. Seorang jurnalis ekonominya yang sangat kompeten—yang kebetulan berada di depan saya sekarang—memperingatkan tentang keburukan populisme resmi Hugo Chavez yang pernah terpilih pada akhir era 1990-an. Chavez dikabarkan sedang melanjutkan memerangi institusi demokrasi yang menghalangi jalannya.

Beralih ke dunia nyata, Pemerintah AS dengan dukungan antusias dari New York Times setidaknya atau sepenuhnya mendukung kudeta militer yang menggulingkan pemerintah Chavez secara singkat—sebelum akhirnya dibalik oleh pemberontakan rakyat. Apapun yang dipikirkan orang tentang Chavez, nyatanya ia memenangkan pemilihan ulang yang disertifikasi “bebas dan adil” oleh pengamat internasional. Yayasan Carter—yang didirikan oleh mantan Presiden Jimmy Carter—mengatakan bahwa dari 92 pemilihan yang telah kami pantau, proses pemilihan di Venezuela adalah yang terbaik di dunia. Dan, Venezuela di bawah Chavez secara teratur menduduki peringkat sangat tinggi dalam jajak pendapat internasional tentang dukungan publik untuk pemerintah dan demokrasi (sumber: Latinobarómetro; organisasi riset nirlaba yang berbasis di Chili).

Tak diragukan, defisit demokrasi selama tahun-tahun Chavez berkuasa pasti ada; contohnya penindasan saluran RCTV yang menimbulkan kecaman besar. Saya turut bergabung mengecamnya dan juga setuju bahwa itu tidak boleh terjadi di masyarakat bebasnya kami. Jika saluran televisi terkemuka di AS telah mendukung kudeta militer di Venezuela seperti yang dilakukan RCTV, maka saluran itu tidak akan mendapat tekanan dalam beberapa tahun kemudian. Oleh karenanya, tidak akan ada pihak penguasa eksekutif yang berada di penjara jika mereka masih hidup. Ortodoksi memang dapat dengan mudah mengatasi fakta.

Kegagalan memberikan informasi yang bersangkut-paut juga memiliki konsekuensi. Mungkin orang Amerika harus tahu, jajak pendapat yang dijalankan lembaga pemungutan suara terkemuka AS menemukan fakta bahwa satu dekade setelah kejahatan abad ini, pendapat dunia menganggap Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia. Tidak ada kompetitior lain yang lebih mendekati predikat itu; dan tentunya bukan Iran, yang menurut komentar AS layak memenangkan “hadiah itu” (predikat tersebut). Alih-alih menyembunyikan fakta, pers mungkin telah melakukan tugasnya untuk menarik perhatian publik, sekaligus dengan beberapa pertimbangan tentang apa artinya pers & pelajaran apa yang dihasilkannya untuk kebijakan. Sekali lagi, kelalaian tugas memiliki konsekuensi.

Contoh-contoh yang berlimpah seperti ini memang cukup serius tetapi ada contoh lainnya yang jauh lebih penting. Cermatilah kampanye pemilu tahun 2016 di negara paling kuat dalam sejarah dunia. Cakupannya sangat besar dan instruktif. Para kandidat hampir semuanya menghindari isu-isu bermasalah dan mengabaikannya untuk dikomentari. Sesuai dengan prinsip jurnalistik tentang “objektivitas”, media mengartikannya dengan melaporkan secara akurat apa yang dilakukan dan dikatakan oleh pihak  berkuasa dan bukan apa yang mereka abaikan. Prinsip ini berlaku bahkan jika nasib spesies dipertaruhkan; seperti halnya: meningkatnya bahaya perang nuklir dan ancaman mengerikan bencana lingkungan.

Kelalaian itu mencapai puncak dramatis pada 8 November sebagai hari yang benar-benar bersejarah. Pada hari itu, Donald Trump memenangkan dua kemenangan. Media secara luar biasa meliput hal kurang penting tentang kemenangan pemilihannya dengan selisih suara hampir 3 juta lebih sedikit dari lawannya—yang mana kemenangan ini terjadi berkat fitur regresif dari sistem pemilihan AS.

Kemenangan yang lebih penting justru dilupakan oleh keheningan virtual. Yakni, kemenangan Trump di Kota Marrakesh, Maroko; yang mana di situlah sekitar 200 negara bertemu untuk memasukkan beberapa konten serius ke dalam Perjanjian Paris tentang perubahan iklim pada setahun sebelumnya. Pada 8 November, proses perjanjian ini terhenti. Sisa dari konferensi ini, sebagian besar dikhususkan untuk mencoba menyelamatkan beberapa harapan bersama AS agar tidak menarik diri dari perusahaan. Hal ini juga dimaksudkan untuk menyabot perjanjian tersebut  secara tajam, meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil, membongkar peraturan, dan menolak janji untuk membantu negara-negara berkembang bergeser ke energi terbarukan. Semua yang dipertaruhkan dalam kemenangan terpenting Trump adalah prospek kehidupan manusia yang terorganisir dalam bentuk apapun yang kita tahu. Dengan demikian, cakupan media hampir nol untuk memberitakan hal ini. Sebab mereka mempertahankan konsep “objektivitas” yang sama dengan yang ditentukan oleh praktik dan doktrin kekuasaan.

Pers yang benar-benar independen menolak peran penyingkiran terhadap kekuasaan dan otoritas. Ini melemparkan ortodoksi ke angin; mempertanyakan apa yang “orang-orang yang berpikiran benar akan menerima tanpa pertanyaan”. Menyingkirkan selubung sensor diam-diam, membuat tersedianya informasi, berbagai pendapat, & ide untuk masyarakat umum merupakan prasyarat untuk partisipasi yang bermakna dalam kehidupan sosial dan politik. Lebih dari itu, pers mustinya menawarkan platform bagi orang-orang untuk masuk ke dalam debat dan diskusi tentang isu-isu yang menjadi perhatian mereka. Dengan melakukan itu, berfungsilah fungsi dasarnya pers untuk masyarakat yang benar-benar bebas dan demokratis.

7 Januari 2017

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. An uncle cat.]

Perjalanan Saya Melapak Perpustakaan Jalanan Cilacap

 


 

*)Ditulis oleh Aming (Trias Putra Pamungkas). Seniman grafis realis masa depan.

 

Babak Pertama: Pengakuan

Ini sebuah cerita dimana saya dan kawan saya membentuk sebuah perpustakaan jalanan yang saat itu lagi gencar-gencarnya lapakan buku digelar ke ruang publik. Mungkin bisa dikatakan Perpustakaan Jalanan Bandung-lah yang menginspirasi kenapa saya dan satu kawan saya membuat perpustakaan jalanan di kota kami—yaitu di Cilacap.

 

Selama 17 tahun tumbuh besar di Cilacap, baru terpikirkan ide membuat perpustakaan jalanan. Bisa dikatakan itu ide yang sangat gila dan konyol.  Kenapa saya bisa bilang seperti itu? Karena saya dan satu kawan saya, membaca buku pun jarang dan tidak memiliki koleksi buku yang dibaca. Selama sekolah, kami berdua sempat hidup di jalanan dan jarang mampir di perpustakaan sekolah, bahkan bisa dikatakan tidak pernah samasekali. Setiap hari, bisa dikatakan kami habiskan untuk mengobrol hal yang tidak penting, mabuk, dan ngamen. Saya dan satu kawan saya baru mendapatkan ide membuat perpustakaan jalanan karena kejadian yang menurut kami itu konyol dan belum semestinya itu terjadi.

 

Pada malam hari, kami berdua nongkrong di pusat kota Cilacap sambil menikmati kopi yang kami pesan di warung depan tempat kami nongkrong. Tiba-tiba ada anak kecil kira-kira berumur 10 tahun lewat depan kami. Tapi ada yang aneh dengan anak kecil itu dan ternyata benar; anak kecil itu sedang live di salah satu medsos via handphone. Di situ, saya yang melihat kejadian itu kagum; kenapa anak dengan umur segitu sudah pandai main medsos dan melakukan selayaknya vlogger masa kini?

 

Di situ sempat bertanya kepada diri saya sendiri, “Apa iya orang tuanya tidak memperhatikan anaknya bermain gadget?”. Saya tidak menyalahkan gadget karena sekarang gadget menjadi alat yang semua orang miliki dan menjadi alat komunikasi. Tapi di sini saya garis bawahi “pengawasan orang tua terhadap anaknya saat bermain gadget” sampai kejadian itu bisa terjadi. Setelah kejadian itu berlalu, saya pun berpikir di dalam diri. Memang, sebelumnya saya dan kawan saya sering nongkrong di situ tapi pada saat kejadian itu; tidak tahu-menahu ada angin lewat apa yang menginspirasi kami untuk membuat sebuah perpustakaan jalanan.

 

Sempat kami obrolkan sebelum membuat perpustakaan jalanan bahwa kami masih bingung soal buku kita dapat dari mana. Terus tujuan kita mau ngapain dan di situ belum sampai bahas logo. Kita baca buku aja tidak pernah, apalagi buka perpustakaan jalanan yang tiap hari dicekoki kertas dengan tulisan panjang-lebar dan tidak menarik daripada seikat ciu yang tiap hari kami konsumsi.

 

Di suatu malam, di tempat dimana kami kumpul berkarya; yaitu sanggar Sangkan Paran, kami berdua ngobrol soal ide pembuatan perpustakaan jalanan ditemani kopi manis buatan peserta pelatihan kerja lapangan (PKL) yang sangat manis; mungkin pada saat itu gula masih murah. Setelah berdiam diri dan menikmati kopi dan sebatang rokok, kita baru terpikir nama yang menyangkut di isi kepala; yaitu kata “kaji” dengan diawali dengan kata “meng-“ menjadi kata “mengkaji”  yang diartikan sebagai telaah kembali atau dipikirkan kembali sampai matang yang kita gabungkan dengan kata “pustaka” untuk mewakili buku perpustakaan.  Kami menyiasati arti ini untuk para pengunjung agar pembaca nantinya dapat mengkaji, menelaah kembali buku yang telah ia baca; jangan sampai buku dan informasi yang ia dapatkan itu hanya ditelan mentah-mentah tanpa melewati proses peresapan; atau dipikirkan kembali benar atau salahnya suatu bacaan dan informasi yang didapatkan. Kami juga secara tidak langsung membuat pembaca atau pengunjung lapakan buku kami agar tidak terpancing berita yang belum tentu benar dari sumbernya. Singkat cerita, tepat tanggal 23 Juni 2017,  nama Mengkaji Pustaka menjadi nama perpusjal kami yang dibangun dengan rasa yakin-percaya diri meskipun dengan sedikit pengalaman dan belum adanya sumber daya manusia memadai—hanya bergerak dua orang yang mengurus lapakan buku di pusat kota yang ramai.

 

Setelah kami mengesahkan nama Mengkaji Pustaka, kami pun berpikir tujuannya apa membuat perpustakaan jalanan tersebut? Dengan pengalaman yang amat kurang, tujuan awal dibangunnya perpusjal di Cilacap hanya menyadarkan minat baca masyarakat yang semakin hari digerus oleh gadget dan berita tidak jelas lainnya; berharap dari sini bisa membuat masyarakat menjadi bijaksana dalam menanggapi berita yang beredar di masyarakat.

 

Perjalanan di Masyarakat

Dengan belum memiliki buku yang akan disajikan ke masyarakat, akhirnya kami memutuskan untuk meminjam dari sanggar yang saat itu memiliki banyak buku yang cukup untuk dibaca gratis ke masyarakat. Di tempat ini benar-benar semua dikerjakan dengan kebelumtahuan kami tentang literasi itu diawali. Setelah mendapat persetujuan dari pemilik sanggar, buku yang terdapat di sanggar kami bawa ke pusat kota untuk dibaca gratis oleh masyarakat.

 

Awal lapakan buku; perihal penataan, pengelompokkan, dan pembagian buku masih berantakan. Hanya satu prinsip kami; yang penting jalan dulu aja, susah-senang itu bonus. Dengan bermodalkan nekat dan tulisan “baca buku gratis”, kami mulai menggelar lapakan buku gratis di alun-alun yang kebetulan berdepanan dengan lembaga pemasyarakatan (LP).

 

Seperti biasa; awal buka lapak baca buku gratis berbeda dengan buka warung mie ayam yang dimana pecinta kuliner lebih banyak daripada pecinta buku. Kami berdua mulai belajar untuk adaptasi dengan lingkungan sekitar antara lapak buku, pengunjung, pedagang, dan masyarakat.

 

Dengan seringnya kami lapakan di situ, masyarakat mulai tahu keberadaan perpusjal di alun-alun kota. Pengunjung silih berganti berdatangan dari orang tua, anak muda, anak-anak, pengamen, pedagang, sampai orang mabuk pun datang ke lapakan kami. Di situ mulai ada interaksi sosial dengan masyarakat dengan adanya keberadaan kami yang menyajikan buku untuk dibaca gratis.

 

Mungkin sebabnya di alun-alun yang menjadi pusat nongkrong masyarakat lokal maupun pendatang dan terdapat banyak pedagang; akhirnya menjadikan mindset mereka bahwa apapun yang disajikan di hadapan mereka adalah dijual. Meskipun di situ sudah terdapat tulisan “baca buku gratis”, tapi masih banyak masyarakat yang datang ke lapakan selalu berkata,”dijual, mas?” dan “ini berapaan, mas?”. Dengan begitu, kami mencoba menjelaskan tentang keberadaan kami bahwa dengan menyajikan bacaan buku gratis sebenarnya sebagai media  untuk berkomunikasi dengan masyarakat supaya gemar membaca kembali.

 

Tetapi tidak semudah itu mengembalikan kebiasaan gemar membaca di masyarakat karena banyak rintangan yang perlu dilewati. Dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, informasi pun dapat masuk secara cepat di gadget kita. Tapi harus digarisbawahi, setiap berita yang masuk di gadget kita, baik-buruknya tergantung kita menanggapi berita tersebut. Maka dari itu, keberadaan kami di sini dan menggelar lapakan baca buku gratis di pusat kota untuk mencari informasi berita dan interaksi langsung antara masyarakat dengan berbagai sudut pandang.

 

Dari situlah ada sebuah diskusi yang menjadi alat menyadarkan masyarakat untuk tidak terpancing berita berita yang belum tentu benarnya. Selain itu, di lapakan perpusjal juga diisi banyak kegiatan; seperti halnya puisi, musik, & diskusi.

 

Pernah kami melakukan puisi jalanan yang dimana selain mengetes mental kami, juga melihat reaksi masyarakat. Alhasil karena seringnya melakukan hal tersebut, sampai-sampai penjual mie ayam pun turut berceloteh dengan nada seperti membaca puisi, “Oh, mie ayam, kau begitu lembut saat lidahku merasakan manisnya sekujur tubuhmu”. Sontak, kami yang berada di situ sempat terkejut melihat kejadian itu. Di situ kami mulai percaya diri untuk melakukan eksperimen itu dan mulailah berpikir bahwa hal yang menurut mereka baik maka akan diterima dan diikuti.

 

Dari puisi, lanjut ke musik jalanan yang dimana musik bisa sebagai senjata saat di jalanan— yaitu ngamen. Hehe. Memang, awalnya saya dan satu teman saya pernah merasakan hidup di jalan sebagai pencarian jati diri—dari situ mulai menemukan jati diri yang merdeka. Ngamen jalanan dianggap buruk, oke, saya terima, tapi bagaimana caranya dari yang dilihat buruk menjadi baik?

 

Tidak hanya mengembalikan minat baca masyarakat tapi juga menghapuskan stigma negatif di masyarakat “punk = negatif”. Tidak selamanya punk negatif, tidak selamanya punk merusak fasilitas umum karena sejujurnya punk itu adalah manusia merdeka; tidak suka diatur dan tidak suka mengatur seperti halnya Pram bicara. Apakah punk identik dengan tato, dekil, dan urakan?

 

Kami tepis semuanya di perpusjal ini. Anak punk buka perpustakaan jalanan berati kami masih peduli kepada semuanya tanpa ada perbedaan aku, kamu, dia, dan mereka. Sama halnya seorang manusia yang membutuhkan manusia lainnya. Di sini kami mencoba menghibur pengunjung lapakan buku kami maupun pengunjung lainnya—karena kami buka lapakan di pusat kota, yaitu Alun-alun Cilacap. Karena yang kami bisa pada saat itu hanya bermain musik, ya, kami menghibur dengan cara menyenandungkan lantunan lagu-lagu pergerakan seperti lagu yang sampai sekarang masih dinyanyikan yaitu “buruh-tani” (Lagu Pembebasan karya V. A. Safi’i mantan aktivis PRD).

 

Lagu yang ngga mungkin lewat dari playlist di otak selain itu juga ada lagu dari Iksan Skuter, Taring Padi, Merah Bercerita—yang dimana salah satu personilnya adalah anak dari Wiji Thukul. Dari musik dan interaksi langsung ke masyarakat luas, tidak bisa dihindarkan bahwa masyarakat suka bernyanyi dan hiburan.

 

Tidak hanya sekali yang ikut bernyanyi bersama dan request lagu favorit merekas sampai-sampai memiliki niatan untuk berdiskusi tentang musik dan pergerakan, namun hal itu belum terlaksana karena belum memiliki banyak wawasan terhadap musik. Ingin mendatangkan narasumber tapi belum ada uang karena setiap hari kami hanya mendapatkan uang dari ngamen untuk dibagi dua; sisanya buat beli rokok & kopi. Tapi tidak menghentikan niat kami untuk berdiskusi. Dengan segala niat dan tekad yang kuat, akhirnya kami membuka diskusi bareng berbagai kalangan dari Cilacap & Purwokerto. Bertempat di House of Rainbow, lumayan banyak yang datang di kegiatan tapi masih belum maksimal perlu banyak belajar lagi.

 

Sebelum kegiatan itu berlangsung, kami pun sempat buka diskusi publik di pusat kota terkait sampah plastik yang semakin menggila dari para pengguna plastik sekali pakai yang hanya membuat gunung sampah semakin tinggi. Dalam diskusi itu, kami mengajak teman-teman dari SONI (Save Our Nusakambangan Island) dan Gerakan Citanduy Lestari sebagai narasumber karena merekalah yang tahu dan paham terhadap masalah itu. Kami berharap kegiatan diskusi seperti itu menjadi dampak baik untuk masyarakat dan juga untuk kami sendiri sebagai pelaku yang sering buang sampah seenaknya jidat. Dari situlah jadi sering buka diskusi publik di lapakan perpusjal.