Nasib dan Masa Depan Agraria Pulau Jawa

___

*)Ditulis oleh Toto Priyono. Esais humaniora. Bermukim di Cilacap.

 

_

Tidak akan pernah habis untuk dibahas, kemajuan dan tumbal dari kemajuan tersebut  sepertinya memang “benar”: akan menjadi nyata dalam realita kehidupan manusia.

Mungkin, berpikir akan sesuatu membuat manusia menjadi tahu sesuatu. Tentu sesuatu yang diperkirakan itu akan terjadi saat ini, maupun di masa depan sebagai pemenuhan jalinan dalam berkehidupan setiap manusia.

Memang tak dapat dipungkiri, semua manusia mendambakan kemajuan. Tetapi perkara menjalani kehidupan maju tersebut, apakah tidak memundurkan kaum-kaum yang tidak dapat maju dengan adanya konsep kemajuan itu; jika pada akhirnya hanya manusia-manusia tertentu saja yang dapat untung di sana?

Ini tidak hanya menjadi pertanyaan tetapi juga menjadi suatu kekhawatiran sosial yang mungkin tidak disadari banyak orang. Kehidupan bermuara pada modernitas, pembangunan, dan harapan-harapan kemudahan zaman; yang memang akan menjadi sesuatu yang harus dikejar sebagai impian banyak manusia saat ini maupun yang kini tengah berpikir jauh sebagai lompatan ke depan.

Namun kuatnya sistem kapitalisme dalam mempengaruhi kehidupan manusia sungguh sudah melampaui.  Bukan tidak setuju dengan sistem ini, tetapi jika modal hanya ditujukan pada perolehan keuntungan semata, pada akhirnya, siapa yang akan memperhatikan nasib mereka—dalam hal ini “manusia” yang terpinggirkan dari wacana bermodal itu sendiri?

Sesuatu yang hanya akan menciptakan teka-teki, namun dalam hal kajian terhadap sesuatu, teka-teki itu selalu saja dapat untuk dipecahkan. Lebih jauh lagi, tujuannya bukan hanya untuk terpecah, tetapi harus memberi solusi kongkrit pada setiap obyek masalah; yang harus dihadapi bersama yakni sebagai sebuah jalan untuk menang secara bersama-sama dalam balutan bentuk ideal kemanusiaan.

Dalam menjalankan sebuah sistem sendiri, apapun bentuknya, memang dibutuhkan kerelaan pada obyek kemanusiaan yang harus menjadi tujuan. Tetapi sekali lagi, kemajuan dalam sistem apapun itu, jika tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ideologi yang humanis akan menjadi kenyataan kosong bagi kehidupan manusia.

Kembali pada sub pokok bicara “kemanusiaan” di abad ke-21 ini, apakah akan sesuai jika di dalam ranah keilmuannya sendiri, ilmu humaniora dipandang sebagai keilmuan yang menciptakan penganggur bagi negeri sekelas dan sebesar Indonesia? Mungkin menjadi apa yang dinamakan kemajuan industri dan teknologi, semua bentuk keilmuan harus pro kepada teknologi dan menciptakan banyak sumber daya manusia untuk kebutuhan industri itu sendiri?

Tetapi di dalam menjalaninya, kini sebagai masyarakat yang tentu lebih kompleks dari industri dan teknologi, mungkinkah tidak akan menjadi ketimpangan sendiri di dalam bermasyarakat tanpa ilmu humaniora di dalamnya? Bukankah dengan didukung teknologi maupun industri dan ilmu humaniora yang maju, akan menciptakan suatu terobosan-terobosan baru berkehidupan sosial secara seimbang? Negara sekelas Jerman sendiri saja tetap gigih membangun ilmu humaniora meskipun industri dan teknologi mereka juga sangat maju dan terkenal di dunia.

 

Bentuk ruang-ruang yang tidak tergarap oleh sisi kemanusiaan, bahkan akan menjadi ruang yang gelap untuk dilucuti keberadaannya, justru bukankah menjadi kecurigaan sendiri? Jangan-jangan, ilmu humaniora dikerdilkan di Indonesia untuk memperluas industrialisasi itu sendiri; yang diperuntukkan perolehan modal dari sistem kapitalisasi supaya mereka semakin kuat pengaruhnya di Indonesia dengan sistem ekonominya?

Berbagai kemungkinan-kemungkinan itu memang bisa saja akan terjadi. Jika ditelisik lebih dalam pun, manusia memang sudah tidak dapat lepas dari kapital. Semua digiring untuk butuh untuk kerja mencari uang sebanyak-banyaknnya dan belanja sepuasnya; meskipun sistem mengakomodasi mereka untuk tetap berhutang yang menjadi tali dengan permodalan.

Dalam setiap bentuk buaian akan sistem kapitalisme sendiri, memang semua tidak dengan lebih mudah untuk sama-sama mengingkari. Tentu karena semua manusia di dunia sudah diikat kuat dalam genggaman mereka—para manusia-manusia yang menang dalam sistem kapitalisme ini.

Seperti para pegawai rendahan sekelas gaji upah minimum kabupaten di Jawa Tengah yang terkenal rendah saja, cita-citanya kini membeli smartphone seharga belasan juta. Apakah jika sudah seperti itu, dalam ideologinya sendiri mereka sudah diracuni oleh sistem; di mana mereka—manusia—mencari uang semata untuk bereksistensi dengan kemewahan yang ditawarkan juga oleh uang pada akhirnya?

Bukankah akan menjadi pertanyaan sendiri, ketika manusia semakin kuatnya dengan harapan perolehan uang dalam waktu kehidupannya, hal-hal yang penting seperti properti dalam bentuk agraria misalnya; yang masih banyak manusia desa akan semakin mudah dilepaskan untuk kepentingan pembangunan yang justru tidak menguntungkan mereka di masa depan: apakah penting punya uang banyak?

Tentang wacana yang akan menjadi kabur pada akhirnya; pembelian properti masyarakat, pembangunan atasnama modal untuk modal, dan semakin lemahnya daya pikir manusia; yang terus akan terbuai dengan kemewahan yang justru membelenggu mereka sendiri. Pada akhirnya, tetap kapitalis-kapitalis juga yang akan diuntungkan pada akhirnya.

Dan menjadi masyarakat di abad ke-21 ini, akan menciptakan kelas yang menang dan kalah pada akhirnya. Namun dalam praktiknya sendiri, sistem kapitalisme bukan tanpa kelebihan. Tentu di sini adalah hak milik tersebut sebagai bagian dari aset masyarakat itu sendiri. Mempertahankan aset itu—contohnya “agraria”—adalah upaya untuk menang di dalam masyarakat kapitalis.

Karena dalam sistem kapitalisme, pemenang adalah pemilik; dan itu mengapa kepemilikan agraria haruslah diperhatikan; supaya tidak terlalu jauh untuk sebuah pembangunan yang tetap akan memenangkan mereka: para pemodal dengan jumlah besar.

 

 

Pembangunan, Kemiskinan, dan Ancaman Kepemilikan Lahan

Ibarat bemain dengan logika sendiri, memang terlihat dalam kehidupan “maju” bukanlah sesuatu yang mengecewakan. Manusia memang ingin kehidupan maju dan membanggakan sebagai jawaban dari segala bentuk harapannya. Namun menjadi “maju” dalam bentuk pembangunan yang tidak disadari itu, kita harus bertanya: akan ada berapa manusia yang dimiskinkan oleh pembangunan itu?

 

Pertanyaan yang tidak dapat dilepas ini, dalam bayangan sendiri, pembangunan memang diperuntukkan untuk umum. Tetapi dalam menjadi umum, apakah tidak rancu ketika untuk menjadi penikmat fasilitas umum sendiri harus menyesuaikan kelas sosial antara kelas mampu dan tidak mampu dalam jumlah kapital?

Bagaimana pembangunan dalam kapitalisme, semua diorentasikan pada modal dan kembali lagi teruntuk modal. Siapakah yang tetap berjaya dalam hal ini; yakni tetap para pemodal!

Modal dan lajunya kehidupan abad 21 ini memang ibarat sebuah pertalian yang disepakati bersama. Sebagai tawaran-tawaran dari bermodal itu sendiri, apakah benar yang penting hari ini punya uang bukan punya sumber-sumber aset produksi untuk menunjang kehidupan itu sendiri? Inilah yang terkadang dikaburkan oleh keinginan menjadi bermodal itu sendiri.

Kebutuhan menjadi mewah, tidak berorentasi masa depan, dan kemudahan segala bentuk apapun asal punya modal “uang”; semua dapat terbeli termasuk yang “dikesankan oleh hidup dalam kesenangan dan kebahagiaan dari perolehan kapital mereka sendiri”.

Ideologi berpikir dengan kapitalis memang tengah menjadi wabah baru manusia abad ke-21. Sebagain besar dari mereka tidak menganggap penting aset yang produktif seperti agraria itu sendiri.

Sampai kapanpun, manusia tetap akan kembali pada alam untuk menanam apa yang mereka akan tanam sebagai bahan makanan. Jika pun nanti di masa depan akan ada makanan buatan yang lebih efisien, apakah sesuatu yang dibuat itu tidak akan membutuhkan alam pada akhirnya?

Alam sebagai ibu dan lahan untuk menanam manusia adalah bentuk kasih dari seorang ibu untuk kehidupan manusia. Dan apakah manusia akan peka terhadap kasih ibu “agraria” jika dibandingkan dengan kebutuhan pertalian mereka akan uang dan kemewahan—bukan dalam bentuk produktivitas pangan yang lebih dibutuhkan?

Pertanyaan tetap pertanyaan tetapi kenyataan merupakan bukti itu. Lahan-lahan di Pulau Jawa semakin tergerus industri dan pembangunan yang justru mengerdilkan produktivitas pangan Tanah Jawa itu sendiri sebagai simbol kemakmuran.

Pembangunan lahan industri pabrik, jalan tol, perumahan, dan sebagainya yang mengurangi secara membabi buta lahan di Tanah Jawa, bukan saja akan menimbulkan masalah sosial baru di masa yang akan datang. Tapi juga, ancaman-ancaman kemiskinan yang terus akan dirasakan manusia Jawa pada saatnya. Mungkin jika tanah Jawa dijadikan industri yang besar untuk Indonesia, secara garis besar apakah tidak akan tetap dimiskinkan jika sebagian besar masyarakat adalah buruh dengan keterbatasan upah, lalu di sana harga kebutuhan pokok seperti pangan harus tinggi harganya karena produksi pangan semakin sedikit?

Yang mungkin sudah terjadi tetapi tidak disadari, populasi penduduk Jawa yang semakin meningkat jumlahnya sendiri, bukan saja akan menjadi fokus baru di balik terus dibangunnya pembangunan dan tetap pembangunan.

 

Perumahan dan pabrik-pabrik industri mungkin sebagian dari itu, tetapi pembangunan jalan tol yang akan terus dibangun melingkari Tanah Jawa. Jika di bagian Jawa utara sudah dibangun jalan tol, kini giliran Jawa bagian selatan yang akan menerimanya. Mungkinkah bencana atau anugerah dari pembanguan itu?

Tentu perkaranya hanyalah berubahnya tranformasi lahan—yang sebelumnya dimiliki oleh masyarakat dan masih dinikmati hasilnya dari lahan tersebut sebagai lahan pangan—berganti aspal-aspal entah milik siapa. Bukankah jika milik negara, apakah semua lapisan masyarakat menikmati apa yang diusahakan negara? Bukankah yang tetap sejahtera adalah mereka-mereka para pegawai negara dengan bentuk sebagai yang katanya mengabdi pada masyarakat itu?

Pembangunan dalam sistem kapitalisme memang bukan saja tidak untuk sebagai sebuah keadilan. Jika bukan pemodal dan negara, hasilnya pun akan tetap dinikmati oleh mereka para kapitalis birokratis yang bersembunyi di balik jubah negara.

Mungkin jika harus dirasakan dampaknya lebih dalam, setiap apa yang disebut pembangunan, memang akan mengancam semua bentuk kepemilikan lahan. Terkadang tawaran yang menggiurkan dari uang hasil dari penjualan lahan itu menjadi sesuatu yang rancu. Dapatkan manusia akan mempertahankan lahan tanahnya jika apa yang menjadi ide-ide mereka sederhana; yakni menjadi hedonis dengan uang yang akan mereka peroleh?

Bukankah menjadi bukti itu sendiri bagaimana Jalan Tol Trans Jawa di bagian utara Jawa mengurangi poduksi pangan itu karena sawah yang digunakan sebagai pembangunan jalan sudah tidak produktif lagi, bahkan sudah mati?

Dan siapakah yang menerima berkah dari pembangunan itu; apakah mereka para kaum manusia terpinggirankan yang diuntungkan? Tentu yang dapat menikmati adalah mereka-mereka dengan keterpunyaan modal yang tinggi; di mana untuk masuk jalan tol saja harus punya mobil dan uang untuk mempergunakannya.

Masa depan agraria di Pulau Jawa memang sudah akan mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Bukan apa, mungkin dampak dari hari ini tidak akan terasa. Mereka yang menjual lahan-lahan mereka untuk pembangunan masih dapat menikmatinya untuk dirinya sendiri. Tetapi, bagaimana dengan keturunan mereka kelak?

Inilah sumber dari berbagai masalah itu. Di belahan bumi sana, berperang mempertahankan lahan, manusia usahakan mati-matian namun tawaran akan uang dan kemewahan hidup sesaat justru mengaburkan nilai-nilai perjuangan akan lahan itu sendiri.

Bahwasanya jelas di sini. Lahan, selama ia masih diolah oleh manusia, di sana akan terdapat kehidupan berapapun lintas generasinya. Untuk itu, mempertahankan lahan adalah mempertahankan akan abadinya kemakmuran bagi manusia.

Bukankah menjadi dasar dari berpikir itu sendiri—untuk manusia khususnya—yang mempunyai lahan agar tidak sebegitu mudahnya menjual lahannya; yang akhirnya di masa keturunannya, mereka tidak sejahtera karena tidak mempunyai lahan bagi kebutuhan pangan-pangan mereka?

 

Saat ini, sebab dari berbagai musabab itu, Tanah Jawa yang terkenal dengan kesuburannya bukan tidak mungkin di masa depan akan menjadi miskin karena alih fungsi lahan itu sendiri. Nahasnya bukan masyarakatnya yang menikmati, tetapi segelintir orang dalam sistem kapitalisme yang justru menikmati itu.

Kesadaran akan agraria untuk masa depan lebih baik bukan saja harus ditanamkan dengan berbagai tawaran ide-ide hedonisme sementara yang lebih menggiurkan; namun berpikir orentasi masa depan. Bukankah kemewahan hidup tidak akan terbawa mati dan manusia mati jika ia punya anak akan meninggalkan anaknnya? Akan diwarisi apa anak tersebut? Kemiskinan tidak punya lahan pangan?

Sesuatu yang belum terjadi dan akan direncanakan untuk terjadi adalah pembangunan Jalan Tol Trans Jawa segmen selatan Pulau Jawa. Bukan hanya akan menjadi ancaman nyata lagi bagi agraria Tanah Jawa kembali, namun akan menjadi momok kemiskinan lagi; yang akan terjadi berikutnya di masa depan masyarakat Jawa.

Pembangunan jalan tol segmen jalur selatan Jawa di satu Kabupaten Cilacap sendiri berpotensi akan kehilangan lahan sawah sekitar 537 hektar—dikutip oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap. Bukankah dari sini, kita dapat menghitung berapa dalam waktu sekali panen, kita kehilangan hasil dari panen pangan tersebut? Inikah yang akan diwariskan untuk keturunan kita dengan “kemiskinan” karena sudah tidak punya lahan lagi?

Menjadi masyarakat yang punya hak secara pribadi akan kepemilikan lahan, bukankah itu sebuah kekuatan masyarakat untuk menentang pembangunan yang justru memiskinkan?

Perkaranya, kini “kemewahan” yang banyak masyarakat pamerkan. Manusia akan selalu butuh uang untuk gaya hidup mereka dan apa yang mungkin dapat mereka jual sebagai akomodasi kemewahan adalah menjual lahan; yang juga merupakan solusi bagi masyarakat yang selalu kekurangan gaya dan melupakan pentingnya masa depan untuk anak-cucu mereka sendiri.

 

Perempuan: Subyek Pemimpin yang Dikekang?

 

Kartun ‘I Got This’ karya Sousa & Machado/cartoonmovement.com.

*)Oleh Toto Priyono. Peminat sosio-humaniora, esais, dan bermukim di Cilacap.

Berbicara masyarakat bukan saja berbicara tatanan; tetapi juga harus berbicara ide-ide dalam bermasyarakat. Memang, menjadi satu manusia ideal harus betumpu pada tujuan “ideal” itu sendiri yang disepakati bersama.

Namun dalam bangunan bermasyarakat, apakah konsep ideal tidak menjadi kabur ketika satu dari banyak masyarakat sendiri mempunyai gagasan bagaimana menjadi ideal itu menurut versinya masing-masing?

Tentu tidak akan menjadi mudah ketika manusia berbicara ide—apalagi saat ia harus berbicara ide—namun ide itu dihadapkan dengan kerumunan yang juga membawa ide-idenya sendiri-sendiri dalam balutan bermasyarakat. Ibaratnya menjadi satu semut dalam satu rumah diisi jutaan semut yang menghuninya; satu manusia tidak dapat mengubah apapun terkecuali: ia memang sudah punya kekuatan dalam mempengaruhi banyak manusia di dalam kehidupan bermasyarakat.

Maka tidak heran, pemimpin-pemimpin diciptakan dalam struktur sosial bermasyarakat; bawasannya titah atau pengaruh mereka dapat mempengaruhi wacana ide berpikir manusia dalam hidup bermasyarakat. Tetapi apa yang tidak dapat disentuh oleh manusia berpengaruh tersebut (pemimpin) adalah ranah tradisi dan anggapan yang berbudaya secara turun-temurun menjadi keyakinan banyak masyarakat.

Secara tidak langsung, keyakinan-keyakinan tersebut menjadi dalil-dalil baru dalam hidup bermasyarakat yang diyakini secara ideologis bawah sadar mereka. Dalil tersebut seperti hukum dan apa bentuk hukum tersebut adalah adanya konsep dari stigma buruk dalam sebuah persepsi; yang menjadi acuan dalam bermasyarakat itu sendiri sebagai “ideal” dari yang dipilih atau disepakati menjadi ideal.

Sebut salah satu yang banyak terhukum masyarakat saat ini adalah stigma menjadi (sebagai) “perempuan”. Mengapa perempuan cenderung rentan terkena dampak buruk dari stigma tersebut di masyarakat?

Perlu diingat, peradaban saat ini bukan saja bentuk dari keterpengaruhan di masa lalu, tetapi pengetahuan yang dibangun cenderung maskulin dan meminggirkan perempuan sebagai bagian dari masyarakat yang setara. Karena di dalam keyakinan masyarakat tradisional, perempuan bukan saja harus patuh, kalem, dan tidak mengikuti gaya hidup yang nakal, tetapi juga dari dalam strata sendiri harus lebih rendah dari laki-laki, padahal semua manusia diciptakan untuk menjadi sama; tidak ada perbedaan, baik di dalam masyarakat maupun sebagai pribadi manusia itu sendiri.

Perempuan terlihat lemah karena pandangan sosial yang memposisikan mereka lemah; bukan berarti dipandang “lemah” tidak bisa menjadi kuat. Perempuan merupakan makhluk yang paling kuat meskipun ia direndahkan secara pandangan sosial—tetapi kekuatan itu terletak pada sikap mau mengalah terhadap peradaban yang sebenarnya menindas mereka.

Pada dasarnya, perempuan adalah makhluk paling berani menata dirinya. Mereka adalah pemimpin sekaligus mampu “mengalah” untuk menjadi perempuan itu sendiri; yang bila mereka menggugat: dunia memang milik mereka (women the real leader of the world).

Mungkin inilah jawaban dari kebudayaan Jawa, misalnya; meskipun sosok pemimpin perempuan sendiri banyak di belahan dunia lain, tetapi kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang terdekat dan nyata dapat kita lihat. Mengapa tempat bersemayamnya raja-raja Jawa dinamakan keraton? Bukankah keraton sendiri berasal dari kata “keratuan” (ratu: perempuan); yang dimana pemimpin sebenarnya harus berjiwa feminis?

Sosok atau figur jiwa perempuan menjadi ibu bagi kehidupan seperti harus dilibatkan dalam struktur tertinggi politik masyarakat Jawa. Ini menunujukkan bahwa peradaban memang harus feminim supaya jiwa merawat kehidupan seperti ibu yang merawat dengan baik anak-anak mereka; sebagai bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri.

Namun kembali tentang sesuatu yang telah membudaya dari generasi ke generasi, bahwa dibutuhkan kesadaran secara total dalam bermasyarakat untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi peran maskulinitas peradaban dunia. Yang justru terjadi, faktor kejayaan, ekspansi, dan kehendak kuasa menjadi cermin peradaban masyarakat dunia saat ini; bukan merawat dunia seperti peran ibu (feminin).

Memang bukan hanya berbicara keadilan gender, tetapi juga mana peran yang baik untuk sama-sama merawat dunia dan masyarakatnya. Masih banyaknya perang di dunia, ketimpangan sosial, dan eksploitasi pada alam yang berlebihan mungkin harus berkaca pada apa sebenarnya yang salah dari peradaban dunia itu sendiri saat ini? Maskulinitas yang terkadang jumawa; mengidealkan kuasa dalam permainannya, apakah ini  biang dari semakin terdegradasinya kehidupan dunia dimana alam dan masyarakat semakin mempunyai kualitas hidup yang rendah?

Bukan saja menjadi catatan, dalam menjadi manusia, memang faktor feminin dan maskulin dapat termanifestasi di tubuh yang sama. Tetapi berbicara adikodrati sebagai manusia, mereka akan optimal ketika mereka menyadari tubuhnya masing-masing dan tidak mungkin manusia akan optimal tanpa ia bersatu dengan tubuhnya sendiri; dalam arti, permpuan tetap menjadi feminin dan laki-laki akan tetap menjadi maskulin.

 

Stigma Moral Terhadap Perempuan   

Menjadi manusia memang tidak berbeda. Setiap manusia berhak berpikir; berhak menentukan hidup sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Begitu pula menjadi perempuan, mereka bebas menjadi apapun yang mereka mau. Kita, antara perempuan dan laki-laki, terperangkap di tubuh yang sama; yakni manusia.

Tetapi, ide tentang moralitas seperti sebuah sandungan dalam menjadi manusia. Semua serba atasnama keyakinan yang dipercayainya masing-masing dalam memandang hidup. Norma-norma yang masyarakat pandang seperti sebuah dalil sosial padahal sosial terbentuk dari pribadi-pribadi antara laki-laki dan perempuan; dimana wacana menghakimi sebagai masyarakat haruslah bagaimana menjadi manusia secara pribadi terlebih dahulu.

Hidup di dalam keyakinan pada tradisi seperti gampang yang susah. Di samping gampang telah memiliki pakem yang ada, susah ketika pakem tersebut tidak sesuai dengan apa yang manusia kehendaki di dalam menjadi masyarakat itu sendiri sebagai pribadi. Menjadi masyarakat ibarat manusia menjadi dua kaki; satu kaki harus taat pada norma masyarakat, satu kaki lagi harus dapat menjadi bebas sebagai pribadi manusia.

Maka moralitas dan strata sosial dalam masyarakat seperti hanya akan berbuah paradoks. Namun yang tetap menang di sini yakni laki-laki yang dipandang lebih superior dibandingkan perempuan. Dalam hal moralitas juga sama; laki-laki seperti biasa dipandang dalam hal-hal merokok, mabuk, dan bekerja kasar, misalnya. Berbicara hal yang sama menjadi manusia, perempuan seharusnya dipandang sama jika mereka harus merokok, mabuk, atau kerja kasar untuk mengisi harinya sebagai manusia.

Saya tidak sepakat bahwa rokok dan apapun itu terlarang bagi perempuan secara wacana ide moralitas kepatutan menjadi masyarakat. Mau mabuk atau apapun, itu adalah kebebasan sebagai manusia, termasuk perempuan itu sendiri.

Mabuk, rokok, dan segala macamnya, termasuk mencari nafkah keluarga, bukankah sudah menjadi produk kebudayaan dari dulu yang dilabeli untuk laki-laki? Pola pikir masyarakat sudah terbentuk begitu berpakem: wanita itu harus kalem, penurut, dan tidak mengikuti gaya hidup yang nakal. Jelas, pandangan masyarakat menstigma bahwa “kalau dia perempuan tidak benar karena di luar dari pakem itu” yang menjadi perspektif ideal bagi masyarakat.

Namun lambat laun, ini hanya budaya, bisa berubah tergantung pola pikir lagi di masyarakat. Setelah masyarakat dewasa memandang kehidupan, membuat berpakem-pakem itu akan hilang dengan sendirinya, karena keadaan gaya hidup populer dan segala macamnya termasuk dalam semesta wacana pemenuhan kebutuhan keluarga akan terus mengikuti kebutuhan zaman.

Bukankah kini karena kebutuhan hidup, perempuan mencari nafkah sudah menjadi biasa untuk sama-sama memenuhi kebutuhan keluarga? Sepertinya benar perspektif yang diyakini masyarakat dalam wacana ide masyarakat sendiri, yang belum dewasa memandang sesuatu di luar pakem menurut pandangan mereka.

Dalam bergaya hidup sebagai modern sendiri, kini memang sudah tidak akan zaman lagi “ini bagian laki-laki, ini bagian perempuan”. Semua aspek kehidupan masyarakat cenderung akan menunjukkan kesetaraan di masa depan termasuk dalam ruang mencari nafkah, gaya hidup, bahkan kebutuhan hidup untuk “nakal” itu sendiri; yang kini dijadikan sebagai pelarian kebosanan pada hidup yang “mengapa harus begini-begini saja hidup sebagai manusia itu?”.

Ketika hidup manusia sudah setara dalam pandangan masyarakat sendiri, kini perempuan yang dikerdilkan peranannya dan moralitasnya untuk bagaimana menjadi perempuan, akan mendapat hak yang sama di masa mendatang. Perempuan yang sebenarnya kuat dan punya insting dalam merawat kehidupan sendiri dengan potensi yang tersembunyi dari mereka, nantinya ketika tidak ada lagi wacana ide masyarakat dalam kesetaraan lebih merendahkan perempuan, bukan tidak mungkin perempuan mengambil alih peradaban untuk memimpin dunia dengan sikap dan kekuatannya sebagai perempuan: sang pemberi dan melahirkan hidup.

 

‘Singapore of Java’: Menjadi Kota PLTU?

 

*)Penulis: Toto Priyono. Bermukim di Cilacap sambil meminati kajian sosio-humaniora dan beresai.

Bagi kaum awam seperti mereka dan saya, menjadi “Singapura-nya Indonesia” berarti akan terciptanya gedung-gedung tinggi, rapi, indah, dan maju. Banyaknya pekerjaan yang tersedia nanti di kota metropolitan mirip Singapore ini dengan julukan “The Singapore of Java” sangat membantu kami warga sebagai warga Cilacap karena kami tidak perlu susah-susah merantau ke kota lain untuk mencari sesuap nasi, bahkan sampai ke luar negeri (ke Singapura-nya betulan).

Memang pada tahun 2014 lalu, politikus yang menjabat Presiden untuk kedua kali, Bapak Republik Indonesia tercinta, Joko Widodo, sempat mencanangkan bahwa Cilacap akan menjadi Singapura-nya Indonesia lewat industri yang akan dibangun di Cilacap, yakni PLTU (pembangkit listrik tenaga uap). Tentu kabar baik ini diterima dengan senang oleh semua pihak lapisan masyarakat. Harapan mereka mungkin akan menjadi kebenaran karena yang bilang sendiri adalah Jokowi, calon presiden Indonesia waktu 2014 itu dan juga belum lama tahun 2019 ini.

Namanya juga orang desa, melihat Singapura itu hanya di gambar saja. Kotanya begitu maju, sampai-sampai dengan Photoshop (aplikasi edit foto), mereka gambarkan Kota Cilacap yang maju. Dari perbatasan Kota Cilacap, terlihat megah diisi oleh penggambaran dengan bentuk gedung-gedung tinggi yang mewah dan megah. Sayang, dokumentasi itu sudah tidak terlihat di berbagai media sosial tentang Cilacap; jadi gambar tersebut tidak saya bagi di sini, tetapi jika Anda orang Cilacap pasti mengetahui.

Orang berharap boleh saja (menggambarakan kegembiraan?). Apalagi, jelas boleh asal “kalau tidak sesuai harapan jangan kesal”. Tentu harapan kemajuan kota menjadi gambaran warga Cilacap yang girang akan wacana Jokowi yang dulu bahkan hingga kini saat menjabat sebagai Presiden Indonesia.

Tetapi apakah harapan tidak hanya menjadi harapan? Sudahkah Cilacap selangkah memiliki kemiripan dengan panutannya, Singapura? Inilah yang akan dipertanyakan; realitas kini dan progres kemajuan dari Cilacap itu sendiri sebagai “The Singapore of Java”.

 

Cilacap Kini Kota PLTU

Gagasan menjadi Singapura-nya Jawa memang mungkin. Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Cilacap juga memberikan jargon yang sama; bahwa Cilacap dapat menjadi Singapura-nya Jawa. Tentu alasan Pemkab sendiri akan datangnya investasi besar-besaran ke Cilacap menjadi faktor ketertarikannya bertumpu pada PLTU yang akan dibangun di Cilacap—yang kini sudah terbangun dan sebagian lagi telah berfungsi. Tetapi sejak dalam pembangunannya, dari satu PLTU hingga sekarang, yang telah mencapai empat pembangkit PLTU, geliat investasi di Cilacap cenderung stagnan. Memang sedikit ada kenaikan, tetapi sifatnya hanya akomodasi proyek PLTU saja.

Saya kira pengembangan infrastruktur menjadi biang tersendatnya investasi ke Cilacap. Kota yang buntu membuat enggannya para investor menanamkan modalnya ke Cilacap. Mengapa untuk menarik Investor dibutuhkan infrastrukur? Jelas, untuk menunjang faktor distribusi barang jadi produksi dan barang mentah untuk diproduksi oleh industri.

Jargon Cilacap untuk menjadi Singapura-nya Indonesia di Jawa pada saat itu, menurut saya terkesan hanya manifesto PLTU dengan segenap janjinya “sebagai kepentingan proyek strategis nasional pemerintahan Jokowi” untuk tidak mendapat banyak pertentangan masyarakat. Dengan kurang berkembangnya investasi di Cilacap, jika memang Cilacap akan dijadikan oleh pemerintah pusat menjadi “The Singapore of Java”, tentu pemerintah pusat menggiring investor ke Cilacap dan menyiapkan infrastrukturnya terlebih dahulu sebagai kawasan ramah Investor.

Bukankah kenyataannya itu tidak dilakukan oleh pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Cilacap sendiri yang mendukungnya? Oleh karenanya, janji daerah maju dan investor datang seperti hanya gurauan politikus yang sudah biasa terjadi. Memang, saya di sini tidak tahu bagaimana investasi di Cilacap akan berkembang nantinya.

Tetapi kita boleh sejenak berpikir secara rasional, bagaimana investor akan datang ketika infrastrukturenya belum siap? Adanya PLTU sebagai bahan utama masuknya investor memang hanya ucapan manis kepada masyarakatnya saja, buktinya tetap nihil. Produksi listrik PLTU yang produksi listriknya dapat disalurkan kemanapun asal terdapat penghantarnya, itu yang tidak terbaca oleh masyarakat dan pemerintahan daerahnya, dalam hal ini: Kabupaten Cilacap.

Infrastruktur yang mandeg di Kabupaten Cilacap sendiri membuat investasi di Cilacap masih kalah jumlahnya oleh kabupaten-kabupaten lain di Jawa Tengah, yang lebih siap dalam infrastruktur seperti Solo, Klaten, Salatiga, dan Sukoharjo. Mengapa investor memilih daerah mereka?

Tentu karena faktor Tol Trans Jawa yang mengakomodasi sebagai akses kebutuhan utama industri yang diperlukan. Daerah jalur Tol Trans Jawa sendiri mendapat berkah sebagai wilayah industri baru pindahan industri dari Jabodetabek; yang di sana dinilai tidak banyak menguntungkan karena faktor pengupahan yang sudah tinggi kepada buruh.

Dengan berubahnya iklim wilayah sebagai tujuan investasi industri dan infrastruktur yang cenderung belum menampakkan kemajuan di Kabupaten Cilacap, membuat Cilacap hanya akan dihuni oleh Industri PLTU yang akan terus berekspansi. Kini sudah ada empat PLTU yang sudah terbangun di Kabupaten Cilacap. Mungkin jika ke depan tidak ada penolakan berarti dari masyarakat Kabupaten Cilacap, selama konsumsi listrik di Jawa dan Bali masih kurang, terus menambah PLTU di Kabupaten Cilacap adalah jelas menjadi kenyataan itu.

Rayuan investasi dari adanya PLTU sendiri sudah tidak akan bisa diharapkan lagi bagi masyarakat Kabupaten Cilacap. Yang ada, Cilacap kini menjadi Kota PLTU dengan berbagai dampak sosial atau dampak lain seperti kesehatan masyarakat yang ditimbulkan dari aktivitas produksi industri PLTU itu sendiri. Sekali lagi, wacana keuntungan investasi dari industri PLTU sampai jargon “The Singapore of Java” adalah kebohongan belaka.

Tidak lebih, hanya upaya strategi dari Pemerintah Pusat dan Daerah yang setuju pembangunan PLTU sebagai proyek strategis nasional yang tidak menguntungkan masyarakat Kabupaten Cilacap tetapi justru merugikan masyarakat di sekitarnya. Bukankah kasus rencana pemindahan siswa SDN 03 Slarang pada Kamis (4/4/2019) karena terdampak proyek pembangunan PLTU Karangkandri di Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, sudah menjadi bukti yang merugikan masyarakat itu?

Terkadang, harapan, wacana, dan kenyataan tidak semua berbanding lurus; begitu pun dengan investasi kemudian julukan “The Singapore of java”. Semua hanyalah bentuk rayuan indah untuk menggiring opini supaya industri—dalam hal ini PLTU—tidak mendapat penolakan berarti dari masyarakat Kabupaten Cilacap itu sendiri.

Bagaimanapun, semua industri ada nilai kurang dan lebihnya; tinggal masyarakat lihat, jika dampak lingkungan tidak diperhatikan oleh manajemen PLTU, maka menentang adalah sesuatu yang perlu. Perkara nanti di masa depan ketika banyak PLTU itu tidak terpakai lagi dan hanya akan menjadi barang bekas yang rusak, mungkin julukan Cilacap sebagai Kota PLTU berganti menjadi Kota Penampung Rongsok PLTU.

 

Filosofi Bucin sebagai Tren Zaman

Lukisan “The Good Samaritan” karya Hannah Varghese, tahun 2007.

 

*)Ditulis oleh Toto Priyono. Esais, penekun sosio-humaniora, dan bermukim di Cilacap.

 

Permainan kosakata seperti telah menjadi hal yang lumrah dalam memandang pergaulan masa kini. Setiap zaman pasti akan menciptakan suatu narasi yang;  kita, “manusia”, seperti dituntut untuk menelanjangi diri; dimana apa yang dibutuhkan dalam menjalani hidup seyogianya hanyalah untuk sebuah candaan, tentu agar keinginan kita menjadi kabur dan tidak memperkeruh perkara-perkara apa yang harus dibutuhkan dalam menjadi manusia termasuk memandang cinta itu sendiri.

Mungkin akan menjadi aneh ketika manusia tidak menyadari sebuah kata “tren” di abad 21 ini. Memang tidak semua manusia dapat diseragamkan; bahwa mereka—manusia abad ke-21—harus hidup mengikuti tren. Namun di sini yang harus disadari: tidak semua orang hidup bersama dengan “tren”. Seperti yang banyak terlihat sekarang, tren sendiri bukan berarti hanya isu yang diperbicangkan orang secara berlebihan.

Barang dan bahasa juga termasuk dalam “tren” yang di dalamnya hangat juga untuk diperbincangkan; yang terkadang tidak disadari tetapi hal tersebut merupakan identitas budaya baru yang menjadi pijakan manusia untuk menanggapi suatu feonomena diri bersama dengan zamannya. Namun tentang budaya yang terbangun itu, sebenarnya sudah lama ada, hanya saja tidak disadari dan belum sempat ternamai sebagai simbol itu sendiri.

Perkara menjadi anak muda dan berbudaya, bukan saja ia harus mengubah segala sesuatunya sebagai identitas dari zamannya, tetapi juga sebagai titik pijak; dimana akan ada sesuatu yang mengingatkan dari hidup manusia ketika kita membangun budaya “tren” dalam menjalani hidup ini. Yang mungikin kini menjadi ingatan kolektif para generasi milenial di sana, tren akan grup band dan karya-karyanya di tahun 2010-an ke belakang yang mereka banyak menyinggung kata cinta di dalamnya. Waktu itu, generasi mereka—“milenial”—berada di dalam gelora anak muda yang mencirikan sebagai “pemain cinta”. Dan, hiburan dari apa yang disebut patah hati, bahagia atas nama cinta, dan kenangan-kenangan pengalaman dari menjalani cinta itu seperti termanifestasikan dari karya-karya berupa lagu dari grup band pada masanya.

Saya kira, milenial yang patah hati mengenal baik lagu Vagetoz atau dengan mereka yang menginginkan indah dan bahagianya “cinta” akan terus-menerus mendengarakan lagu dari grup band Naff. Kemudian dengan mereka yang menatap impian, mencoba mengais-ngais karya dari J-Rocks dengan musik yang menghentak untuk meraih mimpi.

Tidak disadari juga sebagai budaya masa itu oleh milenial; bahwa mereka mengikatkan diri pada wadah “fans” dimana grup band yang menjadi representasi perasaannya; itulah yang menjadi identitas dalam pergaulannya. Pada masa itu, semua bertanya; grup band apa yang menjadi karya-karya favoritnya? Tentu grup band tersebut yang membawa diri dan perasaan mereka sebagai yang; entah itu sedang patah hati, bahagia, bahkan yang sedang mengejar mimpinya. Dan saya membayangkan, mungkin yang menjadi kenangan akan karya-karya lagu dari musik sendiri saat ini—mencerminkan sebuah tren pada zamannya, akan menjadi sebuah ingatan masa lalu oleh Generasi Z di masa depan. Dan karya dari lagu tersebut adalah lagu-lagu yang menjadi tren masa kini: 2019.

Nantinya, Generasi Z ketika mendengar lagu Mundur Alon-alon atau Kartonyono Medot Janji, ia teringat masa lalunya. Praktis jika ingatan mereka atau karya dari lagu-lagu saat ini mencirikan narasi patah hati, tentu mereka—Generasi Z—merupakan generasi yang mengingat patah hati.

 

Bucin: Berakar dari Ingatan “Romansa” Masa Lalu Milenial

Berangkat dari ingatan, mungkin apa yang terjadi sebagai sebuah wacana ingatan saat ini bagi milenial adalah perkara romansa cinta yang terbangun di masa lalu yang saat ini sulit untuk diwujudkan sebagai tujuan dari merawat ingatan itu sendiri. Dimana ia sudah bukan lagi pemain cinta yang percaya diri; karena bagi milenial kini, bermain cinta tanpa kerelaan waktu, biaya, dan fasilitas-fasilitas yang mengakomodasinya akan menjadi cinta yang hambar; mungkin salah satu contoh dari cinta kaum milenial kini adalah menjadi pernikahan itu sendiri.

Dan tentang yang banyak manusia sana anggap sebagai “bucin” merupakan produk masa lalu yang harus tetap ada di saat masa lalu sebagai ukuran yang dibutuhkan oleh generasi milenial saat ini. Jelas, untuk tetap merasakan romansa bahagia, patah hati, dan mimpi-mimpi akan keabadian diri dalam memandang cintanya karena masih riskan dengan pernikahan.

Bucin atau budak cinta sepertinya memang bukan stigma yang buruk. Pada dasarnya, semua orang berpotensi menjadi budak di kala manusia itu butuh sesuatu. Kebutuhan adalah perbudakan dan itu mengapa kaum budak diadakan di dalam sistem masyarakat dunia untuk menjawab apa-apa yang menjadi kebutuhan masyarakat itu sendiri. Dalam arti; majikan butuh pembantu, pembantu juga sebaliknya butuh majikan, karena tentu untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing.

Maka tidak heran, kebutuhan akan cinta sendiri pun tetap akan mengundang sistem-sistem baru dalam saling membutuhkan antar relasi manusia. Tetapi nahasnya hidup manusia memang menderita karena manusia ingin bahagia. Yang perlu menjadi garis bawah itu sendiri, bahkan pertanyaan yang belum ada habisnya dari awal lahirnya manusia adalah jawaban dari manusia yang ingin bahagia menempuh jalan cinta.

Secara harafiah, mungkin kata “cinta” jika dijabarkan merupakan sesuatu yang universal. Bukankah universalitas dari cinta itu sendiri tergantung dari manusia itu sendiri dalam menafsirkannya?

Inilah yang tidak dapat disamakan atau disama-samakan. Penafisran akan sesuatu bergantung pada kesadaran manusia itu sendiri, dimana cara berpikir menentukan cara manusia untuk sadar. Dan kini, penafsiran akan cinta sendiri begitu disempitkan; hanya sebatas antara pria dan wanita yang diharapkan akan saling butuh untuk saling membahagiakan satu dengan lainnya. Padahal filsuf “cinta” Cina, Jenderal Tiang Feng atau Cu Pat Kay pernah berkata, “Cinta, penderitaannya tiada akhir.”

Namun bucin yang sudah menjadi fenomena zaman berakar dari masa lalu manusia yang mengikuti tren pada masa dimana mereka merindukan sesuatu. Jelas, di sini, bucin merupakan produk zaman yang menjadi budaya dalam percintaan itu sendiri yang bertransformasi tetapi tidak disimbolkan melainkan hanya sebagai sebuah wacana

Dan saat ini oleh milenial, bucin adalah simbol baru para pemain cinta yang merindukan saat-saat mereka bahagia menjadi cinta itu sendiri. Namun yang tidak disadari; di dalam kebahagiaan selalu terselip kesengsaraan. Bermain cinta ibarat bermain di dua kaki yang sama, yakni antara kebahagiaan dan kesengsaraan itu sebagai bentuk dari mewujudkan cinta.

Menjadi manusia apapun namanya; baik label, stigma, atau juga khas dari candaan yang mereka bawa, sepertinya yang dicari dalam menjadi manusia adalah pembeda dan menjadi bucin mungkin merupakan bagian dari pembeda hidup manusia tersebut. Seperti ungakapan Zarathustra, bahwasannya jiwa manusia dimetaforakan menjadi tiga bentuk: yaitu jiwa Onta, Singa, dan Bayi. Mungkin kejiwaan dari kebijaksanaan seorang bucin ada pada jiwa Onta; dimana Onta makhluk penurut dan jika dibebani semakin berat, ia semakin bahagia dengan bebannya tersebut dalam menjalaninya.

Tetapi perlu dicatat; bahwa semua manusia berpotensi menjadi bucin tergantung dari bagaimana manusia itu sendiri memandang bahagia. Jika bahagia dari cinta menjadi “bucin” merupakan realitas yang harus dijalankan itu, tidak dipungkiri manusia akan menjadi bucin pada waktunya.

Oleh karenannya, pengejaran-pengejaran akan bentuk cinta itu sendiri memang sah-sah saja sebagai manusia yang ingin dibahagiakan cinta. Derita dan bahagia yang dibawa dari konsep cinta seperti telah melampaui saat kita harus menjadi budak cinta atau membutuhkan cinta itu sendiri sebagai sebuah pembeda dari hidup manusia.

Bersama dengan kebahagiaan; memang rasa bahagia tidak dapat diukur oleh logikanya sendiri. Setiap dari satu manusia dengan manusia lain mempunyai caranya untuk menjadi manusia yang berbahagia. Mungkin dengan “mem-Bucin” itu sendiri adalah titik tertinggi bahagia mereka, yang akan menjadi bahagia dengan laku membudakkan diri pada cinta.

Ingatan memang hanya menjadi ingatan. Saya kira bucin sebagai tren zaman sendiri tetap akan dijadikan sebuah kenangan pada masanya juga oleh milenial. Seperti karya dari lagu-lagu masa lalu, yang dalam kenangannya, manusia mengingat saat-saat itu di masa depan. Romansa kisah dari generasi milenial yang mungkin dalam dekade ke depan sudah tidak dapat lagi menjadi muda diganti dengan muda-mudanya generasi Z. Dan bucin akan tetap menjadi produk bahasa kebudayaan zaman yang akan terkenang nanti oleh generasi milenial ketika mereka sudah mempunyai anak; yang mana “bucin” itu hanya untuk bagaimana anak dapat tumbuh dan berkembang secara layak.

Yang perlu tetap harus diikuti adalah bagaimana nanti generasi Z membanaun budaya cintanya sendiri; apakah mereka akan seperti milenial yang membangun romansa cintanya dengan dan sebagai “bucin” karena pada saat itu menjadi pemain cinta yang menghamba pada karya-karya dari lagu cinta sangat begitu komplit seperti di sebelum tahun 2010-an?

Bukankah karya lagu-lagu saat ini yang banyak berisi patah hati dikombinasikan dengan dangdut koplo untuk bergoyang seperti Kartonyono Medot Janji atau entah apa yang merasukimu versi gagak menjadi pertanyaan sendiri yang sangat ambigu sekaligus bermakna dua? Jadi sekiranya fenomena apa nanti di masa depan yang akan di buat oleh generasi Z dalam memandang budaya baru akan cinta mereka?  Mungkin jika saya mau berhipotesa membaca zaman; “bucin” tidak mungkin akan menjadi warisan yang abadi untuk setiap zaman.

Nantinya, generasi berikutnya—yakni generasi Z yang patah hati sekaligus berjoget dangdut koplo—akan membuat sebuah wacana; bahwa mereka bukan budak cinta yang terlahir dari romansa, tetapi menjadi budak bahagia yang tidak peduli cinta; yang penting joget saja saat bahagia maupun menderita karena cinta.

 

Mengapa Harus Menjalani Asmara Digital?

Ilustrasi dari deccanchronicle.com.

 

*)Ditulis oleh Toto Priyono. Esais, penekun sosio-humaniora, dan bermukim di Cilacap.

Pada dasarnya, asmara merupakan suatu hal yang tertunggu oleh manusia. Bayangan bahagia dengan ber-asmara sendiri menjadi dasar bahwa; mereka (manusia) harus ber-asmara—apapun keadaannya—termasuk dengan cara menjalin asmara secara digital di era teknologi maju ini.

Asmara sendiri yakni suatu jalinan. Mungkin dapat dikatakan sebagai tali kasih antara pria dan wanita yang sama-sama berharap saling membahagiakan antarsatu dengan lainnya.

Tentang berbagai cara itu—antara manusia dan peradaban, bukan saja manusia dihadapkan pada realita yang harus mencari jalan bagimana ber-asmara secara efektif di era masyarakat teknologi maju ini, tetapi juga membuat alternatif secara pribadi sebagai solusi bersama yang sama-sama menang untuk dijalani.

Kehidupan manusia abad 21 yang kompleks bukan hanya menjadi catatan penting, dan ketika orang mencatat di sana, manusia harus memikirkan sebuah solusi, dan dengan cara apakah hidup di era teknologi ini? Kiat-kiat seperti apakah agar semua menjadi seimbang; termasuk dalam menjalin asmara itu sendiri antara menjadi pria dan wanita?

Memang harus dikatakan berkali-kali bahwa ketika manusia tidak memanfaatkan teknologi betul di abad 21, ia bukan hanya akan terasing, tetapi terpenjara oleh sistem hidup yang jika disadari mengekang manusia tanpa ampun. Industrialisasi, modal, kerja, dan konsumsi merupakan entitas yang tidak dapat lepas dari kehidupan manusia abad 21.

Manusia butuh kerja untuk mendapat uang, tentu uang itu sebagai bahan atau alat bertahan hidup. Namun harapan akan uang dari kerjanya, apakah secara mudah dapat menjawab segala kebutuhan selain kebutuhan pokok; yakni dalam hal mengakomodasi kebutuhan ber-asmara tersebut yang jalinannya juga butuh modal di dalamnya?

Banyaknya industri yang sama atau ekonomi yang bebas dalam menjalankannya, bukankah itu menjadi problematika baru dalam setiap pendapatan—dalam hal ini, bagi “buruh” industri?

Di mana persaingan dalam bisnis yang tidak sehat akan mempengaruhi harga produksi sendiri, yang berimbas pada upah buruh abad 21 yang cenderung murah? Belum lagi dengan regulasi pengupahan minimum dari pemerintah yang sangat minim jumlahnya; yakni hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari di wilayah tertentu saja.

Keterikatan bukan hanya dengan uang, tetapi juga waktu dan jarak yang manusia abad 21 harus tempuh sebagai mengisi hidup itu sendiri. Contohnya, sebuah gambaran di kota kecil seperti Cilacap yang ruang industrinya begitu sempit dan jumlanya dapat terhitung jari. Belum lagi  dengan ukuran nilai UMK (upah minimum kabupaten) yang relatif kecil sendiri membuat anak muda harus menjadi pekerja urban agar hajat hidup mereka melalui apa yang dibutuhkan sebagai akomodasi hidup sendiri dapat terpenuhi dari upah kerja mereka.

Saya kira menjadi kaum urban pun secara tidak langsung adalah solusi terbaik untuk meniti jalan yang lebih baik daripada harus di tempat yang kurang mendukung dalam hidup. Mungkin ini dapat dikatakan sebagai hijrah untuk menjadi manusia lebih baik itu. Dan bagaimana manusia abad ke-21 ini mengukur kadar baik untuk dirinya sendiri?

 

Hidup secara baik abad ke-21 adalah mereka yang secara ekonomi lebih sebagai nilai agar akomodasi hidup mereka seperti menikmati fasilitas hidup seperti rumah, kendaraan, dan menikmati tempat makan mewah dapat terpenuhi, tentu tidak ketinggalan di sini adalah kebutuhan bahagia atas asmara itu sendiri. Namun menjadi problematika baru menjadi ber-asmara abad 21. Tidak mudahnya mencari akomodasi dalam memenuhi kebutuhan adalah biang dari masalah ini. Manusia tidak bebas dengan pemilihan-pemilihan dimana ia harus bekerja, ia harus melanjutkan kuliah, dan ia harus melanjutkan hidupnya sendiri.

Saat bekerja harus terpusat di kota industri, kuliah di pusat-pusat kota pelajar, dan melanjutkan hidup sebagaimana lingkungan itu mendukung untuk hidup manusia yang membutuhkan uang di dalamnya sebagai alat dari hidup.

Harus diakui bahwa abad 21 merupakan peradaban yang kompleks, harapan manusia tidak dapat menjadi sederhana. Hidup dengan cara sederhana berasa menjadi manusia yang kuno. Apakah di abad 21 ini untuk bahagia dengan ber-asmara sendiri menjadi sulit dan sesuatu yang sangat membutuhkan perjuangan termasuk ber-asmara secara digital itu sendiri di abad ke-21 ini?

Inilah yang bukan hanya akan menjadi fenomena baru di abad-abad berikutnya paska abad ke-21. Tetapi menjadi tantangan manusia dalam menanggapi industri dan teknologi. Ruang dan waktu manusia hidup tidak segampang keputusan yang ia harus jalani tanpa memandang dampak yang harus mereka terima. Hidup jauh dengan keluarga dan orang-orang terkasih dalam balutan asmara seperti telah menjadi resiko yang harus manusia terima di dalamnya.

Tentu peradaban abad ke-21 merupakan peradaban dengan keterpilihan tinggi. Manusia bukan hanya harus menjadi manusia, tetapi menjadi nilai di balik kelebihan apa yang tidak dimiliki oleh manusia lain. Terus bertambahnya penduduk bumi dan tenaga manusia yang harus terkurangi karena teknologi sendiri menjadikan semua serba diteknologikan; termasuk dalam ber-asmara itu sendiri karena tuntutan ruang dan waktu dalam menjalani kehidupan.

Sebagai contoh kasus misalnya; mungkin ini adalah realita yang terjadi di abad 21 dalam manusia memandang asmara: “jarak yang terpisah jauh dan hidup bersama menjadi tidak mungkin karena pendapatan sebatas upah minimum yang hanya dapat memenuhi kebutuhan untuk dirinya sendiri”. Ketika akan sama-sama bekerja di daerah yang sama “bisa”, mencari pekerjaan di abad 21 ini bukan perkara yang mudah.

Pekerjaan memang banyak tetapi dengan “kerja kasar” dan gaji di bawah upah minimum, apakah manusia yang menganggap dirinya manusia dengan pendidikan tinggi—yang banyak disandang manusia abad 21 ini—mau untuk menjalaninya tanpa adanya sedikit gengsi bahwa: “aku ini seorang sarjana” tidak pantas dibayar murah dan bekerja secara kasar?

Saya kira nasib manusia merupakan nasib dari ketentuan orang lain, semua serba orang lain. Karena tentu orang lain adalah wacana manusia mengukur dirinya sendiri. Dia, “manusia”, dapat nasib seperti ini karena orang lain tidak bisa sama bernasib seperti dia. Bukankah ini juga terjadi pada nasib ekonomi rumah tangga dimana kelas menjadi barometer dalam mengukur kondisi ekonomi saat ini?

Ada kepentingan untuk hidup dan keinginan dari rasa bahagia itu sendiri. Hidup memang perlu materi, tetapi seberapa banyak orang yakin akan kebahagiaan yang mereka dapat hasilkan dari asmara?

 

Tentu banyak dari kita percaya itu, tetapi apakah mungkin dengan berbagai ruang-ruang dan waktu yang terepresi sebagai akomodasi mengejar itu semua, yang mau-tidak mau manusia harus menjalaninya seperti dia harus bekerja jauh dari orang yang terkasih, tentu karena keadaan untuk memperbaiki mutu ekonomi mereka sendiri, bukankah harus ada sesuatu kerelaan yang harus dikorbankan?

Hanya saja tetap menjadi pertanyaan lagi, bagaimana mencari solusi dari ruang dan waktu yang terepresi di abad 21 ini? Asmara dan setiap bentuk transformasinya pada setiap jaman, mungkin juga mengikuti peradaban yang ditawarkan termasuk enggannya manusia untuk menjadi primitif kembali dengan makan -gak makan asal kumpul.

Namun manusia cenderung ingin berubah menjadi lebih dan lebih lagi dari saat ini. Tetapi apapun bentuk dari transformasi, kehendak manusia sepertinya memang menyembah pada perubahan dan seorang yang hidup di dalamnya harus mampu; setidaknya mengikuti arus berbagai perubahan yang dunia ini tawarkan.

Perubahan dalam menjalani hidup ber-asmara sendiri memang bukan sesuatu yang harus ditawar lagi, tetapi dijalankan sebagaimana dapat efisien dan efektif dalam setiap bentuk keluaran kebahagiaan yang dihasilkan. Tidak peduli lagi secara fisik tidak bersentuhan, tetapi secara mental ia dapat disatukan.

Namun jika dihadapkan dengan bagaimana asmara secara digital itu dipikir, bukankah menjadi sesuatu yang ganjil manusia bercinta dengan hand phone-nya sendiri, laptopnya sendiri, bahkan imajinasinya sendiri yang terkadang ia tidak sadar pada setiap saat-saatnya; bahwa ia justru mencintai laptop atau hand phone-nya sendiri?

Kehidupan yang menuntut memang seperti harus dijalani manusia. Tetap kembali lagi pada pemikiran-pemikiran yang semakin kompleks dalam menanggapi sesuatu dasar dari ruwetnya sebagai manusia. Kembali hanya konsekuensi yang berbicara pada akhirnya, seperti yang sebelumnya sudah saya katakan: “manusia dapat melakukan ini karena ia tidak bisa melakukan itu”.

Mungkin menjadi benar; solusi dari keterpisahan jarak karena sama-sama mempunyai tujuan sendiri tetapi menginginkan jalinan asmara, ya, mau-tidak mau teknologi harus dilibatkan. Tentu sebagai jawaban dari status itu sendiri, adanya keterpisahan karena jarak, ruang, dan waktu; bahwasannya orang-orang juga ingin bahagia di balik dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri bagaimanapun caranya.

Seperti berbagai manusia di sana yang berani bekerja jauh sampai keluar negeri, bukankah teknologi sangat membantu mereka dalam mengkomunikasikan; bahwa aku istri, pacar, atau ayah bagi mereka-mereka yang tidak melihatnya secara langsung dan teknologi menciptakan itu melalui layar-layar digital yang dapat manusia nikmati di abad 21 ini?

Itu antara kebahagiaan dan cita-cita menjadi pemilik ekonomi yang lebih baik. Karena saya di sini berpandangan; cita-cita manusia abad 21 ini bukan menjadi suatu profesi. Setiap profesi di abad 21 ini tidak menjamin kekayaan, namun jika ditilik secara mendasar, cita-cita manusia ingin kaya karena tawaran konsep dari bahagia; termasuk tidak terpisahnya dirinya bersama seorang yang terkasihnya karena motif pencarian ekonomi.

Dan jika ekonomi belum menjawab setiap akomodasi hidup itu, mejalani kisah asmara secara digital seperti menjadi solusi bahwa rasa bahagia harus tetap menyala; memenuhi kebutuhan hidup dari pendapatan untuk konsumsi dalam ekonomi baik untuk memenuhi dirinya sendiri atau keluarga seperti sudah harga mati walaupun: harus terpisah jauh antara ruang, jarak, dan waktu.

Gangguan Kecemasan Sosial (Fobia Sosial): Pengantar dan Cara Mengatasinya

 

Ilustrasi dari Metro.co.uk.

*)Diambilalihkan dari PsychologyToday.com.

Gangguan kecemasan sosial (social anxiety disorder)—yang sebelumnya disebut sebagai “fobia sosial”—adalah gangguan kecemasan yang ditandai dengan kecemasan luar biasa dan kesadaran diri yang berlebihan dalam situasi sosial sehari-hari. Orang-orang dengan gangguan kecemasan sosial memiliki ketakutan yang terus-menerus, intens, dan kronis karena merasa diawasi dan dihakimi oleh orang lain dan menjadi malu atau terhina oleh tindakan mereka sendiri.

Ketakutan mereka mungkin sangat parah sehingga mengganggu pekerjaan, sekolah, atau kegiatan lainnya. Sementara banyak orang dengan gangguan kecemasan sosial mengakui bahwa ketakutan mereka berada di dekat orang lain mungkin berlebihan atau tidak masuk akal; mereka pun tidak dapat mengatasinya. Mereka sering khawatir selama berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum situasi yang menakutkan. Selain itu, mereka sering mengalami depresi dan  rendah diri.

Gangguan kecemasan sosial dapat dibatasi hanya pada satu jenis situasi—seperti ketakutan berbicara di depan umum—atau seseorang dapat mengalami gejalanya kapanpun saat mereka berada di sekitar orang lain. Jika tidak diobati, fobia sosial dapat memiliki konsekuensi yang parah. Misalnya, ini dapat mencegah orang pergi bekerja atau sekolah atau mencegah mereka berteman.

Gejala-gejala (simptom) fisik yang sering menyertai tekanan intens dari gangguan kecemasan sosial ialah wajah memerah, berkeringat, gemetar, mual, dan kesulitan berbicara. Gejala-gejala yang terlihat ini meningkatkan rasa takut akan ketidaksetujuan; sehingga mereka sendiri dapat menjadi fokus tambahan dari rasa takut tersebut dan menciptakan lingkaran setan: ketika orang-orang dengan gangguan kecemasan sosial khawatir mengalami gejala-gejala ini, maka semakin besar peluang mereka untuk mengembangkannya.

Gangguan kecemasan sosial sering terjadi dalam keluarga dan dapat disertai dengan depresi atau gangguan kecemasan lainnya; seperti gangguan panik atau gangguan obsesif-kompulsif. Beberapa orang dengan gangguan kecemasan sosial mengobati sendiri dengan alkohol atau obat lainnya yang dapat menyebabkan kecanduan.

Diperkirakan, sekitar 7 persen dari populasi Amerika Serikat memiliki gangguan kecemasan sosial dalam periode 12 bulan tertentu. Gangguan kecemasan sosial terjadi sekitar dua kali lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria—meskipun proporsi pria lebih tinggi mencari bantuan untuk kondisi tersebut. Gangguan ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja awal dan jarang berkembang setelah usia 25 tahun.

 

Gejala-gejalanya

Diagnosis gangguan kecemasan sosial hanya dilakukan jika penghindaran, ketakutan, atau antisipasi kecemasan terhadap situasi sosial atau kinerja ini mengganggu rutinitas sehari-hari, fungsi pekerjaan, dan kehidupan sosial atau jika ada kesusahan yang ditandai sebagai akibat dari kecemasan tersebut. Buku “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder” (DSM) versi ke-5; yang disusun oleh American Psychiatric Association dan diterbitkan pada 18 Mei 2013, memberikan kriteria berikut untuk mendiagnosis gangguan kecemasan sosial:

    • Individu takut satu atau lebih situasi sosial atau kinerja dimana ia terkena kemungkinan pengawasan oleh orang lain. Contohnya, bertemu orang yang tidak dikenal, diamati saat makan atau minum, berpidato, atau melakukan pertunjukan.
    • Individu takut berperilaku dengan cara yang menyebabkan rasa malu atau dievaluasi secara negatif.
    • Paparan situasi sosial hampir selalu menyebabkan kecemasan yang intens.
    • Situasi yang ditakutinya akan dihindari atau ditanggung dengan kecemasan dan kesusahan.
    • Ketakutan atau kecemasan itu tidak sebanding dengan ancaman aktual yang ditimbulkan oleh situasi sosial.
    • Ketakutan atau kecemasan itu menetap dan biasanya berlangsung selama enam bulan atau lebih.
    • Penghindaran, antisipasi kecemasan, atau kesulitan yang mengganggu secara signifikan terhadap fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan seseorang.

Gejala-gejala fisik gangguan kecemasan sosial meliputi:

    • Wajah memerah, berkeringat, gemetar, mengalami detak jantung yang cepat, atau merasakan “pikiran menjadi kosong”.
    • Mual atau sakit perut.
    • Menampilkan postur tubuh yang kaku, kontak mata yang buruk, atau berbicara terlalu pelan.
    • Selain itu, diagnosis dapat menentukan apakah kecemasan atau ketakutan hanya ada ketika orang tersebut berbicara atau tampil di depan umum.

 

 

Penyebabnya

Sementara penelitian untuk lebih memahami penyebab gangguan kecemasan sosial sedang berlangsung, beberapa penyelidikan dilakukan dengan melibatkan struktur kecil di otak yang disebut “amigdala”. Amigdala diyakini sebagai situs sentral di otak yang mengendalikan respons rasa takut.

Gangguan kecemasan sosial bisa diwariskan. Faktanya, kerabat lingkar pertama memiliki kesempatan dua hingga enam kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan sosial. Penelitian yang didukung oleh National Institute of Mental Health (NIMH) juga telah mengidentifikasi situs gen pada tikus yang mempengaruhi rasa takut yang dipelajari. Para ilmuwan sedang mengeksplorasi gagasan bahwa sensitivitas yang meningkat terhadap ketidaksetujuan mungkin berbasis fisiologis atau hormonal. Peneliti lain sedang menyelidiki pengaruh lingkungan pada perkembangan fobia sosial. Penganiayaan anak dan kesulitan adalah faktor risiko untuk gangguan kecemasan sosial.

 

Penanganannya

Sebagian besar gangguan kecemasan dapat diobati dengan sukses oleh para profesional perawatan kesehatan mental yang terlatih. Gangguan kecemasan sosial sering dirawat secara efektif dengan dua bentuk perawatan: psikoterapi dan obat-obatan.

 

1.) Terapi

Cognitive-behavioral therapy (CBT) atau terapi perilaku-kognitif adalah bentuk psikoterapi yang sangat efektif dalam mengobati kecemasan sosial yang parah. Tujuan utama CBT dan terapi perilaku adalah untuk mengurangi kecemasan dengan menghilangkan kepercayaan atau perilaku yang mempertahankan gangguan kecemasan. Misalnya, menghindari obyek atau situasi yang ditakuti bisa mencegah seseorang untuk mengetahui bahwa hal tersebut tidak berbahaya.

Unsur kunci CBT untuk kecemasan adalah paparan; dimana orang menghadapi hal-hal yang mereka takuti. Proses paparan pada umumnya melibatkan tiga tahap. Pertama, seseorang diperkenalkan dengan situasi yang ditakuti. Langkah kedua adalah meningkatkan risiko ketidaksetujuan dalam situasi itu sehingga seseorang dapat membangun kepercayaan bahwa ia dapat menangani penolakan atau kritik. Langkah ketiga dengan mengajarkan teknik seseorang untuk mengatasi ketidaksetujuan. Pada tahap ini, orang diminta untuk membayangkan ketakutan terburuk mereka dan didorong untuk mengembangkan respon konstruktifnya terhadap ketakutan ini dan persepsi ketidaksetujuan yang dirasakannya.

Tahap-tahap ini sering disertai dengan pelatihan manajemen kegelisahan—misalnya, mengajarkan teknik pernapasan dalam untuk mengendalikan kecemasan mereka. Jika ini dilakukan dengan hati-hati dan dukungan dari terapis, ada kemungkinan untuk meredakan kecemasan yang terkait dengan situasi yang ditakuti. Jika Anda menjalani CBT atau terapi perilaku, paparan akan dilakukan hanya ketika Anda siap; yang akan dilakukan secara bertahap dan hanya dengan izin Anda. Anda akan bekerja dengan terapis untuk menentukan berapa banyak yang dapat Anda tangani dan dengan kecepatan seperti apa Anda dapat melanjutkannya.

CBT dan terapi perilaku tidak memiliki efek samping yang merugikan selain ketidaknyamanan sementara dari peningkatan kecemasan. Tetapi, terapis harus terlatih dengan baik dalam teknik perawatan agar dapat bekerja sesuai yang diinginkan. Selama perawatan, terapis kemungkinan akan memberikan pekerjaan rumah—masalah khusus yang perlu ditangani pasien di antara sesi. CBT atau terapi perilaku umumnya berlangsung sekitar 12 minggu. Ini dapat dilakukan dalam suatu kelompok asalkan orang-orang dalam kelompok tersebut memiliki masalah yang cukup serupa. Terapi suportif seperti berkelompok, berpasangan, atau terapi keluarga dapat membantu untuk mendidik orang lain yang terpengaruh dengan gangguan tersebut. Kadang-kadang, orang dengan kecemasan sosial juga mendapat manfaat dari pelatihan keterampilan sosial.

2.) Medikasi/Obat-obatan

Obat yang tepat dan efektif juga dapat berperan dalam pengobatan—bersamaan dengan psikoterapi. Obat-obatan antidepresan seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) dan monoamine oxiidase inhibitors (MAOIs), serta obat-obatan benzodiazepin (zat berefek sedatif/menenangkan) yang berpotensi tinggi. Beberapa orang dengan bentuk kecemasan sosial yang muncul hanya ketika mereka harus tampil di depan orang lain telah dibantu oleh beta-blocker; sejenis obat yang menurunkan denyut jantung dan mengurangi gejala fisik kecemasan.

Penting untuk dipahami bahwa perawatan gangguan kecemasan sosial tidak bekerja secara instan dan tidak ada satu rencana yang bekerja dengan baik untuk semua pasien. Perawatan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Seorang terapis dan pasien harus bekerjasama untuk menentukan rencana perawatan mana yang paling efektif dan menilai apakah rencana perawatan tampaknya sesuai. Penyesuaian pada rencana kadang-kadang diperlukan karena pasien merespon secara berbeda-beda terhadap pengobatan.

 

Referensi Lanjut:

    • Psychologytoday.com
    • American Psychiatric Association (APA) atau psychiatry.org
    • National Institute of Mental Health (NIMH) atau nimh.nih.gov
    • Buku-buku modul DSM dari APA
    • Calmclinic.com

[Penerjemah: Taufik Nurhidayat. Mencoba peduli dan sekadar berbagi perihal kesehatan mental bagi kelangsungan berskena.]

 

 


Selamat Hari Sehat Mental Sedunia yang Ke-27 pada 2019!

Hari Kesehatan Mental Sedunia diselenggarakan tiap 10 Oktober. Tak cuma diperingati, solidaritas sehat mental perlu kita upayakan bersama dengan kepekaan nurani dan daya intelektual mumpuni supaya bisa menjalani roda gerak hidup yang lebih baik bagi antarsesama.

Artikel ini dialihbahasakan dari PsychologyToday.com sebagai upaya solidaritas literer bagi para pegiat sehat jiwa dan penyintas gangguan mental. Mari membaca, mari bersaudara!


 

Getaran Hangat Korporasi

*)Ditulis Rynaldi Fajar. Pegiat literasi bersama Komunitas Mengkaji Pustaka dan pelaku garis depan lapak Perpustakaan Jalanan Cilacap. Sedang mencoba menekuni pers mahasiswa di Surakarta.

Tidur lelapku terbangun; terkejut akibat hiruk-pikuk jalan raya depan rumahku yang saban hari selalu demikian. Tak terkecuali kendaraan besar moda angkutan barang para korporasi yang ada di Cilacap; yang melaju kencang manakala jalanan sepi. Mereka melaju kencang dengan rakusnya pada jalan yang dilewati dan menggetarkan tanah akibat ulahnya. Demikianlah kehidupanku yang saban hari risau merasakan hal yang selalu sama.

Tatkala pembangunan pabrik Semen Nusantara pada tahun 1975, terjadi okupasi lahan di depan rumah yang kuhuni hingga sekarang; menjadi jalan penghubung dari pabrik Semen Nusantara menuju Jalan Tentara Pelajar—terbentang panjangnya dari Pertigaan Saliwangi hingga pertigaan menuju kawasan industri tersebut. Hingga sekarang, jalan itu masih dinamai Jalan Nusantara. Historis pembangunannya dikonstruksi oleh PT. Semen Nusantara.

Pada tahun 1977 semenjak selesainya pembangunan pabrik dan mulai proses produksi semen, jalan tersebut hingga sekarang menjadi jalan distribusi. Tak hanya distribusi semen namun juga distribusi barang dari pelabuhan manakala terjadi pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta korporasi lainnya yang membangun pabriknya atau tempat produksinya untuk mendistribusikannya ke lain tempat.

Tak cukup heran bagiku, warga yang mendiami kawasan sekitar perindustrian ini terkadang ada yang naik pitam karena ulah pengendara truk yang mengendarai dengan seenaknya. Tak sedikit orang juga ada yang tertabrak, tewas terlindas, bahkan menabrak truk yang parkir sembarangan. Dengan tingkat pemahaman masyarakat yang masih percaya dengan takhayul, hal ini seringkali dianggap sebagai tumbal atau lain sebagainya.

Perlulah disadari bahwa peran korporasi saja membawa dampak yang lebih buruk bagi ekologis kita sendiri. Semenjak penambahan pembangunan PLTU di Karangkandri menjadi dua bahkan sekarang bertambah lagi dan terintegrasi dengan PLTU yang ada di Bunton, proses produksi listrik dari batubara yang menjadi komoditasnya saja sudah membawa polutan yang lebih buruk bagi masyarakat Cilacap—tak terkecuali sekitaran jalan yang dilewati distribusi batubara. Tak hanya Jalan Nusantara namun jalan-jalan yang terbentang dari pelabuhan Tanjung Intan sampai titik terakhir batubara diproses menjadi uap pembangkit listrik. Sering kita menemui batubara yang terjatuh berserakan di jalanan yang terbentang jalur distribusi batubara. Dari  truk yang mendistribusikan batubara; bahkan membawanya saja terlihat  mengerikan sampai menggunung dan ditutupi dengan terpal.

Dampak dari debu batubara merupakan debu jenis fibrogenic; merupakan debu yang beracun bagi pernafasan kita. Apabila terpapar debu batubara, akan membahayakan paru-paru dan bila terpapar secara berlebih dapat menyebabkan pneumokoniosis. Kita tak bisa pragmatis dengan mengambil keputusan berpindah tempat tinggal yang sudah tak menyehatkan lagi. Kita juga tak ingin menghilangkan mata pencaharian para kelas pekerja yang berkutat pada roda panas korporasi itu. Namun itulah yang diinginkan para kapitalis agar kita terjadi kontradiksi secara horizontal—sementara mereka masih hidup glamor dan filantropis bila berkenan.

Ekologi kita tergerus serta-merta akibat ulah koporasi. Menghirup udara sehat pagi hari sekarang saja hanya utopia. Distribusi sudah semenjak malam menyingsing, proses produksi juga belangsung saban malam hari. Kesehatan paru-paru kita sudah mulai kita pertanyakan: perlukah kita menangani kesehatan paru-paru kita akibat ulah para korporasi yang mendirikan pabriknya di tanah kita tercinta? Memang perlu berbagai mitigasi yang kita lakukan; mana saja yang tepat namun selama mereka masih melakukan hal yang sama, kita tak akan dapat berubah dan akan selalu menerima hal yang sama. Sudah saatnya kita bersuara akan kerusakan ini. Merdekalah kita dalam sanubari. Kita harus adil; adil sejak dalam pikiran.

Smartphone ‘Membungkam’ Pemandangan Kota

 

Grafiti bertajuk “Alienation” karya inSerra.

*)Penulis Kathleen Vandenberg. Dosen senior di Universitas Boston. Pengamat desain urban, retorika visual, periklanan, gaya hidup, serta penulis esai.

Berkelana ke utara menyusuri Broad Walk, tepat memasuki Taman Kensington yang luas nan terawat indah sambil melewati kemegahan istananya di barat London; akan bisa segera sampai di Orangery dengan melalui lengkungan Wiggly Walk yang berbatasan dengan Taman Sunken.

Saat musim panas yang cerah, permukaan batu bata dan kaca paviliun taman ini memancarkan cahaya hangat kepada mereka yang berkumpul di beranda megahnya untuk menyesap teh panas dan menikmati brunch. Diri saya berada di sana pada suatu sore yang cerah baru-baru ini. Saya menduduki kursi besi bersama seorang murid saya. Sambil menikmati luasnya pemandangan taman di selatan, kami menunggu teman sekelasnya tiba.

Cahaya matahari sore itu memancar melalui awan tipis. Lalu-lintas jalanan dikelilingi oleh pagar yang bertebaran; area tersebut terlihat begitu manis dengan aroma rumput dan mawar. Tupai melompat dari jalanan ke jalanan untuk mencari makanan. Sementara taman bermain dan komidi putar di dekatnya menguarkan sayup-sayup suara kegembiraan.

Semua itu memanglah sangat menyenangkan dan mungkin menjadi suatu kesalahan apabila mengeluh karena harus menunggu di tempat seperti itu. Tapi 15 menit telah berlalu, kemudian menjadi 20 hingga  40 menit dan siswa yang ditunggu juga tidak muncul. Satu-satunya bukti keberadaannya adalah tulisan “ping yang tak henti-henti darinya yang dikirimkan ke ponsel teman sekelasnya—yang hanya terasa  menenangkan dan memulihkan keadaan barang sejenak; ternyata hanyalah latar belakang dari sebuah “drama” yang sangat familiar.

Siswa yang “menghilang” itu tampaknya samasekali tidak terbiasa dengan daerah tempat tinggalnya selama enam pekan. Karenanya, ia tidak menyadari bahwa menuju Orangery bisa dilalui dengan berjalan kaki setengah mil yang sangat nyaman, aman, dan indah dari pintu depan kediamannya—ia malah memesan Uber. Apa yang bisa didapati dengan berjalan-jalan di sepanjang Broad Walk yang indah dan semarak adalah sekilas pemandangan kuncup-kuncup bunga Flower Walk yang wangi dan kita bisa melewati angsa-angsa di Round Pound. Hal tersebut malah berubah menjadi perjalanan yang panik, mahal, dan menghabiskan waktu ketika ia sedang berjalan-jalan mengelilingi taman. Ia datang terlambat 45 menit, terasa lelah, dan memohon maaf. Dengan meneguk teh dinginnya, ia masih belum sadar dimana dirinya berada atau bagaimana ia bisa tiba di sana.

Masalahnya, bukanlah seberapa sering ia berkendara dibanding berjalan kaki dalam menempuh jarak pendek. Dari jutaan perjalanan yang dilakukan orang-orang di London setiap hari, hanya seperempatnya yang berjalan kaki. Yang dialaminya menandakan bahwa ia tak cukup sadar dengan kehidupan urbannya; yang seharusnya mengetahui bahwa berjalan kaki adalah rute yang jauh lebih pendek, lebih langsung, dan lebih menyenangkan ke tujuannya.

Ketidakmampuan siswa saya untuk menempatkan dirinya dalam suatu ruang, kegagalannya menavigasi lingkungannya sendiri, dan kepercayaan sepenuhnya pada teknologi adalah perbuatannya untuk ingin berada di tempat yang ia tandai sebagai “kerumunan warga kota abad ke-21”. Navigasi outsource di teleponnya atau satnav dari pengemudi Uber kepadanya adalah fakta kehidupan lain bagi begitu banyak orang yang berlalu-lalang di jalanan kota-kota modern.

Menurut data World Health Organization (WHO), lebih dari 50% populasi dunia sekarang bertempat tinggal di perkotaan. Dengan jumlah tersebut, perkiraan peningkatan jumlah menjadi 60% akan terjadi pada tahun 2030. Dan, sebagian besar pejalan kaki menggunakan smartphone untuk bernavigasi.

Di negara asal saya; Amerika Serikat (AS), sekitar 77% orang memiliki ponsel pintar. Hasil survei Pew Research Center pada 2014 mengungkapkan bahwa sekitar tiga perempat orang dewasa di AS mengatakan bahwa mereka tidak bermasalah terhadap orang yang menggunakan ponselnya saat sedang berjalan kaki di jalanan, berada di angkutan umum, atau mengantri. Studi Pew lainnya pada 2012 menemukan bahwa tiga perempat pemilik ponsel pintar menggunakan ponselnya untuk memperoleh informasi berbasis lokasi; seperti pemetaan dan ulasan obyek wisata terdekat. Dan pada 2016, sebuah laporan dari The Wall Street Journal mencatat bahwa antara tahun 2010 hingga 2014 telah terjadi kenaikan pasien ruang gawat darurat sebanyak 124% akibat perhatiannya terganggu oleh perangkat seluler saat berjalan kaki.

Sebuah video NBC pada tahun 2017 menunjukkan seorang wanita 67 tahun di New Jersey terjungkirbalik jatuh ke ruang bawah tanah terbuka dengan bagian kepalanya yang pertama kali tersungkur. Ruangan itu menganga lebar dengan pintu-pintu berdiri di atas trotoarnya; sehingga memberikan kesan visual yang menakjubkan soal seberapa terganggunya perhatian dari sebagian kita akibat ponsel. Beberapa kota di Jerman dan Cina bahkan merespon hal seperti demikian dengan membangun atau mengadaptasi jalur pejalan kaki dan persimpangan demi mengatasi masalah yang ditimbulkan akibat berjalan kaki sambil berbalas pesan.

Ketidakpedulian kita terhadap lingkungan hidup kita tentu saja tidak universal. Buktinya, masyarakat dengan pola berburu-meramu masih ada di tempat-tempat yang kelangsungan hidupnya bergantung pada kemampuan membaca alam. Tetapi budaya mayoritas telah memandang keberadaan mereka terputus dari lingkungan—yang alami maupun terkonstruk—yang tumbuh selama ribuan tahun. Dalam bukunya; “The Spell of The Sensuous” (1996), filsuf AS; David Abram merujuk alfabet sebagai teknologi paling awal untuk menjauhkan manusia dari lingkungan alam. Dahulu, kaum pemburu-peramu bergantung pada hubungan sensual dengan alam; sangat akrab dengan aroma binatang yang mereka buru, peka terhadap suara predator, dan dapat menavigasi dengan penglihatan. Akhirnya, keberadaan teks memastikan bahwa penglihatan manusia dibelokkan dari representasi dunia nyata.

Sekarang, defleksi semacam ini tercipta melalui layar-layar berwarna yang mengkilap dan bukan oleh piktograf (papan huruf) yang pada awal penemuannya digambar secara kasar dan tidak banyak menimbulkan masalah. Bagi sebagian besar orang—terutama kita yang di perkotaan, sudah sejak lama hubungan kita dengan lingkungan kita tidak dimediasi oleh teknologi dan kita tidak akan merasakan kehilangan koneksi langsung dan sensualitas kepada bumi secara akut.

Lagipula, tidak perlu bagi penghuni kota untuk menghirup aroma predator supaya mengetahui sebidang tanah mana yang layak dipagari sebagai area paling baik untuk menanam sereal. Warga kota juga tidak perlu tahu cara mengidentifikasi kotoran binatang di taman kota. Bahkan tanpa aplikasi cuaca, kita tak ada kebutuhan mendesak dalam memindai langit untuk mandi atau mencatat curah hujan di barometer demi menilai kapan kemungkinan datangnya hujan—apalagi berada dalam ruangan. Menurut kebanyakan orang, perubahan hari tidak berarti jika mereka tidak dapat lagi (atau tidak pernah bisa) menemukan Polaris (rasi bintang Kutub) di langit musim dingin atau saat mereka menghancurkan kacang kastanye dan pecan dengan bagian bawah kaki.

 

***

Masalah sebenarnya adalah apa yang “dilalui” dan “melalui”; yang tidak terlihat atau disalahpahami di lingkungan buatan itu sendiri. Lanskap kota mungkin diabaikan tetapi kota tersebut tidaklah sunyi. Secara desain, ia berbicara. Desain itu bergerak, mendorong, memotivasi, dan meyakinkan. Lengkungan yang mengesankan di atas St. Paul Cathedral akan memojokkan desain Shard—bangunan di dekatnya—yang parah dan minimalis. Layaknya cahaya keemasan dari patung Prince Albert yang bertengger tinggi di atas Taman Kensington; hal itu menarik perhatian kita ke atas dan ketinggian mereka menandakan kekuatan mereka; dengan garis-garis vertikal dan skala yang mendominasinya menggambarkan kita menatap “surga” melalui penyembahan kepada Tuhan, uang, dan monarki. Desain itu menyatakan sejarah Kekaisaran Inggris, dominasi global dan budaya, serta kekuatan finansial.

Kesenjangan sosial-ekonomi tampak besar di lingkungan perkotaan. Kota-kota kita mengomunikasikan batas-batas sosial-ekonomi, ras/etnik, dan gender sejelas pemetaan kemiskinan abad ke-19 karya Charles Booth. Kota-kota kita menyiarkan aturan tentang “siapa yang diundang” dan “siapa yang harus diusir”. Ketika kita “membungkam” (kenampakan/aspirasi) kota demi mengangkat telepon kita; ketika kita mengalihkan pandangan kita dari cerita kota ke peta digital, kita hanya melihat pilihan realitas yang terdistorsi, dibatasi oleh bingkai, dan didekontekstualisasikan; yang memberi kita perasaan palsu bahwa perjalanan kita dibebani oleh kota karena kita memilih memetakannya daripada melewatinya.

Peta dan aplikasinya akan meratakan, menyederhanakan, dan menetralkan ruang yang pada kenyataannya adalah tiga dimensi, kompleks, dan retoris. Sentuhan layar smartphone yang terlihat keren dan lembut tidak memberi kita petunjuk tentang kemungkinan interaksi oleh sentuhan ataupun motivasi arsitektural. Setiap baris yang dipetakan dari titik A ke B tampaknya sama-sama dapat diakses semua orang tanpa memandang usia, kelas, ras, atau jenis kelamin. Masalah dengan pembangunan jalan dan lalu lintas hanyalah satu-satunya kendala yang dicatat oleh peta digital; seolah-olah kota merupakan taman bermain  terbuka bagi semua orang.

Di jalanan, dengan berjalan cepat dan—mungkin yang paling penting—tanpa layar, orang dapat tetap sepenuhnya selaras dengan pesan yang disampaikan oleh lingkungan buatan. Meskipun kita mungkin sudah lama melarikan diri dari akar sejarah berburu-meramu, kita tetap sepenuhnya manusia ketika tidak terikat dengan perangkat elektronik. Indera kita menjadi panduan paling pasti untuk apa yang menarik dan melibatkan diri kita. Seperti yang dijelaskan oleh arsitek Denmark; Jan Gehl,“Kecepatan kita bergerak sangat penting. Berakar dari sejarah biologis, alat sensorik manusia dirancang untuk memahami dan memproses sensor tampilan saat bergerak pada kecepatan sekitar 5 km/jam.”

Perangkat tersebut tersedia untuk memindai cakrawala dan mengambil peranan saat berada di luar ruangan. “Semakin cepat kita pergi, semakin luas pandangan kita” seperti yang dikatakan oleh seorang perencana kota; Nick Jackson dari Toole Design di Boston. Semakin lambat kita pergi, maka semakin banyak kita melihat-lihat; semakin besar kemungkinan kita bereaksi terhadap elemen desain seperti papan tanda yang melarang kita berperilaku, fasad rumit yang mendominasi ruangan pribadi, jalan yang diaspal tanpa jalur sepeda untuk pengendara sepeda, tanaman pot besar yang menghambat kita berkeliaran, atau gerbang hiasan yang menutup akses berjalan—atau dengan kata lain sebagai retorika lanskap perkotaan.

Ruang publik di kota adalah palimpsest (sejenis naskah bertumpuk-red) yang mengalami penghapusan dan revisi terus-menerus. Jejak kekuasaan dan hak istimewa yang turut membentuk setiap lininya terlihat oleh pengamat dan pihak yang terlibat. Sama halnya seperti prestise yang tertulis di ruang publik; hal itu terdapat di distrik-distrik keuangan yang menjulang tinggi, menara-menara gereja, lengan-lengan tentara yang mengangkat perunggu, dan taman-taman yang terpelihara dengan baik di Palace Gardens Terrace di Kensington—demikian pun sebaliknya.

Kaum miskin mempunyai fasilitas dan akses yang jauh lebih sedikit ke perjalanan, restoran, dan perumahan layak. Mereka sangat lebih bergantung pada trotoar yang baik, taman umum yang bersih dan dapat diakses, serta ruang publik berkualitas tinggi untuk berkumpul dan bersosialisasi dibandingkan dengan kalangan kelas menengah dan orang kaya—seperti yang dikemukakan Enrique Peñalosa; Walikota Bogotá dan jawaranya ruang publik.

Tahun 1800-an di London, orang kaya di West End tidak menyadari kerumunan, kemiskinan, dan penyakit di East End. Dengan cara yang sama, pengunjung modern Whitechapel berfokus pada peta digital yang membawa mereka langsung ke Cereal Killer Café yang trendi di Brick Lane dan ke seni jalanan Instagram-able di sekitar Old Spitalfields Market. Mereka dapat dengan mudah mengabaikan perumahan anggota parlemen di dekat Tower Hamlets yang baru-baru ini dijadwalkan untuk dibongkar sebelum mendapatkan tekanan kembali yang berhasil dilakukan oleh para warga.

Banyak kota bekerja keras memanipulasi lingkungan buatannya untuk mencegah kehadiran mereka yang dianggap “tidak diinginkan”; yang sebagian besar—kecuali untuk pemain skateboard—adalah para tunawisma. Oleh karenanya, penambahan “arsitektur defensif” adalah elemen yang dibangun untuk mendorong orang keluar dari ruangan. Mulai dari paku di puncak pagar yang mengantisipasi orang memanjat ke taman umum dan dikunci pada malamnya, hingga sandaran tangan di tengah bangku publik untuk mencegah seseorang tidur siang. Pagar, kusen jendela, dan jalan masuk sering dipenuhi dengan paku logam bundar yang tidak cukup tajam dan kurang berbahaya tapi cukup menonjol untuk mencegah orang duduk atau berbaring. Gang-gang yang terjaga keamanannya, kursi stasiun bus yang miring, dan enklave-enklave yang dilengkapi dengan shower rail guna membasahi yang tidak diinginkan; semuanya adalah instalasi saat ini di kota-kota seperti London; yang lebih dari 700 orang terlihat tidur di jalanan pada malamnya. Modifikasi terhadap lanskap perkotaan semacam itu merupakan praktik retorika yang seringkali tidak diperhatikan—bahkan oleh penduduk kota yang berniat paling baik—dan karenanya tidak tertandingi.

 

***

Sementara kita menatap aplikasi peta atau navigasi outsource ke Uber terdekat demi mempercepat perjalanan di jalanan kota; arsitek, pejabat kota, perencana kota, dan perusahaan desain semakin memperhatikan cara-cara desain perkotaan berbicara kepada para penduduk kota. Pengamat urban AS; William H. Whyte (1917-1999) yang menuliskan teks-teks mendasar seperti “The Social Life of Small Urban Spaces” (1980) dan “City: Rediscovering The Center” (1988), mengatur cara untuk pengumpulan banyak data dan observasi spasial yang sedang dilakukan di kota-kota masa kini. Karyanya yang inovatif tersebut terus memiliki pengaruh besar terhadapnya. Seperti Gehl—seorang arsitek yang disebutkan sebelumnya—dan perencana kota AS; Allan Jacobs, ia mengabdikan diri untuk meningkatkan kualitas pengalaman kita mengenai ruang dan tempat.

Pertanyaan yang dihadapi oleh orang-orang yang berinvestasi dalam kehidupan kota merupakan suatu motivasi. Para investor berpikir bagaimana caranya selain melalui tanda-tanda yang jelas—seperti hukuman dan larangan, mereka bisa mempengaruhi cara kita bergerak melalui ruang publik perkotaan. Lebih khusus lagi, mereka mempelajari bagaimana lingkungan yang dibangun dapat dirancang sehingga orang “terdorong” untuk bertindak dengan cara yang aman, berkelanjutan, dan diinginkan secara sosial. Intervensi skala kecil; seperti kursi yang dapat dipindahkan, fitur air dengan tambahan suara dan visual yang menenangkan, didirikannya pagar dan batas tempat bertengger; semuanya telah ditemukan untuk membuat ruang lebih menarik. Pencahayaan yang baik—terkecuali pada semak-semak yang mungkin menciptakan area tersembunyi untuk aktivitas ilegal—dan jalur sepeda yang aman bagi mereka yang tidak memiliki mobil, semuanya bisa membuat area lebih aman.

Para profesional telah bekerja mengenai bagaimana kota dapat dibuat untuk “berbicara” kepada penduduknya dengan cara-cara yang mengarah pada demokrasi, keselamatan, dan keramah-tamahan. Akan tetapi, psikolog Jerman; Julia Frankenstein memperingatkan bahwa dengan mengandalkan GPS, kita mungkin akan mengurangi peta kognitif kita dan perasaan kita tentang apa yang ada di sekitar rute sempit yang telah ditunjukkan oleh layar kita. Kita mungkin belajar untuk “melucuti” peta lingkungan kita secara mental.

Orang-orang yang menatap peta digital secara rapi bisa menelusuri garis dekontekstualisasi dari persimpangan di luar Stasiun Gloucester Road Tube ke Whole Foods Market di Kensington High Street. Mungkin bahkan tidak melihat pagar dan indahnya gerbang hiasan yang menutupi taman-taman pribadi yang mereka lewati; sehingga sangat kurang menyadari bahwa hal-hal tersebut tidak hanya menarik secara estetika tetapi juga menandai klaim eksklusif orang kaya terhadap beberapa ruang hijau terbaik di pusat Kota London. Orang yang menatap telepon untuk pergi ke toko sandwich Pret terdekat mungkin gagal untuk melihat daya pikat sudut dan celah yang melapisi jalanan di Hampstead Village.

Sejarah juga tertulis di ruang publik. Monumen dan peringatan yang dapat ditemukan di seluruh London—di dalam katedral, di atas bukit, di Royal Parks, di samping trotoar kota, dan jalur hijau yang dominan—menawarkan narasi publik yang membingkai memori historis kolektif; melegitimasi beberapa hal yang hilang sambil mengabaikan yang lainnya dengan latar belakang tokoh-tokoh tertentu dan meminggirkan sosok lain serta mendorong kesombongan dan mengandung duka sekaligus mencegahnya menginfeksi kehidupan sehari-hari.

Patung besar Prince Albert siap menarik perhatian, bahkan kepada para pejalan kaki yang paling lalai di  Taman Kensington. Namun seberapa banyak orang urban yang mengikuti layar ponselnya untuk menuju ke Borough Market melalui London Bridge dengan cukup lambat untuk melihat Cross Bones; kuburan abad pertengahan kecil di Southwark atau melihat cukup dekat untuk membaca ribuan “orang buangan” yang namanya tidak disebutkan dan dimakamkan di sana? Tubuh mereka; yang diabaikan atau dieksploitasi dalam kehidupan dan dibuang dalam kematian, menceritakan kisah tentang kematian bayi, kemiskinan, pelacuran, dan rasa malu—atau kisah-kisah yang tak mungkin mencapai mata para pemirsa layar yang teralihkan perhatiannya.

Contohnya seperti murid saya, kita kehilangan diri kita dalam ketergantungan pada alat digital untuk navigasi. Ketika kita harus melihat aplikasi untuk mengetahui bahwa Sungai Thames berada di selatan kita atau harus diarahkan secara bergantian oleh Siri (semacam aplikasi asistensi via rekaman suara pada gadgetred) dengan menggunakannya dari Royal Albert Hall ke Stasiun Gloucester Road, kita tidak hanya menyangkal kesenangan flaneur (kebiasaan berjalan-jalan tanpa tujuan pasti ala cendekiawan dan seniman Perancis-red) abad ke-19; namun juga berkontribusi terhadap polusi kota dan menimbulkan sedikit risiko kematian oleh GPS. Kita juga menjadi tidak mengetahui cara kota-kota kita dibangun untuk mendorong, mencegah, mengubah rute, membujuk, atau mengusir penduduk tertentu, serta cara-cara kota kita dirancang untuk merayakan kisah-kisah beberapa orang sambil meminggirkan sejarah orang lain. Ketika kita “membungkam” kota untuk menatap ponsel kita, lingkungan perkotaan menjadi tidak terbaca; warganya menjadi tidak menyadari berbagai elemen monumental dan duniawi yang membentuk sikap, tindakan, dan akses terhadap dirinya beserta sesama warga lainnya.

 

3 Oktober 2019

 

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Sejenis kucing kusam di rimba urban.]

Pelamunan yang Aneh

*)Ditulis oleh Mey Hariprasetyo. Skenais lokal Cilacap, desainer grafis, & bekerja sepenuh waktu sebagai warga Donan.

Pada dini hari, 17 Juli 2015, saya melamun sendiri di kamar melalui sebuah lamunan yang aneh; lamunan yang membuat saya begitu bersemangat dan merasa harus mengetik di PC beralaskan ban mobil. Saya melamun menjadi pengajar di kampung saya dan punya siswa-siswi yang saya bimbing.

Kelas yang saya cintakan adalah kelas santai dan penuh mengandung arti; yang membuat siswa-siswi saya menganggap ini sangat penting; karena saya merasa punya kewajiban untuk menjadi bagian dari suatu generasi yang bisa dipercaya menjalankan dunia ini supaya menjadi lebih baik.

Ceritanya, kami berada di lapangan penuh rumput kecil dan pohon besar yang segar untuk mengajar dan belajar oleh siswa-siswi. Kita juga bisa memandang langit luas dan pucuk-pucuk pohon besar. Bangku siswa-siswi berbentuk melingkar agar mudah untuk mengajar . Kelas itu terdiri dari sekitar 30 orang siswa-siswi.

Ceritanya, mereka siswa-siswi baru namun wajah-wajahnya adalah wajah teman-teman bermain saya sendiri. Di dunia nyata, saya hanyalah seorang laki-laki yang belum juga lulus kuliah dan masih meminta uang dari orang tua saya.

 

Sebuah Kelas yang Mengeksplisitkan Wacana Umum

“Selamat siang, teman-teman. Nama saya Dwi Mey Hariprasetyo. Ini adalah kelas yang saya wajibkan untuk siswa-siswi bimbingan saya di luar kurikulum kita. Kelas ini tidak akan menambah nilai di KHS teman-teman namun saya harap bisa menambah nilai dalam hidup kita secara umum.”

“Saya mengumpulkan teman-teman semua di sini bukan untuk menambah beban hidup di luar kelas-kelas wajib yang sudah berat. Kelas ini ditujukan dan dirancang untuk melihat diri dan masyarakat kita dengan lebih kritis.”

“Saya yakin teman-teman semua tahu bahwa kita adalah anak-anak hasil penjajahan. Bahwa kita hidup di era yang serba cepat dalam tuntunan kapitalisme. Akan tetapi, saya yakin tidak banyak yang sadar apa artinya itu.”

Kita adalah anak-anak yang segala persepsi dan perspektifnya ditekan oleh konstruksi umum. Keinginan-keinginan kita disetir oleh wacana-wacana akan kebahagiaan yang distandarkan oleh sistem. Namun kita tidak bisa lepas dari itu semua, bahkan untuk hal-hal terkecil dan remeh dalam sanubari kita.

Kita tetap ingin, misalnya, perempuan yang cantik, putih, dan langsing sebagai pacar kita. Agar bisa memberi kita rasa aman dalam hidup. Rasa aman dalam hidup, ketika muda, mungkin cowok-cowok skater atau anak band keren yang pakai celana denim mahal, flanel kotak-kotak, dan sepatu Vans atau Converse atau Doc Mart. Cowok keren memberi rasa aman sosial bagi para perempuan yang akhirnya merasa diakui bahwa dia cukup cantik untuk cowok-cowok itu. Ketika agak dewasa, cowok-cowok akan memilih gadis-gadis berhijab untuk mendapatkan rasa aman. Karena imaji publik yang tercipta ketika kamu bersanding dengan perempuan yang (tampak) beragama akan lebih baik. Imaji publik dan bagaimana kamu mendapatkan rasa aman ketika dilihat oleh orang lain/masyarakat/keluargamu membuatmu secara tidak sadar merasa harus membuat pencitraan. Pencitraan itu merasuk ke kehidupanmu; mencengkeram sel-sel otak dan tubuhmu, menyetir kehidupan seksmu, tanpa kamu sadari.

“Kuliah ini ditujukan supaya kalian bisa memandang ke sekeliling dengan kacamata yang lebih luas. Melihat dari atas, dari bird sight view, segala kesibukan yang membuat dunia ini terus berputar. Saya tidak berharap kalian bisa mengemas diri dengan keinginan-keinginan membeli sepatu Converse tanggal 17 Agustus atau pergi ke masjid sekadar supaya dikira taat. Atau pula, ke Natasha supaya putih dan tanpa kerut. Juga, mendengarkan lagu-lagu indie terbaru yang begitu entah supaya bisa masuk kelompok sosial tertentu atau berbangga diri kalau sudah punya berbagai kemeja dan tas ransel Lea. Atau bekerja di PT penghancur bumi hanya demi beberapa juta gaji setiap bulannya.”

“Saya hanya ingin teman-teman saya ini sadar bahwa untuk bisa mendapatkan semua benda itu harus ada kelas pekerja, perempuan, dan anak-anak yang membanting tulang di sweat shop; untuk membuat barang-barang yang tidak bisa mereka beli. Harus ada anak-anak lulusan SMK yang bekerja di tempat parkir mal 8 jam sehari untuk mencatat nomor plat motor kalian yang keluar-masuk area basement yang suram.”

Bahwa kita tidak bisa asal ngomong kata “eksotis” karena kata itu sungguh rasis. Kita tidak boleh asal jeplak soal “pengangguran” karena otak bisa jadi sangat depresif bagi pria muda. Bahwa perempuan dan laki-laki punya hak yang sama di kasur sehingga yang “jalang” dan yang “hidung belang” itu sebenarnya tidak perlu tercipta kalau kita menyikapi dan memandang seks dengan bijaksana.

“Saya ingin teman-teman menjadi generasi yang dewasa dan berani; yang tidak perlu melakukan hal-hal rendahan dan menjijikkan untuk melawan sistem. Hanya perlu perspektif yang sedikit digeser dan diperlebar; supaya kalian bisa melihat arti dari barang-barang koleksi yang kalian pilih; pakaian-pakaian yang pagi ini kalian pilih, kegiatan-kegiatan yang kalian pilih, permainan, dan pelajaran yang kalian pilih.”

Bahkan cita-cita yang kalian pilih; bahwa ada tangan-tangan tidak kelihatan yang bekerja melangkahkan kaki kalian dan menggerakkan lengan kalian dan memutar otak kalian tanpa kalian sadari sehingga pilihan-pilihan paling sepele kalian itu sebenarnya tidak kalian pilih sendiri. Bahwa kita masing-masing hanyalah sebuah bidak catur di semesta yang luas ini.

“Untuk memulai kelas ini, tolong ambil kertas dan pulpen, lalu tulislah satu rahasiamu yang paling mendalam dalam satu kalimat saja. Misalnya, ‘Saya sering mencuri’, ‘Saya sangat suka seks’, ‘Saya mencukur bulu pubis saya secara berkala’, ‘Saya tidak punya uang samasekali’, ‘Saya masih perawan’, ‘Saya sangat ingin punya pacar’, ‘Saya berharap saya lahir dari keluarga yang lebih kaya’ atau apapun itu. Tidak perlu buru-buru. Silakan renungkan selama setengah jam, lalu kumpulkan kertas itu dalam lipatan yang kecil. Tidak perlu menulis nama.”

Setiap hari, kita akan membuka satu rahasia dan merefleksikannya pada semua orang. Kita akan melihat mengapa kita turut andil dalam rasa bersalah orang lain. Kita akan menginternalisasikan rasa bersalah itu ke dalam diri kita sendiri. Kita akan mencari tahu mengapa kita, setiap orang di sini, punya bagian sebagai mata-mata publik; ikut bersalah kenapa ada teman yang mencukur bulu kemaluannya atau membenci orang tuanya. Semua demi imaji yang lebih baik di mata publik.

“Oh iya, silakan makan, minum, dan merokok di kelas ini. Ini adalah sebuah meja bundar di suatu sudut kampung di mana kita bisa mempertanyakan segalanya. Semoga di akhir setiap sesi, kita bisa menjadi orang yang lebih baik.”

Mengapa Kita Mencintai Tirani?

“Tank versus Biker” karya Ganzeer; street artist Mesir.

*)Ditulis oleh David Livingstone Smith. Profesor filsafat Universitas New England dan direktur Human Nature Project. Menerbitkan buku “Less Than Human” pada 2011.

Dari waktu ke waktu, kenapa banyak orang menyambut pemimpin yang tirani dan otoriter?

Beribu-ribu tahun, para filsuf dan teoritikus politik mencoba menjelaskan alasan kita bersedia berpartisipasi dalam penindasan diri kita sendiri dengan menjadi tunduk kepada para pemimpin otoriter. Dan hari ini, kebangkitan rezim otoriter yang tidak menyenangkan di seluruh dunia membuat pertanyaan ini menjadi mendesak seperti saat sebelumnya.

Plato merupakan salah satu pemikir pertama dan paling berpengaruh untuk membicarakan masalah tirani. Dalam karya “Republic”-nya yang ditulis sekitar 380 SM, ia berpendapat bahwa negara-negara demokratis ditakdirkan untuk jatuh ke dalam tirani.

Plato menjadi seorang yang tidak menggemari demokrasi mungkin dikarenakan guru kesayangannya; Socrates, dihukum mati oleh demokrasi Athena. Dia percaya bahwa bentuk pemerintahan demokratis dapat menciptakan masyarakat tak bermoral dan tidak disiplin sehingga mudah menjadi mangsa bagi politisi yang cakap dan terampil dalam memainkan nafsu keinginan mereka.

Dalam naskah “Gorgias” yang ditulis pada sekitar waktu yang sama dengan “Republic”, ia memberitahukan kita bahwa politisi semacam itu memikat massa dengan janji-janji tidak sehat daripada memelihara kebaikan publik. “Kue pastry telah bertopeng sebagai obat dan berpura-pura mengetahui makanan yang terbaik untuk tubuh. Sehingga jika pembuat kue dan dokter harus bersaing di depan anak-anak atau di depan pria yang sama bodohnya dengan anak-anak—untuk menentukan yang mana di antara keduanya; dokter atau pembuat kue, yang memiliki pengetahuan sebagai ahli makanan yang baik dan buruk, maka si dokter akan mati kelaparan,” begitulah yang ditulis Plato.

Ada karya sosiolog Jerman; Max Weber, yang dipertimbangkan pada masa dua setengah milenium atau awal abad ke-20 lalu. Weber; salah seorang pendiri sosiologi, mengembangkan konsep “otoritas kharismatik” atau kualitas tertentu dari kepribadian individu yang kebajikannya tidak seperti manusia biasa dan diperlakukan sebagai orang yang diberkati daya supranatural atau sebagai manusia super; atau setidaknya memiliki kekuatan khusus atau kualitas luar biasa. Para pemimpin kharismatik akan menginspirasi orang untuk mengabdi dan dianggap sebagai figur kenabian oleh pengikutnya.

Pandangan Weber memperdalam catatan samar Plato. Kebangkitan tirani memiliki aura tertentu yang hampir magis. Para pengikutnya percaya bahwa ia dapat melakukan mukjizat dan mengubah hidup mereka. Namun bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang menyebabkan orang-orang rasional menjadi  berserah diri untuk mengadopsi pandangan berbahaya nan tidak realistis seperti itu? Untuk menjelaskannya, kita perlu menggalinya lebih dalam.

 

***

 

Saat Weber sedang mengembangkan “teori kharisma”-nya di Berlin, Sigmund Freud sedang bergulat dengan pemikiran serupa di Wina (Austria). Pemikirannya memuncak dalam buku “Group Psychology and The Analysis of The Ego” (1921). Buku itu berfokus pada dinamika psikologis para pengikut.

Seperti kebanyakan karya Freud, buku tersebut merupakan teks yang rumit. Tetapi, ada dua tema utama yang menonjol dari dalamnya. Pertama, Freud berpendapat tentang mereka yang tertarik pada pemimpin otoriter yang diidealkannya. Pemimpin dipandang sebagai teladan atau manusia heroik untuk mengatasi setiap kesalahan serius. Kedua, ia berpendapat bahwa pengikut mengidentifikasikan dirinya dengan pemimpin dan menggantikannya dengan sesuatu yang disebut “ego ideal” oleh Freud. Ego ideal adalah representasi/cerminan mental dari nilai-nilai panduan seseorang; yang terdiri dari kepercayaan tentang “benar” dan “salah” atau apa yang menjadi “wajib” dan  “tidak boleh”. Hal ini menjadi semacam kompas moral kita yang pada dasarnya sama dengan hati nurani seseorang. Dalam menggantikan cita-cita ego mereka, pemimpin otoriter menjadi suara hati para pengikutnya dan suaranya menjadi suara hati nurani mereka. Sehingga apapun kehendak pemimpinnya, akan menjadi baik dan benar menurut pengertian para pengikutnya.

Tesis Freud sangat sesuai dengan kasus yang terjadi pada era kekuasaan Hitler di Jerman. Sebagai pertimbangannya adalah kasus Alfons Heck. Sebagai seorang anak muda, Heck telah menjadi anggota Hitler Youth. Dalam buku “The Nazi Conscience” (2003), sejarawan Claudia Koonz menuliskan bahwa saat Heck menyaksikan Gestapo mengumpulkan orang-orang Yahudi di desanya untuk dideportasi—termasuk sahabatnya Heinz, ia tidak berkata dalam hati, “Betapa mengerikannya mereka menangkapi orang-orang Yahudi.” Malahan, setelah menyerap pengetahuan tentang “bahaya Yahudi”, Heck berkata, “Celaka sekali, Heinz adalah orang Yahudi.” Sebagai seorang yang dewasa, Heck menyimpulkan, “Saya menyepakati deportasi sebagai keadilan.”

Fakta bahwa komunitas para pengikut memiliki identifikasi yang sama dengan pemimpin otoriter mempunyai konsekuensi penting lainnya. Para pengikut mengidentifikasi satu sama lain sebagai bagian dari “gerakan” dan mereka mengalami diri mereka bergabung menjadi satu kesatuan kolektif. Rasa persatuan yang memabukkan ini dan penyingkiran kepentingan diri pribadi demi tujuan yang lebih besar adalah komponen yang sangat penting bagi sistem otoriter. Hal tersebut ditemukan dalam banyak retorika otoriter—seperti yang dicontohkan oleh Reich Ketiga.

Gagasan bahwa seorang individu hanya penting sebagai kendaraan perlombaan atau “Volk” dan ide tentang tugas seseorang adalah untuk roh transenden yang lebih besar telah mengalahkan kepentingan pribadi—dan itu tersebar luas di Jerman era Hitler. Anak-anak Jerman diperintahkan untuk menjaga “kemurnian” darah mereka—yaitu untuk mencegah percampuran darah antarsukubangsa atau antarras. Mereka diberitahu bahwa darah mereka bukan hanya milik mereka melainkan milik ras Jerman—sejak masa lalu, sekarang, hingga masa depan—dan dengan itu, mereka akan memiliki kehidupan yang kekal.

Berpartisipasi dalam sistem otoriter jelas mempunyai suasana religius yang berlebihan. Sebab ini melibatkan penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi dan melepaskan batas-batas ego individu—demi suatu kemurnian; yang membangkitkan misi kehidupan kekal, kelahiran kembali, dan penyelamatan. Sifat semi-religius dari kebangkitan Hitler telah dijelaskan dalam “The Dark Charisma of Adolf Hitler” (2012) oleh sejarawan Laurence Rees:

 

Gerombolan orang Jerman melakukan perjalanan—hampir seperti peziarah—untuk memberi penghormatan kepada Hitler di rumahnya di Berchtesgaden, ribuan petisi pribadi dikirim ke Hitler di Kekanseliran Reich, ikonografi pseudo-religius dari demonstrasi di Nuremberg, & fakta bahwa anak-anak Jerman diajari bahwa Hitler “dikirim oleh Tuhan”, “iman”,  dan “cahaya” mereka; semua ini adalah fakta yang berbicara bahwa Hitler dipandang bukan sebagai seorang politisi normal dan lebih sebagai seorang nabi yang disentuh oleh yang ilahi.

 

Mengingat hal tersebut, akan menjadi bermanfaat dengan beralih ke monograf  karya Freud; “The Future of An Illusion” (1927). Meskipun sebagian besar isinya peduli terhadapa psikologi agama, namun menjadi suatu kesalahan apabila mengabaikan konteks dan konten politiknya. Tidak ada orang Yahudi di area “Wina Merah” yang tidak bisa perihatin dengan munculnya politik anti-Semitisme pada tahun 1927 (sebagai tahun pertama dari demonstrasi Nuremberg di era Hitler). Freud mengatakan kepada pewawancaranya pada kurang dari setahun sebelumnya—yakni pada 1926:

 

Bahasaku Jerman. Budaya yang kuperoleh adalah Jerman. Secara intelektual, aku menganggap diriku orang Jerman sampai aku melihat tumbuhnya prasangka anti-Semit di Jerman dan Austria-Jerman. Sejak saat itu, aku lebih suka menyebut diriku seorang Yahudi.

 

Satu ilusi yang ia sebut dalam teks bukunya adalah pandangan bahwa “ras Jerman adalah satu-satunya ras yang mampu beradab”.

Pada saat itu, wilayah politik Austria terbagi antara kaum Sosialis Kristen sayap kanan yang memiliki laskar Heimwehr sebagai home guard & didanai oleh kaum fasis Italia dan Sosial Demokratik yang lebih condong ke Kiri dengan unit Schutzbund sebagai paramiliternya.

Tensi antara kedua kelompok tersebut meletus pada 15 Juli 1927 ketika kaum Kiri melakukan demonstrasi besar-besaran sebagai upaya permulaan menduduki Universitas Wina—yang hanya berjarak beberapa menit dengan berjalan kaki dari apartemen Freud. Demonstrasi itu berpuncak di depan Palace of Justice dengan berjalan kaki sekitar 20 menit, kemudian kerumunan demonstran menyerbu dan membakar gedungnya. Polisi menembaki para pengunjuk rasa dan  tiga jam kemudian; 89 demonstran  dan lima polisi terbaring mati di trotoar. Hari itu dan dua hari berikutnya dikenal sebagai schreckentage atau hari-hari menakutkan. Bagi kalangan intelektual Wina seperti Freud, ancaman politik otoriter terasa sangat dekat dengan rumah.

 

***

Mengikuti tradisi filsafat Jerman—seperti pemikiran Ludwig Feuerbach dan Karl Marx, Freud berpendapat bahwa kepercayaan religius adalah ilusi namun ia memiliki pandangan yang unik: yang membedakan antara “ilusi” dan “non-ilusi” bukanlah berdasarkan sesuatu itu benar atau salah; tetapi berdasarkan bagaimana hal tersebut terjadi.

Ilusi adalah kepercayaan yang kita adopsi karena kita menginginkan hal itu benar. Keyakinan semacam itu biasanya salah, tetapi kadang-kadang ternyata benar. Misalkan Anda bangun pagi untuk membeli tiket lotre dengan keyakinan yang membara bahwa Anda akan memenangkan lotre. Dan anggaplah, secara kebetulan, Anda benar-benar memenangkan lotre. Meskipun keyakinan Anda yang menganggap Anda akan menang menjadi benar, namun hal itu masih dianggap sebagai ilusi oleh Freudian.

Ilusi yang paling meyakinkan bisa memenuhi syarat sebagai delusi. Delusi adalah ilusi yang salah dan sangat resisten terhadap revisi rasional karena didorong oleh kekuatan hasrat yang sangat besar. Keyakinan religius adalah contoh utama delusi ala Freud. “Itu adalah pemenuhan keinginan umat manusia yang tertua, terkuat, dan paling mendesak. Rahasia kekuatan mereka terletak pada kekuatan hasrat ini,” ujar Freud.

Hasrat yang menopang kepercayaan religius memiliki hubungan dengan pelepasan ketidakberdayaan manusia. Kita rentan terhadap kekuatan alam; seperti penyakit, bencana alam, dan akhirnya kematian, juga terhadap tindakan manusia lain yang dapat membahayakan kita, membunuh kita, atau memperlakukan kita dengan tidak adil. Dalam mengenali ketidakberdayaan kita, Freud berpikir bahwa kita dilemparkan kembali pada prototipe kekanak-kanakan; tentang ingatan akan ketidakberdayaan yang kita alami sebagai bayi; ketergantungan kita yang sepenuhnya dan mengerikan kepada orang dewasa yang merawat kita (atau gagal merawat kita). Ia menyatakan bahwa orang-orang yang religius menghadapi perasaan tidak berdaya mereka dengan berpegang teguh pada ilusi tentang dewa pelindung yang kuat yang akan memberikan mereka kehidupan setelah kematian.

Ada hubungan jelas antara dorongan religius dan kekuatan psikologis yang berperan di ranah politik berdasarkan analisis Freud. Politik, secara eksplisit, merupakan respon terhadap kerentanan manusia. Harapan dan ketakutan kita yang paling dalam bisa menembus arena politik dan ini membuat kita menjadi rentan terhadap ilusi politik; yang sering melekat dengan kegigihan yang begitu kuat dan begitu keras kepala terhadap argumen masuk akal sehingga cocok dengan karakter delusi menurut Freud. Dari perspektif ini, sistem politik otoriter menggemakan agama monoteistik. Seperti Tuhan sendiri; pemimpin otoriter adalah sebagai yang mahatahu, mahakuasa, dan mahabaik. Kata-katanya mendefinisikan cakrawala realitas. Dia harus dipuji dan ditenangkan tetapi tidak pernah ditantang. Musuh-musuhnya bisa diartikan sebagai sekutu kekuatan jahat.

Jika agama-agama hanyalah tentang fantasi pengabul harapan, semuanya akan terasa manis dan ringan. Tapi nyatanya tidak demikian. Janji manis atas surga hanyalah bermakna jika dihadapkan dengan ancaman neraka dan keselamatan membutuhkan sesuatu yang harus diselamatkan—bahkan dengan ganjaran kesederhanaan, penderitaan, dan—dalam kasus para martir agama—penyiksaan, dan kematian. Hal yang sama juga berlaku untuk wacana politik otoriter. Dengan ini, artinya tidak semua “kue” (demokrasi) itu beracun.

 

***

 

Saya beralih ke karya psikoanalis lain yang kurang terkenal demi menganalisis sisi gelap pola pikir otoriter. Ada pula gagasan dari Roger Money-Kyrle yang berasal dari keluarga aristokrat Inggris. Dia mendaftar ke Royal Flying Corps pada usia 18 tahun demi berperang dalam Perang Dunia Pertama. Ia pun ditembak jatuh di atas Prancis utara pada tahun 1917—yang mengakhiri karier militernya. Setelah perang, ia mendaftar di Universitas Cambridge untuk belajar fisika dan matematika namun ia segera beralih ke filsafat. Seperti sejumlah pemikir Cambridge pada saat itu, Money-Kyrle menjadi tertarik pada psikoanalisis dan melakukan perjalanan ke Wina pada tahun 1922 untuk menyelesaikan PhD-nya bersama filsuf Moritz Schlick (pemimpin Lingkaran Wina) dan menjalani analisis bersama Freud. Setelah kembali ke Inggris pada tahun 1926, ia memperoleh gelar PhD yang keduanya untuk bidang antropologi dan akhirnya berpraktik menjadi seorang psikoanalis.

Tahun 1932, Money-Kyrle mengunjungi Berlin atas undangan temannya; diplomat Arthur Yencken (yang kemudian tewas akibat bom waktu yang dipasang Nazi di pesawatnya). Yencken membawanya ke rapat umum Partai Nazi; tempat Joseph Goebbels dan Hitler berbicara. Money-Kyrle terpesona sekaligus terganggu dengan apa yang dilihat dan didengarnya, serta mencoba memahami apa yang terjadi dengan cara meneliti pidato dan dinamika kerumunan melalui sudut pandang psikoanalitik. Hasil pengamatannya ini berupa artikel “The Psychology of Propaganda” (1941).

Saat ia mengunjungi Jerman, Money-Kyrle dipengaruhi sangat kuat oleh intelektual psikoanalis Inggris kelahiran Hungaria; Melanie Klein. Klein berpendapat bahwa semua manusia dihantui oleh ketakutan yang mendalam dan mengerikan—yang disebutnya “kecemasan psikotik”. Dia berpikir bahwa kecemasan ini dan tanggapan kita terhadapnya bisa mendorong manusia untuk berperilaku—secara baik maupun buruk. Dalam skema Kleinian, ada dua bentuk utama kecemasan psikotik. Kecemasan paranoid merupakan kecemasan karena dianiaya oleh teror kejahatan dan kekuatan abadi. Sementara kecemasan depresif, adalah perasaan seseorang yang bersalah karena telah menghancurkan nilai-nilai dan sesuatu dicintai manusia. Klein juga menggambarkan apa yang disebutnya sebagai “pertahanan manik”; yang merupakan penolakan ketidakberdayaan dan ketergantungan pada orang lain berdasarkan delusi kekuasaan, keagungan, dan kemandirian yang diekspresikan melalui sikap kemenangan, kontrol, dan penghinaan.

Money-Kyrle menggunakan kerangka kerja Klein untuk memahami kekuatan retorika Nazi. Dia menyimpulkan bahwa Hitler dan Goebbels menginduksi sesuatu seperti psikosis massa di antara audiens mereka dan membentuknya untuk tujuan politik. Dia pun menulis:

 

Dia mengatakan bahwa mereka tidak terlalu mengesankan. Tapi kerumunan itu tak bisa dilupakan. Orang-orang tampaknya kehilangan individualitas mereka secara bertahap dan menyatu menjadi monster yang tidak terlalu cerdas tetapi sangat kuat yang berada di bawah kendali penuh oleh sosok di mimbar yang membangkitkan atau mengubah gairah mereka menjadi beberapa organ raksasa dengan mudahnya.

 

Mengamati aksi Hitler dan Goebbels, mengantarkan Money-Kyrle pada gagasan bahwa: agar propaganda politik berhasil, para propagandis harus memperoleh perasaan tidak berdaya di antara para pendengarnya (sebagai “racun”) dan kemudian menawarkan mereka solusi ajaib (sebagai “kue”). Pertama, mereka membuat pemirsanya tertekan; untuk membuat mereka merasa telah kehilangan atau menghancurkan sesuatu yang sangat baik dan berharga. Sehingga mereka pun berlutut dan menjadi bahan olok-olokan. Mereka juga merasa telah mengkhianati nasib besar rakyat Jerman. Seperti halnya yang digambarkan oleh Money-Kyrle, “Selama 10 menit, kami mendengar tentang penderitaan Jerman sejak perang. Monster itu sepertinya menikmati pesta mengasihani diri sendiri.”

Langkah kedua adalah dengan mengidentifikasi beberapa minoritas atau kelompok orang luar sebagai pelaku penderitaan seseorang. Mereka dianggap sebagai “kekuatan jahat” yang menganiaya kita dari luar atau menghabisi kita dari dalam. Money-Kyrle menulis hal demikian:

 

Kemudian selama 10 menit berikutnya, muncullah kemarahan paling hebat terhadap orang-orang Yahudi dan Sosial-Demokrat sebagai penyebab satu-satunya penderitaan mereka. Mengasihani diri sendiri memberikan tempat pada kebencian; dan monster itu tampaknya akan menjadi pembunuh.

 

Langkah ketiga adalah dengan menawarkan penyembuhan manik atas teror ketidakberdayaan:

 

Belas kasihan terhadap diri sendiri dan kebencian saja tak cukup. Mengusir rasa takut juga diperlukan. Karenanya, pembicara beralih dari penghinaan ke pujian diri. Dari permulaan yang kecil, Partai telah menjadi tak terkalahkan. Setiap pendengar merasakan bagian dari kemahakuasaannya dalam dirinya & dipindahkan ke psikosis baru. Melankolia yang diinduksi masuk ke paranoia dan paranoia menjadi megalomania.

 

Puncak terkahirnya ialah fase manik dari performa Hitler yang merupakan daya tarik bagi persatuan; yang menurut Money-Kyrle sangat penting bagi keberhasilan propaganda otoriter. Karena jika ia tidak memiliki tawaran menggelegar apapun, ia hampir tak bisa ditetapkan sebagai dewa. Menggaungkan kekuatan semacam ini, maka nada-nada positif disuarakan; Hitler pun menjanjikan surga di muka Bumi. Surga ini, bagaimanapun, hanya untuk orang Jerman sejati dan Nazi sejati. Semua orang di luar itu tetaplah dianggap penjahat dan karenanya menjadi obyek kebencian.

Meskipun terinspirasi dari pengamatannya terhadap retorika Nazi, Money-Kyrle tidak memaksudkan bahwa analisisnya hanya berlaku untuk kasus Nazi. Pada tahun 2016 menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat, jurnalis Gwynn Guilford menghadiri beberapa demonstrasi Donald Trump dan dia menggunakan catatan pengamatannya untuk menguji tesis Money-Kyrle. Dia melaporkan dalam sebuah artikel menarik yang diterbitkan di majalah online Quartz, “Saya telah menghabiskan banyak rim untuk hasil pengamatan yang saya tulis ketika saya meneliti unjuk rasa Trump. Hampir setiap paragraf sesuai dengan urutan metode Money-Kyrle.”

Apakah diagnosa psikoanalitik terhadap daya tarik para pemimpin seperti itu bisa benar? Untuk itu, diperlukan beberapa analisis psikologis yang bersumber dari hasrat para pemimpin otoriter. Dengan memahami daya tarik ilusi otoriter, kita dapat terbantu untuk melawannya. Pula dengan demikian, kita sekali lagi  bisa terhindar dari pembawaan menuju ke jurang (penderitaan) yang dalam.

 

12 Februari 2018

[Pengalihbahasa: Taufik Nurhidayat. Terlalu malas untuk berlaku tirani.]